Follow us:

Pemimpin dan Wawasan Akhirat

Surah al-Muthaffifin membahas tentang para penipu timbangan di pasar. Pada saat itu memang di awal Nabi SAW hijrah ke Madinah, fenomena penipuan melalui timbangan sedang merebak di pasar-pasar.

Banyak para pedagang yang menggunakan dua timbangan. Satunya timbangan palsu dan satunya timbangan benar.

Yang palsu mereka gunakan untuk menjual barang kepada orang lain sehingga pembeli itu mendapatkan barangnya berkurang. Sementara timbangan yang benar digunakan untuk membeli barang dari orang lain sehingga ia mendapatkan barangnya tanpa berkurang sedikit pun.

Allah SWT merekam perilaku mereka dengan detail, lalu menjadikannya sebagai definisi para muthaffifiin (koruptor), “Alladziina idzak taaluu ‘alan naasi yastaufuun, wa idzaa kaaluuhum aw wazanuuhum yukhsiruun (Apabila mereka menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi, sebaliknya apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi)” (QS al-Muthaffifiin: 2-3).

Untuk memperbaiki penyimpangan sosial di atas, Allah SWT menurunkan surah al-Muthaffifin yang di antara ayatnya berpesan tentang akhirat, “Alaa yazhununnu ulaaika annahum mab’utsuun” (Apakah mereka tidak yakin bahwa kelak pasti akan dibangkitkan) (QS al-Muthaffifiin: 4).

Ini menjadi pijakan bahwa untuk meluruskan kerusakan di tengah masyarakat adalah dengan cara mengingatkan mereka kepada alam akhirat. Bahwa dunia bukan segalanya.

Boleh jadi Anda di dunia bisa bertahan dalam kelaliman, karena kekuasaan yang Anda pegang. Tetapi kelak di hari kiamat, Anda pasti akan disidang oleh Allah SWT yang Mahaadil, “Ahkamul haakimiin.” 

Silakan sembunyikan keburukan yang Anda perbuat dengan segala cara, tetapi Allah SWT Mahatahu atas apa yang Anda simpan. Allah SWT mengetahui ke mana mata Anda melirik, bahkan mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada, “Ya’lamu khaainatal a’yuni wa maa tukhifsh shuduur” (QS Ghafir: 19).

Tidak ada teknologi kedokteran secanggih apa pun yang bisa mendeteksi isi hati. Silakan Anda mengecek melalui alat teknologi, apakah Anda ikhlas atau tidak ketika menegakkan shalat, atau berbagi kepada fakir miskin.

Yang tahu isi hati Anda hanyalah Allah SWT. Malaikat pun tidak tahu isi hati manusia. Dalam riwayat dikatakan bahwa ketika malaikat melaporkan amal, Allah  SWT mengatakan, “Innama anta hafizh wa anar raqiibu aliahi” (Sesungguhnya engkau wahai para malaikat hanya mengumpulkan amal dan melaporkannya, tetapi Aku-lah yang tahu apakah amal ini untuk-Ku (ikhlas) atau tidak).

Berdasarkan ini jelas bahwa kesadaran akan kepastian hisab di hari kiamat akan membuat seorang hamba, apa pun posisinya, sebagai pengusaha, pedagang, pejabat bahkan pemimpin sekalipun–akan berhati-hati dari dosa.

Karena itu, setiap pemimpin atau yang akan mencalonkan diri sebagai pemimpin janganlah sekadar bermodal semangat, tetapi hendaklah pertama-tama membangun dalam diri rasa takut kepada Allah SWT (khasyyatullah). Bahwa di atas kekuasaan yang Anda pegang ada kekuasaan-Nya.

Kata “yazhunnu” pada ayat “Alaa yazhunnu”, menunjukkan makna keyakinan. Seakan Allah SWT mengatakan apakah mereka yang berbuat curang itu tidak yakin bahwa kelak akan dibangkitkan lagi setelah mati?

Apakah mereka mengira dengan kematian otomatis berakhir segalanya? Apakah kelak di hari kiamat tidak ada pertanggungjawaban? Tidak ada hukuman bagi pendosa dan tidak ada surga bagi yang taat?

Apakah dunia memang diciptakan tanpa aturan sehingga semua manusia bebas berbuat apa saja yang diinginkan nafsunya? Pertanyaan ini seketika terjawab pada ayat berikutnya, “Liyaumin azhiim, yauma yaquumunnaasu lirabbil alaamiin” (Pada hari yang agung, pada hari ketika manusia bangkit menghadap Tuhan seru sekalian alam) (QS al Muthaffifiin: 5-6).

Bahwa akan tiba saatnya di hari kiamat untuk pertanggungjawaban. Itulah hari yang sangat agung, sehingga Allah SWT langsung yang turun tangan menghakimi setiap manusia. Tidak ada satu pun yang bisa bersembunyi dari-Nya.

Pada hari itu Allah SWT melipat langit layaknya melipat kertas (yauma nathwis samaa’a kathayyissijilli lil kutub) (QS al-Anbiya: 104).

Allah SWT memanggil manusia yang pernah berkuasa di muka bumi, “Limanil mulkul yaum” (Siapa yang mempunyai kerajaan sekarang).

Untuk menunjukkan bahwa penguasa hakiki hanyalah Allah SWT, selain-Nya hanya makhluk yang tidak berdaya.

Pemandangan ini telah membuat seorang pemimpin seperemat dunia pada masa itu, Umar bin Khaththab, ketakutan. Suatu hari setelah shalat Maghrib, Umar menangis di atas tempat sujudnya.

Istrinya, Ummu Kultsum bertanya, “Ada apa, wahai Amiirul Mukminin? Bukankah engkau telah berbuat adil? Semua rakyatmu sejahtera?” Umar menjawab, “Benar rakyatku telah sejahtera, tetapi pertanggungjawaban di akhirat jauh lebih besar daripada itu.” Aku kelak pasti akan ditanya oleh Allah SWT tentang seekor kuda yang tergelincir di Irak karena sebuah jalan yang belum aku perbaiki.

Suatu pernyatan yang harus disimak oleh setiap pemimpin. Bahwa yang harus Anda lihat bukan sekadar kemewahan fasilitas yang Anda nikmati ketika memimpin, sehingga berlomba-lomba untuk mendapatkan kedudukan tersebut.

Tetapi di akhirat nanti Anda pasti akan dimintai pertangungjawaban atas setiap penderitaan yang dirasakan oleh rakyat Anda.

Ditulis oleh Ustaz Dr Amir Faishol Fath; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute (UYR/Republika)

Share This:
Tags: ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved