Follow us:

MENGETAHUI PERKARA-PERKARA JAHILIYYAH

Di dalam menjalankan agama Allah tidak hanya dituntut mengetahui perkara ketaatan yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, namun juga harus mengetahui keburukan-keburukan yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebab keburukan tersebut dapat merusak agama.

Kerusakan agama tersebut diantaranya disebabkan oleh perkara Jahiliyyah. Jahiliyyah banyak diartikan orang sebagai kebodohan, arti ini terbatas dan terlalu sederhana. Memang, secara etimologis kata “Jahiliyah” berasal dari kata “Jahila” yang bermakma “Bodoh, Tidak Mengetahui atau tidak mempunyai pengetahuan”, lawan kata dari “Alima” yang bermakna “Mengetahui”. Dan dari pengertian inilah kaum orientalis menyempitkan maknanya hanya dalam konteks bodoh secara intelektual atau juga bisa dengan istilah primitif.

Namun lebih dari itu, Jahiliyyah sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Shalih Al Fauzan adalah perkara-perkara yang menghancurkan keadaan umat (baik Yahudi, Nashrani dan sebagainya) sebelum diutusnya para Nabi.

Banyak orang mengerti ketaatan, tapi mereka belum tentu mengerti perkara jahiliyyah itu apa? Padahal Allah Ta’ala telah menjelaskannya di dalam alquran. Tapi sedikit dari kaum muslimin yang memahaminya. Diantaranya disebutkan dalam surah Al Ahzab ayat 33.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً (الأحزاب: 33)

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. (Al Ahzab: 33)

Dalam surah Al Fath ayat 26 Allah Ta’ala juga menyebutkannya,

إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً (الفتح: 26)

“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan Jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (Al Fath: 26)

Urgensi Mengerti Perkara Jahiliyyah

Sebesar apa kebutuhan kita untuk mengerti perkara jahiliyyah? Sangat besar. Sebab, barangsiapa yang tidak mengerti perkara jahiliyyah bisa jadi ia menjalankan keislaman tercampur dengan perkara jahiliyyah yang dapat mendatangkan murka Allah Ta’ala. Mari kita memegang perkataan Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu terkait jahiliyyah;

“Hampir-hampir pintalan agama Islam ini akan lepas satu persatu

apabila tumbuh pada umat ini orang yang tidak mengetahui perkara-perkara jahiliyah”.

 

Setidaknya inilah alasan yang mendasari kita mengapa harus mengetahui perkara yang tercela, dalam hal ini adalah tradisi jahiliyah, bukan untuk kita amalkan akan tetapi untuk kita hindari dan jauhi, supaya kita tidak terjerumus dan melakukannya sehingga tanpa sadar kita telah menodai agama Islam dengan melepas pintalan tersebut sebagaimana perkataan Amirul Mu’minin Umar bin al-Khaththab Radhiallahu Anhu di atas.

 

Banyak orang tidak mengetahui perkara jahiliyyah. Sebab terkait dengan kebencian yang membutuhkan energy lebih besar daripada energy mencintai. Oleh itu, banyak orang mampu mencintai tapi tidak mampu membenci. Sebab, tidaklah sempurna iman seseorang jika tidak mencintai dan membenci apa-apa yang dicintai dan dibenci oleh Allah Azza Wajalla. Khususnya membenci perkara-perkara jahiliyyah yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya.

 

Sahabat Hudzaifah bin al-Yaman Radhiallahu Anhu beliau pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tentang kejelekan. Padahal para sahabat berlomba-lomba untuk bertanya tentang kebaikan yang kemudian untuk diamalkan, beliau mengatakan alasannya seraya berkata: “Dahulu manusia bertanya tentang kebaikan sedangkan aku bertanya tentang kejelekkan karena aku takut kejelekan tersebut akan menimpaku”.

 

Mengetahui perkara jahiliyyah merupakan pokok perkara penting. Sebab, sempurnanya iman kita kepada Allah bukan hanya sekedar mengetahui ketaatan, tapi juga ketika kita mengerti bagaimana menjauhkan diri kita dari perkara-perkara jahiliyyah yang merusak kehidupan agama kita.

Allah Ta’ala berfirman,

…. فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (النور: 63)

….Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (An Nur: 63)

Ibnu Katsir Rahimahullahu berkata, “Khawatirlah dan takutlah bagi siapa saja yang menyelisihi syari’at Rasul secara lahir dan batin karena niscaya ia akan tertimpa fitnah berupa kekufuran, kemunafikan atau perbuatan bid’ah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)

Imam Ahmad Rahimahullahu berkata, “Tahukah engkau apakah fitnah itu? Fitnah itu adalah kesyirikan, barangkali apabila ia menolak sebagian sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam maka akan menimpa dia sesuatu, berupa kecondongan kepada kesesatan yang menyebabkan ia binasa”.

Salah satu contohnya adalah ketika kaum muslimin dengan pasukan minim dan persiapan seadanya, ternyata meraih kemenangan di Perang Badar. Di Perang Hunain, pasukan kaum muslimin berjumlah banyak. Secara logika, pasti menang, apa lagi dengan label sebagai “pejuang al haq”. Namun ternyata di Perang Hunain, pasukan kaum muslimin hampir mengalami kekalahan. Strategi apa yang salah? Ikhtiar apa yang kurang? Ternyata kekalahan itu terjadi bukan karena kurangnya ikhtiar, bukan karena kurangnya perlengkapan senjata, tetapi karena ada maksiat yang dibawa saat perang, yang tersembunyi di dalam dada sebagian besar tentara kaum muslimin. Kemaksiatan yang halus, yang hanya Allah Ta’ala saja yang mengetahuinya. Yaitu congkak dengan perkataan: ”Kali ini kita tidak mungkin bisa dikalahkan.” Padahal justru hal itu mendatangkan kesulitan tersendiri bagi pasukan kaum muslimin”. Sebab, keunggulan jumlah bukanlah satu-satunya faktor penentu kemenangan. Namun karena karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

…… وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئاً …..

…..dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kamu sedikitpun….” (QS. At Taubah: 25-26). Tentara muslim yang banyak jumlahnya itupun lari ke belakang dengan bercerai berai, hingga seseorang tidak lagi memperdulikan temannya.

Tapi akhirnya, kaum Muslimin dapat melakukan serangan balasan. Dan dalam waktu yang sangat singkat, mereka berhasil memukul mundur musuh. Untuk memberi semangat kepada kaum Muslimin, Nabi mengatakan, “Saya Nabi Allah dan tidak pernah berdusta, dan Allah telah menjanjikan kemenangan kepada saya”.

Kemenangan tidaklah diturunkan Allah dengan begitu saja, tetapi melalui tarbiyah dari Allah Ta’ala hingga orang-orang beriman siap menerima kemenangan, di saat yang tepat. Jangan pernah menyalahkan musuh, tetapi salahkan diri sendiri mengapa bisa memperoleh kekalahan. Apa yang salah dalam taqarrub kita kepada Allah Ta’ala?

Apa Saja Perkara-Perkara Jahiliyyah Itu?

  1. Syirik Dan Kufur Kepada Allah

Syirik maknanya menyekutukan sesuatu bersama Allah di dalam kekhususanNya dalam KeuluhiyahanNya, KerububiyahanNya serta Nama dan sifat-sifatNya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال : بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْل الْمُظْلِم يُصْبِح الرَّجُل مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِح كَافِرًا يَبِيع دِينه بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا   {رواه مسلم}

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Bersegeralah beramal kebajikan sebelum datangnya fitnah-fitnah, seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Ada seseorang yang pagi harinya dalam keadaan beriman dan sore harinya telah kafir, atau pada sore harinya mukmin dan pagi harinya dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya dengan kenikmatan dunia.” (HR. Muslim)

Bagi orang yang menunda-nunda kebaikan, niscaya ia akan mendapatkan fitnah-fitnah, seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Ketika seseorang berjalan di malam yang gelap, maka ia tidak mengetahui apa yang ada di depannya, belakangnya, kanan kirinya, apakah ada jurang, batu, duri, hewan buas dan sebagainya. Artinya apa? Akan datang suatu fitnah dimana seseorang tidak lagi mengetahui mana yang haram dan halal, mana yang haq dan batil. Bahkan nabi merincikan lagi,  bahwa ada seseorang yang pagi harinya dalam keadaan beriman dan sore harinya telah kafir, atau pada sore harinya mukmin dan pagi harinya dalam keadaan kafir. Bahkan seseorang menjual agamanya dengan kenikmatan dunia. Menjual akidahnya dengan dunia.

Batasan antara syirik dan iman begitu tipis, hingga nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengibaratkannya dalam sebuah hadits,

عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ ، عَنْ سَلْمَانَ ، قَالَ : ” دَخَلَ رَجُلٌ الْجَنَّةَ فِي ذُبَابٍ ، وَدَخَلَ رَجُلٌ النَّارَ فِي ذُبَابٍ ، قَالُوا : وَكَيْفَ ذَلِكَ ؟ قَالَ : مَرَّ رَجُلانِ عَلَى قَوْمٍ لَهُمْ صَنَمٌ ، لا يَجُوزُهُ أَحَدٌ حَتَّى يُقَرِّبَ لَهُ شَيْئًا ، فَقَالُوا لأَحَدِهِمَا : قَرِّبْ ، قَالَ : لَيْسَ عِنْدِي شَيْءٌ ، قَالُوا : قَرِّبْ وَلَوْ ذُبَابًا ، فَقَرَّبَ ذُبَابًا ، قَالَ : فَخَلَّوْا سَبِيلَهُ ، قَالَ : فَدَخَلَ النَّارَ ، وَقَالُوا لِلآخَرِ : قَرِّبْ وَلَوْ ذُبَابًا ، قَالَ : مَا كُنْتُ لأُقَرِّبَ لأَحَدٍ شَيْئًا دُونَ اللَّهِ ، قَالَ : فَضَرَبُوا عُنُقَهُ ، قَالَ : فَدَخَلَ الْجَنَّةَ ”

Dari Thariq bin Syihab, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada seorang lelaki yang masuk surga karena seekor lalat.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab, “Ada dua orang lelaki yang melewati daerah suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban sesuatu untuk berhala tersebut. Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, “Berkorbanlah.” Maka dia menjawab, “Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.” Maka mereka mengatakan, “berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat.” Maka dia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah dia masuk neraka. Dan mereka juga mengatakan kepada orang yang satunya, “Berkorbanlah.” Dia menjawab, “Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah ‘azza wa jalla.” Maka mereka pun memenggal lehernya, dan karena itulah dia masuk surga.” (HR. Ahmad, shahih mauquuf dari Salman)

Hikmah yang terkandung dari hadits ini ialah:

  1. Peringatan akan bahaya syirik walaupun dalam masalah kecil. Dan syirik itu memastikan pelakunya masuk ke neraka. Sebagaimana hadits di atas.
  2. Menumbuhkan sikap wara’ terhadap segala hal yang memungkinkan untuk terjatuh dalam perbuatan syirik merupakan suatu keharusan bagi seorang muslim betul-betul tunduk dan patuh kepada Allah dan rasul-Nya.

Karena terkadang seseorang terjatuh ke dalam kesyirikan lantaran ia tidak mengetahui bahwa apa yang telah ia perbuat merupakan perbuatan kesyirikan yang memastikan ia masuk ke dalam neraka. Diriwayatkan dari sahabat Nu’man bin Basyir bahwa Rasulullah saw telah bersabda :

إِِنَّ الْحَلاَ لَ بَيِّنٌ وَ إِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَ بَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَا تٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌمِنَ الْنَّا سِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبْهَاتَ فَقَدْ  اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبْهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas, dan diantara keduanya ada perkara yang samar-samar (syubhat) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barang siapa menghindari perkara-perkara yang syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan barang siapa yang terjerumus dalam perkara tersebut, maka ia telah terjerumus dalam perkara yang haram…..”

  1. Meremehkan segala hal yang telah ditetapkan di dalam Al Quran dan sunnah, merupakan suatu perbuatan yang sangat dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla dan rasul-Nya. Lebih-lebih hal itu masuk dalam hal yang bersifat ushuli.

Dan akibat yang didapatkan dari sikap seperti ini ialah terjerumusnya seseorang ke dalam neraka Allah Azza wa Jalla. Hal ini dapat kita lihat, bahwa orang yang disebutkan dalam hadits di atas sebelumnya adalah seorang muslim yang meremehkan terhadap permasalahan yang dihadapinya. Jika seandainya ia bukan seorang muslim, tentunya Rasulullah saw tidak akan bersabda, “Masuk neraka karena seekor lalat…”.

Anas bin Malik radhiallahu’anhu berkata : “Sesungguhnya (suatu saat nanti) kalian akan beramal dengan amalan yang kalian anggap lebih kecil (remeh) dari pada sehelai rambut. Dan kami menganggap pada masa Rasulullah saw, hal itu merupakan bagian dari hal-hal yang dapat membinasakan seseorang”

  1. Orang tersebut masuk neraka dengan sebab ia melakukannya karena ingin bebas dari kejahatan pemuja berhala. Dan ini ia lakukan tanpa adanya pengingkaran dalam hatinya. Berbeda dengan sahabat Ammar bin Yasir yang dipaksa oleh kaum kafir Quraisy untuk mengatakan bahwa Latta, Uzza dan Manat adalah tuhan yang patut disembah. Walaupun ia terpaksa mengatakannya, akan tetapi ia tetap mengingkari dalam hatinya. Sebagaimana firman Allah:

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapatkan kemurkaan Allah Azza wa Jalla, kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar”

  1. Perkataan, “aku tidak patut untuk mempersembahkan kurban selain kepada Allah”, ini menerangkan keutamaan tauhid, keikhlasan dan ketabahan hatinya dalam memurnikan keimanannya pada Allah Azza wa Jalla, serta keuletannya dalam memegang agama. Yaitu ketabahannya dalam menghadapi eksekusi / hukuman mati dan penolakannya dalam memenuhi permintaan mereka. Karena tanpa adanya keikhlasan hati dalam memurnikan ketauhidan dan keimanannya pada Allah Azza wa Jalla niscaya ia tidak akan mampu seperti firman Allah Azza wa Jalla:

وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حَنَفَاءُ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus …..

Imam Ath Thabari Rahimahullah mengatakan bahwa kalimat, “mukhlisina lahud diin”, mempunyai  dua makna, yaitu ketaatan sepenuhnya kepada-Nya dan tidak mencampurinya dengan suatu kesyirikan.

Obatnya adalah aqidah yang shahihah. Dan beribadah kepada Allah antara takut dan harap. Inilah yang disebut dengan takwa. Ibnu Rajab menyatakan bahwa takwa adalah takut. Dan takut tidak dapat diperoleh melainkan dengan mengumpulkan tiga perkara secara berurutan. Yaitu; takut berbuat syirik, takut berbuat bid’ah dan takut berbuat maksiat.

Diantara Macam-Macam Syirik

Pertama, Syirik Dalam Masalah Niat, Maksud Dan Tujuan

Rasulullah telah mengajarkan doa agar terhindar dari syirik,

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ

“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik (menyekutukan-Mu) sedangkan aku mengetahuinya. Dan kami memohon ampun kepada-Mu terhadap kesyirikan yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad dari Abu Musa al Asy’ari. Dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih al Targhib wa al Tarhib)

Kedua, Syirik Ketaatan

Berdasarkan firman Allah Ta’ala :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam. Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar menyembah sesembahan yang Esa, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah: 31)

Dan tafsir ayat ini yang maknanya sudah jelas yaitu ketaatan kepada Ulama dan ahli Ibadah dalam perkara maksiat, dan bukanlah yang dimaksud mereka berdoa (beribadah) kepada mereka. Sebagaimana Nabi shalallahu alaihi wassallam menafsirkan ayat ini kepada Adi bin Hatim Radhiyallahu ‘anhu ketika beliau bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassallam , beliau Radhiyallahu anhu berkata: “Tidaklah kami beribadah kepada mereka” maka Rasulullah shalallahu alaihi wassallam mengatakan kepadanya :“Yang dimaksud dengan beribadah kepada mereka yaitu menaati mereka dalam kemaksiatan”. (Hadits dari Adi bin Hatim Radiyallahu’ anhu. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (3/378) Tirmidzi (2954) Ibnu Hibban (7206). Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam  “Shohih Sunan Tirmidzi” (31/56)).

Dan pada kenyataannya hal ini sering kia temui di sekitar kita, suatu perkara yang sudah jelas dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang keharaman atau kehalalannya dengan enteng bisa dibantah seseorang dengan kalimat “tapi kata kyai saya gak haram kok” atau dengan kata-kata yang lebih halus “maknanya bukan seperti itu, kata ustadz saya …..”  Dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dikalahkan dengan ucapan ustadz, kyai, guru atau syaikhnya.

Ketiga, Syirik dalam doa

Sebelumnya harus diketahui, doa terbagi dua. Yaitu:

Pertama: Doa Ibadah, seperti Sholat, Puasa, Zakat, Haji dan ibadah-ibadah lainnya. Ibadah-ibadah ini teranggap sebagai doa, dikarenakan di dalamnya terkandung doa, yaitu agar dimasukkan surga dan dijauhkan dari Neraka dengan sebab mengerjakan amalan tersebut. Dan doa Ibadah ini tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah semata, apabila ditujukan kepada selainnya maka pelakunya telah terjatuh dalam perbuatan syirik akbar. Seperti perbuatan seseorang yang bersujud kepada selain Allah atau berpuasa dengan tidak mengharap pahala Allah tapi dengan niat memperoleh ilmu kekebalan dsb.

Kedua: Doa Mas’alah, seperti meminta Rezeki, meminta keturunan atau meminta dilepaskan dari suatu kesulitan.

Doa masalah boleh ditujukan kepada selain Allah dengan dipenuhinya seluruh dari 3 syarat tanpa ada satupun yang tidak terpenuhi, yaitu:

  1. Hidup, yakni maknanya tidak boleh meminta tolong kepada orang yang sudah mati atau meminta tolong kepada batu, pohon dan semisalnya
  2. Hadir, Yakni maknanya yang dimintai tolong dapat berhubungan langsung dengan yang meminta tolong baik secara bertatap muka ataupun melalui alat perantara seperti Telepon, surat dan sebagainya. Sehingga tidak diperbolehkan bagi seseorang meminta tolong kepada orang lain yang terpisah dalam jarak yang jauh tanpa adanya perantara yang zhohir. Seperti memanggil-manggil sang guru ketika terancam bahaya dalam keadaan sang guru terpisah jarak yang sangat jauh, dan dia berkeyakinan bahwa sang guru saat itu mampu mendengar permintaan tolongnya.
  3. Mampu, yakni maknanya yang dimintai bantuan memiliki kemampuan untuk memberikan pertolongan, sehingga tidak diperbolehkan bagi seseorang meminta kepada orang lain untuk diberi keturunan, diturunkan hujan atau dipanjangkan umur, karena semua kemampuan ini tidak dimilki oleh makhluk dan hanya Allah yang memilkinya.

Perbuatan syirik dalam doa masalah ini sebagaimana perbuatan sebagian orang yang berdoa kepada selain Allah dengan memohon perkara-perkara yang kemampuan tersebut tidak dimiliki kecuali oleh Allah, seperti berdoa kepada Jin, batu atau dukun untuk diberi keturunan atau rejeki atau dipanjangkan umur. Sebagian lagi berdoa dan memohon kepada jin-jin penunggu laut dan gunung meminta agar hasil tangkapan laut atau hasil pertaniannya melimpah. Maka semua perbuatan ini dan sejenisnya adalah tergolong perbuatan syirik akbar.

Allah Ta’ala berfirman:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Maka apabila mereka menaiki kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)(QS. Al-Ankabut : 65)

Allah Ta’ala juga telah berfirman :

وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Dan janganlah kamu memohon/berdo’a kepada selain Allah, yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu, jika kamu berbuat hal itu maka sesungguhnya kamu dengan demikian termasuk orang-orang yang dzolim (musyrik). Dan jika Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba hambaNya dan Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang”. (QS. Yunus: 107).

 

Keempat, Syirik Kecintaan

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman kecintaan mereka yang terbesar hanya untuk Allah semata.(QS. Al Baqarah: 165)

Wallahu Ta’ala A’lam

Oleh:Ustadz Oemar Mita, Lc.

(Hud/DARUSSALAM.ID)

 

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved