Mengenal Abu Ubaidah bin Al-Jarrah
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan tentang 10 orang sahabat beliau yang dijamin masuk surga.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Abu Bakar (Ash-Shiddiq) di surga, Umar (bin Khattab) di surga, Utsman (bin Affan) di surga, ‘Ali (bin Abi Thalib) di surga, Thalhah (bin Ubaidillah) di surga, Zubair (bin Awwam) di surga, Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqash) di surga, Sa’id (bin Zaid bin Amr bin Nufail) di surga, Abu Ubaidah bin Jarrah di surga.”
Pernyataan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam itu mengisyaratkan dengan jelas, betapa kemuliaan ke-10 sahabat beliau itu. Hingga akhir hayatnya, mereka setia mendampingi perjuangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam serta mendukung syiar Islam dengan banyak cara.
Abu Ubaidah bin Al-Jarrah juga termasuk dalam 10 sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang dijamin masuk surga, sebagaimana disebut hadis di atas. Lelaki ini lahir dengan nama Amir bin Abdullah. Sama seperti Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia berasal dari Kota Makkah Al-Mukarramah. Saat dewasa, perawakannya tinggi, agak membungkuk, dan tidak gemuk. Wajahnya cenderung cekung. Janggutnya tipis.
Riwayat tentang dirinya ketika masih non-muslim cukup jarang dijumpai walaupun tokoh tersebut berasal dari Suku Quraisy. Barulah sesudah ia memeluk Islam, banyak perawi menuturkan tentangnya. Abu Ubaidah menjadi muslim hanya selang sehari setelah Islamnya Abu Bakar.
Ya, dari Ash-Shiddiq-lah ia pertama kali mendengar tentang ajaran tauhid yang dibawa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Bersama dengan Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mazh’un, dan al-Arqam bin Abil Arqam, ia mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Sejak saat itu, Abu Ubaidah selalu setia mendampingi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam menyebarkan risalah Islam. Tidak sedikit pun rasa ragu dalam dirinya untuk membela Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, baik pada masa sebelum maupun sesudah hijrah. Ia ikut bersama umat Islam berpindah dari Makkah ke Madinah, sejalan dengan arahan Al-Musthafa.
Berbagai medan jihad diikutinya, termasuk Perang Badar. Dalam banyak momen, dirinya tampil menjadi tameng bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pernah dalam sebuah pertempuran, helm perang Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bengkok. Ujungnya yang tajam menghujam dan sampai-sampai mematahkan gigi beliau. Abu Ubaidah segera melepaskan benda sempit itu dari kepala beliau.
Sahabat dari golongan Muhajirin ini berkaitan dengan sebab turunnya Al-Quran surah Al-Mujadilah ayat 22. Waktu itu, Perang Badar terjadi. Abu Ubaidah berjumpa dengan ayahnya sendiri, yang berada di pihak musuh Islam. “Sebelum duel berlangsung,” tutur Abdullah bin Syaudzb, “Sang ayah menantang anaknya itu. Dalam duel ini, Abu Ubaidah berhasil membuat bapaknya terpojok. Lalu, ia pun menghabisinya.”
Terkait itu, turunlah ayat tersebut. Firman Allah Ta’ala ini antara lain berarti, “Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia.”
Kemuliaan Abu Ubaidah ditandai dengan besarnya kasih sayang Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam kepadanya. Seperti dinukil dalam Sunan Tirmidzi, pernah suatu ketika Abdullah bin Syaqiq bertanya kepada Ummul Mu`minin ‘Aisyah, “Siapakah di antara para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang paling beliau cintai?”
“Abu Bakar,” jawab Aisyah.
“Siapa lagi?”
“Umar,” katanya.
“Kemudian, siapa?”
“Abu Ubaidah bin Al-Jarrah,” ucapnya.
“Siapa lagi?” tanya Abdullah kembali, tetapi Aisyah hanya diam.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah memujinya di hadapan banyak orang. Pernah suatu hari, para utusan kaum Najran menghadap kepada beliau. “Ya Rasulullah,” kata mereka, “Utuslah kepada kami seseorang yang jujur lagi tepercaya (untuk dijadikan sebagai pemimpin).”
“Sungguh, aku akan mengutus kepada kalian seseorang yang sangat jujur dan dapat dipercaya,” jawab Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Mendengar itu, para sahabat bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan sosok yang dimaksud oleh Rasulullah itu. Ternyata, beliau kemudian mengutus Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.
Pujian lainnya terangkum dalam sebuah hadis sahih. “Sesungguhnya setiap umat itu ada orang yang kepercayaan. Orang yang paling terpercaya di tengah umatku adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah,” sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, seperti diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.
Sesudah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat, sejumlah sahabat berunding untuk memutuskan, siapa yang akan memimpin umat. Dalam diskusi itu, nama Abu Ubaidah bin Al-Jarrah sempat tersebut dan hampir disepakati. Namun kemudian, Umar mengusulkan sosok Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang kemudian disepakati sebagai khalifah pertama.
Pada zaman Khulafaur rasyidin, Abu Ubaidah tampil sebagai seorang panglima yang tangguh. Ia pernah memimpin pasukan muslimin dalam melawan bala tentara Romawi. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments