Mengapa Berbuat Ihsan Diposisikan Lebih Tinggi daripada Berlaku Adil?
Perbuatan ihsan lebih tinggi dari perbuatan adil. Allah SWT sangat menyukai manusia yang berbuat ihsan.
Penegasan ini disampaikan Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah yang akrab disapa Buya Hamka dalam karya monumentalnya Tafsir Al-Azhar.
Buya Hamka dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ihsan mengandung dua maksud, pertama selalu mempertinggi mutu amalan, berbuat yang lebih baik dari sebelumnya, sehingga kian lama tingkat iman itu kian naik.
Di dalam Hadis Nabi Muhammad SAW yang shahih, “AI-Ihsan adalah engkau sembah Allah seakan-akan engkau lihat Allah itu. Maka jika engkau tidak lihat Dia, namun Dia tetap melihat engkau.”
Maksud ihsan yang kedua adalah kepada sesama makhluk, yaitu berbuat lebih tinggi lagi dari keadilan.
Contoh ihsan yang kedua, kita memberi upah kepada seseorang atau tukang yang mengerjakan suatu pekerjaan. Kita berikan kepadanya upah yang setimpal dengan tenaganya. Pembayaran upah yang setimpal itu adalah sikap yang adil.
Tetapi jika kita memberikan upah lebih dari yang semestinya, sehingga hati tukang itu besar dan gembira, maka pemberian yang lebih dari biasanya itu dinamai ihsan. Maka ihsan adalah latihan budi yang lebih tinggi tingkatnya daripada adil.
Contoh lain dari ihsan kepada sesama, ada seorang yang berutang kepada kita. Maka suatu sikap yang adil jika kita tagih hutang tersebut. Tetapi kita menjadi ihsan kalau hutang itu kita maafkan atau kita anggap lunas dengan ikhlas.
Memberi kepada keluarga yang terdekat. Ini pun adalah lanjutan dari ihsan. Karena kadang-kadang orang yang berasal dari satu ayah dan satu ibu sendiri tidak sama nasibnya.
Ada yang murah rezekinya lalu menjadi kaya-raya dan ada yang hidupnya sederhana, pas-pasan dan kurang. Maka orang yang mampu itu dianjurkan berbuat ihsan kepada keluarganya yang terdekat, sebelum dia mementingkan orang lain.
Al-Qurthubi menulis dalam tafsinya, “Maka sesungguhnya Tuhan Allah suka sekali hamba-Nya berbuat ihsan sesama makhluk, sampai pun kepada burung yang engkau pelihara dalam sangkarnya, dan kucing di dalam rumah. Jangan sampai mereka itu tidak merasakan ihsan dari engkau.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat ihsan (kebajikan), dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat. (QS An-Nahl ayat 90).
Buya Hamka dalam tafsirnya juga menegaskan ada tiga larangan Allah SWT dalam ayat tersebut yang seharusnya dijauhi orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT.
Pertama, Allah SWT melarang manusia berbuat keji. Keji adalah dosa yang sangat merusak pergaulan dan keturunan.
Kedua, melarang berbuat kemungkaran. Biasanya di dalam Alquran, kalau disebut al-fahsyaa yang dituju adalah segala yang berhubungan dengan zina.
Segala pintu yang menuju kepada zina, baik berhubungan dengan pakaian yang membukakan aurat atau cara-cara lain yang menimbulkan nafsu syahwat yang menuju ke sana. Itu hendaklah ditutup mati.
Juga yang dibenci atau yang munkar, ialah segala perbuatan yang tidak dapat diterima baik oleh masyarakat yang memupuk budi yang luhur, dan segala laku tingkah perangai yang membawa pelanggaran atau aturan agama.
Ketiga, melarang berbuat permusuhan. Aniaya yaitu segala perbuatan yang sikapnya menimbulkan permusuhan terhadap sesama manusia, karena mengganggu hak dan kepunyaan orang lain.
Buya Hamka menuliskan dengan tegas bahwa ketiga perintah yang wajib kamu kerjakan itu dan larangan yang wajib kamu jauhi itu adalah untuk keselamatan dirimu sendiri, supaya kamu selamat dalam pergaulan hidup.
Pengajaran dan nasihat ini adalah langsung datang dari Allah sendiri (melalui ayat di atas). Kalau kamu kerjakan tiga yang perintahkan, kamu pun selamat. Kalau kamu jauhi tiga yang dilarang, hidupmu akan bahagia.
Menurut riwayat dari lbnu Jarir, bahwasanya Abdullah bin Mas’ud pernah mengatakan bahwa ayat ini adalah ayat yang paling jelas memberi petunjuk mana yang baik dan mana yang jahat. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments