Sekjen PBB: Bantuan untuk Gaza Tak Dapat Dinegosiasikan
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Rabu (30 April 2025), menegaskan bahwa penyaluran bantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina di Jalur Gaza harus dipenuhi tanpa pengecualian.
“Selama hampir dua bulan, Israel melarang pendistribusian makanan, bahan bakar, obat-obatan, dan pasokan komersial masuk ke Gaza, sehingga lebih dari dua juta orang kehilangan bantuan yang menyelamatkan nyawa,” kata Sekjen lewat unggahan di platform X.
Hampir semua penduduk Gaza yang dihuni sekitar 2,4 juta orang, bergantung pada bantuan kemanusiaan yang sudah disetop sejak 2 Maret 2025. Saat itu, pasukan Israel menutup penyeberangan yang menyebabkan penurunan signifikan dalam situasi kemanusiaan bagi warga Palestina, menurut laporan pemerintah, hak asasi manusia, dan internasional.
Guterres menekankan bahwa bantuan untuk warga Gaza tidak dapat dinegosiasikan. Ia juga menggarisbawahi bahwa Israel harus melindungi warga sipil Palestina di Gaza dan menyetujui sekaligus memfasilitasi program bantuan.
Pemerintah Qatar pada Ahad (27 April 2025) lalu menyerukan tindakan segera untuk memaksa Israel agar mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza yang mereka blokade.
“Qatar menentang penggunaan kelaparan dan bantuan kemanusiaan sebagai senjata untuk menyerang rakyat Palestina di Gaza,” kata Menteri Luar Negeri Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan di Doha.”Kami terus berupaya dengan mitra-mitra kami untuk mengakhiri perang di Gaza,” kata Al Thani.
Dia menambahkan bahwa berbagai upaya harus ditempuh untuk memaksa Israel membuka akses bagi pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza. Dia menyatakan keprihatinannya yang mendalam terhadap kegagalan perundingan gencatan senjata di Gaza, serta tindakan Israel yang kembali melancarkan serangan.
Stok makanan yang kian menipis di Jalur Gaza memperparah kelaparan di wilayah kantong Palestina itu di tengah perang Israel yang menghancurkan, kata UNRWA pada Ahad lalu.
“Kelaparan semakin parah di Gaza,” kata badan PBB untuk pengungsi Palestina itu dalam sebuah pernyataan.
Penduduk, termasuk anak-anak, berharap bisa mendapatkan makanan untuk bertahan hidup dari organisasi-organisasi amal, kata UNRWA.
Disebutkan bahwa persediaan tepung di Gaza semakin berkurang pekan ini.”Hampir tiga ribu truk bantuan UNRWA bersiap memasuki Gaza,” kata UNRWA. “Pengepungan harus dihentikan.”
Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini mengatakan bahwa anak-anak Palestina di Gaza menderita kelaparan karena Israel terus mencegah masuknya pasokan makanan dan kebutuhan pokok lain.
Dia mengatakan bahwa kelaparan di wilayah itu bermotifkan politik, mengingat izin untuk memasukkan pasokan makanan tidak dihiraukan oleh Israel.
Sejak 2 Maret 2025, Israel telah menutup pintu penyeberangan ke Gaza sehingga bantuan makanan, medis, dan bantuan kemanusiaan tidak bisa masuk, sehingga memperparah bencana kemanusiaan, menurut laporan pemerintah dan organisasi-organisasi HAM dan internasional.
Hampir 51.500 warga Palestina di Gaza telah terbunuh oleh serangan brutal Israel sejak Oktober 2023. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan dan anak-anak.
November 2024 lalu, Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pemimpin Israel Benjamin Netanyahu dan mantan menteri pertahanannya, Yoav Gallant, atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional karena perang yang dilancarkannya di wilayah Palestina itu. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments