Follow us:

Keutamaan Membangun Masjid

Oleh:Ustadz Prof. Dr. Habib Ahmad Al Kaff, MA.

Semua tanah di muka bumi ini dijadikan masjid (tempat sujud untuk shalat) oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini merupakan keistimewaan khusus yang diberikan kepada umat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Diantara hadits yang dijadikan dasar bahwa semua masjid bisa dijadikan masjid.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu Anhu beliau berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ أَوَّلَ قَالَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا قَالَ أَرْبَعُونَ ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ بَعْدُ فَصَلِّهِ فَإِنَّ الْفَضْلَ فِيْهِ وَفِيْ رِوَايَةٍ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ فَهُوَ مَسْجِدٌ

“Aku bertanya, “Wahai, Rasulullah. Masjid manakah yang pertama kali dibangun?” Beliau menjawab, ‘Masjidil Haram”. Aku bertanya lagi: Kemudian (masjid) mana?” Beliau menjawab, “Kemudian Masjidil Aqsha”. Aku bertanya lagi: “Berapa jarak antara keduanya?” Beliau menjawab, “Empat puluh tahun. Kemudian dimanapun shalat menjumpaimu setelah itu, maka shalatlah, karena keutamaan ada padanya”. Dan dalam riwayat lainnya: “Dimanapun shalat menjumpaimu, maka shalatlah, karena ia adalah masjid”. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari Radhiyallahu Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Aku diberi lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabi sebelumku. Semua nabi sebelumku diutus hanya kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada semua manusia yang berkulit merah dan hitam. Dihalalkan bagiku harta rampasan perang yang tidak pernah dihalalkan kepada seorang pun sebelumku. Bumi diciptakan untukku dalam keadaan suci menyucikan dan sebagai Masjid. Barang siapa yang menemui waktu salat, maka salatlah di tempat ia berada. Aku diberi kemenangan dengan membuat takut musuh selama jarak perjalanan satu bulan. Dan aku juga diberi syafaat”. (Shahih Muslim)

Hukum asal dari semua dataran di bumi adalah suci dan bisa dijadikan tempat shalat, dan ini termasuk dari kemudahan Allah kepada umat ini. Karenanya, kapan salah seorang di antara kalian didapati oleh waktu shalat, maka hendaknya dia mengerjakan shalat dimanapun dia berada ketika itu. Inilah yang menjadi hukum asalnya. Akan tetapi syariat mengecualikan beberapa tempat dimana seorang muslim tidak boleh shalat di situ, terkadang karena shalat di situ bisa menjadi wasilah kesyirikan seperti shalat di kuburan, terkadang karena tempat tersebut adalah tempat berdiamnya setan seperti tempat-tempat menderumnya onta, dan terkadang karena tempatnya najis seperti wc dan tempat buang air.

Penjelasan di atas merupakan penjelasan dari makna masjid secara umum. Oleh sebab itu, Rasulullah sangat menganjurkan untuk membangun masjid dalam definisi khusus. Yaitu suatu bangunan yang memiliki batas-batas tertentu yang didirikan untuk tujuan beribadah kepada Allah seperti shalat, dzikir, membaca al-Qur’an dan ibadah lainnya. Dan lebih spesifik lagi yang dimaksud masjid di sini adalah tempat didirikannya shalat berjama’ah, baik ditegakkan di dalamnya shalat jum’at maupun tidak.

Keutamaan Membangun Masjid

Membangun masjid memiliki keutamaan yang besar sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam,

مَنْ بَنَى مَسْجِداً يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللهِ بَنَى اللهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّة. وفي رواية لمسلم: (( بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ ))

“Barangsiapa membangun masjid –karena mengharap wajah Allah- maka Allah akan membangunkan untuknya yang semisalnya di dalam syurga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat Muslim disebutkan dengan lafal: “rumah di dalam syurga”.

Namun keutamaan tersebut hanya bisa dicapai dengan ikhlas semata-mata karena Allah dan mengharap wajah Allah sebagaimana teks hadits di atas. Meskipun masjid yang dibangun itu berukuran kecil, karena dalam hadits yang lain Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ بَنَى للهِ مَسْجِداً وَلَوْ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa membangun sebuah masjid karena/untuk Allah walau seukuran sarang (kandang) burung atau lebih kecil dari itu, maka Allah akan membangunkan untuknya rumah di dalam syurga”. (HR. Ibnu Majah dan al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Adapun bila seseorang membangun masjid dengan tujuan ingin dipuji oleh manusia atau hanya untuk berbangga-banggaan semata maka ia tidak akan memperoleh keutamaan ini. Dan jika hal ini merajalela di tengah-tengah manusia maka itu salah satu pertanda dekatnya hari kiamat. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

لا تقوم الساعة حتى يتباهى الناس في المساجد

“Tidaklah kiamat akan tegak sehingga manusia berbangga-banggaan dalam (membangun) masjid-masjid.” (HR. Ahmad, Abu Daud Ibnu Majah dan yang lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Berdoa Ketika Keluar Rumah

Hendaklah orang yang keluar dari rumah membaca doa terlebih dahulu, apalagi jika ia hendak menuju masjid.

Dalam hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjelaskan keutamaan doa ini,

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟

“Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Maka disampaikan kepadanya, ‘Kamu diberi petunjuk, kamu dicukupi kebutuhannya, dan kamu dilindungi.’ Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Jika kita perhatikan, doa keluar rumah ini sangat pendek, ringan diucapkan, namun memiliki keistimewaan yang besar. Kita bisa bayangkan, hanya dengan membaca doa ini, kita bisa mendapatkan jaminan keamanan, jaminan kecukupan akan kebutuhan, berikut hidayah dari Allah Ta’ala. Yang semua itu merupakan sumber kebaikan dunia dan akhirat bagi hamba-hamba-Nya.

  1. Hidayah merupakan kebutuhan mutlak seorang hamba untuk bisa istiqamah di atas agama Allah, yang nantinya akan mengantarkannya menuju kebahagiaan akhirat.
  2. Kecukupan merupakan sumber ketenangan seorang hamba ketika hidup di dunia, sehingga dia tidak kekurangan (lahir) atau merasa kekurangan (batin).
  3. Perlindungan dari setan merupakan jaminan keamanan dari segala makarnya yang merupakan sumber kejahatan dan kerusakan bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Masjid adalah sebaik-baik tempat bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Sebagai tempat yang dikhususkan untuk ibadah kepada Allah Ta’ala, masjid memiliki sejumlah adab. Diantaranya adalah hendaknya seorang muslim masuk ke dalam masjid dan keluar dari masjid dengan membaca doa yang telah diajarkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Berdoa Ketika Masuk Masjid

Salah satu doa masuk dan keluar masjid tersebut telah diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Jika salah seorang diantara kalian masuk ke dalam masjid maka hendaklah ia mengucapkan salam (shalawat dan salam) kepada Nabi dan hendaklah ia membaca doa:

اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Ya Allah, bukalah untukku pintu-pintu rahmat-Mu.” Dan jika ia keluar dari masjid maka hendaklah ia ia mengucapkan salam (shalawat dan salam) kepada Nabi dan hendaklah ia membaca doa:

اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Ya Allah, lindungilah aku dari setan yang terkutuk.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan Al-Baihaqi. Dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan Adz-Dzahabi)

Masjid adalah syiar Islam yang besar dan mempunyai peran yang sangat strategis demi tercapainya kemuliaan Islam dan muslimin. Umat Islam senantiasa mulia manakala kembali memakmurkan masjid seperti halnya generasi awal umat ini.

Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved