Follow us:

Rahasia Asmaul Husna

                                                                                                          

Sebelum kita membahas dan membicarakan tentang Asmaul Husna, ada dua prolog minimal yang harus kita pahami bersama.

Pertama, Pengertian Asmaul Husna (nama-nama yang indah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala)

Kenapa nama Allah dinamakan dengan asmaul husna?? Dan kenapa istilah ini hanya digunakan untuk nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Kenapa demikian?

  • Karena semua nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah indah dan agung
  • Nama Allah sekaligus sifat bagi-Nya. Seperti nam Allah adalah Ar Rahman, maka sifat Allah adalah Dzat Yang Maha Mengasihi, Ar Razzaq maka sifat Allah adalah memberi rizqi, nama Allah Al Aziz (Yang Maha Perkasa) berarti Allah Ta’ala tidak pernah terkalahkan oleh siapapun. Maka tidak ada tindakan Allah yang berbeda dan tidak selaras dengan nama-Nya. Dengan kata lain, setiap keputusan Allah pasti selaras dengan Asmaul Husna.

Oleh karena itu, sebagian ulama’ mengatakan bahwa orang yang paling memahami tindakan dan keputusan Allah adalah mereka yang paling mendalami Asmaul Husna.

Berbeda dengan manusia, mungkin ada yang bernama Muhammad (terpuji) tapi seringkali keindahan dalam makna Muhammad berbeda dengan keadaan riil. Namanya Muhammad, tapi ucapan dan perbuatannya tidak terpuji. Terjadi kesenjangan antara realitas di lapangan dan kandungan indah dalam nama tersebut.

Berarti, meskipun ada manusia yang mempunyai nama seperti asmaul husna, namun hal itu hanyalah kesamaan nama saja. Asmaul husna Allah begitu agung dan sempurna, sedangkan nama-nama baik manusia sangat banyak kelemahannya, tidak sesuai dengan keadaannya.

Kedua, Urgensi Keutamaan Memahami Dan Mendalami Asmaul Husna

  1. Asmaul husna adalah salah satu prinsip keimanan dengan meyakininya.

Inilah prinsip ahlussunnah wal jama’ah. Berbeda dengan orang Jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah tidak mempunyai nama dan sifat. Dan nama Allah adalah nama yang Allah namai diriNya dengan nama-nama tersebut. Dengan kata lain, tidak  mungkin bagi seorang manusia untuk merangkai dan menciptakan nama bagi Allah, karena nama-nama Allah bersifat tauqify. Maksudnya adalah nama Allah tertutup untuk diijtihadkan. Jadi seseorang, tidak dibenarkan untuk merekayasa nama baru bagi Allah. Nama Allah sepenuhnya diambil dari alquran dan hadits. Sebab, nama Allah tidak bisa dibentuk dan dikreasi oleh manusia.

  1. Asmaul husna adalah salah satu dari tiga jenis tauhid

Berdasarkan penelitian para ulama’ terhadap alquran dan hadits disimpulkan bahwa tauhid itu ada tiga; Tauhid Rububiyah, Tauhid Asma wa Sifat dan Tauhid Uluhiyah. Inilah urutan yang tepat, Tauhid Uluhiyah diletakkan paling akhir atau puncak.

Tauhid Ar-Rububiyyah. Maknanya adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala (beriman bahwa Ia adalah Dzat Yang Esa) dalam perbuatan-perbuatan-Nya (penciptaan, perintah, pemberian rizki, pengatur urusan atas hamba-hamba-Nya) dengan kehendak-Nya, berdasarkan ilmu dan kekuasaan-Nya.

Tauhid Al-Asma` was Shifat. Maknanya adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menetapkan nama yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menetapkan sifat yang telah Ia tetapkan untuk diri-Nya, atau yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya, tanpa mentakyif (mereka-reka atau menanyakan bagaimana), menyerupakan, memalingkan (baik lafadz maupun makna) dan tidak pula menta’thil (menolak, meniadakan).

Tauhid Al-Uluhiyyah. Maknanya adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perbuatan para hamba (seluruh jenis ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, hanya Dia yang berhak diibadahi, dan tidak ada sekutu bagi-Nya).

  1. Seseorang semakin berada dalam suasana bashirah dalam pengabdiannya menuju kepada Allah

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات: 56)

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (Adz Dzariyat: 56)

Tapi siapakah orang yang mengabdikan diri dengan penuh pemahaman dan perasaan nikmat? Mereka adalah orang-orang yang memahami asmaul husna. Karena memang setiap nama itu akan melahirkan sikap ibadah tertentu pada diri seorang hamba ketika ia mengetahui maknanya dan memahaminya.

Ibnul Qayyim Rahimahullahu menjelaskan: “…Maka setiap sifat Allah Ta’ala memiliki pengaruh ibadah tertentu, yang merupakan konsekuensi dari kandungan sifat tersebut dan kemestian dari ilmu tentangnya…”

Penjelasannya, bahwa seorang hamba (misalnya) ketika mengetahui bahwa Allah Ta’ala sendirilah yang memberikan manfaat dan mudharat, memberikan karunia atau menghalanginya, menciptakan, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, maka itu akan membuahkan sikap ibadah kepada-Nya dengan tawakkal kepada-Nya dalam batinnya, dan akan menimbulkan konse-kuensi dari tawakkal serta buahnya secara lahiriah… Dengan ini maka seluruh ibadah kembalinya kepada konsekuensi kandungan Asma` dan Sifat. (Miftah Daris Sa’adah, dinukil dari Ziyadatul Iman wa Nuqsha-nuhu, hal. 188-189 dengan ringkas)

Secara umum ada dua tipe orang dalam beribadah kepada Allah. Pertama, ada orang beribadah kepada Allah sesuai dengan tradisi karena melihat orang lain beribadah. Seperti halnya orang yang berkata; “saya kalau belum shalat, masih ada yang kurang atau hilang”, perasan kurang sebelum melaksanakan shalat inilah yang menegaskan dirinya betul-betul telah berada dalam tradisi shalat. Sebab, belum tentu ia menikmati shalat. Karena kenikmatan ibadah hanya dicicipi oleh seseorang disebabkan karena pemahamannya terhadap ilmu, bukan karena tradisi terhadap ibadah.

Contoh demikian bisa dilihat dari pola shalat seseorang yang begitu cepat, nyaris tidak ada Thuma’ninah padahal tiap hari shalat. Namun yang bersangkutan tidak menjalankan shalat penuh dengan pemahaman.

Kedua, orang beribadah kepada Allah berdasarkan pemahamannya terhadap dien, terlebih pemahamannya terhadap Asmaul Husna. Sehingga ia bisa merasakan nikmatnya beribadah.

  1. Berdoa dengan Asmaul Husna akan membuahkan doa-doa seseorang lebih cepat dikabulkan

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dengan nama-nama tersebut dan itu merupakan sarana utama untuk mendekatkan diri kepada-Nya, karena Allah Ta’ala mencintai nama-nama-Nya, dan Dia mencintai orang yang mencintai nama-nama tersebut, serta orang yang menghafalnya, mendalami kandungan maknanya dan beribadah kepada-Nya dengan konsekwensi yang dikandung nama-nama tersebut.

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Hanya milik Allah-lah asma-ul husna (nama-nama yang maha indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu”. (Al-A’raaf: 180)

Yang dimaksud dengan berdoa dalam ayat ini adalah mencakup dua jenis doa, yaitu doa permintaan dan permohonan, serta doa ibadah dan sanjungan.

Doa permohonan adalah dengan menyebutkan nama Allah Ta’ala yang sesuai dengan permintaan yang kita sampaikan kepada-Nya. Contohnya: kita berdoa: “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau adalah al-Gafuur (Maha Pengampun) dan ar-Rahiim (Maha Penyayang)”. “Ya Allah, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau adalah at-Tawwaab (Maha Penerima taubat)”. “Ya Allah, limpahkanlah rezki yang halal kepadaku, sesungguhnya Engkau adalah ar-Razzaaq (Maha Pemberi rezki)”.

Adapun doa ibadah adalah dengan kita beribadah kepada Allah Ta’ala sesuai dengan kandungan nama-nama-Nya yang maha indah. Maka kita bertaubat kepada-Nya karena kita mengetahui bahwa dia adalah at-Tawwaab (Maha Penerima taubat), kita berzikir kepada-Nya dengan lisan kita karena kita mengetahui bahwa dia adalah as-Samii’ (Maha Mendengar), kita melakukan amal shaleh dengan anggota badan kita karena mengetahui bahwa dia adalah al-Bashiir (Maha Melihat), Ar-Rohiim (Maha Penyayang) kita bisa menerapkan ini pada perbuatan sehari hari untuk saling menyayangi dan demikian seterusnya.

Maka tidak boleh memuji kecuali dengan asmaul husna dan sifatNya yang tinggi, dan tidak boleh memohon kecuali dengan namaNya, tidak boleh kita berkata: wahai yang ada (maujud), atau wahai dzat dan seterusnya, akan tetapi memohon dengan nama yang sesuai dengan permintaannya, sehingga yang meminta telah bertawassul dengan nama Allah Ta’ala. Barang siapa yang memperhatikan doa para rasul, ia akan mendapati sesuai dengan kaidah ini.

Dan ungkapan ini lebih baik dari ungkapan orang yang berkata: kita berakhlak dengan asmaul husna, karena ia adalah ungkapan yang tidak tepat yang diambil dari ahli filsafat, dan yang lebih bagus lagi adalah ungkapan : beribadah dengannya, dan yang lebih bagus lagi adalah ungkapan yang sesuai dengan ungkapan Al Qur’an yaitu berdo’a dengannya yang mengandung beribadah dan memohon”.

  1. Memahami asmaul husna salah satu sebab masuk surga

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا ، مِائَةً إِلا وَاحِدَةً ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, siapa yang menjaganya maka dia masuk surga.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Maknanya bukan berarti bahwa Dia hanya memiliki nama-nama (dengan jumlah) tersebut. Akan tetapi maknannya adalah bahwa siapa yang ihsha (menghafal dan mengamalkan) terhadap 99 nama-Nya, maka dia akan masuk surga. Kalimat ‘siapa yang menjaganya’ merupakan pelengkap dari kalimat sebelumnya, bukan kalimat baru yang terpisah. Perbandingannya adalah perkataan orang Arab, “Saya memiliki seratus kuda yang saya siapkan untuk berjihad di jalan Allah”. Maknanya bukan berarti dia hanya memiliki seratus kuda. Akan tetapi keseratus kuda tersebut dia persiapkan untuk hal tersebut.”

Imam Nawawi Rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim berkata, “Para ulama sepakat bahwa hadits ini tidak membatasi nama-nama Allah Ta’ala. Akan tetapi, yang dimaksud dalam hadits ini adalah bahwa ke-99 nama tersebut bagi siapa yang ihsha terhadapnya akan masuk surga. Yang dimaksud adalah mengabarkan akan masuk surga bagi orang yang melakukan ihsha terhadapnya, bukan sekedar mengumpulkan nama-nama-Nya.”

Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah ditanya tentang hal tersebut, maka dia berkata, “Nama-nama Allah tidak terbatas dalam jumlah tertentu. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits shahih,

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ ، وَابْنُ عَبْدِكَ ، وَابْنُ أَمَتِكَ ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ ، أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي ، وَنُورَ صَدْرِي ، وَجِلَاءَ حُزْنِي ، وَذَهَابَ هَمِّي اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ ، وَابْنُ عَبْدِكَ ، وَابْنُ أَمَتِكَ ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ ، أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي ، وَنُورَ صَدْرِي ، وَجِلَاءَ حُزْنِي ، وَذَهَابَ هَمِّي

“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, keputusan-Mu kepada telah berlaku, ketetapan-Mu terhadapku adalah adil. Aku mohon kepada-Mu dengan seluruh nama yang Engkau sendiri tetapkan nama bagi-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang makhluk-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved