Follow us:

MENJADI MUSLIM BERADAB

 

الحمد لله الذي أنعمنا بنعمة الإيمان والإسلام، وهدانا إلى صراط مستقيم إلى دين الإسلام وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله، أشهد أن لاإله إلا الله وحده لاشريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة.

فيآأيها المسلمون ، أوصيكم وإياي نفسي بتقوى الله وطاعته فقد فاز المتقون . وقال الله تعالى فى كتابه الكريم،: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم :

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ } التحريم6

وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم فى حديثه الشريف: أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوا أَدَبَهُمْ ( روه ابن ماجه)

Ma’asyiral Muslimin sidang jum’at Rahimakumullahu

Mudah-mudahan kita semua termasuk hamba-hamba Allah yang bersyukur kepadaNya atas segala nikmat dan karunia-Nya, khususnya nikmat iman dan islam, begitu pula nikmat sehat wal ‘afiat. Nikmat situasi dan kondisi masyarakat negeri kita yang aman sentosa jauh dari peperangan, konflik, musibah dan lainnya, sebagaimana yang dicobakan oleh Allah Ta’ala pada sebagian saudara kita di negeri lainnya. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam beserta keluarganya, para sahabatnya dan siapa saja yang mengikuti petunjuk beliau sampai akhir zaman nanti.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُمَارَةَ أَخْبَرَنِي الْحَارِثُ بْنُ النُّعْمَانِ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوا أَدَبَهُمْ ( روه ابن ماجه)

Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Umarah, telah mengabarkan kepadaku Harits bin Nu’man  berkata, aku mendengar Anas bin Malik berkata, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam beliau bersabda, “Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka”. (HR. Ibnu Majah)

Salah satu ungkapan ulama kepada putranya,

يا بني أصحب الفقهاء وتعلم منهم وخذ أدبهم

“Wahai anakku, bergaul lah kalian dengan para Fuqaha’ (ulama), belajarlah ilmu dari mereka, dan ambil lah adab mereka”

Para muhadditsin telah mengumpulkan banyak hadits terkait adab. Adab menjadi tiang tegaknya masyarakat muslim. Bangunan pribadi, keluarga dan masyarakat kita akan tegak jika adab ini ditegakkan. Dan sebaliknya, masyarakat akan runtuh apabila tidak ada adab. Sungguh aneh bahwa kurikulum-kurikulum pendidikan, bahkan terkadang di sekolah maupun universitas islam, adab ini tidak diajarkan. Padahal pendidikan adab ini wajib diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Kata “adab” sering diterjemahkan dengan “budi bahasa” atau “sopan santun”, padahal terjemah ini tidak sepenuhnya benar. Karena sopan santun terkait dengan budaya. Adab tidak semestinya terkait dengan budaya, karena adab adalah kemampuan kita semua sebagai seorang muslim untuk memahami dan mau mengakui segala sesuatu sesuai dengan harkat dan martabat yang ditentukan Allah. Siapa yang layak kita sembah? Al Khaliq Allah Subhanahu Wa Ta’ala, itu maknanya kita beradab kepada Allah Ta’ala.

Oleh karena itu tokoh pendidikan dalam alquran, Luqman Al Hakim. Pertama kali yang ia ajarkan kepada putranya adalah bahwa syirik merupakan kezaliman yang besar.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (لقمان: 13)

“Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Luqman: 13)

Inilah kewajiban pertama bagi tiap orang tua yaitu memahamkan tauhid kepada anak-anak kita. Memahamkan betapa tingginya kejahatan syirik. Jangan samakan Allah dengan makhluk, jangan angkat makhluk ke derajat Khaliq begitu juga sebaliknya. Karena itu semua tidak beradab.

Rasulullah telah mengingatkan dengan sabdanya,

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ ». قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِىَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِى الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً

Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik ashgar adalah) riya’. Allah Ta’ala berkata pada mereka yang berbuat riya’ pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: ‘Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’ (HR. Ahmad)

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.

Riya’ adalah menampakkan ibadah dengan maksud agar dilihat orang lain. Jadi riya’ berarti melakukan amalan tidak ikhlas karena Allah karena yang dicari adalah pandangan, sanjungan dan pujian manusia, bukan balasan murni di sisi Allah. Penyakit inilah yang banyak menimpa kita ketika beribadah. Riya’ inilah yang benar-benar Nabi khawatirkan.

Mengapa riya’ dikatakan syirik kecil? Riya’ adalah perbuatan yang tidak beradab kepada Allah. Karena ibadah yang semestinya ditujukan hanya kepada Allah Azza Wa Jalla, dipalingkan untuk mencari tujuan, popularitas, ketenaran di kalangan makhluk. Maka sungguh ia tidak beradab kepada Allah Ta’ala.

Adab kepada Allah ini sangat penting untuk ditanamkan pada diri dan keluarga kita di era modern sekarang. Karena tantangan yang dihadapi dalam medan akidah sangat luar biasa. Sekarang kita digiring dengan paham pluralisme, multikulturalisme untuk memandang dan meletakkan agama di tempat yang sama. Mereka mengatakan bahwa “semua agama adalah sama”, “jangan letakkan satu agama lebih tinggi dan lebih superior daripada agama lainnya”.

Bahkan kita sekarang mulai diteror dengan apa yang mereka sebut “Hak Asasi Manusia”, tetapi dengan pandangan sangat sekuler. Mereka mengatakan, “manusia itu sama, apakah ia mukmin atau tidak”. “Kalau anda mengangkat seorang pemimpin, jangan lihat agamanya, imannya, tidak penting apakah ia menyembah Allah atau tidak, bertauhid atau berbuat syirik. Yang penting ia humanis, suka menolong, suka berbuat baik kepada sesama, ahli manajemen dan sebagainya”, kata mereka. Padahal Rasulullah telah mengingatkan,

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ قَالَ وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.\” Aku menduga Ibnu ‘Umar menyebutkan: “Dan seorang laki-laki adalah pemimpin atas harta bapaknya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atasnya. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya”. (HR. Bukhari)

Bahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menegaskan bahwa amal seseorang tidak ada gunanya jika imannya hilang.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاء حَتَّى إِذَا جَاءهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئاً وَوَجَدَ اللَّهَ عِندَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (النور: 39)

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. (An Nur: 39)

Adab ini terkait dengan kemampuan kita, anak-anak dan keluarga kita. Bagaimana memahami keadaan orang-orang bertauhid. Allah Ta’ala telah mengingatkan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (الحجرات: 6 )

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (Al Hujurat: 6)

Fasiq adalah orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, mengerjakan dosa-dosa besar atau dosa-dosa kecil secara berterusan.

Sulit kita pahami di negeri ini, masih ada sebagian pemimpin kita yang berani melarang muslimah menutup aurat. Konon katanya, negri kita adalah negri yang beriman kepada Tuhan yang Maha Esa. Dimana-mana masuk menjadi pegawai negeri ada syarat iman dan takwa. Bagaimana mungkin seorang pemimpin berani melarang muslimah menutup auratnya?! Sementara tiap hari ia membiarkan orang lain mengumbar auratnya?? Bagaimana kita bisa percaya kepada mereka?! Seperti apa sebetulnya para pemimpin kita?

Kita doakan, mudah-mudahan mereka mendapatkan hidayah dari Allah Ta’ala, sadar bahwa bukan main tanggung jawab mereka, berani menantang Allah. Kalau orang tidak mampu, belum sanggup seharusnya ia beristighfar (mohon ampun) kepada Allah. Namun faktanya, sebagian pemimpin melarang anggotanya menjalankan perintah Allah! Ini bukan sekedar ketidak beradaban, namun lebih kepada menantang Allah Azza Wa Jalla.

Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah

Apakah kita sudah mengajarkan anak-anak kita untuk memuliakan orang-orang bertakwa dan mengagumi orang beriman? Agar mereka tidak silau dengan jabatan dan kekuasaan. Terkadang seorang dimuliakan bukan karena dirinya mulia, tapi karena menduduki suatu jabatan tertentu. Kursinya lah yang mulia, bukan dirinya. Ketika kursinya diambil, ia tidak lagi berharga dihadapan manusia, karena memang dirinya tidak mulia.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (الحجرات: 13)

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Al Hujurat: 13)

Memang tidak mudah bagi kita di era kebebasan informasi untuk mendidik anak-anak kita sebagaimana hadits pembuka dalam khutbah ini. Agar anak-anak mengetahui siapa yang harus mereka muliakan, kagumi dan agungkan.  Serta mengetahui siapa yang selayaknya dijadikan kawan dan musuh.

وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ (البقرة: 168)

…. dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (Al Baqarah: 168)

Allah Ta’ala pun telah memberitahukan bagaimana cara syaithan memperdaya manusia. Syaithan mengemas perbuatan keji tampak indah. Sehingga manusia tidak sedikit yang memuja perbuatan maksiat dan munkar. Bahkan terkadang rela membayar untuk menikmati perbuatan-perbuatan munkar.

وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لاَ غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ…. (الأنفال: 48)

“Dan ketika syaithan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini…..” (Al Anfal: 48)

Orang-orang mukmin adalah saudara kita dan ini merupakan adab dari islam. Allah Ta’ala menjanjikan kemenangan bagi yang memiliki sifat-sifat seperti dalam ayat berikut,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (المائدة: 54)

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui”. (Al Maidah: 54)

Ibnu Jarir dan Qatadah Rahimahumallahu mengatakan bahwa Allah Ta’ala menurunkan ayat ini karena Dia mengetahui akan banyaknya orang yang murtad terutama setelah Nabi wafat. Kategori murtad yang pertama muncul sesudah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam wafat (pada masa Abu Bakar al-Shiddiq) adalah orang-orang yang mengatakan: “kami shalat tapi kami tidak mau membayar zakat karena Allah tidak dapat merampas harta kami”.

Inilah jawaban Allah, bahwa Dia akan mendatangkan satu kaum yang Ia mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah. Huruf fa pada kata fa saufa adalah jawab syarat yang bermakna jika terjadi orang-orang yang beriman murtad dari agama Allah, maka Allah akan mendatangkan kaum yang Ia cintai dan mereka pun mencintai Allah Ta’ala. Inilah karakteristik pertama dari mukmin yang sempurna (al-mukmin al-kamil) yaitu mereka yang dicintai Allah karena mereka mencintai Allah Ta’ala. Oleh karena itu, mukmin yang sempurna adalah mukmin yang memiliki sifat mahabbah (cinta kepada Allah).

Orang yang berusaha mencintai Allah akan merasakan manisnya iman, sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berikut,

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Tiga perkara yang dengannya seseorang akan merasakan manisnya iman: (1) seseorang yang mencintai Allah dan RasulNya dan tidak ada yang melebihi cinta kepada keduanya; (2) tidak mencintai seseorang/sesuatu kecuali atas dasar cinta kepada Allah; (3) seseorang yang benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke neraka”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Karakteristik yang kedua adalah mereka berkasih sayang dengan sesama mukmin dan keras terhadap musuh-musuh mereka yang kafir (Yahudi dan Nashrani). Karakter ini semakna dengan ayat:

“Keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang dengan sesama mereka” (Al-Fath: 29)

Karakteristik ketiga adalah berjuang di jalan Allah yaitu jalan kebenaran dan kebaikan untuk memperoleh ridha Allah Ta’ala. Sebaik-baiknya jihad adalah mengorbankankan jiwa dan harta untuk memerangi musuh-musuh kebenaran (al-haq). Itulah ciri nyata dari mukmin yang benar dan lurus.

Ciri yang keempat adalah mereka tidak takut dengan celaan dari orang-orang munafik. Orang munafik lebih khawatir kepada hinaan dan celaan dari orang Yahudi dan Nasrani yang menjadi wali mereka, atau takut dimusuhi dan diperangi oleh Yahudi dan Nashrani. Orang-orang yang memiliki iman sempurna tidak pernah berharap balasan atau pujian dari manusia tetapi amal yang dilakukan didasarkan kepada kebenaran dan menjauhi sesuatu yang bathil karena jelas bathilnya.

Jangan malu sebagai seorang muslim. Kalau ia berjilbab, tidak perlu jilbabnya ditanggalkan hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya juga menerima orang lain yang tidak berjilbab. Sejak dahulu Rasulullah mengajarkan untuk bangga sebagai muslim. Lihatlah para sahabat yang mengungsi di Habasyah, mereka tidak gentar sama sekali berhadapan dengan para pendeta, bahkan berdialog dengan raja Najasyi. Rasulullah menanamkan sikap bangga sebagai muslim, mengajarkan untuk tidak minder dengan kaum yang lain. Bahkan ketika kaum muslimin dalam keadaan miskin papa dan terusir, tidak tampak dari mereka rasa malu dan terhina dari kaum lainnya. Inilah yang mengangkat derajat kaum muslimin. Sehingga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mewanti-wanti,

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Hampir terjadi keadaan yang mana ummat-ummat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang yang makan mengerumuni makanannya”. Salah seorang sahabat bertanya; “Apakah karena sedikitnya kami ketika itu?” Nabi menjawab, Bahkan, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai ghutsa’ (buih kotor yang terbawa air saat banjir). Dan pasti Allah akan mencabut rasa segan yang ada di dalam dada-dada musuh kalian, kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa wahn”. Kata para sahabat, “Wahai Rasulullah, apa Wahn itu? Beliau bersabda: “Cinta dunia dan takut mati”. (Shahih – HR. Abu Daud, Kitab al-Malahim, Bab, Fi Tadaa’al Umam ‘Alal Islam)

Hadits di atas memaparkan berita Rasulullah mengenai keadaan umat Islam di akhir zaman. Unsur-unsur kekuatan ummat Islam bukan pada banyaknya jumlah dan kekuatannya, pasukan kavalerinya dan kesombongannya, pasukan infantrinya dan para komandannya, tapi pada aqidahnya dan manhajnya. Karena ummat ini adalah ummat tauhid dan pengusung panji-panji tauhid. Apakah engkau tidak perhatikan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di atas, ketika menjawab pertanyaan salah seorang sahabatnya tentang jumlah, “Bahkan kalian ketika itu banyak!”

Kita telah banyak diingatkan dalam alquran dan as sunnah agar menjadi orang-orang beradab. Mentauhidkan Allah dan menjadikan Rasulullah sebagai uswah hasanah dan mengikuti para ulama salafusshalih yang meneruskan jejak sunnah perjuangan Nabi. Karena ini semua merupakan bagian dari adab kepada beliau Shallallahu Alaihi Wasallam.

بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Oleh:Ustadz. DR. Adian Husaini, MA

(Hud/ Drussalam.id)

 

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved