Sekjen Kemenag Jelaskan Mengapa Imam Perlu Adaptif Hadapi AI dan Perubahan Zaman
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin mendorong para imam dan ekosistem masjid untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk kemajuan teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence(AI). Menurutnya, perkembangan teknologi perlu dipahami dan dimanfaatkan secara bijak agar masjid tetap relevan, khususnya bagi generasi muda.
Hal tersebut disampaikan Kamaruddin saat memberikan keterangan kepada media usai mengikuti rangkaian International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 di Masjid Istiqlal, Jakarta. Ia menanggapi pertanyaan mengenai bagaimana imam dan lembaga keagamaan perlu menyikapi perkembangan AI yang semakin masuk dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Kamaruddin menjelaskan bahwa imam tidak dapat melepaskan diri dari perkembangan teknologi yang berkembang di tengah masyarakat. Pemahaman terhadap AI, menurutnya, menjadi bagian dari kemampuan yang perlu dimiliki agar imam dapat memahami perubahan sosial sekaligus memberikan panduan kepada umat dalam memanfaatkan teknologi.
“Imam juga harus memahami perkembangan teknologi, termasuk artificial intelligence. Karena itu merupakan bagian dari kehidupan kita sekarang. Imam tidak boleh gagap terhadap perubahan zaman,” ujar Kamaruddin, saat Doorstop dengan tim HKP setelah selesai Konferensi, Sabtu (26 September 2026).
Menurutnya, pemanfaatan AI tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan teknis menggunakan teknologi. Perkembangan tersebut juga perlu ditempatkan dalam konteks pendidikan, kehidupan sosial, dan nilai-nilai yang menjadi pedoman masyarakat.
Kamaruddin menilai, kemampuan memahami perkembangan teknologi penting agar pemimpin keagamaan dapat hadir di tengah persoalan yang dihadapi umat. Dengan demikian, imam tidak hanya menjalankan fungsi kepemimpinan dalam ibadah, tetapi juga mampu memberikan orientasi ketika masyarakat menghadapi perubahan yang berlangsung cepat.
Masjid Perlu Relevan bagi Generasi Muda
Dalam konteks yang lebih luas, Kamaruddin mengaitkan adaptasi teknologi dengan upaya memperkuat keterlibatan generasi muda dalam kehidupan masjid. Menurutnya, masjid perlu menjadi ruang yang dekat dengan kebutuhan dan dinamika anak muda, tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai pusat kehidupan keagamaan.
Ia mengatakan, generasi muda merupakan bagian penting dari keberlanjutan kehidupan masjid. Karena itu, pendekatan yang digunakan perlu menyesuaikan perkembangan cara belajar, berkomunikasi, dan berinteraksi yang semakin dipengaruhi teknologi digital.
“Masjid harus menjadi tempat yang menarik bagi anak muda. Remaja masjid harus diberikan ruang untuk berkreasi, untuk berpartisipasi, untuk mengembangkan potensinya. Karena mereka adalah masa depan masjid,” terang Kamaruddin.
Menurutnya, keterlibatan generasi muda tidak cukup hanya dengan mengajak mereka hadir dalam kegiatan keagamaan. Masjid juga perlu menyediakan ruang bagi mereka untuk berorganisasi, belajar, berdiskusi, mengembangkan kreativitas, serta terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
Dalam konteks tersebut, teknologi dapat menjadi salah satu sarana yang membantu masjid membangun komunikasi dengan generasi muda. Pemanfaatan media digital dan berbagai teknologi baru dapat membuka cara-cara baru bagi masjid untuk menyampaikan pesan keagamaan sekaligus menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Namun, Kamaruddin menekankan bahwa teknologi tetap ditempatkan sebagai alat. Perkembangan AI dan teknologi digital tidak boleh menggeser nilai, orientasi, dan tujuan utama kehidupan keagamaan.
“Teknologi itu alat. Yang paling penting adalah nilai dan orientasinya. Kita boleh menggunakan teknologi secanggih apa pun, tetapi nilai-nilai agama, moral, dan kemanusiaan tetap harus menjadi pijakan,” papar Kamaruddin.
Ia menambahkan, kemampuan beradaptasi dengan teknologi justru perlu berjalan beriringan dengan penguatan nilai keagamaan. Dengan demikian, imam dan masjid dapat memanfaatkan perkembangan teknologi tanpa kehilangan fungsi moral dan sosialnya.
Kamaruddin melihat kebutuhan tersebut semakin penting di tengah perubahan pola interaksi masyarakat. Imam dan masjid, kata dia, perlu memahami bagaimana generasi muda berkomunikasi dan memperoleh informasi agar pesan-pesan keagamaan dapat disampaikan dengan cara yang relevan.
“Kita harus memahami anak muda, memahami dunianya, memahami teknologinya, tetapi tetap memberikan mereka nilai dan arah. Jadi bukan teknologinya yang kita takuti, tetapi bagaimana kita menggunakannya untuk kemaslahatan,” ungkapnya.
Menurut Kamaruddin, kemampuan tersebut pada akhirnya menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem masjid yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat masa kini. Imam tetap memiliki pijakan pada Al-Qur’an dan Sunnah, sementara cara menyampaikan nilai-nilai tersebut dapat terus berkembang mengikuti perubahan masyarakat.
Pembahasan mengenai adaptasi imam, keterlibatan generasi muda, dan pemanfaatan teknologi menjadi bagian dari gagasan lebih luas dalam IGIC 2026 tentang masa depan peran imam dan masjid. Forum tersebut mendorong kepemimpinan keagamaan untuk tetap berakar pada nilai-nilai agama sekaligus mampu merespons perubahan sosial dan perkembangan dunia. (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments