Follow us:

Mengapa MI dan MTs Lebih Diminati Dibanding MA?

Selama melakukan studi lapangan pada sejumlah madrasah swasta di Kabupaten Bogor, saya menemukan fenomena yang menarik. Madrasah ibtidaiyah (MI) dan madrasah tsanawiyah (MTs) umumnya memiliki jumlah peserta didik yang cukup besar. Tidak sedikit MTs swasta di wilayah pinggiran yang memiliki 200 hingga 500 siswa dengan rombongan belajar yang relatif penuh. Namun ketika memasuki jenjang madrasah aliyah (MA), jumlah tersebut menurun cukup tajam.

Fenomena yang lebih menarik terlihat pada yayasan pendidikan yang mengelola MA dan SMK dalam satu kawasan. Dengan pengelola, lingkungan, dan sebagian guru yang sama, jumlah siswa SMK sering kali mencapai beberapa kali lipat dibandingkan MA. Lalu, mengapa banyak siswa yang melanjutkan pendidikan tidak memilih MA?

Sebagian jawabannya dapat ditemukan dalam konsep school choice atau pilihan sekolah. Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah pertama, keputusan memilih sekolah umumnya masih didominasi oleh orang tua (parental school choice). Pertimbangan agama, pembentukan karakter, lingkungan yang aman, dan kedisiplinan menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan.

Temuan ini sejalan dengan penelitian Hasanah, Badar, dan Ghazi (2022) yang menunjukkan bahwa keluarga Muslim di Indonesia cenderung memilih sekolah yang mampu mengintegrasikan pendidikan agama dan pendidikan umum sekaligus membentuk karakter anak sesuai nilai-nilai Islam. Dalam konteks ini, madrasah memiliki keunggulan karena mampu menjawab harapan orang tua terhadap pendidikan yang religius sekaligus berkualitas.

Namun situasinya mulai berubah ketika siswa memasuki usia remaja. Pada jenjang pendidikan menengah atas, pilihan sekolah tidak lagi sepenuhnya berada di tangan orang tua. Siswa mulai mempertimbangkan cita-cita, pilihan karier, perguruan tinggi tujuan, serta keterampilan yang ingin mereka miliki. Dengan kata lain, terjadi pergeseran dari pilihan orang tua menuju pilihan siswa.

Fenomena tersebut juga terlihat pada tingkat kabupaten. Pada tahun ajaran 2025/2026, MTs swasta di Kabupaten Bogor menampung lebih dari 78 ribu siswa, sedangkan MA swasta sekitar 19 ribu siswa. Rata-rata MTs swasta memiliki 215 siswa per sekolah, sementara MA swasta hanya 144 siswa. Data ini menunjukkan bahwa daya tarik madrasah swasta lebih kuat pada jenjang tsanawiyah dibandingkan aliyah. Menariknya, lima MAN di Kabupaten Bogor justru menampung lebih dari 5.500 siswa. Dengan demikian tantangan utama bukan pada madrasah itu sendiri, melainkan pada kemampuan MA swasta membangun daya saing dan relevansinya bagi generasi muda.

Banyak siswa memandang SMA dan terutama SMK sebagai jalur yang lebih dekat dengan dunia kerja maupun pendidikan tinggi. Program keahlian yang ditawarkan SMK sering kali lebih mudah dipahami karena memiliki keterkaitan langsung dengan profesi tertentu. Di sinilah MA menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan MI dan MTs.

Padahal, persoalan utama MA sesungguhnya bukan terletak pada kualitas dasar lembaga. Madrasah aliyah telah melahirkan banyak lulusan yang berhasil menembus perguruan tinggi terbaik dan berkiprah di berbagai bidang. Tantangannya lebih pada bagaimana keunggulan tersebut dipahami dan dirasakan oleh calon peserta didik.

Dalam perspektif pemasaran pendidikan, tantangan MA bukan hanya menghadirkan pendidikan yang berkualitas, tetapi juga membangun value proposition, yaitu alasan mengapa siswa merasa madrasah layak dipilih, serta positioning, yaitu citra yang membedakan madrasah dari pilihan sekolah lainnya. Jika selama ini madrasah berhasil memperoleh kepercayaan orang tua melalui pendidikan agama dan pembentukan karakter, maka pada jenjang aliyah madrasah juga perlu meyakinkan siswa bahwa madrasah mampu mengantarkan mereka menuju masa depan yang dicita-citakan.

Karena itu, strategi pengembangan MA tidak cukup hanya berorientasi pada harapan orang tua. Madrasah juga perlu memahami aspirasi generasi muda. Mereka ingin mengetahui keterampilan apa yang akan diperoleh, peluang pendidikan lanjutan yang tersedia, serta prospek masa depan yang dapat diraih setelah lulus.

Sejumlah madrasah sebenarnya telah mulai merespons perubahan ini. Selain program tahfiz dan penguatan karakter keislaman, beberapa MA mengembangkan kelas riset, literasi digital, kewirausahaan, penguasaan bahasa asing, hingga kerja sama dengan perguruan tinggi. Ada pula yang mengembangkan program keterampilan berbasis kebutuhan masyarakat setempat, seperti teknologi informasi, desain grafis, tata boga, dan agribisnis. Program-program tersebut menunjukkan bahwa madrasah tidak harus berubah menjadi SMK untuk tetap relevan, tetapi dapat memperkuat kompetensi dan keterampilan peserta didik tanpa kehilangan identitas keislamannya.

Upaya tersebut menjadi semakin penting karena lebih dari 90 persen madrasah di Indonesia berstatus swasta. Karena itu, masa depan pendidikan madrasah nasional sangat bergantung pada kemampuan madrasah swasta untuk terus beradaptasi dan meningkatkan daya saingnya. Dalam konteks ini, berbagai kebijakan Kementerian Agama yang mendukung peningkatan mutu madrasah, penguatan kompetensi guru dan kepala madrasah, digitalisasi layanan pendidikan, serta pengembangan program kemandirian madrasah perlu terus diperkuat.

Pada akhirnya, fenomena yang saya temukan di lapangan mungkin bukan sekadar tentang berkurangnya jumlah siswa MA. Fenomena tersebut lebih tepat dibaca sebagai perubahan pola pengambilan keputusan pendidikan. Jika pada jenjang MI dan MTs keputusan masih banyak ditentukan oleh orang tua, maka pada jenjang aliyah suara siswa menjadi semakin menentukan.

Karena itu, tantangan utama madrasah aliyah saat ini bukan hanya menjaga kualitas pendidikan, tetapi juga menunjukkan relevansinya bagi masa depan generasi muda. Siswa perlu melihat bahwa madrasah tidak hanya membentuk karakter dan memperkuat nilai-nilai keislaman, tetapi juga membuka jalan menuju perguruan tinggi, dunia profesional, kewirausahaan, maupun berbagai bidang kehidupan yang mereka cita-citakan. Dalam perspektif pemasaran pendidikan, inilah yang menjadi value proposition madrasah: alasan mengapa siswa merasa madrasah layak dipilih untuk meraih masa depan mereka.

Di era ketika pilihan sekolah semakin berada di tangan siswa, masa depan madrasah tidak hanya ditentukan oleh seberapa baik lembaga itu mendidik, tetapi juga oleh seberapa kuat madrasah meyakinkan generasi muda bahwa impian mereka dapat tumbuh dan diwujudkan di sana. Ketika madrasah berhasil menjadi pilihan orang tua sekaligus pilihan siswa, maka di situlah fondasi keunggulan bersaing madrasah akan terbentuk secara alami dan berkelanjutan.

Penulis: Yosef Budiman (Guru Ekonomi MAN 2 Bogor, mahasiswa S3 Administrasi Pendidikan UPI, serta penerima Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kemenag–LPDP)

Artikel ini ditulis berdasarkan refleksi atas temuan lapangan dalam penelitian disertasi mengenai strategi pemasaran madrasah aliyah dan keunggulan bersaing). (UYR/Kemenag)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved