Menemukan “Mengapa” Pesantren Bertahan di Tengah Perubahan
Simon Sinek membuka bukunya Start With Why dengan sebuah pertanyaan sederhana: mengapa ada organisasi yang bertahan puluhan tahun, bahkan berabad-abad, sementara yang lain mati dalam waktu singkat?
Jawabannya, kata Sinek, bukan terletak pada apa yang mereka lakukan atau bagaimana mereka melakukannya. Tapi mengapa mereka melakukannya? Organisasi yang punya “mengapa” jelas memiliki fondasi yang kokoh. Mereka tidak mudah goyah di tengah perubahan. Mereka punya alasan untuk terus bergerak, bahkan ketika jalan terasa berat.
Pertanyaan yang sama layak diajukan untuk pesantren. Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren telah bertahan selama berabad-abad. Ia melewati zaman kolonial, revolusi, reformasi, hingga era digital. Banyak lembaga lain lahir dan mati, tapi pesantren tetap berdiri. Mengapa?
Jawabannya, saya yakin, bukan karena pesantren punya kurikulum yang unggul atau manajemen yang modern. Pesantren bertahan karena ia memiliki “mengapa” yang sangat kuat. Dan “mengapa” itu dijaga dengan ketat oleh kiai.
Pesantren Menjaga Tradisi, Menjawab Zaman
Pesantren lahir dari kebutuhan masyarakat akan pendidikan agama yang menyentuh akar budaya. Ia bukan lembaga formal yang lahir dari kebijakan pemerintah. Ia lahir dari inisiatif masyarakat, dari kegelisahan kiai, dari keinginan untuk menjaga Islam tetap hidup di Nusantara. Inilah “mengapa” pertama pesantren: menjaga tradisi keilmuan Islam yang otentik.
Tapi pesantren tidak pernah berhenti di situ. Ia juga selalu berusaha menjawab kebutuhan zaman. Ketika kolonialisme datang, pesantren menjadi benteng perlawanan. Ketika Indonesia merdeka, pesantren menjadi pencetak kader bangsa. Ketika modernisasi mengguncang, pesantren beradaptasi dengan mendirikan madrasah dan sekolah formal. Pesantren bertahan karena ia tidak pernah berhenti membaca zamannya. Inilah “mengapa” kedua: menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan identitas.
“Start with Why” dalam Tradisi Islam
Bagi yang akrab dengan ajaran Islam, konsep “Start with Why” ini sebenarnya bukanlah hal baru. Ia sudah tertanam dalam tradisi Islam sejak awal.
Ada sebuah hadis yang sangat masyhur yang berbunyi: “Innamal a’malu bin niyyat…” —segala amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dalam kerangka Sinek, niat adalah “mengapa” yang menentukan nilai dari apa yang kita lakukan. Tanpa niat yang jelas, amal sebesar apa pun bisa kehilangan maknanya.
Lebih dari itu, dalam tradisi Islam, niat harus dibarengi dengan keikhlasan, yaitu menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan. Tanpa keikhlasan, amal yang besar sekalipun bisa kehilangan pahala.
Ini selaras dengan Sinek yang menekankan pentingnya purpose—tujuan eksistensial yang menginspirasi dan menjadi motivasi terdalam organisasi.
Dengan kata lain, pesantren telah mempraktikkan filosofi “Start with Why” jauh sebelum Simon Sinek menulis bukunya. Bahkan, bisa dibilang, pesantren adalah bentuk nyata dari organisasi yang dibangun di atas “mengapa” yang sangat kuat: menjaga tradisi keilmuan Islam, mencetak generasi berakhlak, dan menjawab kebutuhan umat.
Adaptasi Tanpa Kehilangan Jati Diri
Tapi mempertahankan “mengapa” tidak selalu mudah. Pesantren dihadapkan pada berbagai godaan. Ada yang tergoda untuk mengikuti tren tanpa pijakan, sehingga kehilangan jati diri. Ada yang terlalu kaku mempertahankan tradisi, sehingga kehilangan relevansi. Kedua ekstrem ini sama-sama berbahaya.
Di sinilah peran kiai menjadi penting. Kiai adalah penjaga “mengapa” pesantren. Ia memastikan bahwa perubahan yang terjadi tidak menghilangkan esensi pesantren sebagai lembaga pendidikan agama yang berakar pada tradisi. Ia juga memastikan bahwa pesantren tidak tertinggal oleh zaman.
Seperti yang diajarkan Sinek, pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mampu mengomunikasikan “mengapa” dengan jelas kepada seluruh anggota organisasi. Kiai melakukan ini setiap hari. Ia mengajarkan santri bukan hanya cara membaca kitab, tapi juga alasan mengapa mereka harus terus belajar. Ia mengingatkan pengurus bukan hanya tentang target administrasi, tapi juga tentang tujuan suci di balik semua itu.
Ketika “Mengapa” Mulai Kabur
Tapi ada kalanya makna “mengapa” mulai kabur. Ketika pesantren terlalu sibuk mengejar target, ketika konflik yayasan menguras energi, ketika tekanan modernisasi terlalu besar—di situlah pesantren mulai kehilangan arah. Gejalanya terlihat: pengurus saling curiga, santri kehilangan semangat, program berjalan tanpa visi yang jelas.
Dalam situasi seperti ini, pesantren butuh kembali ke pertanyaan paling dasar: mengapa kita mendirikan pesantren ini? Bukan tentang bagaimana mengelola keuangan, atau apa yang harus diajarkan. Tapi tentang alasan paling awal yang membuat pesantren ini berdiri.
Sinek mengatakan bahwa organisasi yang lupa pada akar alasan “mengapa” akan mudah terombang-ambing. Mereka akan terjebak dalam kompetisi yang tidak sehat, mengejar hal-hal yang tidak penting, dan akhirnya kehilangan arah. Pesantren yang kehilangan “mengapa” akan mengalami hal yang sama.
Belajar dari Ketahanan Pesantren
Dari pesantren, kita bisa belajar banyak tentang ketahanan organisasi. Pertama, ketahanan tidak datang dari keunggulan teknis semata, tapi dari kejelasan tujuan. Pesantren bertahan karena ia memiliki “mengapa” yang dipegang teguh.
Kedua, pemimpin adalah penjaga utama “mengapa” itu. Kiai adalah pusat yang memastikan semua elemen pesantren tetap bergerak pada arah yang sama.
Ketiga, “mengapa” bukan sesuatu yang statis. Ia harus diperbarui dan dikomunikasikan terus-menerus. Setiap generasi santri, setiap pergantian pengurus, setiap perubahan zaman, harus dihadapi dengan pengingat ulang tentang “mengapa” pesantren berdiri. Dalam tradisi Islam, ini disebut tajdid—pembaruan yang tidak mengubah esensi, tapi menyegarkan pemahaman dan praktik.
Di sinilah kepemimpinan kiai menjadi model yang menarik. Kiai bukan manajer yang sibuk dengan administrasi. Ia adalah pemimpin yang sibuk menjaga “mengapa”.
Seorang kiai idealnya mengajarkan, menasihati, dan mengingatkan. Ia memastikan bahwa pesantren tidak pernah kehilangan akarnya, meskipun cabang-cabangnya terus tumbuh ke arah baru.
Simon Sinek mungkin tidak pernah menulis tentang pesantren. Tapi ketika ia menulis bahwa orang tidak membeli apa yang Anda lakukan, tapi mengapa Anda melakukannya, di situ tersirat satu gambaran bagaimana rahasia ketahanan pesantren.
Masyarakat tidak datang ke pesantren hanya untuk belajar membaca Alquran atau menghafal kitab kuning. Mereka datang karena mereka percaya pada tujuan pesantren: menjaga tradisi, membentuk karakter, dan menjawab kebutuhan zaman.
Di balik semua itu, ada tradisi panjang yang diajarkan oleh seorang Nabi, bahwa esungguhnya amal itu tergantung pada niatnya. Ini adalah konsep “Start with Why” versi Islam—sebuah ajaran yang telah hidup dalam pesantren selama berabad-abad, jauh sebelum Sinek menulis bukunya.
Selama “mengapa” itu tetap hidup, pesantren akan terus bertahan. Bahkan ketika kurikulum berubah, struktur berganti, dan generasi santri berganti, pesantren akan tetap berdiri. Karena di ujung semua perubahan itu, selalu ada “mengapa” yang tidak pernah pudar.
Di tengah dunia yang berubah begitu cepat, pesantren mengajarkan kita bahwa untuk bertahan, kita tidak perlu menjadi yang tercepat atau terbesar. Kita hanya perlu tahu untuk apa kita ada. Dan begitu kita tahu itu, kita akan selalu menemukan jalan untuk tetap hidup, meskipun jalan itu berubah-ubah.
Oleh: Dr Muhammad Irfanudin Kurniawan, M.Ag, Penulis buku “Organisme Pesantren” dan Dosen Manajemen Pendidikan Islam Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. (UYR/MUI)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments