Follow us:

Sang Pemuda Langit

Uwais al-Qarni adalah seorang Muslim yang hidup pada zaman Nabi Muhammad SAW. Sesungguhnya, ia pantas mendapatkan predikat sahabat Rasulullah.

Namun, dia “hanya” bisa diklasifikasikan sebagai generasi tabiin. Meski hidup sezaman dengan Nabi SAW, belum pernah sepanjang hayatnya dia berjumpa dengan beliau.

Penyebabnya tidak terutama jauhnya jarak antara tempat tinggalnya dan Madinah. Uwais berasal dari Arab Selatan atau Yaman, sehingga perjalanan menuju Kota Nabi itu bisa ditempuh dengan memakan waktu tertentu.

Uwais al-Qarni bukannya tidak rindu pada baginda shalallahu ‘alaihi wasallam. Sebagai anak yatim dan miskin, kehidupannya serba terbatas secara ekonomi. Ayahnya sudah lama meninggal dunia sejak dirinya masih anak-anak. Dia tinggal hanya dengan ibundanya, yang amat dia hormati dan cintai.

Sang ibunda mengidap sakit sehingga hampir sekujur tubuhnya lumpuh. Bahkan, kedua matanya buta. Di sekitar rumahnya, tidak ada sanak famili sama sekali. Hanya tetangga yang juga hidup serba kekurangan.

Bagaimanapun, Uwais al-Qarni mengurus ibundanya itu dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Saat remaja, dia bekerja sebagaii penggembala kambing orang. Dari upah pekerjaannya itu, dia menafkahi ibunda dan dirinya sendiri. Bila ada rezeki sedikit lebih, maka dia sedekahkan kepada para tetangga atau mereka yang sedang sangat membutuhkan.

Satu hal yang membuat hatinya sedih. Banyak tetangganya yang telah melakukan safar ke utara untuk bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Mereka kerap menceritakan, betapa anggun akhlak Rasulullah SAW. Beberapa juga menuturkan bagaimana perawakan utusan Allah SWT tersebut. Betapa rindunya Uwais al-Qarni, ingin berjumpa langsung dengan beliau!

Akhirnya, Uwais memberanikan diri untuk meminta izin kepada ibundanya. Setelah menyimak penuturan putranya itu yang disampaikan secara lemah-lembut, maka perempuan itu memahami. Sang ibu pun membolehkan Uwais al-Qarni untuk pergi ke Madinah, menemui Rasulullah SAW.

Tentu saja, pemuda ini menyiapkan berbagai bekal dan tabungan untuk ibundanya. Dia juga menitipkan untuk sementara pengurusan ibunya yang difabel itu kepada beberapa tetangganya. Mereka bersedia. Restu sang ibu juga telah diperoleh. Maka berangkatlah Uwais ke Madinah.

Tak sempat berjumpa

Akhirnya, Uwais al-Qarni sampai di Madinah. Setelah bertanya ke sana-sini, maka tibalah dia di kediaman Nabi Muhammad SAW. Letaknya persis di sebelah Masjid Nabawi.

Sungguh, hati Uwais al-Qarni berdebar-debar. Betapa lama dia merindukan bertemu, melihat wajah mulia Rasulullah SAW. Pemuda ini sudah membayangkan, nanti dia akan mencium tangan beliau serta meminta doa-doa dan kebaikan dari beliau untuk dirinya dan ibundanya.

Dia pun mengetuk pintu rumah ini dan mengucapkan salam. Beberapa saat kemudian, terbuka sedikit pintu itu. Tampak sosok Aisyah RA, istri Rasulullah SAW.

Setelah mengabarkan keperluannya, Aisyah menjelaskan bahwa kini suaminya itu sedang tidak ada di rumah. Sebab, beliau sedang memimpin pasukan Muslimin dalam jihad di medan perang.

Betapa kecewa hati Uwais al-Qarni. Sebab, dia tidak bisa berjumpa langsung dengan sosok yang amat dirindukannya, padahal sudah bersusah-payah safar dari Yaman ke Madinah.

Awalnya, tersirat di benaknya untuk menanti kedatangan Rasulullah SAW. Mungkin, dia bisa tinggal sebentar di Masjid Nabawi? Atau, bekerja sebagai penggembala hewan ternak milik penduduk sini? Namun, segera keinginan itu ditepisnya.

Sebab, dia ingat selalu pesan sang ibu, “Nak, hendaknya engkau lekas pulang.” Maka Uwais pamit kepada Aisyah. Dia hanya menitipkan salam agar disampaikan kepada Nabi SAW.

Beberapa hari kemudian, Rasulullah SAW kembali dari medan perang. Sesampainya di rumah, Nabi Muhammad SAW bertanya tentang keadaan selama beliau tidak ada di Madinah. Aisyah lalu teringat seorang pemuda yang sebenarnya ingin berjumpa dengan beliau, tetapi dia tidak tahu adanya peperangan di luar Madinah sehingga tidak bisa menuntaskan keinginannya itu.

Rasulullah SAW kemudian menuturkan kepada sang istri, betapa Uwais al-Qarni mencintai dan menghormati ibundanya. Kisah Uwais ini juga dituturkan beliau kepada para sahabatnya. Beliau menceritakan, betapa pemuda itu setia mengurus dan mendampingi ibunya yang sakit-sakitan.

Sampai kemudian, Nabi SAW bersabda, “Suatu ketika, jika kalian bertemu dengan dia, mintalah dia agar berdoa dan beristigfar (meminta kepada dia agar memohon ampunan Allah bagi kalian). Dia adalah penghuni langit, bukan (sekadar) orang bumi.”

Umar menemukannya

Waktu silih berganti. Rasulullah SAW kemudian berpulang ke rahmatullah. Umat Islam dipimpin Abu Bakar. Lantas, mertua Nabi SAW itu wafat. Kepemimpinannya digantikan oleh Umar bin Khattab.

Setiap masuk musim haji, sang amirul mukminin selalu mengajukan pertanyaan yang sama kepada para jamaah yang berasal dari arah selatan, utamanya Yaman.

“Wahai kalian, apakah kalian tahu seseorang bernama Uwais?” tanya Umar.

Pertanyaan itu juga kerap diajukannya kepada siapa pun kafilah yang diketahui berasal dari Yaman. Bagaimanapun, tetap saja orang-orang yang ditanyai menunjukkan isyarat tidak tahu. Justru, mereka terheran-heran. Mengapa seorang amirul mukminin bertanya tentang sosok bernama Uwais? Siapa dia? Apakah dia orang yang teramat penting? Raja-kah dia, barangkali?

Tiba-tiba, seseorang menyeruak dari kerumunan. “Wahai sang penanya. Aku tahu seorang penggembala kambing bernama Uwais,” kata dia.

Wajah Umar langsung merona gembira. Dengan antusias, dia bertanya, “Di manakah dia sekarang?”

“Dia ada di sana, di ujung arak-arakan kafilah ini,” jelas orang tadi, sembari menjelaskan ciri-ciri yang dimaksud.

Maka Umar sampailah ke pria yang ditujunya itu. Setelah mengucapkan salam, dia pun bertanya.

“Siapa nama engkau?”

“Saya Abdullah,” jawab Uwais al-Qarni.

“Saya pun Abdullah, hamba Allah. Maksudku, nama engkau,” Umar meminta klarifikasi.

“Saya Uwais,” jelas dia.

“Bolehkah saya melihat telapak tangan engkau?” tanya Umar lagi. Uwais mempersilakannya.

Ketika dia melihat adanya tanda fisik–sebagaimana yang diisyaratkan Nabi SAW–maka Umar berjingkat gembira. Amirul mu`minin lantas memintanya agar berdoa kepada Allah supaya mengampuni dirinya.

Uwais al-Qarni pun melakukan apa yang dimintanya. Kemudian, Umar memintanya agar tetap di tempat, jangan ke mana-mana.

Tidak lama kemudian, Umar datang bersama dengan Ali bin Abi Thalib.

“Wahai amirul mu`minin, benarkah dia yang bernama Uwais?” tanya Ali.

“Benar, wahai Ali. Ayo, lakukanlah sebagaimana yang diwasiatkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kepada kita,” sambung Umar lagi.

Betapa terkejutnya Uwais al-Qarni mendengar nama amirul mu`minin disebut-sebut.

“Apakah Tuan benar Umar bin Khattab? Dan Tuan ini Ali bin Abi Thalib, keponakan Rasulullah?” tanya Uwais masih dengan wajah takjub.

Keduanya membenarkan. Namun, yang lebih menakjubkan lagi bagi Uwais adalah, permintaan keduanya.

Bagaimanapun, Uwais tetap melaksanakan permintaan itu. Sesudah dia berdoa, Umar dan Ali pamit dan pergi dengan wajah berbinar gembira.

Ternyata, Ali bin Abi Thalib mengabarkan kedatangan Uwais al-Qarni ke warga Makkah. Berita itu menyebar dari mulut ke mulut. Maka seluruh jamaah haji tahun itu mencari-cari di mana Uwais al-Qarni.

Sayangnya, mereka tidak menemukan yang dicari. Uwais kembali “menghilang”, bak ditelan padang pasir. Mungkin, dia sudah merasakan ada yang aneh dengan semua ini. Pribadinya yang rendah hati membuatnya lebih memilih menyingkir dari ketenaran.

Beberapa tahun kemudian, Uwais al-Qarni meninggal dunia. Menjelang ajalnya, dia tetap sebagai orang miskin biasa. Pekerjaannya di samping menggembalakan kambing orang, juga pemulung dan mendaur ulang barang-barang bekas yang telah dibuang warga.

Demikianlah kisah orang saleh yang disebut Nabi SAW sebagai “penghuni langit.” Di dunia, dia tampak bukanlah siapa-siapa. Namun, namanya dikenal harum oleh seluruh penghuni langit. Semua berkat rasa cinta dan baktinya terhadap ibunda. (UYR/Republika)

Share This:

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved