Follow us:

Kiat untuk Menggapai Keikhlasan

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sangat khawatir terhadap umatnya jangan sampai umatnya terkena penyakit riya’. Ini riwayat dari Imam Ahmad hadis Muhammad bin Labid, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Yang paling aku takuti atas kamu wahai umatku adalah syirik kecil (akhwafu maa akhaafu alaikum asy syirkul ashghr).

Para sahabat bertanya apa itu syirik kecil? Nabi menjawab, yaitu artinya, “Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa nanti di hari kiamat, Allah akan mengatakan kepada orang-orang yang selama di dunia mereka selalu berbuat riya’, maksudnya ia beramal ingin dipuji orang, –sebab seharusnya orang beramal karena ingin dipuji Allah– maka ketika dia ingin dipuji orang berarti secara kecil-kecilan ia telah memosisikan orang lain sebagai tuhan. Maka ketika tiba saatnya di hari kiamat, Allah akan perintahkan mereka agar menemui orang-orang mereka sekutukan dengan Allah dengan mengharapkan pujian darinya. Allah mengatakan silakan kamu minta kepada mereka pahala dari amal yang kamu kerjakan itu.” (HR Ahmad).

Mengapa Allah Ta’ala memperlakukan riya’ demikian? Sebab, ketika mereka berbuat riya’ sebetulnya mereka sedang ingin menipu Allah Ta’ala. Maka begitu mereka sampai di akhirat, Allah Ta’ala tunjukkan bahwa merekalah yang sebenarnya tertipu (Innal munaafiqiin yukhadiuunallah wa huwa khaadiuhum) (QS an-Nisa: 142).

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala telah menganggap perbuatan mereka sebagai bagian dari kemunafikan.

Dalam surah al-Baqarah: 9 digambarkan bahwa orang-orang munafik sedang ingin menipu Allah Ta’ala dan orang-orang beriman, tetapi malah mereka sedang menipu diri sendiri hanya saja mereka tidak merasa (Yukhadi’uunallah walldaziina aamanuu wa maa yakhadauuna illaa anfausahum wa maa yasyuruun).

Maka kelak sesampainya mereka di akhirat akan dibalas oleh Allah Ta’ala dengan tipuan, sehingga semua amal yang mereka kerjakan selama di dunia tidak ada pahalanya sama sekali. Lebih dari itu mereka akan dilempar dalam neraka.

Masih ingat dalam sebuah hadis shahih ada tiga orang yang nanti pertama kali akan dibangkitkan di hari kiamat. Ketiganya secara lahir adalah orang-orang yang melakukan perbuatan paling mulia.

Pertama, ahli Al-Quran, yang telah mewakafkan hidupnya untuk mengajarkan Al-Quran. Kelak ketika berhadapan dengan Allah –kata Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam— ia melaporkan bahwa amalnya karena Allah Ta’ala. Ternyata, Allah Ta’ala menolaknya.

Kata Allah Ta’ala, kamu bohong, karena kamu telah melakukannya karena ingin dikatakan qari’. Allah memerintahkan agar ia dilemparkan ke neraka.

Kedua, ahli sedekah. Hartanya banyak. Di hari kiamat, ia melaporkan bahwa telah menggunakan semua hartanya untuk kebaikan. Allah Ta’ala menjawab, kamu bohong, kamu melakukan itu bukan karena Aku tetapi karena ingin dikatakan sebagai dermawan. Allah perintahkan agar orang tersebut dilempar ke neraka.

Ketiga, orang yang kuat secara jasmani. Ia selalu hadir dalam peperangan untuk membela agama Allah Ta’ala. Ketika ditanya, ia menjawab bahwa telah melakukan semua itu karena-Nya.

Allah langsung menjawab: kamu bohong, kamu melakukan itu karena ingin dikatakan sebagai pemberani. Dan itu sudah kamu capai, semua orang mengatakan kamu pemberani. Allah perintahkan agar orang itu dilempar ke neraka. (HR Muslim).

Betapa bahayanya perbuatan riya’ itu. Amal yang paling mulia sekalipun dan paling besar di mata manusia ketika itu dikerjakan bukan karena Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala pasti akan menolaknya.

Berdasarkan ini jelas bahwa Allah Ta’ala tidak butuh manusia, juga tidak butuh amalnya, melainkan manusialah yang membutuhkan-Nya.

Dalam hadis qudsi riwayat Abu Hurairah, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Aku tidak butuh sekutu maka tidak perlu kamu menyekutukan Aku dalam beramal’ (Ana aghnasy syurakaa ‘anisy syirki). Aku tidak butuh amal yang dikerjakan dengan cara menyekutukan Aku (Ana ghaniyyun ‘anil amalil ladzii fiihi syirkatun lighairii). Maka siapa yang mengerjakan amal di dalamnya ada unsur yang menyekutukan-Ku, maka Aku tidak bertanggung jawab atasnya (Fa mana amila amalan asyraka fiihi ghairii fa ana minhu barii)’.”

Artinya bahwa Allah Ta’ala tidak akan menerima amal selama itu dikerjakan bukan karena-Nya. Tanpa keikhlasan, amal sebesar apapun tidak ada pahalanya di akhirat.

Dalam surah al-Isra: 18, Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang menghendaki kehidupan dunia, Kami segerakan baginya di dunia apa yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya neraka.”

(UYR/Republika)

Share This:
Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved