Follow us:

Prototipe Keluarga Penghuni Neraka

Materi kajian yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, MA

Tema ini kita angkat, karena belajar kepada sahabat Hudzaifah bin Yaman Radhiallahu Anhu yang bertanya kepada Rasulullah tentang keburukan.

عن حذيفة بن اليمان – رضي الله عنه – قال :” كان الناس يسألون رسول الله عن الخير ، وكنت أسأله عن الشر مخافة أن يُدركني . فقلت يا رسول الله :إنّا كنّا في جاهلية وشرّ ، وجاء الله بهذا الخير ، فهل بعد هذا الخير من شر؟ قال : نعم. قلتُ : وهل بعد هذا الشر من خير؟ قال : ” نعم ، وفيه دخن”. قلت : وما دخنه ؟ قال : قوم ( يستنون بغير سُـنَّــتي ) ، ويهدون بغير هدي ، تعرف منهم وتنكر. قلت : فهل بعد ذلك من شر ؟ قال : نعم ، دعاة على أبواب جهنم ، من أجابهم إليها قذفوه فيها ، قلت : يارسول الله صِفهم لنا قال : ( هم من جلدتنا ، ويتكلمون بألسنتنا )قلت : فم تأمرني إنْ أدركني ذلك ؟ قال : ( تلزم جماعة المسلمين وإمامهم )قلت : فإنْ لم يكن لهم جماعة ولا إمام ؟ قال : ( فاعتزل تلك الفرق كلها ، ولو تعض بأصل شجرة ، يدركك الموت وأنت على ذلك)

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiallahu Anhu beliau berkata: “Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku”. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan kejelekan lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam,-pent) ini, apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan ?”. Beliau menjawab: “Ya”. Aku bertanya: “Dan apakah setelah kejelekan ini akan datang kebaikan?” Beliau menjawab: “Ya, tetapi didalamnya ada asap”. Aku bertanya: “Apa asapnya itu?”. Beliau menjawab: “Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku, dan menunjukkan (manusia) kepada selain petunjukku. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan memungkirinya”. Aku bertanya: “Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan lagi?” Beliau menjawab: “Ya, (akan muncul) para dai-dai yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka” Aku bertanya: “Ya Rasulullah, sebutkan cirri-ciri mereka kepada kami ?” Beliau menjawab: “Mereka dari kulit-kulit/golongan kita, dan berbicara dengan bahasa kita” Aku bertanya: “Apa yang anda perintahkan kepadaku jika aku temui keadaan seperti ini” Beliau menjawab: “Pegang erat-erat jama’ah kaum muslimin dan imam mereka”. Aku bertanya: “Bagaimana jika tidak imam dan jama’ah kaum muslimin?” Beliau menjawab: “Tinggalkan semua kelompok-kelompok sempalan itu, walaupun kau menggigit akar pohon hingga ajal mendatangimu”. (HR. Bukhari, Muslim dan lainnya)

Salah satu cara Allah dalam menghadirkan alquran sebagai petunjuk bagi hamba-Nya adalah Dia (Allah Ta’ala) tidak menerangkan tentang amal shalih saja, tetapi pada saat yang sama Ia juga menjelaskan tentang hal-hal yang buruk. Allah Ta’ala juga menjelaskan kebenaran dan kebatilan tujuannya adalah agar kita waspada dan hati-hati agar tidak terperosok di dalamnya. Inilah cara Allah Ta’ala untuk menjadikan alquran sebagai petunjuk hidup. Termasuk juga, petunjuk dalam hidup berkeluarga, karena alquran juga menyampaikan tentang prototype keluarga ahli surga maupun ahli neraka.

Kesempatan kali ini kita akan menyampaikan hal terkait prototype keluarga ahli neraka.

Allah Ta’ala berfirman,
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut’’. (Al Masad: 1-5)

Sebab Turunnya Surat
Suatu hari, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam naik ke bukit Shafa. Beliau naik sampai kepuncaknya, kemudian berseru, “Ya shabahah!” (kalimat peringatan yang biasa mereka gunakan untuk mengabarkan akan adanya serangan musuh atau terjadinya peristiwa yang besar).

Kemudian beliau Shalallahu Alaihi Wasallam mulai memanggil kabilah-kabilah cabang dari kabilah Quraisy dan menyebut mereka kabilah per-kabilah, Wahai bani Fihr, wahai Bani Fulan, wahai Bani Fulan, wahai Bani Abdu Manaf, wahai Bani Abdul Muththalib!” ketika mendengar (panggilan tersebut), mereka bertanya, siapa yang berteriak-teriak itu? Mereka mengatakan, “Muhammad.” Maka orang-orang pun bergegas menuju beliau Shalallahu Alaihi Wasallam, sampai-sampai seseorang yang tidak bisa datang sendiri mengirim utusan untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Ketika mereka telah berkumpul, beliaupun berbicara:
أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا تَخْرُجُ بِسَفْحِ هَذَا الْجَبَلِ أأَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ قَالُوا مَا جَرَّبْنَا عَلَييْكَ كَذِبًا قَالَ فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ
“Apa pendapat kalian seandainya aku beritahukan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda di lembah bukit ini yang akan menyerang kalian, apakah kalian mempercayaiku?” Mereka menjawab: “Ya, kami tidak pernah menyaksikan engkau melainkan selalu bersikap jujur.” Beliaupun berkata: “Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan kepada kalian dari siksa yang pedih.

Permisalanku dengan kalian hanyalah seperti seseorang yang melihat pasukan musuh kemudian bergegas untuk mengawasi keluarganya (mengamati dan melihat mereka dari tempat tinggi agar mereka tidak didatangi musuh secara tiba-tiba) karena ia khawatir musuh akan mendahuluinya, maka ia pun berseru, “Ya, shabahah.”
Kemudian beliau shalallahu ‘alaihi wasallam mengajak untuk bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Lalu beliau menjelaskan kepada mereka bahwa kalimat syahadat merupakan kekuatan dunia dan keselamatan akhirat.

Kemudian beliau Shalallahu Alaihi Wasallam memperingatkan mereka agar waspada dari siksa Allah. Dijelaskan pula bahwa keberadaan beliau sebagai rasul tidak bisa menyelamatkan mereka dari siksa dan menolong mereka sedikitpun dari (keputusan) Allah. Beliau memberi peringatan tersebut secara umum dan khusus. Beliau mengatakan: “Wahai orang-orang Quraisy, korbankanlah diri-diri kalian karena Allah! Selamatkanlah diri-diri kalian dari api neraka! Sesungguhnya aku tidak bisa memberikan mudharat kepada kalian dan tidak pula manfaat, serta aku tidak bisa menolong kalian sedikitpun dari (keputusan) Allah! Wahai Bani Ka’ab bin Luay, selamatkan diri-diri kalian dari api neraka! Sesungguhnya aku tidak bisa memberi mudharat dan tidak pula manfaat! Wahai Bani Ka’ab bin Murrah, selamatkan diri-diri kalian dari api neraka! Wahai Bani Qushay, selamatkan diri-diri kalian dari api neraka! Sesungguhnya aku tidak bisa memberikan mudharat dan tidak pula manfaat! Wahai bani ‘Abdu Syams, selamatkanlah diri-diri kalian dari api neraka! Wahai bani Abdu Manaf, selamatkan diri-diri kalian dari api neraka! Sesungguhnya aku tidak bisa memberikan mudharat dan tidak pula manfaat! Wahai bani Hasyim, selamatkan diri-diri kalian dari api neraka! Wahai bani ‘Abdul Muthallib, selamatkan diri-diri kalian dari api neraka! Sesungguhnya aku tidak bisa memberikan mudharat dan tidak pula manfaat, serta aku tidak bisa menolong kalian sedikitpun dari (keputusan) Allah! Mintalah kepadaku dari hartaku sebanyak yang kalian suka, namun aku tidak bisa menolong kalian sedikitpun dari (keputusan) Allah! Wahai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib, aku tidak bisa menolongmu sedikitpun dari (keputusan) Allah! Wahai Shafiyyah bintu ‘Abdil Muththallib (bibi Rasulullah), aku tidak bisa menolongmu sedikitpun dari (keputusan) Allah! Wahai Fatimah bintu Muhammad Rasulullah mintalah kepadaku dari hartaku sebanyak apa yang engkau mau, selamatkan dirimu dari api neraka, aku tidak bisa menolongmu sedikitpun dari (keputusan) Allah! Karena kalian memiliki hubungan silaturahmi maka akan aku basahi dengan airnya (maksudnya akan aku sambung hubungan silaturahmi tersebut sesuai haknya).
Setelah selesai beliau menyampaikan peringatan tersebut, orang-orangpun bubar dan bertebaran. Tidak disebutkan keadaan bahwa mereka menampakkan suatu penentangan ataupun dukungan atas apa yang telah mereka dengar, kecuali apa yang terjadi pada Abu Lahab. Ia menemui Nabi dengan nada yang kasar. Ia berkata,
تَبًّا لَكَ أَمَا جَمَعْتَنَا إِلَّا لِهَذَا
“Celakalah engkau selama-lamanya! Cuma untuk inikah kamu kumpulkan kami?”

Maka turunlah ayat:
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
“Telah celaka kedua tangan Abu Lahab dan diapun celaka.” (Al-Lahab: 1)

Kandungan Surat Al Lahab
Abu Lahab adalah putranya Abdul Muththalib berarti ia adalah paman Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, ia bernama Abdul ‘Uzza. Dia mempunyai kunyah: Abu Utbah. Dinamakan Abu Lahab karena wajahnya yang selalu menyala-nyala dan kelak akan masuk ke dalam neraka yang memiliki lahab (api yang bergejolak). Atas dasar inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutnya dalam kitab-Nya Al Quran dengan kun-yahnya (yaitu nama/julukan yang diawali dengan Abu atau Ibnu, atau Ummu bagi perempuan), dan bukan dengan namanya. Juga karena ia lebih tenar dengan kun-yahnya. Dan juga karena namanya disandarkan kepada nama salah satu berhala pada zaman itu. Dia adalah salah satu paman Rasul yang paling besar permusuhannya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sejak dikumandangkannya dakwah mengajak beribadah hanya kepada Allah saja. Ayat ini turun sebagai bantahan kepadanya disaat menolak dan enggan untuk mengikuti seruan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam .

Abu Lahab dan istrinya yaitu Auraa’ binti Harb bin Umayyah diantara orang yang memusuhi Muhammad. Terkenal dengan nama Ummu Jamil binti Harb. Dia sangat memusuhi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan saling tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Perempuan itu pernah memasang kayu berduri di jalan yang dilalui Rasulullah, agar beliau Shallallahu Alaihi Wasallam dan sahabatnya terluka.
Kedua insan itu (Abu Lahab dan istrinya) Adalah termasuk orang yang paling menyakiti Rasulullah dan terhadap dakwah yang beliau bawa. Abu Lahab adalah penghalang dakwah Islamiyah, sedangkan isterinya adalah penyebar fitnah.

Ayat kedua
مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ
“Tidaklah berfaedah (berguna) kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan”.

Ibnu Mas’ud Radhiallahu Anhu menyebutkan: “Tatkala Rasulullah mengajak kaumnya untuk beribadah hanya kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selain Allah, berkatalah Abu Lahab: “Jika apa yang dikatakan putra saudaraku (Rasulullah) adalah benar aku akan menebus diriku dari adzab yang pedih pada hari kiamat dengan harta dan anak-anakku.” Maka turunlah firman Allah Ta’ala: “Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan”. (Tafsir Ibnu Katsir)

Ketika vonis binasa telah disandangnya, maka tidak bermanfaat lagi apa yang telah diusahakannya dari harta-benda, anak istri, kedudukan, jabatan dan lain sebagainya dari perkara dunia ini. Allah subhanahu wata’ala menegaskan dalam firman-Nya (artinya): “Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa”.
Pada zaman dahulu, orang sering membanggakan harta dan anak yang dimilikinya, karena harta identik dengan kekayaan dan kekuasaan, sedang anak identik dengan kekuatan dan pengikut yang banyak. Coba kita lihat dan renungi ayat-ayat di bawah ini:

وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالا وَأَعَزُّ نَفَرًا
“Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika ia bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat’’. (Al Kahfi: 34)

ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا
“Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.’’ (Al Isra’: 6)

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
“Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’’. (Nuh: 10- 12)

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. (Asy Syu’ara’: 88-89)

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa Abu Lahab mati tujuh hari setelah terjadinya perang Badar. Mati karena terkena bisul pada tubuhnya, sampai-sampai dua anak laki-lakinya membiarkannya di rumah dalam keadaan mati tidak dikuburkannya hingga mayatnya membusuk, padahal orang-orang Quraisy sangat takut terhadap penyakit bisul tersebut, sebagaimana masyarakat takut kepada penyakit wabah Tha’un. Akhirnya merekalah yang menguburkan Abu Lahab. Demikianlah bahwa harta dan anaknya tidak bermanfaat baginya di dunia dan di akherat kelak. Na’udzubillah min dzalik.

Allah menyebutkan keadaan Abu Lahab pada masa lalu, bahwa segala amalannya yang sudah dikerjakannya tidak akan bermanfaat, maka pada ayat berikutnya Allah menyebutkan keadaan Abu Lahab pada masa mendatang, bahwa dia akan masuk neraka dan tidak akan beriman kepada nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wassalam.

Ayat ketiga
سَيَصْلَى نَاراً ذَاتَ لَهَبٍ
“Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.”

Api yang menyala-nyala, bergejolak, dan mempunyai daya bakar yang sangat tinggi. Dalam ayat ini Allah memberitahukan masalah ghoib yang belum terjadi dan akan terjadi, yaitu bahwa Abu Lahab di masa mendatang tidak dia akan beriman kepada nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wassalam dan tempat akhirnya adalah neraka. Dan kita harus beriman kepada taqdir Allah, yang baik dan yang buruk. Oleh karena itu kita diperintahkan untuk berdoa untuk diselamatkan dari taqdir yang buruk. Sebagaimana dalam hadist Abu Hurairah Radhiallahu Anhu,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَعَوَّذُ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam selalu meminta perlindungan dari cobaan yang memberatkan, kesengsaraan yang menghancurkan, takdir yang buruk dan cacian musuh”. (HR. Bukhari Muslim)

Ayat Keempat:
وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ
“Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar.”
Istri Abu Lahab adalah Ummu Jamil , namanya adalah Arwa bin Harb bin Umayah, saudara Abu Sufyan bin Harb. Berkata Ibnu al Arabi : “ Dia adala wanita yang buta sebelah, Ummu Qabih“.

Dia termasuk pemuka kaum Quraisy, dia membantu suaminya di dalam memusuhi Islam, oleh karena itu pada hari kiamat dia membawa bara api menambah nyala api neraka yang sedang membakar Abu Lahab di neraka kelak.

Wanita Pembawa Kayu Bakar
Ummu Jamil istri Abu Lahab disebutkan oleh Allah sebagai pembawa kayu bakar, apa maksudnya? Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkannya:

Pertama: pembawa kayu bakar maksudnya adalah tukang mengadu domba dan penyebar fitnah di masyarakat. Perbuatan mengadu domba ini sangat berbahaya dan bisa menghancurkan seseorang hanya dalam waktu satu jam yang tidak bisa dihancurkan oleh tukang sihir dalam satu bulan.

Kedua: pembawa kayu bakar maksudnya adalah membawa kayu bakar dan duri untuk disebarkan pada malam hari di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh Rasulullah. Dikatakan dia adalah wanita pembesar Qurasy, tetapi kenapa membawa kayu bakar yang identik dengan orang miskin? Iya, sebenarnya dia bisa menyuruh orang lain untuk melaksanakan niat jahatnya tersebut, tetapi karena bencinya kepada nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, dia ingin melaksanakan kejahatannya dengan tangannya sendiri.

Ketiga: pembawa kayu bakar identik dengan kemiskinan, karena istri Abu Lahab ini selalu menjelek-jelekan nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan mengatakan bahwa dia adalah orang miskin, maka Allah membalas pelecehan itu dengan hal serupa, maka disebutkan sebagai wanita pembawa kayu bakar, yaitu wanita miskin.
Ayat ini menunjukkan betapa seorang wanita, jika hatinya jahat, maka perbuatannya jauh-jauh lebih bahaya dan lebih licik serta licin dibanding dengan perbuatan seorang laki-laki.

Ayat Kelima:
فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ
“Yang di lehernya ada tali dari sabut”.

Said bin Musayyab mengatakan: ”Dia memiliki kalung yang sangat mewah. Dan dia mengatakan: ’Aku akan dermakan kalung ini untuk memusuhi Muhammad’. Maka Allah akan menimpakan kepadanya dengan meletakkan tali dilehernya yang terbuat dari sabut neraka”.

Ayat di atas menunjukkan bahwa: الجزاء من جنس العمل (Balasan itu sesuai dengan perbuatan) Maksudnya jika seseorang berbuat sesuatu, maka Allah akan membalasnya sesuai dengan sesuatu yang dia perbuat. Contohnya di sini kalung emasnya digunakan untuk menghancurkan ajaran Islam, maka Allah membalas dengan mengikat di lehernya sabut neraka. Begitu juga sebaliknya, jika kalung tersebut diinfakkan di jalan Allah untuk membantu orang-orang yang tidak mampu, maka Allah di dunia ini dan akherat kelak akan membantunya pada saat-saat ia mendapatkan kesulitan. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِي الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya.” (HR. Tirmidzi)

Demikianlah prototipe keluarga penghuni neraka yang perlu diwaspadai. Dari keterangan di atas terlihat kerjasama antara Abu Lahab dan Ummu Jamil dalam keburukan, yaitu memusuhi dan menghalangi dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Oleh karena itu, dalam berkeluarga jangan sampai kita meniru kerjasama antara Abu Lahab dan istrinya. Mungkin tidak sama persis dengan apa yang dilakukan oleh Abu Lahab dan keduanya, tapi bisa jadi secara tidak sadar kita kerjasama dalam versi lainnya. Contoh: malam kita tidur, tapi sengaja memasang alarm pada pukul 06.00. Alhasil, dari awal telah merencanakan ma’shiyat kepada Allah yaitu terlambat menunaikan shalat subuh.

Mudah-mudahan dengan kita mengetahui tafsir surat Al Masad ini akan menambah rasa tunduk dan patuh kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menjadi pendorong bagi kita untuk melaksanakan segala perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Dan semoga Allah selalu membimbing kita agar tetap istiqamah di jalan kebenaran dan menutup akhir hayat kita dengan husnul khatimah, Aaamiin.

Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved