Follow us:

Di Wisuda Akbar, Kiai Ma’ruf: Dai Bukan Cuma Penceramah, Tetapi Juga Penjaga Kemaslahatan Umat

Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof KH Ma’ruf Amin, menegaskan pentingnya peran dai sebagai al-muslihun atau pembawa perbaikan dalam kehidupan beragama dan sosial. 

Hal itu disampaikan dalam kegiatan Wisuda Akbar Standardisasi Dai 2025 dan Halaqah Dakwah yang digelar oleh Komisi Dakwah Dewan Pimpinan MUI, Ahad (2 November 2025), di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan.

Acara yang mengangkat tema “Peran Dai dalam Penguatan Keuangan Sosial Islam untuk Kesejahteraan Umat” ini dihadiri oleh pimpinan Bank Indonesia, BPKH, BWI, BSI, BSI Maslahat, pejabat MUI, serta 263 dai dari berbagai daerah, dari total sekitar 4.000 dai berstandar MUI.

Dalam sambutannya, Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia ini menyampaikan apresiasi kepada para dai yang telah melalui proses standardisasi dan kini berstatus “dai standar.” 

Kiai Ma’ruf menilai, sertifikasi dai menjadi penting agar dakwah Islam berjalan dengan batasan, prinsip, dan tujuan yang jelas.

“Saya sampaikan selamat kepada mereka yang diwisuda hari ini, yang tadinya belum standar sekarang menjadi standar. Dulu ada misi sertifikasi, sekarang kita wujudkan agar para dai memiliki dhawabit (batasan-batasan dalam berdakwah),” ujarnya.

Kiai Ma’ruf menjelaskan seorang dai tidak hanya menyampaikan ajaran agama, tetapi juga harus membawa kemaslahatan bagi umat. Dia menyebut dai sejatinya adalah al-muslihun (para pembawa perbaikan).

“Dai itu sebenarnya al-muslihun, pembawa perbaikan. Perbaikan itu sifatnya berkelanjutan, sustainable. Maka saya membuat satu paradigma: al-islah tsumma al-ashlah fal-ashlah (melakukan perbaikan secara terus-menerus),” tuturnya.

Lebih lanjut, Kiai Ma’ruf menegaskan bahwa peran dai juga mencakup upaya melindungi, menguatkan, dan mempersatukan umat. 

Dalam istilah ulama, hal itu disebut himayat al-ummah (melindungi umat), taqwiyat al-ummah (menguatkan umat), dan tawhid al-ummah (menyatukan umat).

“Tugas kita menjaga akidah umat agar tidak menyimpang. Jangan sampai ada usaha menggeser cara berpikir masyarakat dari manhaj ilahi menuju manhaj sekuler. Ini sudah menjadi tantangan besar umat Islam di era digital,” katanya.

Kiai Ma’ruf juga mengingatkan agar dai tidak menggunakan narasi konflik dalam berdakwah. Menurutnya, dakwah seharusnya mengedepankan taushiyah yaitu nasihat dengan kasih sayang bukan hujatan atau nyinyiran.

“Kita tidak boleh berdakwah dengan narasi permusuhan. Dakwah yang benar adalah dengan taushiyah, nasihat dari orang yang mencintai kepada yang dicintai. Jadi kalau kita memberi taushiyah kepada pemerintah, artinya kita cinta pemerintah,” tegasnya.

Selain berbicara tentang peran dai, Kiai Ma’ruf Amin juga menyinggung pentingnya menghidupkan kembali ekonomi syariah dan praktik muamalah di tengah dominasi sistem kapitalisme.

Kiai Ma’ruf menegaskan bahwa umat Islam harus berpindah dari sistem konvensional menuju sistem keuangan syariah.

“Dulu mungkin sistem konvensional itu seperti tayamum karena belum ada air, tapi sekarang sudah ada bank syariah. Kalau sudah ada air, tidak boleh lagi tayamum. Maka tidak boleh lagi umat Islam terus-terusan pakai sistem konvensional,” ujarnya disambut tawa hadirin.

Kiai Ma’ruf menyerukan agar para dai menjadi agen perubahan yang menjaga kemurnian ajaran Islam sekaligus berperan aktif dalam pembangunan ekonomi umat.

“Kita harus menghentikan orang yang ‘tayamum terus’. Saatnya menghidupkan ekonomi syariah, menjaga halal-haram dalam zat, proses, dan transaksi. Semua ini bagian dari dakwah kita al-Himāyah wa al-Wiqāyah dakwah yang menjaga dan melindungi umat,” pungkasnya. (UYR/MUI)

Share This:
Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved