Pengorbanan Warga Gaza Ubah Persepsi Barat Terhadap Islam
Memasuki tiga bulan serangan pasukan Israel ke Jalur Gaza, tak terbilang penderitaan warga di wilayah yang terkepung itu. Namun ketabahan dan kesabaran yang mereka tunjukkan jadi pelita yang memancarkan cahaya Islam ke berbagai belahan dunia.
Keteguhan warga Gaza belakangan disebut memicu perubahan persepsi terhadap Islam di dunia Barat menjadi lebih positif. Hal itu memicu peningkatan minat terhadap agama Islam.
Jurnalis sekaligus aktivis Australia, CJ Werleman salah satu yang mengevaluasi dampak serangan Zionis Israel ke Gaza terhadap persepsi Islam dan Muslim di Barat. Werleman mengatakan selama dua dekade, media Barat telah menggambarkan umat Islam sebagai ancaman keamanan. Mereka menggambarkan Islam sebagai gerombolan pria berkulit coklat dan berjanggut dan memiliki niat melakukan kekerasan karena keyakinan dari agama Islam.
Tetapi serangan Israel ke Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu mengubah persepsi tersebut. “Masyarakat kini melihat orang-orang yang angkuh dan mulia, yang tetap menantang, rendah hati, dan kuat dalam menghadapi kekejaman, penindasan, dan penderitaan yang tak terbayangkan,” ujar Werleman kepada Anadolu Agency.
Orang-orang Barat kini menyaksikan bagaimana warga Palestina menyebut nama Allah ketika diselamatkan dari reruntuhan bangunan. Dalam kesabaran, mereka menuntut kebebasan dari kemiskinan dan ketakutan sebab serangan Israel. “Inilah sebabnya mengapa begitu banyak orang Barat kini mempelajari Alquran dan belajar tentang Islam,” Werleman menambahkan.
Werleman juga melihat adanya upaya pembungkaman, ancaman dan menghukum secara sistematis terhadap mereka yang pro-Palestina baik melalui media maupun media sosial. Ia mengungkapkan kelompok hak asasi manusia telah mendokumentasikan lebih dari 250 pembungkaman terhadap jurnalis, penulis, akademisi dan aktivis di bulan pertama perang. Mereka dipecat dari pekerjaannya karena membela Palestina.
Ia mencontohkan, agregator berita terbesar di Eropa, Axel Springer memerintahkan editornya agar menampilkan angka yang kecil untuk kematian warga Palestina. Mereka justru memberikan porsi lebih besar terhadap cerita-cerita korban yang dialami oleh Israel dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Mereka pun menggiring opini agar mempertanyakan laporan korban warga Palestina.“Pembingkaian ini menukar pelaku genosida di Gaza dengan korban di benak penonton,” katanya.
Namun dukungan dunia warga dunia terhadap Palestina tak bisa dibendung. Kota-kota di Amerika dan Eropa dipenuhi dengan ribuan warga melakukan demonstrasi pro-Palestina. Sedangkan kampanye gerakan Boikot, Divestasi dan Sanksi terus meningkat dan membuat rugi perusahaan yang berafiliasi dengan Zionis Israel.
Di Australia, kebrutalan Israel dan penindasannya selama 75 tahun juga menggugah hati banyak warga. Kekejaman Israel telah menggerakkan hati nurani setiap orang di seluruh dunia. Mereka terus menggelar berkampanye dan menggelar aksi kemansuiaan untuk Palestina.
Fenomena ini ternyata tidak hanya menggerakkan hati nurani, tidak sedikit dari mereka juga tergerak untuk mengetahui dan mempelajari Islam lebih dalam. Sejak agresi militer Israel ke Gaza, sedikitnya 30 wanita di Australia memeluk Islam.
Dikutip dari akun instagram Yeni Safak, sebuah video diunggah pada 1 Desember 2023. Puluhan wanita di Melbourne, Australia terlihat tengah membaca syahadat. Acara tersebut diselenggarakan oleh cabang perempuan dari National Vision Foundation dan berlangsung di Masjid Meadow Heights di Melbourne, Australia.
“Perlawanan di Gaza sangat dirasakan oleh perempuan Australia, sehingga menyebabkan gelombang perpindahan agama di Melbourne. Dalam sebulan terakhir saja, 30 orang telah terinspirasi untuk memeluk Islam, mencerminkan dampak luas dari politik global dan masalah sosial tentang keyakinan individu dan dinamika budaya,” tulis akun Yenisafak English, dilansir pada Rabu (27 Desember 2023).
Salah satu di antara perempuan Australia itu, Christine Crnogorac mengatakan, hampir setiap hari mengikuti berita tentang Palestina dan setiap hari juga ia dibuat menangis. Ia pun mempelajari tentang Islam dan kini percaya bahwa hanya ada satu Tuhan yakni Allah.
“Itu menyentuh hati saya dan masalah Palestina ini membuat saya menangis setiap hari, saya tidak tahu harus berkata apa lagi,” kata Christine.
Hal senada juga diungkapkan oleh Jaqueline Retzack yang mengaku sangat bahagia setelah memeluk Islam dan merasakan banyak kedamaian. Ia juga mengaku bahwa keputusannya memeluk Islam karena apa yang terjadi di Gaza telah membuka hatinya. “Saya kembali (revert) karena apa yang terjadi di Gaza dan saya ingin lebih dekat dengan Islam dan Allah,” ujar Retzack. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments