Follow us:

Mengakrabkan Keluarga Dengan Alquran

 

Mengakrabkan keluarga dengan alquran merupakan kewajiban setiap diri, terkhusus bagi orangtua. Tema ini sering kita dengar dari banyak para ustadz dalam kajian atau ceramah mereka. Kenapa kita angkat tema ini? Karena buruknya pemahaman umat islam hari ini terhadap terhadap alquran.

Banyak kaum muslimin yang hanya menjadikan alquran sebagai pajangan di rumah, mulai dari ukuran kecil hingga ukuran yang besar. Ataupun hanya menempelkan sebagian ayat-ayat alquran pada dinding-dinding rumah. Ataupun alquran hanya dibaca pada saat momentum tertentu, seperti acara walimahan, tabligh akbar dan sebagainya diawali dengan tilawah alquran. Atau juga hanya dijadikan sarana lomba dalam kebaikan, agar peserta selalu mendekatkan diri dengan alquran. Lomba ini sering diadakan dalam bulan Ramadhan.

Ataupun membaca alquran dijadikan sarana mencari keberkahan tertentu dari alquran, tetapi disalahgunakan sehingga ada yang menawarkan diri untuk membaca alquran di tempat seorang yang meninggal salah satu anggota keluarganya dengan membayar dengan sekian ratus ribu atau sekian juta rupiah. Ia membacanya baik di kuburan atau di rumahnya. Dan banyak hal lagi terkait membaca alquran yang disalahgunakan. Apakah ini merupakan problem diri kita sebagai seorang muslim? Ataukah ini merupakan masalah keluarga, masyarakat dan Negara yang mayoritas muslim ini?? Iya, ini adalah problem yang harus kita selesaikan.

Diantara sebab problem-problem yang disebutkan di atas adalah tidak adanya cinta terhadap alquran. Membaca alquran bukan atas dasar cinta, mentadabburi dan mengkaji alquran bukan atas dasar cinta, bahkan sampai pada tataran mengamalkan nilai-nilai alquran bukan berdasarkan cinta. Jadi, cinta kepada alquran merupakan modal utama untuk semakin mengakrabkan diri dengan alquran. Coba perhatikan diri dan keluarga kita sendiri, apakah kita sudah cinta terhadap alquran ataukah belum??

Apakah kita sudah mengantuk saat membaca alquran padahal baru membaca satu halaman kenapa??? Coba kita mengukur diri, adakah rasa kangen ketika dalam sehari tidak membaca alquran? Kita harus melihat, sudahkah kita berkumpul dengan halaqah-halaqah alquran? Kalau kita belum rindu dengan kondisi seperti tadi, berarti kita belum cinta kepada alquran. Bagaimana dengan keinginan menghafal alquran? Semakin susah.

Oleh karena itu, seharusnya kita selalu menumbuhkan rasa cinta terhadap ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Berbicara terkait meng-akrabkan keluarga terhadap keluarga, tentunya kita memulai dari diri sendiri, istri dan anak-anak kita. Karena keluarga adalah masyarakat terkecil. Jadi jika sebuah keluarga cinta kepada alquran, mudah-mudahan hal ini bisa menjadi cerminan bagi tetangga-tetangganya, baik yang muslim maupun non muslim. Karena sejarah juga mencatat, bahwa orang-orang kafir masuk islam lantaran sebab alquran.

Jadi, kita mulai dari keluarga. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, dia berkata; “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda: “Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi….”. (HR. Muslim)

Yang dimaksud dengan “setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah” ialah bahwasanya ia dilahirkan dalam keadaan cinta kepada Rabb, mengakui wujud dan peribadahan kepada-Nya, hingga sekiranya fithrahnya dibiarkan (tidak ada pengaruh lain) maka ia fithrahnya tetap tidak akan berubah kepada yang lain. Sebagaimana jasad manusia difitrahi mempunyai keinginan makan dan minum, maka demikian pula halnya dengan jiwa (hati)nya telah difitrahi kembali kepada Allah dan beriman kepada-Nya

Maka kedua orangtua lah yang membentuk anak menjadi seorang Yahudi, Nashrani atau Majusi. Disinilah peran orangtua khususnya seorang Ayah dalam mendidik anak. Tidak mungkin keluarga menjadi keluarga terbaik dalam mencintai alquran jika ebagai orangtua tidak memberikan teladan yang terbaik dan mendidik keluarga sebagai ahlul quran. Hal ini dikuatkan dengan ayat alquran lainnya, meskipun ayatnya bersifat umum. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (التحريم: 6)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At Tahrim: 6)

Adh Dhahhak dan Muqatil bin Hayyan, mereka mengatakan: “Setiap muslim berkewajiban mengajari keluarganya, termasuk kerabat dan budaknya, berbagai hal berkenaan dengan hal-hal yang diwajibkan Allah Ta’ala kepada mereka dan apa yang dilarang-Nya”.

Salah satu didikan yang bisa kita berikan terhadap keluarga kita agar selamat dari siksa Allah Ta’ala yaitu mendidik dengan alquran. Bahkan alquran bisa menjadi syafa’at bagi para sahabat-sahabatnya kelak di hari kiamat.

Dari Abu Umamah Al-Bahili Radhiallahu Anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Quran kerana sesungguhnya pada hari kiamat ia datang memberi syafa’at kepada orang yang membacanya”. (HR. Muslim)

Syafaat, dalam arti yang sederhana adalah pertolongan. Kita tahu, bahwa setiap manusia tak akan luput dari dosa dan kesalahan. Dan pada diakhirat nanti kita membutuhkan pertolongan agar kita selamat. Salah satu bentuk pertolongan atau syafaat di akhirat nanti bisa didapatkan melalui Al Qur’an.

Pada dasarnya, syafaat mutlak milik Allah, dan diberikan oleh Allah kepada siapa saja yang di ridhaiNya. Nabi Muhammad adalah manusia yang diridhoi Allah untuk memberikan syafaat. Dan berdasarkan hadits diatas, bisa diartikan bahwa orang yang rutin membaca Al Qur’an adalah orang yang mendapatkan syafaat atau pertolongan.

Mari kita mulai dari mendidik keluarga kita menjadi ahlul quran. Dan ini merupakan satu motivasi yang harus kita hidupkan. Apa itu motivasinya? Kenapa kita harus menghidupkan kembali alquran dalam keluarga kita?? Mendoakan diri dan keluarga agar menjadi ahlul quran dan ahlul jannah.

Diantara Motivasi Terpenting Dalam Mendidik Anak Dengan Alquran

Pertama, Agar Anak-Anak Menjadi Kokoh Iman Dan Amal Shalihnya. Begitu banyak hal yang dapat merusak aqidah, iman, amal shalih dan akhlak anak-anak di luar rumah.

Kedua, jika anak kuat dalam hal alquran, anak kitalah yang akan merawat kita saat kita sudah tua renta

Ketiga, pewaris orangtua adalah anak-anak. Apa yang sering dilakukan orangtua akan meninggalkan bekas dalam diri anak-anak. Jika orangtua shalih, maka keshalihannya akan berpengaruh terhadap keshalihan anak.

Keempat, yakinlah bahwa alquran akan menjadi syafa’at bagi para pembacanya kelak di hari kiamat.

 

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ كَانَ يَقُولُ إِنَّ الْبَيْتَ لَيَتَّسِعُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ وَتَهْجُرُهُ الشَّيَاطِينُ وَيَكْثُرُ خَيْرُهُ أَنْ يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ وَإِنَّ الْبَيْتَ لَيَضِيقُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَهْجُرُهُ الْمَلَائِكَةُ وَتَحْضُرُهُ الشَّيَاطِينُ وَيَقِلُّ خَيْرُهُ أَنْ لَا يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ

 

Sesungguhnya Abu Hurairah Radhiallahu Anhu berkata, “sungguh rumah akan terasa luas bagi penghuninya, para malaikat akan mendatanginya, setan-setan akan menjauhi dan kebaikannya akan bertambah jika Al Qur’an dibaca di dalamnya. Dan rumah akan terasa sempit bagi penghuninya, para malaikat menjauhinya, setan-setan datang dan kebaikannya berkurang jika di dalamnya tak dibacakan Al Qur’an”. (HR. Darimi)

 

Demikianlah diantara motivasi bagi para orangtua untuk selalu meng-akrabkan diri dan keluarga dengan alquran. Tentunya, ada beberapa hal yang patut kita pahami agar keluarga kita akrab dengan alquran.

 

  1. Meyakini Kebenaran Alquran

Kita harus benar-benar yakin bahwa Al Qur’an adalah kalamullah  yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Jangan sampai terjadi keraguan dalam diri kita terhadap alquran. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

 “Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”.  (Al Baqarah: 2)

Kalau kita sudah meyakini kebenaran alquran, maka ia menjadi panduan dalam berjalan, membina keluarga, panduan dalam mengajar dan mendidik, panduan dalam melakukan bisnis dan lain sebagainya.

Jika umat islam percaya akan kebenaran alquran, mereka akan berada dalam cahaya yang terang, namun sayang, umat islam tertidur dari kebenaran ini.  Kenapa kita ragu akan kebenaran alquran??

Termasuk meyakini alquran adalah dengan menghafalkan ayat-ayat alquran. Allah Ta’ala telah menjamin untuk memudahkan orang yang berkeinginan menghafal alquran.

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ (القمر: 17)

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al Qamar: 17)

  1. Mengenalkan Dan Mendekatkan Alquran

Mari kita mengenalkan alquran dengan baik kepada keluarga kita, baik dengan rutin membacanya, menuliskannya, memperdengarkan ayat-ayatnya, sampai dengan mentadabburi makna-makna ayat alquran dan sebagainya.

  1. Mengamalkan Alquran

Mengamalkan berawal dari memahami ilmu-ilmunya serta berpegang teguh pada hukum-hukumnya, kemudian menyelaraskan hidup dan tingkah laku serta akhlaknya, sebagaimana akhlak Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam Al Qur`an.

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.  Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu.  Dan Allah tiada memberi petunjuk pada kaum yang dzalim”. (QS. Al Jumu’ah: 5)

Alangkah buruknya perumpamaan ini bagi mereka yang tidak mengamalkan ayat-ayat Allah (termasuk di dalamnya Al Qur’an), yaitu dengan perumpamaan keledai yang memikul kitab-kitab besar tetapi ia tidak mengerti apa yang ada di dalamnya.  Jadi bila manusia tidak mengamalkan Al Qur’an seperti keledai yang tidak merasakan selain beban bawaan tanpa dapat memanfaatkan apa yang dibawanya itu.

  1. Menghafalkan Alquran

Dalam hal keutamaan penghafal Al-Qur’an, terdapat riwayat dari Imam Bukhari, dari Aisyah Radhiallahu Anha dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مثل الذي يقرأ القرآن وهو حافظ له مع السفرة الكرام البررة ومثل الذي يقرأ وهو يتعاهده وهو عليه شديد فله أجران

“Perumpamaan yang membaca Al-Qur’an sementara dia menghafalkannya bersama para Malaikat. Sedangkan perumpamaan yang membaca Al-Qur’an sementara dia menjaganya dengan sungguh-sungguha maka dia mendapatkan dua pahala.”

Dengan menghafal, kita akan membaca dan mendengar. Oleh itu, sesibuk apapun kita, keluarga menjadi prioritas utama. Jadikanlah keluarga kita akrab dengan alquran. Jika negara, masyarakat kita rusak maka jangan sampai keluarga kita hancur. Nas’alullah al ‘Aafiyah.

Wallahu Ta’ala A’lam

Oleh:Ustadz Abdurrahman Makatita, MA.

(Hud/ Darussalam.id)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved