Sekolah Kritis di Luar Ruang Kuliah
Pendidikan tidak selalu lahir di ruang kuliah. Ia sering tumbuh di tempat-tempat sederhana, ketika sekelompok anak muda berkumpul bukan untuk mengejar nilai, melainkan merawat kegelisahan intelektual. Di sanalah pengetahuan berhenti menjadi hafalan dan mulai berubah menjadi percakapan.
Pengalaman itu saya temukan ketika menjadi narasumber dalam Sekolah Pendidikan Kritis yang diselenggarakan PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung di kaki Gunung Manglayang. Pesertanya datang dari berbagai perguruan tinggi dengan satu tujuan yang sama: belajar berpikir lebih dalam.
Yang menarik, mereka tidak datang sebagai penerima pengetahuan yang pasif. Mereka telah membaca sebelum diskusi dimulai, membawa pertanyaan, dan tidak segan mengkritisi teori yang dibahas. Saya justru merasa lebih banyak berdialog daripada mengajar.
Pemandangan seperti ini menghadirkan harapan. Di tengah pendidikan tinggi yang semakin sibuk dengan akreditasi, publikasi, dan berbagai indikator administratif, ternyata masih ada ruang yang memelihara tradisi membaca, berdiskusi, dan berpikir bersama.
Kegelisahan saya sesungguhnya sederhana. Hari ini ruang kuliah semakin sering berubah menjadi ruang presentasi. Mahasiswa bergantian menjelaskan slide, sementara diskusi berhenti pada formalitas tanya jawab. Materi memang selesai, tetapi belum tentu kesadaran ikut tumbuh.
Padahal universitas sejak awal tidak hanya didirikan untuk menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan. Ia juga menjadi tempat manusia belajar mempertanyakan, menimbang, dan memberi makna atas pengetahuan yang dimilikinya. Ketika ruang dialog semakin sempit, pendidikan perlahan kehilangan ruhnya.
Kegelisahan ini mengingatkan saya pada kritik Ivan Illich bahwa belajar tidak boleh dipenjara oleh institusi. Pengetahuan lahir melalui pengalaman, perjumpaan, dan percakapan antarmanusia. Kampus hanyalah salah satu ruang belajar, bukan satu-satunya.
Dalam sesi psikologi pendidikan, saya sengaja tidak berhenti pada penjelasan teori perkembangan Jean Piaget. Saya mengajukan satu pertanyaan yang tampak sederhana: apakah manusia lebih banyak dibentuk oleh bawaan sejak lahir atau oleh lingkungan tempat ia tumbuh?
Sejak itu suasana kelas berubah. Peserta saling menyampaikan argumen, menyanggah, sekaligus mendengarkan. Tidak ada yang sibuk mencari siapa yang paling benar. Mereka menikmati proses berpikir bersama. Saat itulah saya kembali menyadari bahwa pendidikan yang hidup bukanlah pendidikan yang dipenuhi jawaban, melainkan pendidikan yang melahirkan pertanyaan baru.
Pengalaman tersebut mengingatkan saya pada pemikiran Lev Vygotsky bahwa pengetahuan berkembang melalui interaksi sosial. Manusia belajar bukan hanya dari buku atau dosen, tetapi juga dari percakapan yang membuka cara pandang baru. Dialog bukan pelengkap pembelajaran; ia adalah jantung pendidikan itu sendiri.
Di akhir sesi, saya meminta setiap peserta menuliskan satu refleksi sederhana: setelah memahami psikologi pendidikan, apa yang akan mereka lakukan sebagai seorang aktivis? Jawaban mereka membuat saya terdiam. Ada yang ingin membangun budaya membaca, ada yang ingin lebih banyak mendengar sebelum berbicara, dan ada yang menulis bahwa seorang aktivis harus lebih dahulu memahami manusia sebelum berusaha mengubah masyarakat.
Saya teringat pada Paulo Freire yang mengkritik pendidikan sebagai sekadar proses menyimpan pengetahuan. Pendidikan, menurutnya, adalah dialog yang memanusiakan. Guru dan peserta didik sama-sama belajar melalui percakapan yang kritis dan reflektif.
Barangkali itulah pelajaran paling berharga dari Sekolah Pendidikan Kritis. Saya datang sebagai pemateri, tetapi pulang sebagai pembelajar. Saya semakin percaya bahwa pendidikan tidak ditentukan oleh megahnya gedung atau canggihnya teknologi, melainkan oleh hidup atau matinya ruang percakapan.
Hari ini kampus mungkin tidak kekurangan laboratorium, perpustakaan, ataupun perangkat digital. Yang mulai langka justru ruang yang membuat mahasiswa berani bertanya tanpa takut dianggap bodoh, berani berbeda tanpa harus dimusuhi, dan berani berpikir tanpa dibatasi oleh jawaban-jawaban yang sudah tersedia.
Di ruang-ruang seperti itulah pendidikan menemukan maknanya. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar mengajarkan apa yang harus dipikirkan, melainkan menuntun manusia untuk terus belajar bagaimana cara berpikir.
Penulis: Fazar Rifqi As Sidik, M.Pd. (Dosen Manajemen Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung & STIT Az Zahra Tasikmalaya, Awardee LPDP BIB 2025 program Doktoral Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia). (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments