Follow us:

Educating with Empathy: KBC sebagai Strategi Membangun Karakter Humanis Gen Alpha

Akhir-akhir ini telinga kita tidak asing lagi mendengarkan istilah Generasi Alpha. Namun kadang kita sendiri masih bingung memaknai apa itu Generasi Alpha. Secara umum Gen Alpha dapat dimaknai sebagai generasi anak-anak yang lahir setelah Gen Z, umumnya sekitar tahun 2010 sampai pertengahan tahun 2020 an. Anak-anak ini tumbuh dalam tradisi kehidupan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka lahir dan berkembang bersama gawai, internet, media sosial, artificial intelligence, game daring, dan berbagai platform digital yang sangat berpengaruh dalam membentuk cara berpikir, berkomunikasi, belajar, bahkan cara mereka membangun relasi sosial di lingkungan pergaulan mereka. Kondisi Kelas hari ini tidak lagi sepenuhnya dibatasi oleh dinding sekolah atau madrasah seperti yang terjadi puluhan tahun yang lalu. Namun realita hari ini adalah ruang belajar bagi siswa telah melebar menjadi ruang digital yang sangat cepat, terbuka luas, dan sering kali sulit dikendalikan oleh guru maupun orang tua murid.

Kita sangat memaklumi akan hal ini tentunya, satu sisi perkembangan teknologi seperti yang terjadi hari ini memberi peluang sangat besar bagi pendidikan kita. Guru terfasilitasi dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih inovatif, interaktif, visual, kolaboratif, dan kontekstual. Namun di sisi lain, ruang digital yang terjadi hari ini juga membawa tantangan yang sangat serius. Tantangan tersebut diantaranya: menurunnya sensitivitas sosial, mudahnya ujaran kebencian menyebar, meningkatnya budaya komentar tanpa empati, serta munculnya cyberbullying yang dapat melukai martabat anak/murid. Dalam konteks inilah, pendidikan tidak cukup hanya mengejar kecerdasan akademik. Pendidikan perlu kembali kepada hakikatnya: memanusiakan manusia. Pendidikan tidak hanya mengembangkan pengetahuan tanpa ruh empati dan kasih sayang dengan sesama. Pendidikan masa kini harus mampu menghadirkan jiwa empati, mengembangkan kasih sayang dan membisakan hidup penuh cinta dengan sesama makhluk. Kognitif yang berkembang tanpa diimbangi dengan empati, kasih sayang dan cinta dapat berdampak kerasnya perilaku murid dalam berkehidupan ini.

Realita merosotnya perilaku humanis, empati, kasih sayang dan cinta sesama di kalangan Gen Alpha akhir-akhir ini sudah sangat memprihatinkan.  Menyikapi kondisi perilaku remaja atau murid kita yang saat ini cenderung memiliki kebiasaan berkata kasar, bahkan mengesampingkan tata krama atau etika, maka Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) hadir sebagai salah satu ikhtiar penting untuk menjawab kebutuhan akan hal ini. KBC hadir tidak hanya sekedar berbicara tentang apa yang harus diajarkan di dalam kelas, akan tetapi juga bagaimana nilai-nilai cinta, kasih sayang, empati, kepedulian, dan penghargaan terhadap martabat manusia dihidupkan secara riil dalam proses pembelajaran di kelas. Ini tentu tidak mudah bagi guru, akan tetapi ikhtiar itu harus dilakukan secara serempak di semua kelas. Bahkan tidak cukup action guru saja dalam hal ini, akan tetapi diperlukan kolaborasi dari berbagai elemen agar ikhtiar kita ini seimbang dan ditopang oleh berbagai pihak yang bergerak bersama. Dengan demikian, KBC dapat dipahami sebagai salah satu strategi pedagogis untuk membangun karakter humanis Gen Alpha di tengah derasnya arus digital.

Menyikapi kondisi saat ini yang sudah sangat meresahkan bahkan memprihatinkan, di mana setiap saat kita dapat menyaksikan diberbagai sosial media video-video tindak kekerasan yang dilakukan oleh murid, komentar-komentar yang kasar di berbagai sosial media tanpa merasa malu lagi. Hal ini tentu tidak bisa kita biarkan. manusia; di balik komentar ada perasaan; di balik unggahan ada martabat yang harus dijaga. Realita tersebut menjadikan istilah educating with empathy menjadi sangat relevan. Guru bukan hanya transmitter of knowledge saja ketika menjadi fasilitator di kelas, akan tetapi juga harus mampu memainkan peran sebagai pendamping pertumbuhan jiwa murid. Guru mengajar dalam kondisi runtuhnya perilaku humanis murid, bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan bagaimana menciptakan suasana pembelajaran yang mampu membangun relasi yang aman, hangat, dan bermakna bagi murid dalam berkehidupan di masyarakat. Dalam kelas digital, empati menjadi semakin penting karena interaksi tidak selalu terjadi secara langsung. Murid perlu belajar bahwa di balik layar ada tata krama, etika, nilai-nilai religi yang harus di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Guru dalam mengimplementasikan KBC dalam kelas digital, dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Pertama, guru perlu membangun safe space, yaitu ruang belajar yang membuat murid merasa dihargai, diterima, dan tidak takut bertanya atau keliru. Semua murid merasa terlibat dalam pembelajaran yang aman dan nyaman baik bagi fisik maupun psikhis murid kita. Guru bersama murid di kelas bersama-sama mengikuti aturan dan tata tertib proses pembelajaran yang sudah disepakati bersdama. Hindari berkata kasar, mengolok-olok, atau bahkan mencaci maki di ruang belajar daring maupun luring. Di ruang seperti ini murid dapat merasakan belajar, bahwa kesalahan bukan alasan untuk dipermalukan, tetapi pintu untuk memperbaiki diri, meningkatkan diri, dan berjuang lebih untuk masa depan masing-masing. Biasakan meskipun anak melakukan suatu kesalahan pun tidak ada perundungan di kelas, semua saling asih dan asuh. Inilah kelas yang kita idam-idamkan dalam proses pembelajaran. Kelas yang aman dan nyaman bagi semua murid kita.

Kedua, guru perlu menanamkan cyber ethics atau etika digital kepada murid. Hal ini menjadi sangat penting, karena literasi digital itu tidak cukup hanya dipahami sebagai kemampuan menggunakan perangkat teknologi semata. Akan tetapi, literasi digital harus mencakup kesadaran moral: bagaimana menulis komentar secara santun, beretika, membagikan informasi secara bertanggung jawab, menghormati privasi orang lain, serta tidak menjadikan teknologi sebagai alat untuk merundung/membully, mempermalukan, atau bahkan menyakiti sesama. Bahkan pada bagian ini, sangat memungkinkan seandainya sekolah/madrasah membangun kolaborasi dengan pihak lain, seperti kepolisian misalnya. Dengan demikian murid dapat mendengarkan secara langsung dari pihak berwajib, peluang-peluang kriminal apa saja yang tanpa disadari oleh murid, tapi hal tersebut merupakan pelanggaran atau tindak kriminal. Murid dapat mendengarkan langsung dari pihak berwajib, yang secara kompeten menarasikan ancaman-ancaman kriminal beserta konsekuensinya dalam ruang digital secara benar.

Ketiga, pembelajaran perlu dirancang berbasis social emotional learning. Murid tidak hanya diajak memahami materi pembelajaran saja, akan tetapi juga bagaimana mengenali emosi, mengelola konflik, bekerja sama, menghargai perbedaan, dan mengambil keputusan secara etis. Hal ini sangat penting untuk dikembangkan dalam setiap proses pembelajaran di kelas, maupun di luar kelas. Dalam perspektif KBC, capaian belajar tidak hanya diukur dari skor/nilai kognitif saja, akan tetapi juga dari tumbuhnya sikap humanis, akhlakul karimah, empati, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Hal ini sangat penting untuk memberikan dasar berkehidupan secara rukun, damai dan humanis. Budi pekerti atau akhlakul karimah itu harus ditumbuhkembangkan pada diri anak. Tanpa proses tersebut, tidak mungkin budi pekerti atau akhlakul karimah hadir dalam diri masing-masing murid. Yang tak kalah penting lagi adalah murid kita sangat memerlukan teladan. Sangat mustahil anak berakhlak mulia, kalau dalam keseharian saja anak tidak pernah mendapati sosok teladan dalam kehidupan anak/murid kita. Dengan demikian, maka guru, orang tua, orang-orang dewasa disekitar anak/murid harus mampu memainkan peran sebagai teladan/uswatun khasanah.

Keempat, guru perlu memberikan feedback with care. Umpan balik yang baik tidak merendahkan, tidak mempermalukan, dan tidak mematahkan semangat. Perlakuan ini sangat penting dalam menumbuhkan rasa aman, nyaman dan percaya diri murid. Murid yang mendapat perlakuan baik dalam berbagai lingkungan, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah memberikan dampak psikhis yang positif bagi murid. Hal ini bukan berarti kritik tidak diperlukan,  kritik tetap diperlukan, akan tetapi disampaikan dengan bahasa yang humanis dan membangun, agar tidak mematikan rasa percaya diri anak. Dalam implementasi KBC, penilaian harus menjadi sarana pertumbuhan, bukan sebagai alat pelabelan. Murid perlu merasa bahwa dirinya sedang dibimbing, bukan sedang dihakimi. Dengan perlakuan ini dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan psikhis anak dalam rasa aman, nyaman dan penuh rasa welas asih kepada sesama.

Implementasi KBC juga menuntut keteladanan. Murid dalam kelompok Gen Alpha sangat peka terhadap inkonsistensi. Mereka lebih mudah percaya kepada guru yang tidak hanya berbicara tentang akhlak, tetapi juga menampilkan akhlak dalam komunikasi sehari-hari secara baik dan berperilaku akhlakul karimah. Guru yang santun dalam menegur murid, adil dalam menilai, sabar dalam mendampingi, dan bijak dalam menggunakan teknologi akan menjadi living curriculum bagi murid. Dengan karakter guru yang layak diikuti dan dijadikan sebagai contoh dalam berperilaku, secara otomatis dapat meningkatkan kepercayaan murid terhadap guru. Guru yang sudah mendapatkan kepercayaan dari murid untuk diteladani, akan lebih mudah dalam memberikan pembinaan dan pembimbingan dalam menumbuhkan serta membiasakan karakter positif murid. Sosok guru dengan kategori inilah yang saat ini diidolakan oleh murid, mengingat saat ini tidak mudah untuk menemukan sosok teladan bagi murid.

Dalam konteks pendidikan keagamaan, KBC memiliki landasan yang kuat. Nilai-nilai dalam panca cinta; Cinta Allah dan Rasul, cinta ilmu, cinta lingkungan, cinta diri dan sesama manusia dan cinta tanah air, merupakan fondasi pembentukan karakter humanis bagi murid. Nilai-nilai tersebut tidak boleh berhenti sebagai narasi normatif semata, akan tetapi perlu diterjemahkan menjadi praktik kelas: dialog yang sehat, kerja kelompok yang saling menghargai, proyek sosial, refleksi digital, kampanye anti cyberbullying, serta pembiasaan bahasa yang ramah dan beradab. Yang sangat memprihatinkan saat ini di antaranya murid dalam berkomunikasi dengan sesama sering kali mengesampingkan etika dan adab. Tradisi saling ejek, saling olok hampir menjadi budaya dalam pergaulan murid. Hal ini tentunya tidak bisa dibiarkan terus berlarut tanpa upaya pencegahan dari berbagai pihak. Semakin minim dan tergerusnya rasa empati di kalangan murid harus bisa diupayakan tumbuh kembali dalam pertemanan dan pola pergaulan murid. Dalam kondisi ini, KBC hadir sebagai jalan penerang untuk kembali menumbuhkan rasa empati, saling asah asih dan asuh bagi murid.

Tantangan pendidikan yang kita hadapi hari ini bukan hanya tentang bagaimana menjadikan murid menjadi smart, takan tetapi juga kind. Murid bukan hanya cakap menggunakan teknologi saja, akan tetapi juga harus bijak dalam menggunakannya. Murid bukan hanya unggul dalam kompetensi pengetahuan saja, akan tetapi juga harus memiliki nurani, adab dan etika. Oleh karena itu, maka KBC perlu diposisikan sebagai human centered learning, yaitu pendekatan pembelajaran yang menempatkan manusia, martabat, kasih sayang, dan kebermaknaan sebagai pusat pendidikan. Ini tentunya bukan hal mudah untuk kita perjuangkan, akan tetapi kita tidak bisa juga bersikap pasif terhadap fenomena ini. Sebagai guru bisa memulai dari kelas, ketika proses pembelajaran berlangsung, maupun di luar kelas saat murid berkomunikasi secara bebas dengan sesama murid. Lingkungan sekolah harus mampu menjadi lingkungan yang benar-benar aman, nyaman, ramah anak serta benar-benar memberikan perlindungan bagi murid.

Pada akhirnya, masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan perangkat digital, yang saat ini tengah menjadi trend dalam berbagai kalangan. Akan tetapi masa depan pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas nilai dan etika/adab yang mengarahkan penggunaannya. Tentu kita sangat sepakat bahwa teknologi dapat mempercepat pembelajaran, akan tetapi cinta dan empati memberi arah kemanusiaan, bahkan menentukan kualitas kehidupan umat manusia dalam ranah pilar cinta diri dan sesama manusiaa. Di tangan guru yang berempati, kelas digital tidak akan menjadi ruang dingin tanpa rasa, akan tetapi menjadi ruang tumbuh yang humanis, aman, beradab, dan memuliakan manusia, sehingga dalam kelas tidak akan muncul adanya perilaku murid saling ejek, dan saling caci. Sehingga terciptalah sekolah/madrasah ramah anak.

Dalam situasi yang merebak perilaku bullying, maka Educating with empathy merupakan panggilan moral pendidikan hari ini. Melalui Kurikulum Berbasis Cinta, guru dapat membimbing Gen Alpha menjadi generasi yang cerdas, santun, peduli, tangguh, dan humanis. Sebab pendidikan terbaik bukan hanya yang membuat anak hebat dalam aspek kognitif, mampu menjawab soal dan meraih nilai tinggi, akan tetapi yang membuat mereka mampu menjaga hati, menghargai sesama, dan menghadirkan kebaikan di dunia nyata maupun dunia digital. Inilah yang menjadi harapan kita semua, murid saling menghargai, saling asah asih dan asuh dalam perteman dan pergaulan mereka.

Penulis: Dr. Hj. Siti Aminah, M.A (Widyaiswara Ahli Madya – Balai Diklat Keagamaan Semarang). (UYR/Kemenag)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved