Follow us:

PERKARA-PERKARA JAHILIYYAH

Oleh : ustadz Oemar Mita, Lc.

Fanatisme golongan merupakan salah satu perkara yang menyebabkan seseorang tidak mendapatkan indahnya kebenaran. Mari kita lihat ayat tentang kebatilan orang-orang Yahudi ketika mereka menolak kerasulan Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Dan ternyata salah satu sebab mereka dijadikan kaum yang dimurkai Allah disebabkan fanatisme kelompok yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَلَمَّا جَاءهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِندِ اللّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُواْ مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَمَّا جَاءهُم مَّا عَرَفُواْ كَفَرُواْ بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّه عَلَى الْكَافِرِينَ (البقرة: 89)

“Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu”. (Al Baqarah: 89)

Surat Al-Baqarah ayat 89 diatas menjelaskan tentang orang-orang Yahudi yang ingkar atau kafir kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, setelah tahu bahwasannya Nabi akhir zaman yang termaktub dalam kitabnya yaitu Kitab Taurat sesuai dengan sifat-sifat yang diberitakannya ternyata bukan berasal dari Bani Israil.

Penjelasan ini berawal ketika Allah Ta’ala menurunkan Kitab Al-Qur’an yang membenarkan khabar-khabar dari Kitab Taurat menjelaskan bahwasannya dahulu orang-orang Yahudi sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam memohon kemenangan berperang atas orang-orang Musyrik Arab (menurut Tafsir Ibnu Katsir orang-orang Musyrik Arab disini adalah berasal dari Suku Aus dan Suku Khajraj) kepada Allah Ta’ala dengan datangnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Mereka orang-orang Yahudi berdo’a; “Ya Tuhan, sesungguhnya kami memohon dengan Haq Nabi yang Ummi, yang telah Engkau janjikan kepada kami, yang akan Engkau turunkan pada akhir zaman, kecuali yang tidak Engkau tolong kepada kami atas musuhnya”. Apabila mereka berdo’a dengan do’a ini mereka mampu mengalahkan musuh-musuhnya.

Orang-orang Yahudi berkata; Bahwasannya akan datang Nabi akhir zaman, kami (orang-orang Yahudi) akan memerangi kalian bersamanya seperti memerang kaum ‘Ad dan kaum Iram. Akan tetapi ketika Nabi Akhir Zaman yang Allah turunkan  dari bangsa Arab bukan dari Bani Israil, maka kemudian orang-orang Yahudi ingkar atau kafir dan dengki kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Ini semua disebabkan oleh fanatisme golongan orang-orang Yahudi. Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala melaknat orang-orang kafir tersebut, yaitu orang-orang Yahudi yang ingkar terhadap Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Hari ini-pun demikian, banyak diantara kaum muslimin yang tidak sadar bahwa mereka melakukan perkara Ta’ashshub. Banyak diantara kita yang mendapatkan ilmu, tetapi jika ilmu tersebut bukan datang dari kelompok dan golongannya, mereka akan pergi dan meninggalkan dari majlis ilmu tersebut, hanya karena yang menyampaikan bukan datang dari kelompok dan golongannya.

Jika kita mendapati sunnah sudah mulai tumbuh di berbagai tempat, tapi ternyata hamanya lebih besar dari sunnah. Ibarat sunnah adalah padi, sementara ta’ashshub adalah ilalangnya, maka ilalang hari ini lebih tinggi daripada padinya, karena banyaknya orang yang melakukan ta’shshub dalam kehidupan agama mereka. Sungguh, ta’ashshub akan merusak ukhuwwah dan kehidupan agama seseorang.

Padahal Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam selalu menjauhkan dirinya dan agamanya dari perilaku ta’ashshub.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَتْ عَلَىَّ عَجُوزَانِ مِنْ عُجُزِ يَهُودِ الْمَدِينَةِ فَقَالَتَا لِى إِنَّ أَهْلَ الْقُبُورِ يُعَذَّبُونَ فِى قُبُورِهِمْ ، فَكَذَّبْتُهُمَا ، وَلَمْ أُنْعِمْ أَنْ أُصَدِّقَهُمَا ، فَخَرَجَتَا وَدَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَجُوزَيْنِ وَذَكَرْتُ لَهُ ، فَقَالَ « صَدَقَتَا ، إِنَّهُمْ يُعَذَّبُونَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ كُلُّهَا » . فَمَا رَأَيْتُهُ بَعْدُ فِى صَلاَةٍ إِلاَّ تَعَوَّذَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ .

Dari Aisyah Radhiallahu Anha, ia berkata, “Dua orang perempuan tua Yahudi kota Madinah menemui Aisyah seraya berkata: “Sesungguhnya penghuni kubur diazab di dalam kubur mereka”, maka saya mendustakan mereka, saya tidak nyaman untuk mempercayai mereka, lalu kedua orang itu pergi, kemudian Rasulullah datang, lalu saya berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada dua orang perempuan Yahudi”, saya sebutkan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau bersabda: “Kedua perempuan Yahudi itu benar, penghuni kubur diazab di dalam kubur, adzab mereka dapat didengar semua hewan”. Saya tidak pernah melihat Rasulullah selesai shalat melainkan memohon perlindungan dari adzab kubur”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ternyata Rasulullah ketika mendapatkan ilmu sekalipun dari orang Yahudi yang menerangkan keadaan manusia di dalam kubur, beliau tidak menolaknya ketika mengetahui bahwa apa yang disampaikan oleh dua wanita Yahudi tadi memang benar sesuai dengan wahyu yang diturunkan oleh Allah, bahwa adzab kubur memang ada. Rasulullah tidak sungkan atau gengsi untuk mengakui kebenaran yang datang dari dua wanita Yahudi di atas.

Perhatikan bagaimana kema’rufan nabi, beliau membangun agamanya dengan wahyu dan sunnah. Tetapi beliau tidak pernah memasukkan ta’ashshub ketika beliau menjadikan agamanya berdasarkan wahyu.

عنْ قُتَيْلَةَ بِنْتِ صَيْفِيٍّ قَالَتْ : جَاءَ حَبْرٌ مِنَ الْأَحْبَارِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، نِعْمَ الْقَوْمُ أَنْتُمْ لَوْلَا أَنَّكُمْ تُشْرِكُونَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : ” وَمَا ذَاكَ ؟ ” ، قَالَ : تَقُولُونَ إِذَا حَلَفْتُمْ : وَالْكَعْبَةِ ، قَالَ : فَأَمْهَلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – شَيْئًا ، ثُمَّ قَالَ : ” مَنْ حَلَفَ فَلْيَحْلِفْ بِرَبِّ الْكَعْبَةِ . ثُمَّ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، نِعْمَ الْقَوْمُ أَنْتُمْ لَوْلَا أَنَّكُمْ تَجْعَلُونَ لِلَّهِ نِدًّا ، قَالَ : ” سُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا ذَاكَ ؟ ” ، قَالَ : تَقُولُونَ لِلرَّجُلِ : مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ ، فَأَمْهَلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، ثُمَّ قَالَ : إِنَّهُ قَدْ قَالَ : فَمَنْ قَالَ : ” مَا شَاءَ اللَّهُ فَلْيَجْعَلِ بَيْنَهُمَا ثُمَّ شِئْتَ ” .

Diriwayatkan dari Qutailah binti Shaifi al-Juhaniyyah Radhiallahu Anha, ia berkata, “Salah seorang pendeta Yahudi datang menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan berkata, ‘Wahai Muhammad, kalian adalah sebaik-baik ummat bila saja kalian tidak berbuat syirik.’ Rasulullah berkata, ‘Subhanallah, apa itu?’ Ia berkata, ‘Kalian berkata dalam sumpah, Demi Ka’bah!’ Rasulullah diam sejenak, lalu berkata, ‘Memang ada yang mengatakan seperti itu, maka barangsiapa bersumpah hendaklah ia mengatakan, ‘Demi Rabbul Ka’bah (Pemilik Ka’bah).’ Pendeta Yahudi itu berkata lagi, ‘Wahai Muhammad, kalian adalah sebaik-baik ummat bila saja kalian tidak menjadikan sekutu bagi Allah!’ ‘Subhanallah, apa itu?’ tanya Rasulullah. Ia berkata: “Kalian mengatakan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu!’ Rasulullah diam sejenak, lalu berkata, ‘Memang ada yang berkata seperti itu, barangsiapa mengucapkan, “Atas kehendak Allah, maka hendaklah ia mengiringinya dengan ucapan, Kemudian dengan kehendakmu”. (Shahih, HR. Ahmad dan Hakim)

Syaikh Utsaimin Rahimahullahu memberikan beberapa pelajaran dari hadits ini:

Pertama, Yahudi melakukan kesyirikan besar tapi tidak terlihat dan tidak disadari oleh mereka. Namun kesyirikan kecil yang dilakukan orang lain terlihat oleh mereka. Kesyrikan besar yang dilakukan orang Yahudi adalah mengangkat Uzair sebagai anak Allah dan ketika mereka merubah-rubah kitab Taurat.

Orang Yahudi bukan tidak mengetahui. Bahkan mereka mengerti tapi tetap tidak mau beriman kepada alquran dan as sunnah. Sebagaimana hari ini, banyak orang Yahudi di Israel menanam pohon Gharqad. Hal itu disebabkan keyakinan mereka bahwa pohon itu tidak akan memberitahukan kepada muslim, ketika ada seorang Yahudi bersembunyi dibalik pohon tersebut. Pada dasarnya mereka membaca alquran dan alhadits, tapi mereka mengingkarinya.

Kedua, menceritakan kepada kita akan kesyirikan kecil yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin. Yaitu bersumpah atas nama makhluk. Sumpah ini jika menjadi kebiasaan maka semakin lama ia akan menjadi syirik besar. Dan yang benar adalah bersumpah atas nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan kalimat “والله، تالله، بالله”.

Ketiga, sebagian kaum muslimin masih suka menggunakan kalimat ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu, padahal ini adalah sebuah kalimat kesyirikan disebabkan adanya kalimat “wawu athaf”. Dan yang benar adalah “Terserah Allah kemudian terserah kamu”. Atau Kalimat yang benar yang seharusnya kita ucapkan adalah, “Berkat pertolongan Allah kemudian dokter yang telah berjasa sehingga penyakit saya bisa sembuh”, “karena pertolongan Allah kemudian karena gonggongan anjing, rumah saya aman dari pencuri”, “Akibat kehendak Allah kemudian akibat cuaca cerah akhirnya kapal kita bebas dari ancaman badai”, “sungguh luar biasanya kasih sayang Allah kemudian karena pilot yang pintar sehingga kapal kita selamat dari bencana”. Mari kita perbaiki ucapan yang sering tidak disadari mengandung kesyirikan ini.

Hal ini bukan berarti kita menggampangkan untuk mengambil ilmu. Dan bukan berarti juga bahwa setiap ilmu harus terima. Tetapi yang betul-betul kita ambil adalah ilmu yang sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya telah tetapkan. Yang ditekankan disini adalah dalam hal mencari ilmu, janganlah berta’ashub. Karena Rasulullah pun menerima ilmu dari orang Yahudi, jika ilmu tersebut sesuai dengan Alquran dan As Sunnah. Ini merupakan bukti bahwa beliau Shallallahu Alaihi Wasallam tidak ta’ashub.

Teringat kisah Abu Hurairah Radhiallahu Anhu yang diberikan tugas oleh Rasulullah untuk menjaga zakat Ramadahan. Kisah ini disebutkan dalam sebuah hadits yang panjang:

وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ فَأَتَانِي آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنْ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ وَقُلْتُ وَاللَّهِ لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّي مُحْتَاجٌ وَعَلَيَّ عِيَالٌ وَلِي حَاجَةٌ شَدِيدَةٌ قَالَ فَخَلَّيْتُ عَنْهُ فَأَصْبَحْتُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً وَعِيَالًا فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ قَالَ أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ وَسَيَعُودُ فَعَرَفْتُ أَنَّهُ سَيَعُودُ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ سَيَعُودُ فَرَصَدْتُهُ فَجَاءَ يَحْثُو مِنْ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَعْنِي فَإِنِّي مُحْتَاجٌ وَعَلَيَّ عِيَالٌ لَا أَعُودُ فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً وَعِيَالًا فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ قَالَ أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ وَسَيَعُودُ فَرَصَدْتُهُ الثَّالِثَةَ فَجَاءَ يَحْثُو مِنْ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ وَهَذَا آخِرُ ثَلَاثِ مَرَّاتٍ أَنَّكَ تَزْعُمُ لَا تَعُودُ ثُمَّ تَعُودُ قَالَ دَعْنِي أُعَلِّمْكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهَا قُلْتُ مَا هُوَ قَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ حَتَّى تَخْتِمَ الْآيَةَ فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِي كَلِمَاتٍ يَنْفَعُنِي اللَّهُ بِهَا فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ قَالَ مَا هِيَ قُلْتُ قَالَ لِي إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ مِنْ أَوَّلِهَا حَتَّى تَخْتِمَ الْآيَةَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ. وَقَالَ لِي لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ وَكَانُوا أَحْرَصَ شَيْءٍ عَلَى الْخَيْرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ لَا قَالَ ذَاكَ شَيْطَانٌ

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadhan. Tiba-tiba seseorang datang. Mulailah ia mengutil makanan zakat tersebut. Aku pun menangkapnya seraya mengancamnya: “Sungguh aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk aku adukan perbuatanmu ini kepada beliau”. Orang yang mencuri itu berkata: “Aku butuh makanan, sementara aku memiliki banyak tanggungan keluarga. Aku ditimpa kebutuhan yang sangat”. Karena alasannya tersebut, aku melepaskannya. Di pagi harinya, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bertanya: “Wahai Abu Hurairah, apa yang diperbuat tawananmu semalam?” “Wahai Rasulullah, ia mengeluh punya kebutuhan yang sangat dan punya tanggungan keluarga. Aku pun menaruh iba kepadanya hingga aku melepaskannya,” jawabku. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sungguh dia telah berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.” (Di malam berikutnya) aku yakin pencuri itu akan kembali lagi karena Rasulullah menyatakan: “Dia akan kembali.” Aku pun mengintainya, ternyata benar ia datang lagi dan mulai menciduk makanan zakat. Kembali aku menangkapnya seraya mengancam: “Sungguh aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk aku adukan perbuatanmu ini kepada beliau.” “Biarkan aku karena aku sangat butuh makanan sementara aku memiliki tanggungan keluarga. Aku tidak akan mengulangi perbuatan ini lagi.” Aku kasihan kepadanya hingga aku melepaskannya. Di pagi harinya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bertanya: “Wahai Abu Hurairah, apa yang diperbuat oleh tawananmu?” “Wahai Rasulullah, ia mengeluh punya kebutuhan yang sangat dan punya tanggungan keluarga, aku pun iba kepadanya hingga aku pun melepaskannya,” jawabku. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sungguh dia telah berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.” Di malam yang ketiga, aku mengintai orang itu yang memang ternyata datang lagi. Mulailah ia menciduk makanan. Segera aku menangkapnya dengan mengancam: “Sungguh aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk aku adukan perbuatanmu ini kepada beliau. Ini untuk ketiga kalinya engkau mencuri, sebelumnya engkau berjanji tidak akan mengulangi perbuatanmu tetapi ternyata engkau mengulangi kembali.” “Lepaskan aku, sebagai imbalannya aku akan mengajarimu beberapa kalimat yang Allah akan memberikan manfaat kepadamu dengan kalimat-kalimat tersebut,” janji orang tersebut. Aku berkata: “Kalimat apa itu?” Orang itu mengajarkan: “Apabila engkau berbaring di tempat tidurmu, bacalah ayat Kursi: (Al-Baqarah: 255) hingga engkau baca sampai akhir ayat. Bila engkau membacanya terus menerus, maka engkau mendapatkan penjagaan dari Allah, dan syetan sekali-kali tidak akan mendekatimu sampai pagi hari”. Aku pun melepaskan orang itu, hingga di pagi hari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kembali bertanya kepadaku: “Apa yang diperbuat tawananmu semalam?” Aku menjawab: “Wahai Rasulullah, ia berjanji akan mengajariku beberapa kalimat yang Allah akan memberikan manfaat kepadaku dengan kalimat-kalimat tersebut, akhirnya aku membiarkannya pergi.” “Kalimat apa itu?”, tanya Rasulullah. Aku berkata: “Orang itu berkata kepadaku: `Apabila engkau berbaring di tempat tidurmu, bacalah ayat Kursi dari awal hingga akhir ayat”. Ia katakan kepadaku: `Bila engkau membacanya maka terus menerus engkau mendapatkan penjagaan dari Allah dan syetan sekali-kali tidak akan mendekatimu sampai pagi hari’.” Sementara mereka (para shahabat) merupakan orang-orang yang sangat bersemangat terhadap kebaikan. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh kali ini ia jujur kepadamu padahal ia banyak berdusta. Engkau tahu siapa orang yang engkau ajak bicara sejak tiga malam yang lalu, wahai Abu Hurairah?.” “Tidak,” jawabku. “Dia adalah syetan,” kata Rasulullah. (HR. Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Wakalah bab Idza Wakkala Rajulan Fatarakal Wakil Syai`an Fa’ajazahul Muwakkil fa Huwa Ja`iz)

Hadits di atas memberikan banyak pelajaran, diantaranya terkait adab menjelang malam diantaranya: Memasukan anak-anak kedalam rumah, mengunci pintu rumah dan jendela dengan ucapan Bismillah karena disaat itu setan betebaran masuk kerumah. juga tutuplah bejana (tempat air atau air minum) sekali pun dengan sepotong kayu yang melintang diatasnya serta matikanlah lampu lampumu, dengan menyebut nama Allah.

إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ -أَوْ أَمْسَيْتُمْ- فَكُفُّوْا صِبْيَانَكُمْ؛ فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ تَنْتَشِرُ حِيْنَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَخَلُّوْهُمْ، وَأَغْلِقُوا اْلأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ؛ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا، وَأَوْكُوْا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ، وَخَمِّرُوْا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ، وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوْا عَلَيْهَا شَيْئًا، وَأَطْفِئُوْا مَصَابِيْحَكُمْ

“Jika malam menjelang atau kamu masuk pada sore hari, tahanlah anak anak kecil kamu. Karena syaiton bertebaran pada waktu itu, dan Apabila malam telah terlewati sesaat, maka biarkanlah mereka, Kuncilah pintu-pintu dan sebut nama Allah (membaca: Basmillaah), karena Sesungguhnya setan tidak membuka pintu yang terkunci. Tutuplah tempat tempat air kalian ( qirbah) dan sebutlah nama Allah. Tutuplah bejana bejana kalian dan sebutlah nama Allah, meskipun kalian meletakan sesuatu yang melintang diatasnya. Dan padamkan lampu-lampumu kalian”. (HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari 10/88, Muslim 3/1595)

Sebab-Sebab Ta’ashshub

  1. Terlalu Percaya Diri

Sebagaimana perkataan Fir’aun,

يَا قَوْمِ لَكُمُ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ظَاهِرِينَ فِي الْأَرْضِ فَمَن يَنصُرُنَا مِن بَأْسِ اللَّهِ إِنْ جَاءنَا قَالَ فِرْعَوْنُ مَا أُرِيكُمْ إِلَّا مَا أَرَى وَمَا أَهْدِيكُمْ إِلَّا سَبِيلَ الرَّشَادِ (غافر: 29)

 

“(Musa berkata): “Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari Ini dengan berkuasa di muka bumi. siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika adzab itu menimpa kita!” Fir’aun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”. (Ghafir/ Al Mukmin: 29)

 

Ketika rasa percaya diri ini terlalu besar, bisa menyebabkan seseorang tidak memandang kebenaran sedikitpun pada pihak lain. Akhirnya ia menganggap bahwa yang mengerti jalan kebenaran dan petunjuk hanyalah mereka. Hal ini juga disebabkan oleh tidak tertopangnya diri mereka dengan akhlak yang baik. Sebagaimana rasa terlalu percaya dirinya Fir’aun yang berlebihan dengan pengetahuan yang dimilikinya. Hingga ia berani menolak ajakan Nabi Musa Alaihissalam dengan perkataan: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”.

 

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,

…. فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى (النجم: 32)

…… Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa”. (An Najm: 32)

 

  1. Bodoh

Belajar baru sebentar, satu dua kitab baru dibaca tapi sudah merasa bahwa ia telah mengetahui seluk beluk tentang islam, lalu kemudian memvonis fulan dan fulan. Terkadang kita mendapatkan orang yang yang suka mentahdzir (mencacatkan dan mencela orang lain), tetapi antara yang ditahdzir dan yang mentahdzir tidak seimbang. Orang yang mencela, amal dan ilmunya jauh dibawah daripada orang yang dicela.

 

Tapi terkadang manusia tidak sadar bahwasanya syaitan telah membuat hati untuk berpecah belah setelah beriman. Oleh itu, jika seorang tidak mempunyai amal yang membuatnya sibuk dalam kebaikan, maka ia pasti akan sibuk mengurusi hal-hal seperti ini yaitu sering mencari aib dan kesalahan orang lain. Akhirnya ia tidak bisa melakukan amal-amal yang besar. Tidak ada orang yang salah, kemudian ia suka jika kesalahannya dibeberkan dengan cara yang tidak ma’ruf. Kalau memang mendapatkan saudara kita berbuat salah, maka peganglah tangannya dan nasehati secara baik-baik.

 

Hari ini orang ber-ta’ashshub dengan berdalih atas nama agama. Ataupun berdalih dengan kehati-hatian memilih ilmu. Tapi ketika berhati-hati memilih ilmu, bukan berarti harus ta’ashub.

 

Bid’ah dan kekufuran memang dinyatakan tegas ada dalam syariat islam, namun yang salah bukan bid’ah dan kekufurannya, tetapi gampang mengkafirkan itulah yang salah. Karena itu, ta’ashub akan menjadikan kehidupan agama rusak, ketika ta’ashshub lebih besar daripada ilmu.

 

  1. Pemahaman Yang Salah

Mendapatkan pemahaman yang salah dari guru bisa menyebabkan sikap ta’ashub yang berlebihan. Dan tidak bisa kita pungkiri bahwa belajar agama terkadang mendapatkan guru yang salah. Berapa banyak orang menjadi syi’ah hanya karena mengidolakan gurunya. Begitu juga berapa banyak orang tersesat hanya karena mengikuti gurunya.

Dalam atsar sahabat disebutkan:

عَنْ زِيَادِ بْنِ حُدَيْرٍ قَالَ قَالَ لِى عُمَرُ : هَلْ تَعْرِفُ مَا يَهْدِمُ الإِسْلاَمَ؟ قَالَ قُلْتُ : لاَ. قَالَ : يَهْدِمُهُ زَلَّةُ الْعَالِمِ وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ وَحُكْمُ الأَئِمَّةِ الْمُضِلِّينَ. )رواه الدارمي، وقال الشيخ حسين أسد: إسناده صحيح.(

Dari Ziyad bin Hudair, ia berkata, Umar telah berkata kepadaku: Apakah kamu tahu apa yang merobohkan Islam? Ia (Ziyad) berkata, aku berkata: Tidak. Ia (Umar) berkata: Yang merobohkan Islam adalah tergelincirnya orang alim (ulama), bantahan orang munafik dengan al-Qur’an, dan keputusan pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. (Riwayat ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya —pertalian riwayatnya—shahih).

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi sunnah Rasulullah maka berpeganglah dengan sunnah Rasulullah dan tinggalkanlah ucapanku.”

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Janganlah kalian taklid kepadaku, kepada Malik, kepada asy-Syafi’i, atau al-Auza’i. Ambillah (pendapat) dari mana mereka mengambil”.

  1. Sedikitnya Akhlak

Yang paling utama dalam islam setelah aqidah adalah akhlak. Imam Asy Syafi’I menyatakan bahwa siapapun yang hatinya ingin dilapangkan oleh Allah Ta’ala, maka hendaknya sering berdoa kepada Allah di kesunyian malam, meninggalkan orang bodoh yang mencintai dunia lebih besar daripada akhiratnya, sedikit makan, dan membenci orang berilmu ketika ia tidak punya adab.

 

Ibnu Sirin mengatakan: “para sahabat adalah orang yang belajar adab sebelum belajar ilmu”.

Hasan Al Bashri mengatakan: “kami belajar adab selama 30 tahun sementara belajar hadits selama 20 tahun”.

 

Ibnu Daqiq mengatakan: “jadikanlah amalmu ibarat garam dalam adonan tepung, dan jadikanlah adabmu layaknya tepung dalam adonan”. Dan perkara yang paling berat ketika ditimbang adalah akhlak yang baik.

 

Demikianlah, wajib bagi kita semua umat Islam untuk meninggalkan sikap fanatik dan taklid buta. Kemudian berupaya berpegang-teguh dengan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta bimbingan para sahabatnya yang mulia. Semoga dengan itu kita diselamatkan dari penyakit fanatisme yang dapat mengantarkan kepada perpecahan umat. Wal’iyaadzu billah..

 

Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved