Melihat Geliat Semangat Generasi Muda Kampus Perkuat Ekosistem Halal
Auditorium Andi Hakim Nasution, IPB University, Bogor, hari itu, Selasa (2 Juni 2026), tampak lebih ramai. Ratusan mahasiswa kumpul bareng unsur pemerintah, akademisi dan praktisi halal. Mereka berdiskusi bareng dalam Halal Goes to Campus yang digelar Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama.
Halal Goes to Campus menjadi langkah Kementerian Agama memperkuat literasi dan ekosistem halal nasional dengan melibatkan generasi muda sebagai aktor utama. Dirjen Bimas Islam, Abu Rokhmad, mengatakan, penguatan ekosistem halal menjadi bagian penting dari pemberdayaan ekonomi umat dan layanan keagamaan yang berdampak.
“Pemberdayaan ekonomi umat terus kami dorong melalui simpul zakat, wakaf, maupun ekosistem halal,” ujarnya.
Menurut Abu, tantangan pengembangan halal di Indonesia muncul karena masyarakat Muslim sebagai kelompok mayoritas kerap merasa tidak perlu mempertanyakan status halal produk yang dikonsumsi sehari-hari.
“Kalau makan di tempat yang ada logo halal mungkin kita merasa aman. Tetapi di warung-warung kecil, kita sering tidak pernah bertanya apakah yang dikonsumsi halal atau tidak,” katanya.
Abu Rokhmad mengajak generasi muda memahami halal secara lebih luas, tidak hanya sebagai ajaran agama, tetapi juga sebagai bentuk perlindungan konsumen Muslim. Dia juga mengingatkan bahwa mulai 17 Oktober 2026, produk makanan, minuman, kosmetik, dan sejumlah produk lainnya wajib bersertifikat halal.
Karena itu, Abu Rokhmad meminta generasi muda, terutama Gen Z, turut menyosialisasikan kebijakan wajib halal melalui pendekatan kreatif dan media digital. Halal Goes to Campus diharapkan dapat memperkuat literasi halal di kalangan mahasiswa serta mendorong lahirnya generasi muda yang mampu memperkuat ekosistem halal nasional dan global.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Irfan Syauqi Beik, mengatakan, Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga dalam Global Islamic Economy Report, tetapi belum menjadi produsen utama industri halal dunia.
“Kita memang ranking ketiga, tetapi belum menjadi produsen utama industri halal. Padahal peluang ekonominya sangat besar,” ujarnya.
Menurut Irfan, sektor halal memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Kontribusi sektor halal terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia meningkat dari 25 persen pada 2024 menjadi 27 persen pada 2025.
Ia menambahkan, IPB terus memperkuat komitmennya dalam pengembangan industri halal melalui pembangunan halal center dan gedung inkubator bisnis halal.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim IPB University, Ernan Rustiadi, mengatakan IPB memiliki sejarah panjang dalam pengembangan kajian halal, khususnya di bidang pangan.
“IPB sejak awal terlibat dalam tata kelola pemeriksaan makanan halal. Banyak ahli halal berasal dari IPB,” ujarnya.
Menurut Ernan, IPB kini memiliki pusat studi halal, jurnal halal internasional, serta laboratorium terpadu untuk pengujian halal yang tengah dikembangkan di gedung inkubator bisnis halal lima lantai. (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments