Follow us:

Unik! Inilah Nama 10 Tahun Pertama dalam Hijriah

Tahun pertama sejak hijrah dinamakan sebagai Sanat al-Idzn, ‘Tahun Izin”. Dinamakan demikian karena saat itu umat Islam diizinkan oleh Allah berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Tahun kedua disebut sebagai Sanat al-Amr, ‘Tahun Perintah’, karena Allah mulai memerintahkan kaum Muslimin untuk berperang demi membela diri terhadap kaum musyrikin. Perang yang dimaksud terjadi di Lembah Badar pada 17 Ramadhan dan berakhir dengan kemenangan pada umat Rasulullah SAW.

Tahun ketiga digelari Sanat at-Tamhish karena berkaitan dengan turunnya surah Ali ‘Imran ayat ke-141. 

وَلِيُمَحِّصَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَمْحَقَ الْكٰفِرِيْنَ

Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar menjelaskan, turunnya wahyu Allah itu berkenaan dengan kekalahan kaum Muslimin dalam Perang Uhud.

Ayat ini memberi gambaran tentang penyaringan (tamhiish). Allah SWT menyaring orang-orang yang beriman dari kaum kafir. Maka dari itu, kaum Muslimin kembali bangkit dari duka. Sesungguhnya, Uhud bukanlah akhir perjuangan menegakkan kalimat tauhid di muka bumi.

Tahun keempat dinamakan Sanat at-Tarfi`ah. Pada tahun ini, umat Islam mulai menerima beberapa kelonggaran. Misalnya, hukum tayamum untuk mengganti wudhu dan shalat khauf ketika perang berlangsung.

Tahun kelima dikenang sebagai Sanat al-Zilzal karena saat itu Madinah diguncang gempa bumi (al-zalzalah) dan pelbagai ujian yang menimpa kaum Muslimin, semisal kelangkaan pangan dan Perang Parit.

Tahun keenam dinamakan Sanat al-Isti`nas karena berkaitan dengan turunnya surah an-Nur ayat ke-27. Maknanya, orang Mukmin dilarang memasuki rumah orang lain sebelum meminta izin (tasta`nisu) dan memberi salam kepada penghuninya.

Tahun ketujuh disematkan dengan Sanat al-Istighlab, mengingat konteks Perang Khaibar yang di dalamnya kaum Muslimin berhasil mengatasi (ghalaba) kaum Yahudi.

Tahun kedelapan digelari Sanat al-Istiwa`, yang dapat dimaknai ‘Tahun Sama Rata’. Peristiwa penting yang terjadi saat itu adalah penaklukan Makkah (Fathu Makkah). Tepatnya pada 10 Ramadhan.

Di dalamnya, Rasulullah SAW tidak berperang, melainkan justru mendamaikan antara umatnya dan penduduk Makkah. Hasilnya, berbondong-bondonglah masyarakat setempat memeluk Islam, tanpa paksaan sedikit pun. Tidak ada lagi strata penindasan. Mereka sama-sama Muslimin dan kedudukannya sejajar sebagai hamba Allah.

Tahun kesembilan dinamakan Sanat al-Bara`ah yang di dalamnya turun surah at-Taubah. Surah itu dibuka dengan pernyataan bahwa Allah dan Rasul-Nya berlepas diri (baraa`ah) dari kaum musyrikin. Makna lainnya, seperti dijelaskan Buya Hamka, mulai saat itu semua perjanjian yang pernah dibuat antara Nabi SAW dan kaum musyrikin tidak berlaku lagi.

Tahun ke-10 sejak hijrahnya Rasulullah SAW disebut sebagai Sanat al-Wadaa’, ‘Tahun Perpisahan’, karena saat itulah berlangsungnya Haji Perpisahan (Hajj Wada’).

Itulah ritual haji yang bersejarah sekaligus amat memilukan bagi umat Islam kala itu. Bagaimana tidak? Mereka beberapa waktu kemudian berpisah dengan Rasulullah SAW tercinta.

Rasulullah Muhammad SAW berpulang ke rahmatullah pada Senin bulan Rabiul Awal, tahun ke-11 Hijriah. Meski harinya tidak diperdebatkan, tanggal pastinya masih dipenuhi perdebatan kalangan sejarawan.

Ada yang menyatakan tanggal 2 Rabiul Awal. Ada pula yang menyebut tanggalnya adalah 12 Rabiul Awal.

Yang pasti, jasad mulia Nabi SAW dikubur sehari setelah wafatnya. Prosesi penguburan berlangsung pada siang hari Selasa. Menurut kalender yang berlaku kala itu, usia beliau adalah 63 tahun.

Tahun yang disebut Sanat al-Wadaa’ juga dijuluki sebagai Sanat Muhimmah, ‘Tahun Perutusan.’ Sebab, ketika itu Nabi SAW mulai mengirimkan utusan-utusan kepada para penguasa, baik yang Arab maupun non-Arab, untuk menyampaikan dakwah Islam.

Tradisi menyebut tahun sesuai dengan kejadian unik tertentu mulai ditinggalkan sejak zaman Khalifah Umar bin Khattab. Sahabat yang bergelar al-Faruq itu mulai menerapkan penanggalan Hijriah yang lebih sistematis.

Benarkah Umar yang merintis?

Masyhur dikenal bahwa Umar bin Khattab adalah yang menggagas, bukan hanya pertama menerapkan, sistem kalender Hijriah. Namun, benarkah demikian?

Imam as-Suyuthi dalam kitabnya, As-Syamarikh fi Ilm at-Tarikh, mengungkapkan fakta berbeda. Murid ulama mazhab Hanafi, Taqiyuddin as-Subki, itu menegaskan, Umar bin Khattab bukanlah sosok yang pertama kali menyerukan penggunaan peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah sebagai acuan penanggalan.

Faktanya, lanjut as-Suyuthi, ada peran Rasulullah Muhammad SAW. Beliau-lah yang paling awal menggagas bahwa peristiwa hijrah menjadi acuan sistem kalender yang dipakai umat Islam.

Informasi ini as-Suyuthi peroleh dari sang guru. Riwayat secara lisan itu bersambung hingga Ibnu Syihab az-Zuhri.

Dituturkannya, Rasulullah SAW pernah memerintahkan penanggalan. Ibnu Asakir pun membenarkan keterangan tersebut. Menurutnya, Rasulullah SAW pernah menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk menulis surat yang ditujukan kepada umat Nasrani di Najran.

Beliau memerintahkan Ali agar menuliskan dalam surat tersebut kalimat ini: “Surat ini ditulis pada hari kelima sejak hijrah.”

Alhasil, as-Suyuthi menegaskan, penyeru penggunaan hijrah sebagai pedoman penanggalan Islam bukanlah Umar bin Khattab.

“Jelas, yang pertama itu Rasulullah. Umar hanya mengikuti,” tegasnya.

Pendapat ini dikuatkan dengan riwayat lain, termasuk yang dimuat dalam Kitab at-Tarikh ash-Shaghir karya Imam Bukhari. Umar bin Khattab hendak menetapkan sistem penanggalan. Sang amirul mukminin lantas mengumpulkan para sahabat guna meminta saran mereka.

Ibnu al-Munayyir menyebutkan, peristiwa itu terjadi ketika masa pemerintahan Umar sedang berjalan dua setengah tahun. Dalam musyawarah, al-Faruq pun memilih pendapat Ali bin Abi Thalib, yakni bahwa acuan sistem penanggalan ini ialah peristiwa hijrah.

Kalender Hijriah bukan sekadar sebuah sistem penanggalan biasa. Lebih dari itu, inilah sebuah identitas, jati diri umat Islam. (UYR/MUI)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved