Follow us:

Nabi Yusya’ bin Nun Menahan Matahari Saat Pembebasan Baitul Maqdis

Oleh:ustadz Afta

Di dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan :

سإن الشمس لم تُحْبَسْ لبَشَرٍ إلا ليوشع لَيَاِلَي سافَرَ إلى بيت المقد

Artinya: “Sesungguhnya matahari tidak pernah ditahan untuk seorang manusia pun, selain untuk Yusya’, pada hari ketika ia hendak membebaskan Baitul Maqdis.” (HR Ahmad Juz II/325 dan Al-Hakim Juz II/139).

Silsilahnya adalah Yusya’ bin Nun bin Ifrosun bin Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim ‘Alaihimas Salam. Dengan Nabi Musa bertemu di kakek mereka Ya’qub. Lengkapnya Musa bin Imran bin Lewi bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim ‘Alaihimas Salam.

Nama Nabi Yusya’ memang tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Al-Qur’an. Akan tetapi dialah yang mendampingi Nabi Musa ketika keduanya berjalan hingga bertemu dengan Nabi Khidir. Ini seperti tertuang dalam Al-Quran:

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَىهُ لَآ أَبْرَحُ حَتَّىٓ أَبْلُغَ مَجْمَعَ ٱلْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِىَ حُقُبًا

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.” (QS Al-Kahfi [18]: 60).

Nabi Yusya’ atau Joshua (dalam Bahasa Inggris), atau

Yehoshu (Bahasa Ibrani), merupakan murid dari Nabi Musa yang menjadi pemimpin Bani Israil (Bani Ya’qub), menggantikan Nabi Musa setelah wafat (dalam usia 120 tahun).

Nabi Musa ketika membawa kaumnya keluar dari kejaran bala tentara Firaun di Mesir, menyebrang jalan kering yang membelah Laut Merah atas mukjizat dari Allah. Lau Merah (Red Sea) adalah teluk di sebelah barat Jazirah Arab yang memisahkan Benua Asia dan Afrika.

Namun, selepas selamat dari peristiwa spektakuler penyeberangan itu, yang menenggelamkan Fir’aun dan pasukannya, kaum Bani Israil mengingkari ajaran tauhid Nabi Musa. Mereka berbuat syirik dengan menyembah patung sapi yang dibuat dari leburan emas dan barang-barang berharga yang sempat mereka bawa selama pelarian.

Mereka pun menentang perintah Nabi Musa untuk berperang menghadapi pasukan kuat yang waktu itu menguasai Baitul Maqdis. Nabi Musa menyerukan perintah Allah untuk memasuki Baitu Maqdis, tanah yang dijanjikan Allah kepada Bani Israil, anak keturunan Nabi Ya’qub yang shalih.

Saat itu, ketika Nabi Musa dan kaumnya berputar-putar di Gurun Sinai (dikenal juga dengan Jabal Musa, di Semenanjung Mesir), belum bisa memasuki kawasan Baitul Maqdis. Belum sempat memasuki Baitu Maqdis, Nabi Musa dan Nabi Harun wafat, dan digantikan oleh murid Nabi Musa yang bernama Yusya’ bin Nun.

Masuk Baitul Maqdis

Yusya’ pun melanjutkan memimpin mereka, kaum Bani Israil, untuk menyerang kaum ‘Amaliqah, yang ingkar kepada Allah, yang saat itu menguasai Baitul Maqdis.

Yusya’ mempersiapkan pasukannya untuk memasuki Baitu Maqdis (Yerusalem), dengan cara menembus Benteng pertahanan Yerikho (Jericho).

Yerikho (dalam Bahasa Arab, Ariha) yang disebut sebagai kota tertua di dunia, terletak di Tepi Barat, dekat Sungai Yordan.

Yusya’ kemudian mengirim dua orang pengintai untuk mengamati wilayah kota itu. Hampir saja kedua pengintai itu tertangkap oleh pasukan Yerikho, jika tidak diselamatkan oleh seorang wanita tuna susila bernama Rahab.

Dari wanita ini pulalah diketahui bahwa penduduk Kota Yerikho sebenarnya lebih takut kepada kaum Bani Israil yang mereka anggap memiliki kesaktian atau kekuatan gaib lantaran dukungan dari Yang Maha Kuasa. Rahab, sang wanita itu, mengatakan, “Kengerian menghinggapi kami karena Tuhan telah mengeringkan Laut Merah bagi kalian. Ketika kami mendengarnya, ciutlah hati kami dan jatuhlah semangat tiap-tiap orang dari kami, sebab Tuhan kalian adalah Penguasa langit dan bumi.”

Kemudian di dalam hadits diuraikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ihwal persiapan perang suci tersebut. Hadits itu menyebutkan, ”Salah satu dari Nabi telah melakukan perang suci. Ia berkata kepada kaumnya: ‘Barangsiapa yang telah menikahi seorang perempuan dan berkehendak untuk bercampur dengannya namun belum terlaksana; lalu mereka yang sedang membangun rumah namun belum menegakkan atap rumahnya; juga mereka yang telah membeli kambing-kambing dan unta-unta yang hamil dan menunggu kelahirannya, mereka itu tidak akan ikut (untuk berperang) bersamaku.” (HR Muslim).

Nabi Yusya’ mempersyaratkan bahwa mereka yang ikut berperang bersamanya adalah mereka yang tidak terikat hatinya kepada keduniaan. Karena bukanlah jumlah prajurit yang dicari, melainkan keikhlasan.

Maka dimulailah perjalanan suci itu, dengan para pemuka agama berjalan di barisan terdepan memimpin pergerakan kaum Bani Israil.

Sesampai di tepi Sungai Yordan, tatkala para pemuka agama mencelupkan kakinya ke dalam air sungai untuk menyeberang, muncullah mukjizat, tiba-tiba aliran sungai terhenti dan terbukalah jalan kering melintasi sungai di depan mereka, persis seperti tatkala Allah menyiapkan jalan kering bagi Musa dan pengikutnya membelah Laut Merah.

Pasukan Bani Israil pun menyeberangi sungai yang lebar dan dalam itu, tanpa mengalami kesulitan yang berarti.

Sesampai di pinggir Sungai Yordan, di wilayah Gilgal, perbatasan Yerikho, mereka pun berkemah di sana.

Berita tentang kedatangan pasukan Bani Israil yang dipimpin Nabi Yusya’ bin Nun, kian santer menyebar ke seluruh negeri. Begitu pun semua pemimpin di kawasan Baitul Maqdis, mereka ketakutan tatkala mendengar bagaimana Allah lagi-lagi membantu Bani Israil dengan membuatkan jalan kering di perairan.

Gerbang Yerikho yang besar dan kokoh itu pun ditutup rapat-rapat, tak seorang pun dapat keluar atau masuk. Nabi Yusya’ memerintahkan semua orang berjalan mengelilingi benteng kota itu selama enam hari, sementara para pemuka agama ditugaskan meniup trompet yang terbuat dari tanduk domba.

Di hari ketujuh, dinding benteng raksasa itu runtuh dan para prajurit Nabi Yusya’ merangsek masuk ke dalam kota.

Di sini terjadi mukjizat kembali, yakni tatkala Nabi Yusya’ dan pasukannya hendak menembus Benteng Yerikho, matahari sempat dibuat berhenti beredar oleh Allah.

Perang hari terakhir itu terjadi bertepatan dengan Hari Jumat. Hari itu berlangsung lebih lama dari hari-hari biasanya. Hal ini dilakukan untuk memberi kesempatan kepada Nabi Yusya’ beserta kaumnya menyelesaikan tugasnya, karena keesokan harinya sudah masuk Hari Sabat (Sabtu), hari yang sesuai syariat Nabi Musa, Bani Israil diperintahkan untuk berhenti beraktivitas, termasuk tidak boleh berperang.

Tatkala mendekati Baitul Maqdis, dan kemenangan penuh hamper diraih, matahari sudah hampir terbenam. Jika matahari terbenam, Yusya’ bin Nun tentu tidak akan bisa meneruskan perang untuk dapat membuka Baitul Maqdis.

Maka ia pun memandang matahari sore itu, dan memohon kepada Allah,

إِنَّكِ مَأْمُورَةٌ وَأَنَا مَأْمُورٌ، اللَّهُمَّ احْبِسْهَا عَلَيْنَا فَحُبِسَتْ

Artinya: “Sesungguhnya engkau matahari adalah makhluk yang mendapat perintah dari Allah. Aku pun juga makhluk yang diperintah oleh Allah. Ya Allah, tahanlah sebentar matahari ini.” (HR Ahmad).

Maka, Allah pun mengabulkan doanya, yaitu Allah menahan agar matahari tidak terbenam, hingga Yusya’ bin Nun bisa meneruskan perang dan akhirnya berhasil membebaskan Baitul Maqdis.

Agar Bersyukur

Kemudian Allah memerintahkan Bani Israil sebagai pemuliaan untuk memasuki Baitul Maqis dengan penuh kesyukuran dalam posisi ruku’ dengan khusyu’ dan memohon ampunan Allah.

Di dalam Al-Quran peristiwa tersebut diabadikan:

وَإِذْ قُلْنَا ٱدْخُلُوا۟ هَٰذِهِ ٱلْقَرْيَةَ فَكُلُوا۟ مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَٱدْخُلُوا۟ ٱلْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا۟ حِطَّةٌ نَّغْفِرْ لَكُمْ خَطَٰيَٰكُمْ ۚ وَسَنَزِيدُ ٱلْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kalian ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kalian sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahan kalian, dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS Al-Baqarah [2]: 58).

Di dalam Tafsir as-Sa’di (Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di), dijelaskan, ayat ini mengandung pengingat kepada Bani Israil (anak cucu Nabi Ya’qub) tentang kejadian besar yang terjadi pada pendahulu mereka akan nikmat Allah yang diberikan kepada Bani Israil, agar wajib disyukuri.

Namun yang terjadi kemudian adalah, setelah Bani Israil mengenyam berbagai kenikmatan itu, ternyata mereka lalu ingkar kepada Allah. Bahkan mereka mengganti perintah Allah dengan mengerjakan sesuatu yang justru tidak diperintahkan kepada mereka. Di antara perbuatan yang mereka lakukan adalah mengganti perintah sujud dengan mengangkat kepala, tunduk sebagai bukti ketaatan dengan pembangkangan, dan disuruh rendah hati malah bersikap angkuh serta sombong.

Maka, akibat dari keingkaran dan kesombongan itulah Allah melalui para malaikat menurunkan malapetaka yang merupakan siksa yang amat pedih kepada orang-orang yang zalim itu. Hal yang sedemikian ini karena mereka selalu berbuat fasik, yaitu tidak pernah bersyukur dan selalu menyiratkan pembangkangan dan kesombongan.

Demikian kisah Nabi Yusya’ bin Nun yang penuh dengan hikmah pelajaran. Semoga kita dapat mengambil ibrah (pelajaran) dari kisah Nabi Yusya’ bin Nun tersebut. Aamiin.

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved