Follow us:

Kampus dan Masa Depan Kerukunan Umat

Kerukunan masyarakat Indonesia tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dibangun melalui perjumpaan, dialog, saling menghormati, dan kebiasaan hidup bersama dalam keberagaman. Kampus memiliki peran yang khas dan sangat strategis. Selain sebagai ruang transfer ilmu pengetahuan, kampus juga tempat pembentukan karakter dan peradaban. Di sanalah calon pemimpin bangsa belajar memahami perbedaan sebagai anugerah (given), yang sama sekali bukan ancaman.

Prinsip dari setiap ajaran agama sebenarnya adalah pembentukan karakter. Dengannya, para pemeluknya diajarkan hidup rukun, damai, dan respek kepada sesama, termasuk kepada mereka yang berbeda dalam keyakinan. Artinya, agama memang bertujuan untuk mewujudkan kasih sayang. Risalah Islam diturunkan sebagai rahmat (kasih sayang) kepada seluruh alam (rahmatan lil-‘aalamiin).

Atas dasar itulah saya menyambut baik rencana pembangunan enam rumah ibadah di lingkungan Universitas Indonesia, yang diinisiasi rektornya. Gagasan ini tentu bukan berhenti pada aspek pembangunan fisik, melainkan pembangunan budaya. Kampus harus menjadi etalase kerukunan, tempat setiap insan akademik memperoleh ruang yang sama untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya, sekaligus belajar menghormati hak orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Fungsi rumah ibadah tidak hanya berfungsi sebagai tempat berdoa. Ia juga merupakan ruang pembentukan moral, penguatan integritas, dan penyemaian nilai-nilai kemanusiaan. Ketika enam rumah ibadah berdiri berdampingan dalam satu kawasan kampus, yang sesungguhnya sedang dibangun adalah pesan bahwa perbedaan dapat hidup dalam harmoni. Tidak ada agama yang kehilangan identitas karena menghormati agama lain. Justru penghormatan terhadap sesama merupakan salah satu wujud kematangan beragama.

Indonesia sejak awal dibangun di atas fondasi kemajemukan. Para pendiri bangsa (founding fathers) tidak menghapus perbedaan, melainkan mengikatnya dalam satu komitmen kebangsaan. Karena memang negara kita terbentuk sebagai negara kesepakatan. Semangat itulah yang harus terus dirawat oleh perguruan tinggi. Kampus hendaknya menjadi ruang yang melahirkan generasi berilmu sekaligus bijaksana, kritis tetapi santun, religius namun tetap terbuka terhadap dialog dan kerja sama.

Di tengah meningkatnya polarisasi di berbagai belahan dunia, Indonesia memiliki peluang untuk menunjukkan bahwa keberagaman bukan penghalang kemajuan. Kerukunan bukan berarti menyeragamkan keyakinan, melainkan menghadirkan keadilan, saling menghormati, dan kesediaan hidup berdampingan secara damai. Hal yang memang berbeda tidak perlu disamakan. Sementara hal yang sudah sama jangan dipaksa untuk dipisahkan. Nilai-nilai inilah yang harus menjadi budaya akademik.

Saya meyakini bahwa investasi terbesar sebuah bangsa bukan hanya laboratorium, perpustakaan, atau teknologi canggih, melainkan manusia yang memiliki keluasan ilmu dan kelapangan hati. Karena itulah, membangun rumah ibadah di kampus sejatinya adalah membangun ruang-ruang perjumpaan yang mendidik jiwa. Dari ruang-ruang itulah akan lahir generasi yang mampu merawat Indonesia sebagai rumah bersama.

Jika kampus berhasil menjadi etalase kerukunan, maka bangsa ini tidak hanya akan melahirkan ilmuwan yang hebat, tetapi juga pemimpin yang arif. Sebab, ilmu tanpa karakter hanya akan melahirkan kecerdasan, sedangkan ilmu yang berpadu dengan nilai-nilai agama dan kemanusiaan akan melahirkan peradaban. Dan peradaban yang besar selalu dimulai dari kesediaan manusia untuk menghormati sesamanya.

Penulis: Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. (UYR/Kemenag)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved