Follow us:

Meraih Pertolongan Allah

                                     

Oleh: Ustadz  Nirwan Syafrin, MA

Tema ini sengaja kami angkat sebagai refleksi terhadap kondisi umat islam saat ini. Banyak hal yang membuat kita sedih, pilu bahkan terkadang sampai menanyakan kapan datangnya pertolongan Allah.

Kemenangan hanya datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan syarat-syarat untuk mencapai kemenangan dan meraih pertolongan Allah sudah disebutkan di dalam alquranul karim.

Dalam sejarah perjalanan agama ini, peperangan menjadi sesuatu yang tidak dipisahkan dalam memperjuangkan dan membela hak-hak kehormatan islam dan umatnya. Apa yang dahulu terjadi di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hendaknya dapat dijadikan ibrah untuk kita dalam mengambil sikap pada kondisi saat ini.

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya”. (Ali Imran: 123)

Perang Badar adalah hari terpisahnya antara kebenaran dan kebatilan, sekaligus menjadi bukti bahwa jumlah yang sedikit tidak menghalangi Muslimin daripada menang menghadapi musuh yang banyak jumlahnya, dengan syarat terpasaknya dalam jiwa Keimanan dan Kesabaran.

Benarnya niat, gigihnya ikhtiar dan usaha – syari’atullah juga sunnatullah, dan penggantungan harapan hanya kepada Allah Ta’ala, menjadi sebab hadirnya bantuan yang dinanti dari Allah Maha Perkasa. Dalam perang badar tersebut umat Islam diberikan kekuatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan bantuan balatentara malaikat, hingga pihak Quraisy lari mundur dan mengalami kekalahan yang kemudian dikejar oleh umat islam sambil dibunuh dan menawan pasukan kafir quraisy.

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلآئِكَةِ مُرْدِفِينَ{9} وَمَا جَعَلَهُ اللّهُ إِلاَّ بُشْرَى وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ وَمَا النَّصْرُ إِلاَّ مِنْ عِندِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

 “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut. Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai khabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al-Anfal: 9-10)

Begitupun dalam perang Hunain, ternyata jumlah pasukan kaum muslimin yang banyak menyebabkan sebagian kaum muslimin menganggap remeh terhadap musuh.

Setibanya kaum muslimin di Hunain, musuh yang telah lama menanti dan telah mempersiapkan diri dengan berlingung dicelah-celah lembah hunain, mereka melempari kaum muslimin dengan batu-batu besar dan kecil  seperti hujan yang lebat.

Akibat lemparan batu tersebut, kaum muslimin menjadi kacau balau dan banyak pula yang lari kocar-kacir. Pada saat itu hanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan beberapa sahabat-sahabat yang tetap bertahan, diantaranya ialah: Abu Bakar, Umar, Ali, Abbas dan abu Sufyan bin Harits, yaitu putra paman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Maka ‘Abbas memanggil mereka yang lari dan mundur itu dengan suara yang keras: “Hai para sahabat yang telah bersumpah dalam Bai’atur Ridlwan”. Dengan seruan itu lalu sahabat anshar menjawab: “Ya, ya, kami maju”. Kemudian mereka maju dan bertempur disamping Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan rahmat dan pertolonganNya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan kaum muslimin dengan memberi bantuan bala tentara yang tidak kelihatan. Kaum muslimin terus maju hingga pertempuran dimenangkan oleh pihak kaum muslimin.

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئاً وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ{25} ثُمَّ أَنَزلَ اللّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُوداً لَّمْ تَرَوْهَا وَعذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَذَلِكَ جَزَاء الْكَافِرِينَ

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (wahai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, iaitu di waktu kamu menjadi sombong kerana banyaknya jumlah kamu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentera yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir”. (At-Taubah: 25-26)

Hal ini menunjukkan bahwa banyak atau sedikitnya jumlah bukanlah menjadi tolok ukur peraihan kemenangan dalam sebuah pertempuran, hal ini dibuktikan dalam peperangan badar yang mana jumlah pasukan kaum muslimin sangat sedikit dibandingkan pasukan kaum kafir quraisy, namun dengan jumlah yang sedikit tersebut membuat hati-hati kaum muslimin menjadi tawadhu dan mengharap pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga dengan keimanan dan tekad yang kuat dalam berjihad dijalan Allah, mereka mendapatkan kemenangan yang gilang gemilang. Berbeda dengan apa yang dialami oleh kaum muslimin pada peperangan Hunain, karena jumlah pasukan kaum muslimin yang banyak tersebut membuat hati-hati para kaum muslimin menjadi sombong dan terlena sehingga dengan kesombongan dan keterlenaan mereka itu, mereka mendapatkan pelajaran yang amat berharga dari musuh dengan dibuat kocar-kacirnya kesatuan mereka.

Intinya, segala kemenangan yang diraih orang-orang beriman selalu disandarkan kepada Allah. Di dalam alquran disebutkan bahwa orang-orang beriman akan selalu ditolong Allah Ta’ala. Diantaranya:

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ (غافر: 51)

“Sesungguhnya kami menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)”. (Ghafir/ Al Mu’min: 51)

Dari uraian di atas, hendaknya kita bercermin pada sejarah masa lalu, apakah kita sudah layak mendapatkan kemenangan dan pertolongan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala ataukah belum?? Sebab, pertolongan Allah sangat terkait erat dengan keimanan dan ketakwaan.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ{1} الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ{2}

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya”. (Al Mu’minun: 1-2)

Dalam surah Al Mu’minun ayat 1-2 disebutkan bahwa salah satu syarat untuk menjadi orang beruntung adalah dengan mendirikan shalat. Shalat memang hubungan personal antara seorang hamba dengan Rabb-Nya. Namun shalat juga mempunyai dampak sosial yang luar biasa dalam kehidupan ini, untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat, pada tataran individu maupun masyarakat. Bahkan merupakan karakter dari pemimpin yang mu’min adalah mendirikan shalat.

الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ (الحج: 41)

“(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”. (Al Hajj: 41)

Kalau kita bandingkan realitas hari ini antara orang yang mendirikan shalat dan tidak, pasti jumlah orang yang tidak mendirikan shalat lebih banyak meskipun mereka mengaku muslim. Lalu apakah kita layak mendapatkan pertolongan Allah??

Konsep izzah (harga diri) sebagai seorang muslim sepertinya sudah hilang. Hari ini orang melihat ‘izzah bukan lagi pada keimanan terhadap Allah Ta’ala, namun lebih kepada hal materi dan keduniawiaan seperti kekayaan, jabatan dan sebagainya.

Hari ini banyak orang tidak peduli dengan pemimpinnya, apakah ia beriman atau tidak, yang penting  “dia baik, tidak korupsi”, kata mereka. Padahal nilai kebaikan seseorang tidak bernilai sedikitpun jika tidak disertai keimanan kepada Allah Ta’ala.

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (الزمر: 65)

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (Az Zumar: 65)

Jadi, sebanyak apapun seseorang beramal, bersedekah dan sebagainya, tidak akan bernilai apapun jika dirinya menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kemudian bagaimana caranya agar pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu turun?

Allah ‘Azza Wa Jalla sendiri yang telah menyatakannya yaitu dengan menolong agama-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad: 7)

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (Al Hajj: 40)

Di ayat ini dijelaskan bahwa syarat mendapatkan pertolongan Allah adalah dengan cara menolong Agama Allah.

Bagaimana caranya menolong (Agama) Allah?

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz menjelaskan dalam sebuah ceramahnya yang kemudian dibukukan, setelah membawakan ayat 7 Surat Muhammad. Beliau berkata,

”Maka inilah bentuk pertolongan kepada Allah dengan melakukan perintah–perintah Nya dan meninggalkan larangan–larangan Nya dengan keimanan dan keikhlasan kepada Allah serta mentauhidkan-Nya, juga keimanan kepada Rasul-Nya…. Maka menolong agama Allah adalah dengan mentaati Allah, mengagungkan-Nya dan ikhlas kepada-Nya, serta mengharapkan apa-apa yang ada di sisi-Nya, mengamalkan syariat-Nya karena menginginkan pahala darinya dan untuk menegakkan agama-Nya.” (Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Asbaabu Nashrillaahi lil Mu’miniin ‘alaa A’daa ihim, Daar al Imam Ahmad, Cet. I, 2003 M, terj. Tim Pustaka Ibnu Katsir, Wahai Kaum Muslimin Raihlah Pertolongan Allah, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cet. I, Juli 2005 M, hal. 21).

Singkat kata, setiap orang harus meningkatkan ketakwaannya agar datang pertolongan Allah buat mereka.

”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”. (Ath Thalaq: 2)

”Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya jalan kemudahan dalam urusannya.” (Ath Thalaq: 4)

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz juga mengatakan,

”Jadi, siapa yang menginginkan datangnya pertolongan Allah dan keselamatan bagi agamanya serta menginginkan kesudahan yang baik, maka hendaklah bertakwa kepada Allah, dan bersabar dalam ketaatan kepada-Nya. Juga hendaknya menjauhi larangan–larangan Allah dimana pun dia berada. Inilah sebab–sebab pertolongan Allah padanya…”.

Dan jauhi juga kemaksiatan. Karena kemaksiatan merupakan sebab tidak datangnya pertolongan Allah.

Kondisi umat islam saat ini hendaknya dapat kita renungi bahwa sebuah kenyataan yang terpampang di depan mata umat islam di seluruh belahan dunia kini menjadi bulan-bulanan bangsa kafir. Apa yang terjadi saat ini menjadi cerminan bahwa jumlah kita yang banyak saat ini tidak berarti apa-apa dihadapan musuh-musuh islam. Umat islam kini ibarat buih di lautan yang terlihat banyak tapi seketika hilang kembali. Apa yang terjadi pada perang badar dan hunain hendaknya menjadi introspeksi bagi kita semua, meluruskan kembali niat perjuangan dalam menegakkan dienullah ini, memohonkan pertolongan pada Allah, dan membina umat agar senantiasa mengamalkan agama ini dengan sebenar-benarnya sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Wallahu Ta’ala A’lam

(Hud/Darussalam.id)

 

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved