Follow us:

Saat Birokrasi Dipenuhi Gelar Tanpa Isi

Dalam suatu kisah, Abu Nawas datang ke istana membawa cermin sederhana. Di hadapan Khalifah, dia berhadapan dengan seorang “ilmuwan” yang mengaku paling hebat, dengan segudang gelar dan tampilan mewah. Abu Nawas hanya mengajukan tiga pertanyaan sederhana, yang tak sanggup dijawab sang ilmuwan. Akhirnya, terbongkarlah topeng: dia bukan ilmuwan sejati, hanya “ilmuwan casing” yang berpenampilan wah, tapi kosong isi.

Kisah itu gambaran metafora sempurna untuk kondisi SDM aparatur kita saat ini. Betapa banyak pejabat atau “ahli” di pemerintahan yang mengandalkan gelar panjang, sertifikat berderet dan penampilan mentereng. Tetapi ketika diuji dengan persoalan nyata (kinerja), mereka gagal memberikan solusi.

Ciri “Ilmuwan Casing” dalam Birokrasi, yaitu:

1. Mengutamakan gelar dan penampilan (CV gemuk, portofolio mentereng, tapi tidak punya karya nyata).

2. Pintar retorika, miskin implementasi (Bisa membuat presentasi memukau, tapi pelaksanaan di lapangan berantakan).

3. Cari muka, bukan cari solusi (Lebih fokus pada pencitraan di media sosial daripada menyelesaikan masalah publik).

4. Anti kritik dan defensif (Ketika ditanya, marah atau mengalihkan isu, seperti ilmuwan palsu dalam kisah Abu Nawas).

5. Mementingkan jabatan, bukan tanggung jawab (Gelar dan posisi hanya dijadikan alat untuk mendongkrak gengsi, bukan untuk melayani).

Mengapa Ini Berbahaya? Ketika birokrasi dipimpin oleh “ilmuwan casing”, dampaknya fatal:

1. Kebijakan dibuat berdasarkan teori mentah, tanpa pemahaman mendalam.

2. Program pemerintah jadi sekadar proyek pencitraan, tidak menyentuh akar masalah.

3. Publik kecewa, karena yang dijanjikan di atas kertas tidak terjadi di lapangan.

4. Aparatur muda yang idealis menjadi frustrasi, karena yang dipromosikan bukan yang kompeten, melainkan yang pandai “berpenampilan”.

Membedakan Ilmuwan Sejati dan “Casing” dalam Rekrutmen ASN

Abu Nawas memberikan tujuh prinsip ilmuwan sejati, yang bisa kita terjemahkan dalam sistem SDM aparatur, yaitu:

1. Utamakan integritas, bukan gelar. Rekrutmen dan promosi harus melihat rekam jejak integritas, bukan sekadar ijazah.

2. Karya nyata lebih berharga daripada retorika. Ukur kinerja dari dampak program, bukan dari laporan yang ditulis indah.

3. Sikap rendah hati dan mau belajar. Ilmuwan sejati tidak merasa paling tahu, tetapi selalu terbuka pada masukan.

4. Berani menyuarakan kebenaran. Meskipun bertentangan dengan atasan atau kebijakan populer.

5. Fokus pada solusi, bukan pencitraan. Tidak mencari pujian, tetapi menyelesaikan masalah.

6. Kolaboratif, tidak egois. Mau bekerja sama, tidak ingin selalu menjadi pusat perhatian.

7. Konsisten antara kata dan perbuatan. Tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga melaksanakan.

Inovasi Sistem SDM untuk Menghadirkan “Ilmuwan Sejati”

Kita perlu sistem yang tidak mudah tertipu oleh penampilan. Inovasinya meliputi:

1. Assessment Center Berbasis Studi Kasus Nyata. Calon pejabat (struktural) tidak hanya diwawancarai, tetapi diminta menyelesaikan simulasi masalah riil yang dihadapi pemerintah.

2. Platform “Karya Nyata Aparatur”. Setiap pegawai wajib mengunggah portofolio karya konkret yang telah dilakukan, yang bisa diverifikasi publik.

3. Sistem Penilaian 360° dengan Bobot Kebermanfaatan. Penilaian tidak hanya dari atasan, tetapi juga dari rekan, bawahan, dan masyarakat yang merasakan langsung dampak kerjanya.

4. Program “Gelar Harus Berkarya.” Pegawai yang menempuh pendidikan lanjut harus membuktikan kontribusi nyata setelah lulus, bukan sekadar menambah gelar.

5. Mekanisme “Ujian Kejujuran Intelektual.” Setiap kebijakan atau laporan yang dihasilkan harus melalui uji validitas data dan keorisinilan gagasan.

Birokrasi Butuh Abu Nawas, Bukan Ilmuwan Palsu

Abu Nawas datang dengan cermin sederhana, tetapi mampu membongkar topeng ilmuwan palsu. Kita pun membutuhkan lebih banyak “Abu Nawas” dalam birokrasi. Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berani bertanya, kritis, dan tidak silau oleh gelar atau penampilan.

Birokrasi yang sehat bukan diisi oleh mereka yang paling banyak gelarnya, tetapi oleh yang paling tulus kontribusinya. Karena gelar bisa diraih, penampilan bisa direkayasa, tetapi integritas dan kebermanfaatan tidak bisa dipalsukan.

“Jangan tertipu oleh jubah dan gelar. Lihatlah karyanya, ukur dampaknya dan nilai integritasnya.”

Mari bangun birokrasi yang dihuni oleh ilmuwan sejati, bukan sekadar “casing” yang kosong.

Tulisan ini terinspirasi dari kisah Abu Nawas dan refleksi tentang pentingnya substansi dalam pengembangan SDM aparatur.

Penulis: Andriandi Daulay (Analis Kepegawaian Madya Kanwil Kemenag Provinsi Riau). (UYR/Kemenag)

Share This:

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved