Bikin Matematika Lebih Bermakna dalam Hidup Anak
Skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara. Salah satu aspek yang diukur PISA adalah literasi matematika. Kemampuan ini bukan sekadar menghitung atau menghafal rumus, tetapi menggunakan matematika untuk memahami masalah, bernalar, mengambil keputusan, dan memecahkan persoalan dalam kehidupan nyata.
Pada PISA 2022, Indonesia berada di peringkat ke-70 dari 81 negara dengan skor literasi matematika 366 (OECD, 2023a). Capaian ini menunjukkan perlunya memperkuat kemampuan peserta didik dalam memahami masalah, bernalar, mengomunikasikan gagasan, memecahkan masalah, dan menafsirkan hasil.
Dalam praktiknya, pembelajaran matematika masih sering berpusat pada prosedur. Guru menjelaskan konsep atau rumus, siswa mencatat, lalu mengerjakan soal dengan pola yang serupa.
Cara ini tentu tetap diperlukan untuk membangun keterampilan dasar. Namun, jika menjadi satu-satunya pengalaman belajar, siswa bisa mahir menghitung tetapi belum tentu mampu menggunakan matematika untuk mengambil keputusan.
Misalnya, siswa mampu menghitung operasi uang, tetapi kesulitan ketika diminta menentukan barang yang dapat dibeli dengan uang terbatas dan menjelaskan alasan pilihannya. Di sinilah terlihat perbedaan antara bisa menghitung dan mampu menggunakan matematika.
Belajar Matematika dengan ADLX-Introflex
Kebutuhan tersebut relevan dengan pendekatan Active Deep Learner Experience (ADLX) tipe Introflex yang dikembangkan Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT). Pendekatan ini mencakup Individualisasi, Interaksi, Observasi, dan Refleksi.
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pendekatan ini dapat mendukung kemandirian belajar, mengurangi kecemasan matematika, dan meningkatkan prestasi matematika (Salsabila dkk., 2026; Paisah dkk., 2026; Najwa dkk., 2025).
Pendekatan tersebut dapat diterapkan secara sederhana dalam pembelajaran matematika.
Pada tahap individualisasi, guru dapat memberikan masalah sesuai kebutuhan dan kemampuan siswa. Siswa yang masih kesulitan mendapat bantuan atau scaffolding, sedangkan siswa yang sudah menguasai konsep dapat diberi tantangan lebih tinggi.
Misalnya, ketika mempelajari bilangan cacah sampai 100.000, guru dapat menghadirkan persoalan tentang pengelolaan uang belanja. Siswa diminta menentukan kombinasi barang yang dapat dibeli dengan jumlah uang tertentu. Mereka tidak hanya menghitung, tetapi juga memilih strategi dan memberikan alasan atas keputusan yang dibuat.
Pada tahap interaksi, siswa dapat bekerja berpasangan atau berkelompok. Contohnya, guru memberikan persoalan: dengan uang Rp50.000, barang apa saja yang dapat dibeli agar kebutuhan kelompok terpenuhi dengan sisa uang seminimal mungkin?
Setiap kelompok mungkin menghasilkan strategi berbeda. Mereka kemudian menjelaskan cara menghitung dan alasan di balik pilihannya. Dengan demikian, siswa belajar bahwa matematika bukan sekadar mencari jawaban, tetapi juga menjelaskan bagaimana dan mengapa jawaban itu diperoleh.
Sementara itu, observasi menempatkan guru sebagai fasilitator sekaligus pengamat proses berpikir siswa. Guru tidak hanya melihat benar atau salahnya jawaban, tetapi juga memperhatikan bagaimana siswa memahami informasi, menentukan strategi, melakukan perhitungan, dan menjelaskan hasil.
Kesalahan pun dapat menjadi informasi penting bagi guru untuk mengetahui bagian konsep yang belum dipahami siswa. Dengan demikian, penilaian tidak hanya menghasilkan nilai, tetapi juga menjadi dasar untuk memberikan tindak lanjut.
Tahap refleksi melengkapi proses tersebut. Siswa dapat diajak menjawab pertanyaan sederhana: strategi apa yang saya gunakan? Mengapa memilih strategi itu? Kesulitan apa yang saya alami? Bagaimana saya dapat memperbaiki kesalahan?
Bagi SDIT, refleksi juga dapat dikaitkan dengan nilai karakter dan keislaman. Ketika belajar tentang uang, misalnya, siswa dapat memahami bahwa kemampuan berhitung perlu disertai kejujuran dan tanggung jawab. Saat belajar pengukuran, siswa dapat menyadari pentingnya ketelitian.
Matematika yang Dekat dengan Kehidupan
Pembelajaran matematika sebenarnya tidak harus selalu berlangsung melalui soal-soal di buku. Banyak persoalan di sekitar siswa yang dapat menjadi bahan belajar.
KPK dan FPB dapat dikaitkan dengan jadwal kegiatan. Pecahan dapat dipelajari melalui resep makanan. Bilangan dapat digunakan dalam aktivitas jual beli. Pengukuran dapat dikaitkan dengan lingkungan sekolah. Penyajian data dapat menggunakan kondisi kelas atau lingkungan sekitar.
Dengan cara ini, siswa belajar melihat matematika bukan sebagai kumpulan rumus yang harus dihafalkan, tetapi sebagai alat untuk memahami dan menyelesaikan persoalan kehidupan.
Pada akhirnya, keberhasilan pembelajaran matematika tidak cukup diukur dari seberapa banyak siswa memperoleh jawaban benar. Yang lebih penting adalah apakah mereka mampu memahami masalah, memilih strategi, memberikan alasan, mengomunikasikan gagasan, mengevaluasi hasil, dan menggunakan matematika dalam kehidupan nyata.
ADLX tipe Introflex dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendukung proses tersebut. Pendekatan ini memberi ruang bagi kebutuhan individu, interaksi, pengamatan terhadap proses belajar, dan refleksi. Bagi SDIT, pendekatan ini juga membuka peluang untuk mengintegrasikan literasi matematika dengan pembentukan karakter dan nilai-nilai keislaman.
Rendahnya capaian PISA bukanlah takdir yang harus diterima. Itu adalah tantangan yang perlu dijawab melalui perubahan nyata dalam pembelajaran.
Perubahan tersebut tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Guru dapat memulainya dari ruang kelas: menghadirkan satu masalah yang bermakna, memberi siswa ruang untuk berpikir dan berdiskusi, mengamati proses belajarnya, lalu mengajak mereka merefleksikan pengalaman tersebut.
Sebab, untuk membuat matematika lebih bermakna, perubahan bisa dimulai dari satu kelas, satu masalah, dan satu pengalaman belajar yang berbeda.
Penulis: Guru Matematika SDIT Fitrah Hanniah, Umar Rizky, S.Pd. (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments