Sejarah Penting di Bulan Sya’ban
Sya’ban menjadi suatu bulan yang di dalamnya terdapat ibadah-ibadah khas dan juga jejak sejarah. Bulan Sya’ban juga menjadi pengingat bagi umat Islam bahwa Ramadhan sebentar lagi akan tiba.
Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri dalam kitab Minhajul Muslim menjelaskan, Allah SWT telah mewajibkan puasa kepada umat Nabi Muhammad SAW sebagaimana Dia mewajibkannya kepada umat-umat terdahulu. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surat Al Baqarah ayat 183,
يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَۙ
“Yaa ayyuhal laziina aamanuu kutiba ‘alaikumus Siyaamu kamaa kutiba ‘alal laziina min qablikum la’allakum tattaquun.”
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Perintah yang mewajibkan puasa ini turun pada Senin di bulan Sya’ban tahun kedua setelah hijrah Nabi Muhammad SAW. Inilah jejak historis mengenai kewajiban puasa yang terjadi di bulan Sya’ban.
Manfaat Puasa
Selain adanya jejak historis diwajibkannya puasa wajib bagi kaum muslimin, nyatanya terdapat fakta tentang manfaat puasa.
Misalnya, manfaat sosial dari puasa, dijelaskan oleh Syaikh Abu Bakar Jabir, yakni dapat menjadi pembiasaan umat Islam untuk terus hidup dalam kedisiplinan dan persatuan. Tak hanya itu, dengan puasa seseorang akan membiasakan diri terhadap keadilan, persamaan, menumbuhkan perasaan sayang serta moral yang baik di lingkup masyarakat.
Sebab, puasa bukan hanya dimaknai sebagai sebuah pemahaman sempit dengan tidak dibolehkannya makan dan minum. Puasa adalah kegiatan menahan diri, baik itu dari makan dan minum dan yang terpenting adalah menahan nafsu dan emosi dari perbuatan-perbuatan tercela.
Manfaat puasa secara medis pun juga banyak dijabarkan oleh para ilmuwan. Puasa, sebagaimana hadits Nabi, dianggap sebagai salah satu medium bagi penyehatan fisik, jiwa, dan rohani.
Dalam buku Sehat dengan Ibadah karya Jamal Muhammad Az-Zaki dijelaskan mengenai salah satu manfaat medis puasa bagi kesehatan lambung. Bahwa puasa Ramadhan yang disyariatkan Islam telah meningkatkan keseimbangan asam lambung. Dengan begitu, ia membantu penyembuhan luka lambung disertai dengan pengobatan yang sesuai.
Para peneliti bahkan melakukan riset. Di antara tujuannya adalah mengetahui pengaruh puasa di bulan Ramadhan atas tingkat keasaman lambung (turun-naiknya asam). Mereka menemukan bahwa keasaman di lambung ternyata seimbang saat berpuasa.
Yakni bagi orang-orang sakit tang mengalami keasaman (hypochlorhydria) atau kenaikan keasaman (hyperchlorydria). Hal tersebut memperkuat dan mempertegas bahwa puasa pada bulan Ramadhan ternyata mampu memperingan dan dapat mencegah terjadinya pengasaman berlebih di lambung.
Padahal sebagaimana diketahui, pengasaman berlebih di lambung merupakan suatu sebab terjadinya luka di lambung. Lambung sejatinya tersusun dari tiga lapis urutan, antara lain lapisan lendir, lapisan otot, dan lapisan selaput birtuan. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments