Follow us:

Tashrifan Tidak Kalah dengan Algoritma AI

Di serambi pesantren, suara tashrifan hingga hari ini masih terdengar. Santri mengulang fa‘ala, yaf‘ulu, fa‘lan, wamaf’alan, fā‘ilun, maf‘ūlun dengan ritme yang hampir sama dari generasi ke generasi. Ia bukan fosil intelektual yang tersimpan di rak kitab kuning, melainkan tradisi hidup yang terus diamalkan, diwariskan, dan menjadi bagian pengalaman nyantri sehari-hari.

Ada sesuatu yang menarik ketika suara itu kita letakkan di tengah zaman kecerdasan buatan. AI sedang ramai membicarakan transformasi, pola, prediksi, dan kemampuan mengubah satu masukan menjadi berbagai keluaran. Santri sejak awal belajar sharaf sudah berkenalan dengan perubahan bentuk, pola, dan keteraturan. Hanya saja, santri menyebutnya tashrifan, bukan algoritma.

Tashrifan mengajarkan bahwa sebuah kata tidak hidup dalam satu rupa. Ia dapat berubah menjadi fi‘il māḍī, fi‘il muḍāri‘, maṣdar, ism fā‘il, ism maf‘ūl, dan bentuk lainnya. Tetapi perubahan itu tidak berlangsung sembarangan. Ada akar, wazan, aturan, dan hubungan makna. Bentuk boleh berubah, tetapi asal-usul tetap dapat dilacak.

Khazanah sharaf sendiri memiliki perjalanan panjang. Santri mengenal Tashrīf al-‘Izzī karya ‘Izzuddin az-Zanjani, Marāḥ al-Arwāḥ karya Ahmad bin Ali bin Mas‘ud, Matan al-Binā’ wa al-Asās, Nazhm al-Maqshūd, dan berbagai karya lain yang membentuk tradisi pengajaran ilmu sharaf. Marāḥ al-Arwāḥ, misalnya, tercatat sebagai karya Ahmad ibn Ali ibn Mas‘ud yang hidup pada abad ketiga belas.

Kemudian di Nusantara hadir kitab yang begitu dekat dengan kehidupan santri, Al-Amtsilah at-Tashrifiyyah karya KH Muhammad Ma‘shum bin Ali. Kitab ini dikenal luas dengan sebutan Tashrifan Jombang dan menjadi salah satu kitab dasar ilmu sharaf bagi santri pemula. Susunannya sederhana, sistematis, dan langsung menghadirkan contoh perubahan kata.

Kiai Ma‘shum bin Ali sendiri bukan sekadar nama di halaman sampul. Ia adalah ulama yang hidup dalam tradisi pesantren, berasal dari Maskumambang, Gresik, dan berkiprah di Seblak, Jombang. Al-Amtsilah at-Tashrifiyyah menjadi salah satu karya yang membuat namanya terus hadir dalam ingatan santri. Setiap kali tashrifan dibaca, sebenarnya sebuah karya ulama Nusantara sedang kembali dihidupkan.

Ada yang menarik dari kitab ini. Ia tidak banyak berteori. Ia memberikan contoh. Santri melihat perubahan, mengulangnya, menghafalnya, kemudian perlahan memahami polanya. Cara semacam itu tampak sederhana. Tetapi pendidikan sering kali memang bekerja melalui kesederhanaan yang dilakukan berulang-ulang. Yang mula-mula hanya hafalan, lama-lama menjadi kepekaan. Yang mula-mula terasa mekanis, kelak menjadi kemampuan.

AI juga bekerja dengan pola. Ia memproses data dalam jumlah besar, menemukan keteraturan, kemudian menghasilkan keluaran berdasarkan pola yang dipelajari. Satu pertanyaan dapat melahirkan banyak jawaban. Satu gagasan dapat berubah menjadi tulisan, gambar, suara, ringkasan, atau analisis. Mesin semakin pandai melakukan transformasi. Tetapi di sinilah manusia perlu berhenti sebentar dan bertanya tentang makna.

AI boleh cepat. Tetapi cepat belum tentu benar. AI boleh fasih. Tetapi kefasihan belum tentu kebijaksanaan. AI dapat menghasilkan jawaban yang tampak meyakinkan. Tetapi keyakinan manusia terhadap sebuah jawaban tidak boleh hanya dibangun oleh kelancaran bahasa. Dalam tradisi pesantren, ilmu memiliki sanad, guru, kitab, metode, adab, dan proses verifikasi yang panjang.

Maka, tashrifan sebenarnya menyimpan pelajaran penting untuk era AI. Perubahan tidak berarti kehilangan akar. Transformasi tidak berarti membuang asal-usul. Sesuatu boleh memiliki banyak bentuk, tetapi setiap bentuk tetap memiliki hubungan dengan sumbernya. Bukankah pesantren juga sedang menghadapi persoalan yang sama ketika berhadapan dengan dunia digital?

Tashrifan dan Logika Transformasi

Dunia berubah terlalu cepat. Informasi yang dahulu harus dicari berhari-hari kini muncul dalam hitungan detik. Kitab yang dahulu harus dicari di perpustakaan dapat ditemukan secara digital. Terjemahan dapat dibuat dengan cepat. Tulisan dapat disusun oleh mesin. Bahkan sebuah pertanyaan yang belum selesai dipikirkan manusia sudah dapat dijawab oleh kecerdasan buatan.

Di satu sisi, ini adalah berkah teknologi. Santri dari pelosok dapat mengakses pengetahuan yang dahulu sulit diperoleh. Manuskrip dapat didigitalisasi. Kitab dapat dicari berdasarkan kata kunci. Pembelajaran bahasa Arab dapat dibantu teknologi. Dakwah dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Jarak yang dahulu menjadi penghalang mulai kehilangan kekuatannya.

Tetapi setiap kemudahan membawa godaan. Karena jawaban mudah ditemukan, manusia bisa berhenti bertanya. Karena ringkasan tersedia, manusia malas membaca. Karena terjemahan cepat, manusia enggan mempelajari bahasa sumber. Karena mesin dapat menulis, manusia merasa tidak perlu lagi berpikir. Teknologi yang semestinya menjadi alat dapat berubah menjadi tongkat yang membuat otak malas berjalan.

Beruntunglah pesantren pada usia sekolah yang masih banyak menerapkan pembatasan gawai. Ada pesantren yang belum memperbolehkan santri menggunakan gawai secara bebas. Ada pula yang memperbolehkannya pada waktu tertentu dengan aturan yang ketat. Untuk mahasantri, kebijakannya dapat berbeda karena kebutuhan akademik dan tuntutan perkuliahan. Perbedaan itu justru menunjukkan adanya penyesuaian berdasarkan usia dan kebutuhan pendidikan.

Pembatasan tersebut jangan buru-buru dianggap sebagai sikap anti-teknologi. Bisa jadi justru di situlah pesantren sedang menjalankan fungsi pendidikannya. Anak yang belum selesai belajar mengendalikan diri memang tidak selalu harus diberi seluruh dunia dalam genggaman. Sebab gawai bukan sekadar benda. Ia adalah pintu menuju dunia yang hampir tanpa batas.

Santri usia sekolah masih membutuhkan kitab, pengajian, hafalan, permainan, pertemanan, jamaah, piket, khidmah, dan pengalaman hidup bersama. Ada pendidikan yang tidak dapat dipindahkan ke layar. Bau kitab, suara kiai, antre kamar mandi, makan bersama, membersihkan halaman, bercanda dengan teman, bahkan teguran pengurus adalah bagian dari pendidikan yang tidak dapat direplikasi algoritma.

Di sinilah tashrifan terasa semakin penting. Santri belajar melalui pengulangan. Ia tidak selalu memperoleh hasil secara instan. Fa‘ala, yaf‘ulu. Diulang lagi. Besok diulang lagi. Lusa diulang lagi. Mungkin bagi dunia yang serba cepat hal itu tampak lamban. Tetapi justru kelambanan yang terarah sering kali melahirkan kedalaman. Santri sedang belajar bahwa tidak semua ilmu harus diperoleh dengan jalan pintas.

AI seharusnya tidak membuat tradisi itu hilang. Sebaliknya, AI dapat menjadi alat bantu setelah fondasi keilmuan terbentuk. Santri boleh menggunakan AI untuk mencari referensi, membandingkan teks, membuat indeks, atau membantu memahami bahan pelajaran. Tetapi ia tetap perlu membaca kitab, bertanya kepada guru, menguji jawaban, dan memahami sumbernya.

Dalam bahtsul masail, misalnya, AI dapat membantu mencari bahan. Tetapi ia tidak boleh menggantikan musyawarah. Ia dapat menemukan berbagai pendapat, tetapi tidak otomatis memahami konteks sosial yang sedang dihadapi. Ia dapat menyusun argumen, tetapi tanggung jawab keputusan tetap berada pada manusia yang memiliki kapasitas keilmuan dan moral.

Karena itu, pesantren jangan hanya menjadi konsumen AI. Pesantren harus menjadi fa‘il. Santri perlu disiapkan untuk menjadi pengguna sekaligus pencipta teknologi. Mereka dapat mengembangkan mesin pencari kitab, pengarsipan digital turats, pembelajaran bahasa Arab berbasis AI, aplikasi pesantren, hingga sistem yang membantu pelestarian manuskrip dan literatur Pegon.

Tetapi semua itu harus tetap mempunyai akar. Teknologi boleh berubah. Metode belajar boleh berkembang. Media dakwah boleh berganti. Namun sanad, adab, ta’lim, ta’dib, tazkiyah, dan khidmah tidak boleh dianggap sebagai barang usang yang menghalangi kemajuan. Justru nilai-nilai itulah yang membuat teknologi mempunyai arah.

Pesantren Berubah Tanpa Tercerabut

Tashrifan memberikan metafora yang sederhana tetapi dalam. Kata berubah bentuk karena pola dan fungsi. Ia tidak kehilangan hubungan dengan akar. Pesantren pun demikian. Ia boleh memasuki ruang digital, menggunakan AI, mengembangkan aplikasi, dan menciptakan inovasi. Tetapi ia tidak boleh berubah menjadi sesuatu yang asing terhadap tujuan awal pendidikannya.

Kita tidak perlu mengubah santri menjadi mesin. Justru ketika mesin semakin pandai meniru kemampuan manusia, manusia harus semakin serius menjadi manusia. Santri harus memiliki sesuatu yang tidak cukup dimiliki algoritma. Kepekaan moral, tanggung jawab, keteladanan, rasa malu, kasih sayang, kebijaksanaan, dan keberanian mengatakan tidak ketika sesuatu yang mudah ternyata tidak benar.

AI dapat membantu santri menemukan kitab. Tetapi ia tidak menggantikan rasa haru ketika menerima ijazah dari guru. AI dapat menjelaskan teks. Tetapi ia tidak otomatis menghadirkan barakah majelis ilmu. AI dapat membuat tulisan. Tetapi ia tidak menjalani khidmah yang membuat ilmu mempunyai jejak dalam kehidupan.

Di sinilah kecerdasan pesantren perlu dibedakan dari kecerdasan buatan. AI berusaha membuat mesin semakin pintar. Pesantren seharusnya berusaha membuat manusia semakin matang. AI mengukur kemampuan melalui keluaran. Pendidikan pesantren mengukur keberhasilan melalui perubahan manusia. Yang satu menghasilkan respons. Yang lain seharusnya menghasilkan akhlak.

Masa depan pesantren bukan pertarungan kitab kuning melawan AI. Bukan pula pertandingan kiai melawan algoritma. Masa depan pesantren adalah perjumpaan. Kitab memberi akar, teknologi memberi jangkauan. Sanad memberi orientasi, AI memberi kecepatan. Adab memberi batas, inovasi memberi kemungkinan. Semuanya perlu dirangkai agar kemajuan tidak kehilangan manusia.

Barangkali kita memang perlu kembali mendengar suara tashrifan. Bukan untuk bernostalgia, tetapi untuk membaca masa depan. Fa‘ala, yaf‘ulu, fa‘lan. Bentuk berubah. Waktu bergerak. Dunia berganti. Tetapi ada akar yang harus tetap dikenali. Manusia yang tidak mengenal akarnya mudah mengira setiap perubahan sebagai kemajuan, padahal tidak setiap perubahan membawa kebaikan.

AI boleh semakin cerdas. Algoritma boleh semakin cepat. Mesin boleh semakin pandai meniru bahasa manusia. Tetapi pesantren harus memastikan manusia tidak semakin malas menggunakan akal dan hati. Santri harus mampu memanfaatkan kecerdasan buatan tanpa menyerahkan kecerdasan batinnya kepada mesin.

Dulu santri mengulang tashrifan untuk memahami perubahan kata. Hari ini mungkin saatnya kita mengulang maknanya untuk memahami perubahan zaman. Dunia sedang melakukan tashrif besar-besaran. Teknologi berubah. Pengetahuan berubah. Cara belajar berubah. Pesantren juga harus berubah. Hanya satu syaratnya, jangan sampai berubah tanpa akar.

Sebab, tashrifan bukan sekadar pelajaran tentang perubahan kata. Ia adalah pelajaran tentang bagaimana sesuatu berubah tanpa kehilangan asalnya. Dan mungkin itulah pelajaran yang paling dibutuhkan manusia ketika AI membuat dunia berubah semakin cepat. Bentuk boleh berubah. Teknologi boleh berkembang. Pesantren boleh berinovasi. Tetapi akar ilmu, sanad, adab, dan khidmah harus tetap hidup. Wallahu a’lamu.

Penulis: Fahmi Arif El Muniry (Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak). (UYR/Kemenag)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved