Follow us:

Saat Ribuan Cahaya, Gema Selawat, dan Gelora Cinta NKRI Berpadu di Pelataran Monas

Angin malam yang berembus pelan di Lapangan Monumen Nasional (Monas) seolah tak sanggup mengusir rasa sumuk yang menyelimuti ratusan ribu jemaah. Berdesak-desakan di atas hamparan rumput dan konblok pelataran, hawa gerah akibat padatnya lautan manusia menyergap dari segala penjuru. Namun, sengatan gerah fisik itu seketika sirna, melebur menjadi kesejukan batin saat tiap lantunan selawat mulai membumbung ke udara.

Malam itu, Sabtu (1 Agustus 2026), pelataran ikon ibu kota berubah menjadi alun-alun kedamaian. Dari berbagai sudut daerah, masyarakat tumpah ruah berhimpun dalam Zikir Bersama dan Doa Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Kementerian Sekretariat Negara bekerja sama dengan Kementerian Agama. Tak sekadar majelis Umat Islam, acara ini menjadi panggung persatuan yang sesungguhnya karena dihadiri oleh masyarakat lintas agama. Mereka duduk berdampingan, menyatukan rasa, memanjatkan doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan bumi Indonesia.

Khusyuk dan kegembiraan peserta mencapai puncaknya saat Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf melangkah memasuki panggung utama. Didampingi alunan khas majelis selawat, sosok berwibawa itu mulai memegang mikrofon, menyapa jemaah, dan membuka gerbang malam spiritual yang begitu memikat.

Gemuruh suara jemaah seketika membumbung ke udara malam Jakarta saat Shalawat Badar dilantunkan sebagai pembuka. Alunan pujian agung kepada Rasulullah SAW itu menyatu indah dengan syair-syair perjuangan kebangsaan. Merah Putih berkibar megah di antara kepulan asap wewangian dan kibaran bendera majelis.

Gemuruh panggung makin bergelora saat syair “Cinta NKRI Harga Mati” digemakan secara kolosal. “NKRI harga mati!” sorak ratusan ribu hadirin secara serentak, bersahut-sahutan menggelegar mengocok angkasa Monas. Gemuruh sorakan itu bukan sekadar slogan, melainkan pernyataan sikap bersama dari masyarakat beragam latar belakang yang malam itu disatukan oleh rasa cinta yang sama pada tanah air.

Di tengah gelora shalawat yang kian memuncak, Habib Syech berhenti sejenak lalu melemparkan ajakan hangat yang menyentuh jamaah.

“Ayo yang ada handphone di tangan agar menyalakan flashlight-nya, Bismillah, kita terangkan malam ini!” ajak Habib Syech.

Dalam hitungan detik, area Monas yang begitu luas berubah menjadi lautan pendaran cahaya. Gemerlap titik cahaya indah segera tersaji di depan mata. Ratusan ribu titik lampu ponsel menyala dan bergoyang lembut di tengah kegelapan malam, laksana kawanan ribuan kunang-kunang yang menari indah tepat di bawah megahnya Tugu Monumen Nasional.

Diiringi indahnya tarian cahaya “kunang-kunang” tersebut, alunan selawat “Ahmad Ya Habibi” mengalun syahdu. Keindahan visual pendaran lampu dan getaran suara ratusan ribu manusia menyatu, menciptakan aura keharuan mendalam yang menembus keheningan malam Jakarta. Rasa gerah yang tadinya menyergap tak lagi dihiraukan; getaran selawat justru menghadirkan kedamaian yang membasuh dahaga jiwa.

Lantunan selawat demi selawat terus mengalun indah, bergerak lembut dari syair yang membangkitkan rasa nasionalisme hingga selawat yang meresap ke dalam kisah nabi. Saat syair “Kisah Sang Rasul” digemakan, jemaah diajak menyelami kembali jejak perjuangan Rasulullah SAW. Suasana berubah makin meriah dan riang gembira ketika lantunan “Ya Hanana” dibawakan.

Lautan cahaya ponsel yang bergoyang di bawah naungan Tugu Monas malam itu bukan sekadar pendaran estetis di tengah kota. Titik-titik cahaya serupa kunang-kunang tersebut adalah simbol dari harapan, kebersamaan, dan wujud nyata keberagaman yang harmonis. Malam itu, gema selawat Habib Syech dan gelora doa kebangsaan lintas agama sukses menerangi tidak hanya kawasan Monas secara fisik, tetapi juga mencerahkan hati setiap anak bangsa yang hadir dalam ketenteraman yang sejuk. (UYR/Kemenag)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved