Follow us:

Al-Qur’an dari Abad ke Abad

Al-Qur’an sebagai kalam suci dari Allah Swt diturunkan pada abad ke-7 Masehi. Sejarah mencatat turunnya Al-Qur’an pertama kali pada 17 Ramadhan tahun 610 M. Peristiwa Nuzulul Qur’an tersebut menandai pengangkatan Muhammad Saw menjadi Nabi dan Rasul utusan Ilahi kepada seluruh umat manusia.

Ulama besar dari Semarang, K.H. Moenawar Chalil, dalam bukunya Al-Qur’an dari Masa ke Masa (1985), menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur di Mekkah dan Madinah, sebelum dan sesudah Nabi hijrah ke Madinah, dalam waktu 22 tahun, dua bulan, 22 hari.

Wahyu pertama menyatakan:

“Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari alaq (sel yang membelah). Bacalah! Dan Tuhanmu Maha Pemurah, yang mengajarkan kepada manusia (menggunakan) pena. Mengajar manusia apa yang tak ia ketahui. (Terjemahan QS Al-‘Alaq [96]: 1–5)

H.S.M. Nasaruddin Latif dalam Fakta dan Data Al-Qur’an (1391 H) mengemukakan sedikitnya empat hal mendasar seputar Al-Qur’an.

Pertama, Al-Qur’an merupakan wahyu Ilahi yang diturunkan Allah kepada Nabi dan Utusan-Nya, Muhammad Saw.

Kedua, Al-Qur’an berisi kebenaran yang bersumber dari Allah Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui.

Ketiga, turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw merupakan ketetapan Allah yang benar dan tepat. Nabi Muhammad adalah penerima pertama sekaligus pemegang amanat Ilahi untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada seluruh umat manusia.

Keempat, keaslian dan keutuhan Al-Qur’an senantiasa dipelihara Allah dari segala upaya yang hendak merusak atau mengubahnya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS Al-Hijr [15]: 9)

Sejak masa hidupnya Nabi Muhammad Saw, Al-Qur’an secara keseluruhan telah terekam dalam hafalan nabi dan para sahabat. Nabi membacakan ayat-ayat yang diterimanya kepada para sahabat dan memerintahkan agar dicatat oleh para penulis wahyu yang terpercaya. Sistematika penulisan ayat-ayat Al-Qur’an disusun mengikuti arahan Nabi Muhammad berdasarkan wahyu yang diterimanya. Malaikat Jibril melakukan muraja’ah yakni pengulangan dan pemeriksaan bacaan Al-Qur’an bersama Nabi setiap bulan Ramadhan.

Setelah periode kekhalifahan Abu Bakar Ash Siddiq r.a., dilakukan penghimpunan catatan ayat-ayat Al-Qur’an di dalam satu mushaf. Selanjutnya, pada periode Utsman bin Affan r.a., dilakukan standardisasi mushaf untuk menjaga keseragaman bacaan dan penulisan Al-Qur’an ketika wilayah Daulah Islamiyah semakin luas. Mushaf standar dikenal sebagai Mushaf Utsmani atau Mushaf Al-Imam. Beberapa salinannya dikirim ke berbagai pusat wilayah Islam sehingga menjadi rujukan dalam membaca, menulis, menyalin, dan menggandakan Al-Qur’an.

Ketika Nabi Muhammad wafat pada tahun 11 Hijriyah/632 M, seluruh isi Al-Qur’an telah selesai diturunkan. Ayat-ayatnya telah ditulis lengkap oleh para penulis wahyu, meski masih terpisah-pisah, namun tidak ada yang tertinggal seayat pun dan telah dihafalkan oleh banyak sahabat. Salah satu keistimewaan Al-Qur’an sebagai kitabullah adalah terpeliharanya wahyu tersebut melalui perpaduan tradisi lisan dan tulisan sejak masa awal turunnya kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril.

Sejarah Al-Qur’an mencerminkan keseriusan generasi pertama umat Islam dalam menjaga keutuhan wahyu di bawah perlindungan taufiq dan hidayah Allah. Hafalan, tulisan, transmisi bacaan, dan pengajarannya dari generasi ke generasi menjadi bagian penting dari mekanisme pemeliharaan Al-Qur’an.

Al-Qur’an yang dibaca umat Islam di Indonesia adalah sama dengan yang dibaca umat Islam di zaman Rasulullah dan di seluruh dunia dari dahulu sampai sekarang. Seni baca Al-Qur’an, ilmu tajwid, qira’at, ilmu rasm, hafalan, penerjemahan, dan tafsir telah berkembang menjadi disiplin ilmu dalam khazanah intelektual Islam.

Kegiatan membaca, menghafal, menulis, mengkaji, dan mengajarkan Al-Qur’an telah melahirkan tradisi intelektual yang mengesankan di dunia Islam. Dr. Sir Mohammad Iqbal, pujangga dan pemikir besar dunia Islam dari Lahore, ketika masih kecil pernah mendapat pesan dari ayahnya bahwa ketika membaca Al-Qur’an hendaknya memusatkan perhatian seakan-akan ayat-ayat tersebut sedang diturunkan kepadanya. Pesan ini mengandung makna penting bahwa Al-Qur’an bukan sekadar dibaca sebagai teks, tetapi dihayati sebagai petunjuk yang berdialog dengan kehidupan manusia.

Pemikir Barat, James Michener, juga memberikan kesannya terhadap Al-Qur’an. Ia menilai Al-Qur’an sebagai kitab yang paling banyak dibaca dan dihafalkan di muka bumi serta memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sehari-hari umat.

Al-Qur’an mendorong umat manusia agar menggunakan akal pikiran, memperhatikan alam semesta, mencari ilmu, dan mewujudkan kemaslahatan di dunia. Prof. T.M. Soelaiman, pakar sains dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan salah seorang penggagas pendirian Masjid Salman ITB, melihat Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk yang dapat memberikan inspirasi bagi manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Sesungguhnya Al-Qur’anul Karim itu, dipandang dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan suatu kumpulan rumus-rumus dan petunjuk-petunjuk dari Allah Swt melalui Nabi Muhammad Saw bagi umat manusia untuk kesejahteraan hidupnya di dunia dan di akhirat. Dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, pemecahan suatu masalah dimulai dari pengambilan pemisalan-pemisalan (assumptions) dan pengumpulan data-data, yang kemudian dianalisa dan dibuktikan kebenaran pemisalan-pemisalan yang diambil itu dan akhirnya menghasilkan penyelidikan dan penelitian masalah tersebut. Al-Quranul Karim yang berisi petunjuk dan perumusan-perumusan dari Allah Swt telah terbukti kebenarannya, akan membantu para sarjana dan ilmuwan untuk lebih cepat mencapai hasil penelitian dan penyelidikannya.” Demikian Prof. T.M. Soelaiman dalam Kata Sambutan pada penerbitan Tafsir Rahmat karya H. Oemar Bakry (1984).

Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar, kekal dan abadi. Berbagai penemuan baru di dunia ilmu dan sains telah banyak menyingkap kebenaran informasi yang disampaikan Al-Qur’an sejak lima belas abad silam. Sampai saat ini Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi semua bangsa telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, antara lain: bahasa Latin, Inggris, Belanda, Melayu/Indonesia, Jerman, Prancis, Turki, Urdu, Persia, dan Cina, serta ratusan bahasa lainnya. Salah satu terjemahan tertua Al-Qur’an ke dalam bahasa Latin dilakukan oleh Robert of Ketton (Robertus Ketenensis) pada abad ke-12. Terjemahan tersebut diterbitkan di Basel pada tahun 1543 oleh Theodor Bibliander.

Apa sebab umat Islam di masa keemasan berhasil mewujudkan peradaban unggul adalah karena menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai spirit dalam berpikir dan sumber kekuatan hidup. Namun, hukum sejarah menunjukkan jika umat Islam meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka kejayaan dan keunggulan akan menjauh.

Penerjemahan Al-Qur’an ke dalam berbagai bahasa merupakan kebutuhan untuk membantu umat Islam dalam memahami pesan wahyu. Al-Qur’an adalah wahyu Allah dalam bahasa Arab, sedangkan terjemahan merupakan hasil usaha manusia untuk mengungkapkan makna teks dalam bahasa lain. Begitu pun tafsir Al-Qur’an merupakan hasil pemahaman dan penjelasan ulama dalam menggali makna ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan perangkat ilmu yang dimilikinya.

Keberadaan Al-Qur’an dan Terjemahnya maupun Al-Qur’an dan Tafsirnya sangat bermanfaat bagi umat Islam. Kendati tidak ada terjemahan dan tafsir yang  bisa menggambarkan kedalaman dan keluasan makna Al-Qur’an secara utuh. Tafsir Al-Qur’an berkembang dari masa ke masa seiring perkembangan pemikiran manusia, ilmu pengetahuan, dan kemajuan masyarakat dalam menyerap pesan-pesan Al-Qur’an tentang hukum, sejarah, ilmu pengetahuan, moral kehidupan dan sebagainya.

Seorang ulama Mesir yang mengkaji mukjizat bahasa Al-Qur’an, Syekh Muhammad Abdullah Darrāz pada buku An-Naba’ Al-Azhim sebagaimana dikutip M. Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an (1995) mengatakan, “Apabila anda membaca Al-Qur’an, maknanya akan jelas di hadapan anda. Tetapi, bila anda membacanya sekali lagi, anda akan menemukan pula makna-makna lain yang berbeda dengan makna sebelumnya. Ayat-ayat Al-Qur’an itu bagaikan intan, setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut yang lainnya, dan tidak mustahil bila anda mempersilakan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak dari apa yang anda lihat,” tulis Abdullah Darraz.

Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) telah menjadi bagian dari syiar Islam kontemporer dan pendidikan Al-Qur’an di Tanah Air. MTQ diselenggarakan di berbagai tingkatan, mulai dari tingkat desa sampai tingkat nasional dan internasional. MTQ Tingkat Nasional pertama diadakan di Ujung Pandang (Makassar), Sulawesi Selatan, tahun 1968, di masa Menteri Agama K.H.M. Dachlan. MTQ berperan dalam memupuk dan memelihara kecintaan umat pada Kitabullah, namun harus senantiasa mengindahkan adab, norma, dan kemuliaan Al-Qur’an dalam pelaksanaannya. MTQ adalah wahana edukatif dalam menjaga regenerasi qari/qariah dan hafizh/hafizhah serta meningkatkan literasi Al-Qur’an di tengah masyarakat dan bangsa kita.

Dalam kaitan ini, tilawah, tartil, dan men-tadabburi Al-Qur’an merupakan pintu untuk memahami, menghayati, dan mengamalkannya. Karena itu, interaksi kita sebagai muslim dengan Al-Qur’an tidak cukup sebatas membaca dan menghafalnya, tetapi lebih lanjut memfungsikan Al-Qur’an sebagai “manual kehidupan”.

Umat Islam wajib menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menata hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan antarsesama manusia, serta dengan lingkungan dan alam semesta. Untuk membumikan “pesan langit” dan menghayati ajaran Ilahi, umat Islam perlu senantiasa mendekatkan jiwanya dengan Al-Qur’an, membaca, memahami, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis: M. Fuad Nasar (Direktur Jaminan Produk Halal Kemenag). (UYR/Kemenag)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved