Follow us:

Jalan Keluar: Tadabur Surah At-Talaq Ayat 2-3

Ada masa ketika hidup terasa seperti lorong yang semakin menyempit. Pekerjaan belum juga ditemukan, usaha kehilangan arah, utang datang bergantian, rumah tangga berada di tepi perpisahan, atau sebuah persoalan terasa terlalu rumit untuk diselesaikan. Kita telah mengetuk banyak pintu, tetapi semuanya seolah tertutup.

Pada saat seperti itu, manusia mudah mengira bahwa jalan keluar hanya dapat datang dari arah yang telah diperhitungkannya: dari seseorang yang berpengaruh, sejumlah uang, sebuah jabatan, atau rencana yang disusun dengan cermat. Ketika semua itu tidak menolong, hati pun mulai kehilangan harapan.

Surah At-Talaq ayat 2–3 mengubah cara kita memandang jalan keluar. Allah tidak terlebih dahulu menjanjikan bahwa semua keadaan akan berlangsung sesuai keinginan manusia. Dia justru mengajarkan tiga pijakan: bertakwa, bertawakal, dan menerima bahwa segala sesuatu memiliki ukuran serta waktunya sendiri.

Jalan keluar dari Allah tidak selalu datang melalui pintu yang selama ini kita ketuk. Terkadang ia muncul dari arah yang tidak pernah masuk dalam perhitungan kita.

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Fa iżā balagna ajalahunna fa amsikūhunna bima‘rūfin au fāriqūhunna bima‘rūfin wa asyhidū żawai ‘adlin minkum wa aqīmusy-syahādata lillāh. Żālikum yū‘aẓu bihī man kāna yu’minu billāhi wal-yaumil-ākhir. Wa man yattaqillāha yaj‘al lahū makhrajā.

Wa yarzuqhu min ḥaiṡu lā yaḥtasib. Wa man yatawakkal ‘alallāhi fa huwa ḥasbuh. Innallāha bāligu amrih. Qad ja‘alallāhu likulli syai’in qadrā.

“Apabila mereka telah mendekati akhir masa idahnya, rujuklah mereka dengan cara yang patut atau lepaskanlah mereka dengan cara yang patut. Persaksikanlah dengan dua orang yang adil di antara kamu dan tegakkanlah kesaksian karena Allah. Demikianlah nasihat bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia membukakan jalan keluar baginya.

Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah menuntaskan urusan-Nya. Allah telah menetapkan ukuran bagi segala sesuatu.” (At-Talaq ayat 2–3)

Konteks yang paling jelas dari susunan ayatnya adalah tata cara menghadapi perceraian. Allah memerintahkan agar perempuan yang mendekati akhir masa idah diperlakukan secara baik: dipertahankan dengan patut atau dilepaskan dengan patut, serta menghadirkan saksi yang adil. Ayat ini dengan demikian berbicara tentang jalan keluar yang lahir ketika seseorang tetap tunduk kepada ketentuan Allah, bahkan di tengah konflik rumah tangga yang sarat emosi.

Allah Memberikan Jalan Keluar

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa siapa pun yang bertakwa kepada Allah dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, Allah akan memberinya jalan keluar dari kesulitan serta rezeki dari arah yang tidak pernah diperkirakannya. Penjelasan ini menempatkan takwa bukan sebagai perasaan takut yang pasif, tetapi sebagai ketaatan yang nyata dalam pilihan dan tindakan.

Dalam konteks Surah At-Talaq, takwa terlihat pada kemampuan seseorang menahan diri ketika rumah tangganya berada dalam krisis. Perceraian tidak boleh menjadi alasan untuk mencaci, mempermalukan, mengusir secara sewenang-wenang, menghilangkan hak, atau mempermainkan masa idah. Bahkan ketika hubungan harus diakhiri, Al-Qur’an tetap memerintahkan agar perpisahan dilakukan dengan ma‘ruf: patut, bermartabat, dan tidak menzalimi.

Di sinilah janji jalan keluar memiliki kedalaman yang sering terlewatkan. Ayat ini tidak sekadar mengajarkan bacaan untuk mendatangkan kemudahan. Ia lebih dahulu meminta manusia memperbaiki sikapnya. Jalan keluar dikaitkan dengan takwa, sedangkan takwa menuntut keberanian untuk tetap jujur, adil, dan taat ketika hawa nafsu mendorong kita mengambil jalan yang salah.

Ibnu Katsir mengutip penjelasan Ikrimah bahwa orang yang menceraikan istrinya sesuai ketentuan Allah akan diberikan jalan keluar. Penjelasan serupa juga dinukil dari Ibnu Abbas dan Adh-Dhahhak. Artinya, jalan keluar tidak boleh dicari dengan melanggar batas-batas Allah. Ketaatan itu sendiri menjadi bagian dari pintu penyelesaian.

Hal ini sangat relevan dalam kehidupan yang lebih luas. Ketika terimpit masalah ekonomi, seseorang mungkin tergoda mengambil harta yang bukan haknya. Ketika karier terasa buntu, ia dapat tergoda memfitnah pesaing. Ketika menghadapi konflik, ia mungkin memilih kebohongan karena dianggap lebih cepat menyelesaikan masalah.

Ayat ini seakan mengingatkan: jangan mencari jalan keluar melalui pintu dosa. Jalan yang tampak singkat dapat membawa manusia menuju kesempitan yang lebih panjang. Takwa mungkin terasa berat pada awalnya, tetapi ia menjaga kita agar tidak menyelesaikan satu persoalan dengan menciptakan persoalan lain.

Ibnu Katsir juga mengutip keterangan Abdullah bin Mas‘ud yang menempatkan ayat tentang jalan keluar ini sebagai salah satu ayat paling besar dalam memberikan kelapangan. Masruq menjelaskan bahwa seseorang menyadari Allah-lah yang memberi dan menahan. Sementara Qatadah memahami jalan keluar itu mencakup keselamatan dari keraguan dan kesusahan yang menakutkan.

Karena itu, makhraj atau jalan keluar tidak harus selalu dimaknai sebagai hilangnya masalah secara seketika. Dalam ruang tadabur, jalan keluar dapat hadir sebagai kejernihan untuk mengambil keputusan, kekuatan meninggalkan dosa, ketabahan menjalani sesuatu yang belum berubah, atau dipalingkannya kita dari pilihan yang tampak menarik tetapi sebenarnya membahayakan.

Setelah menyebut takwa dan rezeki yang tidak disangka-sangka, Allah melanjutkan dengan tawakal: wa man yatawakkal ‘alallāhi fa huwa ḥasbuh, siapa yang berserah diri kepada Allah, Dia akan mencukupinya.

Tawakal bukan berarti meninggalkan ikhtiar. Pada ayat sebelumnya justru terdapat perintah yang sangat praktis: mengambil keputusan secara patut, menghadirkan saksi, dan menegakkan kesaksian karena Allah. Manusia tetap diminta mengurus persoalannya dengan tertib. Namun, setelah usaha dilakukan, hati tidak menggantungkan keselamatannya kepada sebab-sebab tersebut.

Ibnu Katsir menguatkan penjelasan tentang tawakal dengan hadis nasihat Rasulullah SAW kepada Ibnu Abbas. Nabi mengajarkan agar ia menjaga ketentuan Allah, meminta hanya kepada Allah, dan memohon pertolongan kepada-Nya. Beliau juga menegaskan bahwa seluruh manusia tidak dapat memberikan manfaat atau menimpakan bahaya kecuali sebatas apa yang telah Allah tetapkan. Hadis tersebut dinilai hasan sahih oleh At-Tirmidzi sebagaimana dikutip Ibnu Katsir.

Tawakal dengan demikian bukan penolakan terhadap kerja keras, perencanaan, pengobatan, atau bantuan manusia. Tawakal adalah keadaan ketika kita menggunakan semua sebab yang halal tanpa menganggap sebab-sebab itu sebagai penguasa hasil. Kita bekerja, tetapi tidak menyembah pekerjaan. Kita berobat, tetapi menyadari kesembuhan berasal dari Allah. Kita meminta pertolongan manusia, tetapi hati tidak kehilangan Allah ketika manusia mengecewakan.

Ayat ini kemudian ditutup dengan dua penegasan: Allah pasti menuntaskan urusan-Nya dan Dia telah menetapkan ukuran bagi segala sesuatu. Ibnu Katsir menerangkan bahwa keputusan dan kehendak Allah akan terlaksana menurut cara yang Dia pilih, sementara segala sesuatu memiliki batas, ukuran, dan ketetapan.

Penutup tersebut menjaga kita dari pemahaman yang tergesa-gesa. Takwa bukan transaksi yang membuat semua keinginan harus langsung terpenuhi. Tawakal juga bukan cara memaksa Allah mengikuti jadwal manusia. Jalan keluar tetap berada dalam ilmu, kehendak, dan ukuran-Nya.

Kadang-kadang Allah mengeluarkan kita dari masalah dengan mengubah keadaan. Pada waktu lain, Dia mengeluarkan masalah itu dari dalam hati kita: rasa takut dikurangi, pandangan dijernihkan, atau kekuatan untuk bertahan ditumbuhkan. Keduanya adalah pertolongan, meskipun bentuknya tidak selalu sama dengan yang kita harapkan.

Seperti Mengayuh Perahu

Kesulitan terkadang seperti sebuah ruangan gelap. Kita terus mendorong satu pintu yang terkunci karena mengira hanya itulah jalan keluar. Kita menghabiskan tenaga, menangis di depannya, lalu merasa tidak ada lagi harapan.

Padahal, Allah dapat membuka sebuah jendela di sisi lain yang sebelumnya tidak kita lihat. Cahaya masuk dari arah yang tidak diperhitungkan. Bukan karena kita mengetahui seluruh jalan, tetapi karena pengetahuan Allah meliputi apa yang tidak mampu dijangkau pandangan manusia.

Tawakal juga seperti seseorang yang mengayuh perahu di tengah lautan. Ia tidak membuang dayungnya lalu membiarkan perahu hanyut. Ia tetap membaca arah, menjaga keseimbangan, dan mengerahkan tenaganya. Namun, ia sadar bahwa angin, gelombang, dan sampainya perahu ke pantai berada dalam kekuasaan Allah.

Kapan Pertolongan Allah Datang

Ketika ayat ini dibaca dalam keadaan terdesak, kita mungkin ingin segera mengetahui kapan pertolongan datang dan melalui siapa. Namun, Al-Qur’an lebih dahulu mengajak kita bertanya: adakah bagian dari hidup yang harus diperbaiki? Adakah hak orang lain yang belum ditunaikan? Adakah jalan haram yang mulai kita pertimbangkan karena merasa tidak memiliki pilihan?

Boleh jadi, langkah pertama menuju jalan keluar bukan menemukan uang, pekerjaan, atau orang yang dapat menolong. Langkah pertama itu mungkin berupa keberanian untuk kembali taat.

Takwa tidak membuat manusia kebal dari masalah. Para nabi dan orang saleh pun menghadapi kehilangan, penolakan, kemiskinan, dan kesedihan. Akan tetapi, takwa mencegah kesulitan memutus hubungan kita dengan Allah. Ia menjaga agar himpitan keadaan tidak mengubah kita menjadi orang yang curang, zalim, atau kehilangan arah.

Rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka juga tidak selalu berupa harta. Ia dapat hadir sebagai orang baik yang datang pada waktu tepat, gagasan yang membuka kesempatan, keluarga yang tetap menemani, kesehatan yang dipulihkan, atau hati yang tiba-tiba mampu menerima kenyataan dengan lebih lapang.

Usaha Tetap Berada Dalam Jalan Takwa  

Barangkali saat ini kita sedang mencari sebuah jalan keluar. Kita telah menyusun banyak rencana, tetapi belum satu pun berjalan. Kita telah berdoa, tetapi keadaan tampak belum berubah.

Surah At-Talaq ayat 2–3 tidak meminta kita berhenti berusaha. Ayat ini mengajak kita memastikan bahwa usaha tersebut tetap berada dalam jalan takwa, kemudian menyerahkan apa yang tidak mampu kita kuasai kepada Allah.

Mari bertanya kepada diri sendiri dengan rendah hati: ketika terdesak, apakah kita semakin mendekat kepada Allah atau justru mulai menghalalkan segala cara? Ketika pertolongan belum tiba, apakah kita masih percaya bahwa Allah mengetahui pintu yang tidak kita ketahui?

Semoga Allah menuntun kita untuk memilih yang benar ketika jalan terasa sempit, menjaga hati agar tidak bergantung kepada selain-Nya, dan membukakan jalan keluar pada waktu serta dengan cara yang paling baik menurut ilmu-Nya.

Sebab tidak semua pintu harus kita temukan sendiri. Ada pintu-pintu yang baru terlihat setelah kita bertakwa, berikhtiar, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. (UYR/Republika)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved