Follow us:

Sejarah Islamisasi di Tanah Sunda

Tanah Sunda yang kini Jawa Barat menjadi bagian penting sejarah nusantara dengan pelabuhan-pelabuhannya di pantai utara. Jawa Barat juga memiliki kerajaan besar yang sejajar dengan Majapahit, Kerajaan Pajajaran. Islam masuk dan bersatu dengan kehidupan masyarakat mengganti kepercayaan Sang Hyang sehingga masyarakat Sunda saat ini identik dengan Islam.

Tiar Anwar Bachtiar dalam artikelnya, “Islamisasi Tatar Sunda: Perspektif Sejarah dan Kebudayaan”, menulis jika membicarakan Islam di Tatar Sunda, wilayah yang dimaksud adalah wilayah yang saat ini menjadi Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.

Pengaruh historiografi kolonial membuat sejarah penyebaran Islam di wilayah Sunda selalu dibenturkan dengan adat istiadat. Islamisasi di wilayah Sunda lebih merupakan proses pendekatan budaya. Jika terjadi perang, misalnya, antara Kerajaan Banten dan Kerajaan Sunda, Tiar memandang karena kepentingan politik dibanding mempertahankan budaya. Masyarakat Sunda sendiri memeluk Islam dengan wajar tanpa kekerasan.

Mengutip Nina Herlina dkk dalam “Sejarah Tatar Sunda”, Tiar menyebut orang Islam pertama di wilayah Sunda adalah Haji Purwa atau Bratalegawa. Ia merupakan putra kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora, penguasa Kerajaan Galuh kala itu.

Kota-kota pelabuhan, seperti Cirebon, Banten, dan Sunda Kalapa, menjadi bagian penting masuknya Islam pada masa Kerajaan Sunda. Ketiganya menjadi akses interaksi perdagangan dengan berbagai negara, termasuk Cina, Arab, dan India.

Dalam Penyebaran Islam di Jawa Barat, Mumuh Muchsin Z menulis dari sumber lokal diketahui orang yang pertama memeluk Islam di wilayah Sunda adalah Haji Purwa pada 1337 M. Haji Purwa adalah putra Kuda Lalean. Ia masuk Islam melalui interaksi dengan pedagang Arab.

Saat pulang ke Kerajaan Galuh (wilayah Ciamis sekarang), ia berupaya mengajak adiknya untuk masuk Islam. Namun, tidak berhasil. Ia lalu memilih menetap di Cirebon. Haji Purwa itu identik dengan Syekh Maulana Saifuddin.

Mumuh mengemukakan, Haji Purwa jadi orang Islam pertama yang menetap di Cirebon yang saat itu dipimpin Juru Labuan Ki Gedeng Kasmaya. Ki Gedeng Kasmaya lalu digantikan Ki Gedeng Sedangkasih, lalu Ki Gedeng Tapa.

Selain Haji Purwa, orang Islam juga masuk ke wilayah Sunda melalui para ulama dari Campa yang sudah lebih dulu disentuh dakwah agama tauhid pada abad ke-11. Dalam Carita Purwaka Caruban Nagari, disebut Dukuh Pasambangan didatangi guru-guru Islam, salah satunya dari Campa, Syekh Hasanuddin, putra Syekh Yusuf Sidik. Syekh Hasanuddin mendirikan pondok di Quro, Karawang.

Juru Labuan Cirebon kala itu, Ki Gedeng Tapa, mengirim anaknya, Nyi Subang Larang, untuk mempelajari Islam kepad Syekh Quro. Pada 1422 M, Nyi Subang Larang dinikahi dan menjadi salah satu istri Prabu Siliwangi, raja Pajajaran. Kala itu, Cirebon menjadi wilayah di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran.

Nyi Subang Larang dan Prabu Siliwangi memiliki anak, Pangeran Walangsungsang, Nyai Lara Santang, dan Pangeran Kean Santang. Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara Santang sempat berguru pada Ki Gedeng Jumajan Jati.

Ki Gedeng Jumajan Jati menerima utusan Raja Parsi, Syekh Datuk Kahfi atau Syekh Nurjati, di Pasambangan. Ia diterima dengan baik oleh Ki Gedeng Jumajan Jati.

Syekh Datuk Kahfi lalu diperbolehkan mendirikan pondok di Bukit Amparan Jati. Ki Gedeng Jumajan Jati meminta Walangsungsang (Cakrabuana) bersama istrinya, Edang Ayu, serta adiknya, Lara Santang, untuk berguru pada Syekh Datuk Kahfi. Walangsungsang lalu digelari Samdullah.

Atas petunjuk gurunya, mereka membuka sebuah wilayah yang awalnya tegal alang-alang pesisir yang lalu menjadi desa yang dikepalai seorang kuwu. Desa ini dinamakan Caruban atau Caruban Larang. Para pedagang di Muara Jari dan Dukuh Pasambangan kemudian pindah ke Pelabuhan Caruban.

Pada 1513 M, Islam dikabarkan sudah meluas hingga ke Indramayu. Laksamana Cheng Ho yang juga seorang Muslim, juga sempat singgah di kota berpenduduk Islam di Cirebon pada abad ke-15 atau 16.

Mengutip penjabaran Carita Purwaka Caruban Nagari (Sejarah Mula Jadi Cirebon) pada 1972 oleh Atja, Mumuh menuliskan Syekh Datuk Kahfi menyarankan Walangsungsang dan Lara Santang untuk berhaji. Di Tanah Suci, Lara Santang menikah dengan Sultan Mahmud atau Syarif Abdullah. Nyai Lara Santang mendapat gelar Syarifah Mudaim.

Dari pernikahan mereka lahir Syarif Hidayat pada 1448 M. Syarif Hidayat kelak menjadi salah satu wali dari Wali Songo. (UYR/Republika)

Share This:

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved