Follow us:

SEBAB ORANG SULIT MENERIMA KEBENARAN

Oleh: Oemar Mita, Lc.

Manusia akan senantiasa berada dalam pusaran kebaikan selama mereka mencintai nasehat-nasehat yang ditujukan kepada mereka. Dan sungguh tidak ada nasehat yang paling indah melainkan nasehat yang disampaikan oleh Allah dan tidak ada nasehat paling tulus menginginkan kebaikan, melainkan nasehat yang disampaikan oleh Rasulullah.

Memahami kebenaran dalam kehidupan beribadah bukanlah perkara yang sulit. Karena Allah adalah Dzat yang Maha Tahu. Dan Ia mempunyai ilmu bagaimana cara menjelaskan kebenaran supaya mudah dipahami dan mudah untuk dimengerti oleh setiap manusia. Karena memang Allah Ta’ala adalah dzat yang paling tahu cara menjelaskan kebenaran dalam kehidupan manusia. Dan memang memahami kebenaran itu tidak pernah sulit dan tidak pernah sukar.

Meyakini kebenaran sebagai sesuatu yang rumit dan susah dipahami telah menjadi tirai penutup antara orang-orang yang meyakininya dengan kebenaran, dan menjadi tabir yang menghalangi pandangan mereka terhadap masalah-masalah yang diperselisihkan, apalagi untuk berusaha untuk menelitinya dan mencari kejelasan mana pendapat yang kuat dan mana pendapat yang lemah.

Padahal mencari kebenaran, mencari kejelasan, dan menyingkapnya lebih mudah di masa ini dibandingkan sebelumnya. Hal itu semakin dimudahkannya sebab-sebab untuk mendapatkannya, apakah dengan seseorang menelitinya sendiri, atau dia bisa meminta bantuan kepada orang lain.

Meyakini kebenaran sebagai sesuatu yang susah dipahami, rumit, dan tidak jelas, ini semua merupakan syubhat Iblis yang dilemparkan untuk memalingkan manusia dari usaha meneliti dan mencari kebenaran.

Kalau kita melihat ada guru atau dosen yang pandai menyampaikan dan menjelaskan materi pelajaran yang sulit, namun karena kepandaian mereka dalam menyampaikan dan berkomunikasi, sehingga penjelasan mereka mudah dimengerti, maka demi Allah! Bahwa Allah Ta’ala jauh lebih mengerti bagaimana cara menjelaskan kebenaran dalam kehidupan kita. Karena Allah Ta’ala tidak pernah meminta syarat ketika ingin memasuki surga harus berotak encer.

Dan jika kita perhatikan lembaran-lembaran ayat ataupun hadits, maka kita pun mengetahui bahwa Allah selalu meletakkan diantara syarat untuk mendapatkan surga adalah hati yang “salim”, karena perangkat untuk memahami kebenaran bukanlah otak, namun hati. Otak hanya mendukung apa yang diyakini hati.

Lihatlah banyak para sahabat Radhiallahu Anhum yang datang dari kabilah dan suku yang dipandang rendah di kalangan mereka, namun mereka didoakan bahkan disaksikan oleh Rasulullah bahwa mereka akan masuk surga.

Keinginan Syahid Dari Seorang Badui

عَنْ شَدَّادِ بْنِ الْهَادِ أَنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَعْرَابِ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَآمَنَ بِهِ وَاتَّبَعَهُ ثُمَّ قَالَ أُهَاجِرُ مَعَكَ فَأَوْصَى بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضَ أَصْحَابِهِ فَلَمَّا كَانَتْ غَزْوَةٌ غَنِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيًا فَقَسَمَ وَقَسَمَ لَهُ فَأَعْطَى أَصْحَابَهُ مَا قَسَمَ لَهُ وَكَانَ يَرْعَى ظَهْرَهُمْ فَلَمَّا جَاءَ دَفَعُوهُ إِلَيْهِ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا قِسْمٌ قَسَمَهُ لَكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَهُ فَجَاءَ بِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالَ قَسَمْتُهُ لَكَ [ ص: 61 ] قَالَ مَا عَلَى هَذَا اتَّبَعْتُكَ وَلَكِنِّي اتَّبَعْتُكَ عَلَى أَنْ أُرْمَى إِلَى هَاهُنَا وَأَشَارَ إِلَى حَلْقِهِ بِسَهْمٍ فَأَمُوتَ فَأَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَقَالَ إِنْ تَصْدُقْ اللَّهَ يَصْدُقْكَ فَلَبِثُوا قَلِيلًا ثُمَّ نَهَضُوا فِي قِتَالِ الْعَدُوِّ فَأُتِيَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحْمَلُ قَدْ أَصَابَهُ سَهْمٌ حَيْثُ أَشَارَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَهُوَ هُوَ قَالُوا نَعَمْ قَالَ صَدَقَ اللَّهَ فَصَدَقَهُ ثُمَّ كَفَّنَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جُبَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَدَّمَهُ فَصَلَّى عَلَيْهِ فَكَانَ فِيمَا ظَهَرَ مِنْ صَلَاتِهِ اللَّهُمَّ هَذَا عَبْدُكَ خَرَجَ مُهَاجِرًا فِي سَبِيلِكَ فَقُتِلَ شَهِيدًا أَنَا شَهِيدٌ عَلَى ذَلِكَ

Dari Syaddad bin Al-had, bahwa seseorang dari kalangan Badui datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, beriman kepadanya dan mengikutinya, lalu berkata: “Aku ingin berhijrah bersama engkau.” Lalu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memberi wasiat kepada para sahabatnya; Tatkala terjadi peperangan, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mendapatkan ghanimah maka beliau membaginya dan memberikan kepada orang Badui tersebut. Lalu meberikan para sahabatnya seperti apa yang diberikan kepada orang itu, dan orang tersebut adalah pengembala hewan mereka. Maka tatkala mereka datang, merekapun memberikan (ghanimah) kepadanya. Orang itu bertanya: “Apa ini”? Mereka menjawab :”Ini adalah bagianmu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. “Lalu dia mengambilnya dan mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam lalu bertanya: “Apa Ini?” (beliau) menjawab: “ini bagian untukmu. “dia berkata: “Bukan karena ini aku mengikuti engkau, tetapi aku mengikutimu agar aku terkena anak panah di sini – dia mengisyaratkan ke kerongkongannya – lalu aku mati kemudian masuk surga. “(Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam) menjawab: ” Bila engkau berkata benar terhadap Allah, Allah kan membenarkanmu. “Lalu tak lama kemudian, mereka bangkit berperang melawan musuh. Lalu (mayat) orang itu dibawa kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, dan dia terkena anak panah di tempat yang telah diisyaratkannya. Lalu berkata Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam: “Apakah ini orang itu?” Mereka menjawab: “Ya” (beliau berkata “telah berkata benar terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Allah telah membuktikannya.” Lalu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengkafani dengan jubahnya. Lalu meletakan (mayatnya) di depan lalu menshalatinya. Maka terdengar diantara apa yang beliau ucapkan: “Ya Allah, ini adalah Hamba-Mu keluar untuk hijrah di jalan-Mu lalu terbunuh dalam keadaan syahid dan saya adalah sebagai saksinya.” (Shahih Sunan Nasai, ‘Uluwwul Himmah oleh Muhammad Ismail)

Telah kita ketahui bahwa orang arab badui adalah orang yang akalnya terbelakang, tapi hati mereka sehat. Sehingga mereka menerima kebenaran dengan hati. Dan setiap kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah mudah mereka terima. Hal ini ditunjukkan bahwa arab badui dalam hadits di atas tidak susah memahami perintah hijrah. Karena memang memahami kebenaran tidaklah susah.

Lalu kenapa kebanyakan manusia meninggalkan kebenaran? Kebanyakan manusia meninggalkan kebenaran bukan dikarenakan ketidak pahaman, tetapi karena adanya penyakit dalam hati mereka.

Ibnu Qayyim Rahimahullahu menyatakan bahwa ada delapan penyakit yang menjadi penghalang untuk menerima dan mengamalkan kebenaran.

  1. At Ta’asshub

Secara Bahasa kata Ta’ashub memiliki banyak makna, di antaranya, keras, mengikat, berkumpul mengelilingi sesuatu dan menolongnya. Dari makna inilah kita mengenal kata ‘Ashobah (dalam ilmu waris), yaitu kerabat dari jalur bapak. Orang-orang Arab menamakan kerabat seseorang sebagai ‘Ashobah karena ia mengelilinginya dan menolong serta membelanya. Ta’ashub berasal dari ‘Ashobiyyah, dan ‘Ashobiyyah adalah seseorang membela/menolong kerabatnya dan bergabung bersama mereka menghadapi orang yang memusuhi mereka, baik kerabat tersebut zhalim ataupun terzhalimi. Dan ‘Ashobiy adalah orang marah karena ‘Ashobahnya (kerabat) dan membela mereka.

Adapun makna secara Syar’iy Ta’ashub adalah anggapan yang diiringi sikap yang paling benar dan membelanya dengan membabi buta. Benar dan salahnya, wala’ dan bara’nya diukur dan didasarkan keperpihakan pada golongan. Fanatik ini bisa terjadi antar madzhab, kelompok, organisasi, suku atau negara. seperti yang diberitakan dari hadits Nabi berikut ini. dari Watsilah bin al-Asqa’, bahwasanya ia mendengarbapaknya berkata:

ﻗُﻠْﺖُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﺍﻟْﻌَﺼَﺒِﻴَّﺔُ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻥْ ﺗُﻌِﻴﻦَ ﻗَﻮْﻣَﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻈُّﻠْﻢِ

“Saya (bapak Watsilah bin al-Asqa’ Radhiallahu Anhu) bertanya, “Yaa Rasulullah, apa ‘ashabiyyah itu? Beliau menjawab, “Kamu menolong kaummu diatas kedzaliman”. [HR. Imam Abu Dawud]

Dan juga hadits dari ‘Abbad bin Katsir al-Syamiy dari seorang perempuan yang bernama Qusailah, bahwasanya ia berkata, “Aku pernah mendengar ayahku berkata, “

ﺳَﺄَﻟْﺖُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻣِﻦ ﺍﻟْﻌَﺼَﺒِﻴَّﺔِ ﺃَﻥْ ﻳُﺤِﺐَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻗَﻮْﻣَﻪ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﺎ ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻌَﺼَﺒِﻴَّﺔِ ﺃَﻥ ﻳُﻌِﻴﻦَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻗَﻮْﻣَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻈُّﻠْﻢِ

“Saya bertanya kepada Nabi, seraya berkata, “Wahai Rasulullah apakah termasuk ‘ashabiyyah, seorang laki-laki yang mencintai kaumnya? Nabi menjawab, “Tidak. Tetapi, termasuk ‘ashabiyyah adalah seorang laki-laki menolong kaumnya dalam kedzaliman”. [HR. Imam An Nasaa’iy]

Ta’ashshub adalah perasaan di hati, dimana ia tidak mau menerima ilmu dan kebenaran kecuali yang datang dari kelompoknya dan golongannya. Ta’ashshub ini bisa terjadi antar madzhab, kelompok, organisasi, keturunan, suku, Negara ataupun pemikiran.

Penyakit ini sebenarnya dimiliki oleh orang-orang Yahudi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman menerangkan tentang sikap orang-orang Yahudi sebelum diutusnya Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

وَلَمَّا جَاءهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِندِ اللّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُواْ مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَمَّا جَاءهُم مَّا عَرَفُواْ كَفَرُواْ بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّه عَلَى الْكَافِرِينَ (البقرة: 89)

“Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu”. (Albaqarah: 89)

Ayat ini menunjukkan bahwa sebelum Nabi Muhammad diutus dan sebelum Al Qur’an diturunkan, kaum Yahudi telah menanti-nanti kedatangan beliau, lebih-lebih mereka berkeinginan hendak mengalahkan orang-orang bangsa Arab penyembah arca dan berhala di kota Madinah yang mendesak kedudukan mereka. Demikianlah mereka selalu memohon kepada Allah supaya Allah segera membangkitkan Nabi dan PesuruhNya yang telah diberitakan di dalam kitab-kitab yang sudah-sudah, seperti Taurat yang ada pada mereka. Tetapi setelah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dibangkitkan, padahal sifat-sifat beliau telah mereka kenal dengan sebenar-benarnya, dan setelah Al Qur’an itu diturunkan, sedang Al Qur’an itu membenarkan kitab Taurat yang ada pada mereka, segera mereka mengingkari, tidak mau percaya kepada segala apa yang telah mereka ketahui. Oleh sebab itu laknat Allah tetaplah dijatuhkan kepada mereka (kaum Yahudi yang kafir).

Kaum musyrikin Makkah menolak ajaran Muhammad dan membenci islam karena fanatisme terhadap ajaran nenek moyang, ambisi kekuasaan, egoisme kesukuan dan keuntungan dari sisi peradagangan. Kaum Yahudi menolak ajaran Muhammad karena rasa dengki dan kebencian yang meluap-luap  kepada beliau dan bangsa arab. Orang yahudi menganggap bahwa diri mereka sebagai bangsa terbaik dan pilihan Allah Ta’ala karena hampir seluruh nabi diturunkan dari bangsa mereka. Jadi untuk apa mereka tunduk kepada nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang tidak berasal dari golongan mereka.

Sedang kaum Nashrani menolak ajaran Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam karena takut kehilangan kedudukan dan harta yang telah diberikan penguasa Romawi tarhadap mereka. Kalau mereka masuk Islam tentu saja semua itu akan hilang. Ahlu kitab terutama Yahudi selamanya tidak akan terima dengan agama Islam sejak zaman Rasulullah hingga masa kini. Dari perdebatan mereka dengan  Rasulullah adalah untuk memurtadkan umat Islam. Dan yang lebih bahaya lagi adalah kaum munafiqun yang membantah, perintah, larangan serta keputusan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Cukuplah pengalaman pahit dan kelam ketika munculnya empat madzhab menjadi pelajaran dari ta’ashub ini. Menjadikan setiap orang ta’ashub degan madzhab yang mereka pegang. Diantara mereka sangat keterlaluan dalam menjunjung tinggi imamnya, memperjuangkan madzhabnya, berkoar agar manusia hanya mengikutinya, mencoreng habis madzhab selainnya serta berusaha sekuat tenaga menjatuhkan kedudukan lawannya. Tidak diragukan bahwa Ta’ashub bisa menyebabkan seseorang terjatuh dalam perkara ekstrim dan kekufuran. Sebagian mereka juga menggunakan hadits palsu untuk mengagungkan madzhab yang mereka yakini dan mereka pilih,

Contohnya, hadits palsu buatan orang-orang fanatik pengikut madzhab Abu Hanifah rahimahullah sebagai berikut:

سَيَأْتِيْ مِنْ بَعْدِيْ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ النُّعْمَانَ بْنَ ثَابِتٍ وَيُكْنَى أَبَا حَنِيْفَةَ لَيُحْيِيَنَّ دِيْنَ اللهِ وَسُنَّتِيْ عَلَى يَدَيْهِ

“Akan datang setelahku seorang yang bernama Nu’man bin Tsabit dan kunyah-nya Abu Hanifah, sungguh dia akan menghidupkan agama Allah dan sunnahku”. (Lihat Tanzih Syari’ah 2/30 karya Ibnu ‘Arraq dan Tarikh Baghdad 2/289 karya Al-Khatib Al-Bahgdadi).

 

Lebih ngeri lagi pernah dikatakan kepada Ma’mun bin Ahmad Al-Harawi Rahimahullah: “Bagaimana pendapatmu tentang Syafi’i dan para pengikutnya di Khurasan?” Dia menjawab: “Menceritakanku Ahmad bin Abdillah bin Mi’dan Rahimahullah dari Anas secara marfu’:

يَكُوْنُ فِيْ أُمَّتِيْ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ مُحَمَّدَ بْنَ إِدْرِيْسَ أَضّرَ عَلَى أُمَّتِيْ مِنْ إِبْلِيْسَ وَيَكُوْنُ فِيْ أُمَّتِيْ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أَبَا حَنِيْفَةَ هُوَ سِرَاجُ أُمَّتِيْ

“Akan datang pada umatku seorang yang bernama Muhammad bin Idris (nama imam Syafi’i), dia lebih berbahaya bagi umatku daripada Iblis. Dan akan datang pada umatku seorang bernama Abu Hanifah, dia adalah pelita umatku”. (Lihat Lisanul Mizan (5/7-8) karya Ibnu Hajar dan Tadrib Rawi (1/277) karya As-Suyuthi)

Hadits ini disamping maudhu’ (palsu), juga bertentangan dengan ketegasan Al-Qur’an yang menyatakan bahwa pelita umat adalah Nabi Muhammad sebagaimana dalam surat Al-Ahzab: 46.

Rasulullah Tidak Pernah Ta’ashub Dalam Kehidupan Beliau

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَتْ عَلَىَّ عَجُوزَانِ مِنْ عُجُزِ يَهُودِ الْمَدِينَةِ فَقَالَتَا لِى إِنَّ أَهْلَ الْقُبُورِ يُعَذَّبُونَ فِى قُبُورِهِمْ ، فَكَذَّبْتُهُمَا ، وَلَمْ أُنْعِمْ أَنْ أُصَدِّقَهُمَا ، فَخَرَجَتَا وَدَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَجُوزَيْنِ وَذَكَرْتُ لَهُ ، فَقَالَ « صَدَقَتَا ، إِنَّهُمْ يُعَذَّبُونَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ كُلُّهَا » . فَمَا رَأَيْتُهُ بَعْدُ فِى صَلاَةٍ إِلاَّ تَعَوَّذَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ .

Dari Aisyah Radhiallahu Anha, ia berkata, “Dua orang perempuan tua Yahudi kota Madinah menemui Aisyah seraya berkata: “Sesungguhnya penghuni kubur diazab di dalam kubur mereka”, maka saya mendustakan mereka, saya tidak nyaman untuk mempercayai mereka, lalu kedua orang itu pergi, kemudian Rasulullah datang, lalu saya berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada dua orang perempuan Yahudi”, saya sebutkan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau bersabda: “Kedua perempuan Yahudi itu benar, penghuni kubur diazab di dalam kubur, azab mereka dapat didengar semua hewan”. Saya tidak pernah melihat Rasulullah selesai shalat melainkan memohon perlindungan dari adzab kubur”. (HR. Imam al-Bukhari dan Muslim)

Ternyata Rasulullah ketika mendapatkan ilmu sekalipun dari orang Yahudi yang menerangkan keadaan manusia di dalam kubur, beliau tidak menolaknya ketika mengetahui bahwa apa yang disampaikan oleh dua wanita Yahudi tadi memang benar sesuai dengan wahyu yang diturunkan oleh Allah. Rasulullah tidak sungkan untuk mengakui kebenaran yang datang dari dua wanita Yahudi.

Hal ini bukan berarti kita menggampangkan untuk mengambil ilmu. Dan bukan berarti juga bahwa setiap ilmu harus terima. Tetapi yang betul-betul kita ambil adalah ilmu yang sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya telah tetapkan. Yang ditekankan disini adalah dalam hal mencari ilmu, janganlah berta’ashub. Karena Rasulullah pun menerima ilmu dari orang Yahudi, jika ilmu tersebut sesuai dengan Alquran dan As Sunnah. Ini merupakan bukti bahwa beliau Shallallahu Alaihi Wasallam tidak ta’ashub.

Syirik Ucapan Menyamai Sesuatu Apapun Dengan Kehendak Allah Melalui Ucapan

عنْ قُتَيْلَةَ بِنْتِ صَيْفِيٍّ قَالَتْ : جَاءَ حَبْرٌ مِنَ الْأَحْبَارِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، نِعْمَ الْقَوْمُ أَنْتُمْ لَوْلَا أَنَّكُمْ تُشْرِكُونَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : ” وَمَا ذَاكَ ؟ ” ، قَالَ : تَقُولُونَ إِذَا حَلَفْتُمْ : وَالْكَعْبَةِ ، قَالَ : فَأَمْهَلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – شَيْئًا ، ثُمَّ قَالَ : ” مَنْ حَلَفَ فَلْيَحْلِفْ بِرَبِّ الْكَعْبَةِ . ثُمَّ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، نِعْمَ الْقَوْمُ أَنْتُمْ لَوْلَا أَنَّكُمْ تَجْعَلُونَ لِلَّهِ نِدًّا ، قَالَ : ” سُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا ذَاكَ ؟ ” ، قَالَ : تَقُولُونَ لِلرَّجُلِ : مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ ، فَأَمْهَلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، ثُمَّ قَالَ : إِنَّهُ قَدْ قَالَ : فَمَنْ قَالَ : ” مَا شَاءَ اللَّهُ فَلْيَجْعَلِ بَيْنَهُمَا ثُمَّ شِئْتَ ” .

Diriwayatkan dari Qutailah binti Shaifi al-Juhaniyyah Radhiallahu Anha, ia berkata, “Salah seorang pendeta Yahudi datang menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan berkata, ‘Wahai Muhammad, kalian adalah sebaik-baik ummat bila saja kalian tidak berbuat syirik.’ Rasulullah berkata, ‘Subhanallah, apa itu?’ Ia berkata, ‘Kalian berkata dalam sumpah, Demi Ka’bah!’ Rasulullah diam sejenak, lalu berkata, ‘Memang ada yang mengatakan seperti itu, maka barangsiapa bersumpah hendaklah ia mengatakan, ‘Demi Rabbul Ka’bah (Pemilik Ka’bah).’ Pendeta Yahudi itu berkata lagi, ‘Wahai Muhammad, kalian adalah sebaik-baik ummat bila saja kalian tidak menjadikan sekutu bagi Allah!’ ‘Subhanallah, apa itu?’ tanya Rasulullah. Ia berkata: “Kalian mengatakan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu!’ Rasulullah diam sejenak, lalu berkata, ‘Memang ada yang berkata seperti itu, barangsiapa mengucapkan, “Atas kehendak Allah, maka hendaklah ia mengiringinya dengan ucapan, Kemudian dengan kehendakmu”. (Shahih, HR. Ahmad dan Hakim)

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah Rahimahullahu berkata dalam kitab Zaadul Ma’aad (II/353–354): “Termasuk perkara syirik yang dilarang adalah perkataan sebagian orang yang tidak menjauhi kata-kata yang bermuatan syirik, misalnya perkataan: ‘Atas pertolongan Allah dan pertolonganmu, dengan perlindungan Allah dan perlindunganmu, tiada bagiku kecuali Allah dan dirimu, aku tawakkal kepada Allah dan kepadamu, ini adalah pemberian Allah dan pemberianmu, Allah adalah pelindungku di langit dan engkau adalah pelindungku di bumi, demi Allah dan demi hidupmu,’ dan perkataan-perkataan sejenisnya yang menempatkan makhluk sebagai tandingan bagi Allah. Perkataan-perkataan tersebut lebih dilarang dan lebih keji daripada perkataan: ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’”.

Adapun bila ia mengatakan: “Atas pertolongan Allah kemudian atas pertolonganmu, atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu,” maka tidaklah mengapa. Sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang kisah tiga orang Bani Israil: “Tidak ada penolong bagiku pada hari ini kecuali Allah, kemudian engkau”.

Ada beberapa kalimat yang sengaja digaris bawahi biar supaya gampang kita pahami, mungkin ucapan-ucapan seperti ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya diantaranya:

Kalimat salah yang sering kita ucapkan: “Berkat dokter, saya sembuh dari penyakit kanker atau mungkin Berkat Allah dan Dokter saya sembuh”, “karena gonggongan anjing rumah saya bebas dari pencuri atau mungkin karena Allah dan anjing rumah saya bebas dari pencuri”, “Akibat cahaya yang cerah jadi kapal yang kita tumpangi selamat” atau “Akibat pertolongan Allah dan cahaya yang cerah kita bebas dari badai”, atau mungkin kita di dalam pesawat lalu kita mengatakan, “sungguh pintar sekali itu pilot sehingga kita bebas dari bencana kecelakaan atau sungguh luar biasa kasih sayang Allah dan pintarnya pilot sehingga kita selamat dari bencana kecelakaan”.

Kalimat-kalimat itu sungguh sangat berbahaya sekali karena akan merusak nilai-nilai ke tauhidan kita dan mungkin kita terkena dengan tipu daya syetan. Padahal kalimat tauhid merupakan salah satu kunci menuju surge. Jika kita tidak memiliki tiket ke tauhid an selain itu secara otomatis seluruh amal kita akan rusak di sisi Allah Ta’ala. Kita hendaknya harus menyadari itu.

Kalimat yang benar yang seharusnya kita ucapkan adalah, “Berkat pertolongan Allah kemudian dokter yang telah berjasa sehingga penyakit saya bisa sembuh”, “karena pertolongan Allah kemudian karena gonggongan anjing, rumah saya aman dari pencuri”, “Akibat kehendak Allah kemudian akibat cuaca cerah akhirnya kapal kita bebas dari ancaman badai”, “sungguh luar biasanya kasih sayang Allah kemudian karena pilot yang pintar sehingga kapal kita selamat dari bencana”. Mari kita perbaiki ucapan yang sering tidak disadari mengandung kesyirikan ini.

Rasulullah Membenarkan Nasehat Syaithan

Abu Hurairah berkisah dalam sebuah hadits yang panjang:

وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ فَأَتَانِي آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنْ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ وَقُلْتُ وَاللَّهِ لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّي مُحْتَاجٌ وَعَلَيَّ عِيَالٌ وَلِي حَاجَةٌ شَدِيدَةٌ قَالَ فَخَلَّيْتُ عَنْهُ فَأَصْبَحْتُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً وَعِيَالًا فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ قَالَ أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ وَسَيَعُودُ فَعَرَفْتُ أَنَّهُ سَيَعُودُ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ سَيَعُودُ فَرَصَدْتُهُ فَجَاءَ يَحْثُو مِنْ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَعْنِي فَإِنِّي مُحْتَاجٌ وَعَلَيَّ عِيَالٌ لَا أَعُودُ فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً وَعِيَالًا فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ قَالَ أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ وَسَيَعُودُ فَرَصَدْتُهُ الثَّالِثَةَ فَجَاءَ يَحْثُو مِنْ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ وَهَذَا آخِرُ ثَلَاثِ مَرَّاتٍ أَنَّكَ تَزْعُمُ لَا تَعُودُ ثُمَّ تَعُودُ قَالَ دَعْنِي أُعَلِّمْكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهَا قُلْتُ مَا هُوَ قَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ حَتَّى تَخْتِمَ الْآيَةَ فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِي كَلِمَاتٍ يَنْفَعُنِي اللَّهُ بِهَا فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ قَالَ مَا هِيَ قُلْتُ قَالَ لِي إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ مِنْ أَوَّلِهَا حَتَّى تَخْتِمَ الْآيَةَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ. وَقَالَ لِي لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ وَكَانُوا أَحْرَصَ شَيْءٍ عَلَى الْخَيْرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ لَا قَالَ ذَاكَ شَيْطَانٌ

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadhan. Tiba-tiba seseorang datang. Mulailah ia mengutil makanan zakat tersebut. Aku pun menangkapnya seraya mengancamnya: “Sungguh aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk aku adukan perbuatanmu ini kepada beliau”. Orang yang mencuri itu berkata: “Aku butuh makanan, sementara aku memiliki banyak tanggungan keluarga. Aku ditimpa kebutuhan yang sangat”. Karena alasannya tersebut, aku melepaskannya. Di pagi harinya, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bertanya: “Wahai Abu Hurairah, apa yang diperbuat tawananmu semalam?” “Wahai Rasulullah, ia mengeluh punya kebutuhan yang sangat dan punya tanggungan keluarga. Aku pun menaruh iba kepadanya hingga aku melepaskannya,” jawabku. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sungguh dia telah berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.” (Di malam berikutnya) aku yakin pencuri itu akan kembali lagi karena Rasulullah menyatakan: “Dia akan kembali.” Aku pun mengintainya, ternyata benar ia datang lagi dan mulai menciduk makanan zakat. Kembali aku menangkapnya seraya mengancam: “Sungguh aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk aku adukan perbuatanmu ini kepada beliau.” “Biarkan aku karena aku sangat butuh makanan sementara aku memiliki tanggungan keluarga. Aku tidak akan mengulangi perbuatan ini lagi.” Aku kasihan kepadanya hingga aku melepaskannya. Di pagi harinya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bertanya: “Wahai Abu Hurairah, apa yang diperbuat oleh tawananmu?” “Wahai Rasulullah, ia mengeluh punya kebutuhan yang sangat dan punya tanggungan keluarga, aku pun iba kepadanya hingga aku pun melepaskannya,” jawabku. Rasulullah n bersabda: “Sungguh dia telah berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.” Di malam yang ketiga, aku mengintai orang itu yang memang ternyata datang lagi. Mulailah ia menciduk makanan. Segera aku menangkapnya dengan mengancam: “Sungguh aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk aku adukan perbuatanmu ini kepada beliau. Ini untuk ketiga kalinya engkau mencuri, sebelumnya engkau berjanji tidak akan mengulangi perbuatanmu tetapi ternyata engkau mengulangi kembali.” “Lepaskan aku, sebagai imbalannya aku akan mengajarimu beberapa kalimat yang Allah akan memberikan manfaat kepadamu dengan kalimat-kalimat tersebut,” janji orang tersebut. Aku berkata: “Kalimat apa itu?” Orang itu mengajarkan: “Apabila engkau berbaring di tempat tidurmu, bacalah ayat Kursi: (Al-Baqarah: 255) hingga engkau baca sampai akhir ayat. Bila engkau membacanya terus menerus, maka engkau mendapatkan penjagaan dari Allah, dan syetan sekali-kali tidak akan mendekatimu sampai pagi hari”. Aku pun melepaskan orang itu, hingga di pagi hari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kembali bertanya kepadaku: “Apa yang diperbuat tawananmu semalam?” Aku menjawab: “Wahai Rasulullah, ia berjanji akan mengajariku beberapa kalimat yang Allah akan memberikan manfaat kepadaku dengan kalimat-kalimat tersebut, akhirnya aku membiarkannya pergi.” “Kalimat apa itu?”, tanya Rasulullah. Aku berkata: “Orang itu berkata kepadaku: `Apabila engkau berbaring di tempat tidurmu, bacalah ayat Kursi dari awal hingga akhir ayat”. Ia katakan kepadaku: `Bila engkau membacanya maka terus menerus engkau mendapatkan penjagaan dari Allah dan syetan sekali-kali tidak akan mendekatimu sampai pagi hari’.” Sementara mereka (para shahabat) merupakan orang-orang yang sangat bersemangat terhadap kebaikan. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh kali ini ia jujur kepadamu padahal ia banyak berdusta. Engkau tahu siapa orang yang engkau ajak bicara sejak tiga malam yang lalu, wahai Abu Hurairah?.” “Tidak,” jawabku. “Dia adalah syetan,” kata Rasulullah.

(Hadits di atas diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, itab Al-Wakalah bab Idza Wakkala Rajulan Fatarakal Wakil Syai`an Fa’ajazahul Muwakkil fa Huwa Ja`iz)

Diantara Pelajaran Dari Hadits Diatas

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani Rahimahullahu menyebutkan beberapa faedahnya, di antaranya:

  • Terkadang syetan mengetahui perkara yang bermanfaat bagi seorang mukmin.
  • Orang kafir, sebagaimana syetan (yang juga kafir), terkadang sebagian ucapannya jujur kepada seorang mukmin. Namun kejujurannya itu tidak menjadikan-nya beriman.
  • Syetan memiliki sifat suka berdusta, dan dia adalah seorang pendusta yang sebagian besar ucapannya tidak dapat dipercaya.

Lalu kenapa jin pendusta itu berucap benar? Karena takut dihadapkan kepada Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, padahal jin itu pendusta. Namun jin itu ada juga yang shalih, dan ada yang jahat pun banyak dan mereka itulah yang pendusta, jin tadi berkata jujur karena takut dihadapkan dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

 

Jangankan dengan Rasulullah, dengan para sahabat Rasul pun para syaitan itu menghindar, sebagaimana riwayat Shahih Al Bukhari bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“wahai Umar, jika syaitan berhadapan denganmu di suatu jalan maka ia akan menghindar darimu dan mencari lembah yang lain agar tidak berpapasan denganmu”.

 

Kenapa? Karena ketaatan dan ketakwaannya, bukan lagi digoda oleh syaitan tapi syaitan yang lari darinya, kalau sebagian dari kita melihat jin atau syaitan maka akan lari, tetapi ini sebaliknya justru syaitan jika melihat orang yang bertakwa maka ia akan lari.

 

Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani berkata di dalam Fathul Bari bis Syarh Shahih Al Bukhari bahwa hal ini bukan hanya terjadi pada Umar bin Khatthab Radhiallahu Anhu, tetapi banyak para sahabat dan banyak pula terjadi pada shalihin dimana syaitan itu lari menghindar dari mereka, karena ketakwaan mereka sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلاَّ مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ (الحجر: 42)

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang- orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat”. (Al Hijr: 42)

 

  • Syaitan atau jin tidak akan mampu menggoda hamba-hamba Allah yang shalih, jangankan menggoda, mendekatpun tidak bisa.
  • Syetan terkadang bisa menyerupai bentuk tertentu sehingga memungkinkan untuk melihatnya, seperti dalam kisah di atas. Firman Allah Ta’ala:

“Dia (iblis) dan bala tentaranya melihat kalian dari arah yang kalian tidak dapat melihat mereka,” hal ini khusus bila setan itu berada dalam rupa aslinya sebagaimana ia diciptakan. Dengan demikian mereka dapat menampakkan diri kepada manusia dengan syarat yang telah disebutkan.

  • Jin memakan makanan manusia, dan mereka bisa mengambil makanan yang tidak disebutkan nama Allah pada makanan tersebut. Mereka pun dapat berbicara dengan bahasa manusia.

Dalam riwayat Bukhari disebutkan:

إِذَا اسْتَجْنَحَ اللَّيْلُ أَوْ قَالَ جُنْحُ اللَّيْلِ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ

“Jika malam sudah datang atau sabda Beliau, malam sudah gelap, maka tahanlah bayi-bayi kalian karena pada saat itu setan sedang berkeliaran”. (HR. Bukhari)

Hadits di atas menunjukkan dengan jelas bahwa syetan bergentayangan jika malam tiba. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memperingatkan kepada kita agar waspada untuk menghadapi kejahatan syetan dengan melakukan pertahanan diri seperti menutup pintu, makanan dan minuman serta mematikan lampu.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

قَالَ غَطُّوا الْإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ وَأَغْلِقُوا الْبَابَ وَأَطْفِئُوا السِّرَاجَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَحُلُّ سِقَاءً وَلَا يَفْتَحُ بَابًا وَلَا يَكْشِفُ إِنَاءً فَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ إِلَّا أَنْ يَعْرُضَ عَلَى إِنَائِهِ عُودًا وَيَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ فَلْيَفْعَلْ فَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ تُضْرِمُ عَلَى أَهْلِ الْبَيْتِ بَيْتَهُمْ

“Tutuplah oleh kalian bejana-bejana, rapatkanlah tempat-tempat minuman, tutuplah pintu-pintu, dan matikanlah lampu, karena setan tidak dapat membuka ikatan tempat minum, pintu, dan bejana. Jika kalian tidak mendapatkan penutupnya kecuali dengan membentangkan sepotong kayu di atas bejananya dan menyebut nama Allah, maka lakukanlah. Karena tikus dapat merusak pemilik rumah dengan membakar rumahnya”.  (HR. Muslim)

  • Syetan mencuri dan menipu.
  • Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam diperlihatkan perkara ghaib oleh Allah Ta’ala sehingga beliau mengetahui bahwa yang mencuri makanan zakat yang dijaga oleh Abu Hurairah Radhiallahu Anhu selama tiga malam berturut-turut adalah setan. (Fathul Bari, 4/616-617)

Rasulullah betul-betul menghindarkan dirinya dari sikap Ta’ashub. Sekalipun yang menyampaikan adalah syaithan karena setelah diteliti bahwa hal tersebut sesuai bimbingan wahyu yang disampaikan kepada beliau, maka Rasulullah mengambil ilmunya dan membenarkannya.

Namun bukan berarti kita tidak selektif dalam mengambil ilmu, bukan. Memilih ilmu harus hati-hati dari mana ilmu itu berasal. Tapi kehati-hatian terhadap suatu ilmu bukan berarti menjadikan ta’ashub, lalu kemudian mengkultuskan seorang yang kita belajar darinya, membenarkan apapun yang disampaikan olehnya, lalu menyalahkan semua orang yang tidak belajar darinya. Memang sulit untuk tidak ta’ashub sembari menjaga ittiba’. Tapi itulah yang dinamakan kebenaran, kebenaran tidak menjadikan ta’shub. Dan ketika berlari dari ta’ashub bukan berarti kita gampang mendapatkan ilmu. Keduanya harus seimbang. Ittiba’ kita dalam mencari ilmu tidak menjadikan kita sombong terhadap apa yang telah dipelajari.

Bersambung..

Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved