Follow us:

SOSOK AL MAHDI

Oleh: Ustadz Ihsan Tanjung

Bila Dajjal berkaitan erat dengan kebatilan, maka sosok Al Mahdi justru berada pada posisi kebenaran dan akan menjadi pemimpin kaum mukminin. Sebelum memasuki pembahasan, maka perlu dipahami bahwa kaum syi’ah sangat peduli tentang Al Mahdi, dan bisa dikatakan bahwa kelompok syi’ah lah yang mendominasi pembicaraan tentang Al Mahdi. Sedemikian dominannya mereka dalam membicarakan Al Mahdi, sehingga sebagian kaum muslimin salah persepsi jika ada sebagian mereka yang bicara tentang Al Mahdi langsung dikaitkan dengan syi’ah, padahal Al Mahdi bukan hanya terkait syi’ah tetapi ia juga termasuk sosok yang terkait dengan akhir zaman dan fitnah yang terjadi di era tersebut.

Saking dominannya pembicaraan al Mahdi oleh syi’ah, tidak jarang tokoh-tokoh islam sunni yang mengingkari adanya Al Mahdi, karena mereka tidak ingin dianggap terpengaruh oleh syi’ah. Padahal nash-nash dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tentang Al Mahdi cukup banyak, dan tidak sedikit yang palsu. Kenapa palsu? Karena hadits tersebut dibuat oleh kaum syi’ah yang sangat terkenal dengan pembuatan hadits palsu.

Oleh karena itu, pembicaraan tentang Al Mahdi menjadi sangat penting agar kita tidak termasuk orang-orang yang mengingkari munculnya Al Mahdi dan terhindar dari khurafat-khurafat terkait Al Mahdi yang dikembangkan oleh kaum syi’ah.

Sebab, musuh-musuh islam juga belajar islam namun bukan untuk menegakkan islam tapi untuk menyebarluaskan distorsi di tengah umat islam tentang ajaran islam, diantaranya adalah belajar tentang Al Mahdi. Setelah musuh-musuh islam sadar akan bahayanya Al Mahdi, maka mereka akan membuat Al Mahdi-Al Mahdi palsu.

Kemunculan Al Mahdi ini mirip dengan munculnya Nabi Isa di akhir zaman, bedanya kita berurusan dengan kaum syi’ah jika bicara tentang Al Mahdi, dan berurusan dengan kaum Nashrani jika bicara tentang nabi Isa Alaihissalam. Namun sudah barang tentu konsepsi islam tentang turunnya Nabi Isa di akhir zaman sangat berbeda dengan konsepsi orang-orang Nashrani. Begitu juga pemahaman kaum syiah tentang Al Mahdi jauh berbeda dengan pemahaman yang dipegang oleh umat islam.

Sebagai contoh, kaum syiah meyakini bahwa Al Mahdi merupakan imam ke-dua belas mereka, sementara Khumaini dalam bukunya “Al Hukumah Al Islamiyah” jelas mengatakan, “bagi kami kaum syi’ah, kedudukan imam-imam kami lebih tinggi daripada Malaikat dan para Nabi. Sehingga mereka memperlakukan imam mereka setara dengan Allah.

Contoh lainnya, kaum syiah meyakini bahwa jika Al Mahdi muncul, ia memiliki kemampuan menghidupkan orang mati. Dan diantara orang yang akan dihidupkan kembali oleh Al Mahdi adalah Abu Bakar dan Umar bin Khatthab Radhiallahu Anhum untuk disiksa dan disalib oleh kaum syiah. Inilah diantara kebatilan keyakinan orang-orang syiah.

Nama, Asal Usul, Saat Kehadiran Dan Ciri-Ciri Al Mahdi

Marilah kita mulai mengkaji berbagai nash dari hadits-hadits shohih mengenai Al-Mahdi. Marilah kita kenali sedapat mungkin apa saja yang menjadi kriteria Al-Mahdi. Di antaranya ialah:

Al-Mahdi memiliki nama seperti nama Nabi kita dan nama ayahnya seperti nama ayah Nabi kita. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا يَوْمٌ لَطَوَّلَ اللَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ فِيهِ ، رجل مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمُ أَبِي، يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا

“Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah Ta’ala akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan”. (HR. Abu Dawud)

Jadi Al Mahdi bukanlah nama melainkan sebuah gelar yang berarti (lelaki yang mendapat petunjuk).

Ummu Salamah Radhiallahu Anha, Ummul Mukminin, menceritakan bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

الْمَهْدِيْ مِنْ عِتْرَتِيْ مِنْ وَلَدِ فَاطِمَةَ

“Al-Mahdi adalah dari keturunanku, dari anak cucu Fatimah.” (HR. Abu Daud & Ibnu Majah)

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Fatimah menikah dengan Ali kemudian memiliki dua anak lelaki yaitu Hasan dan Husain. Dan ahlussunah wal jama’ah tidak mempermasalahkan Al Mahdi berasal dari keturunan Hasan ataupun Husain. Walaupun ada sebagian ulama sunni yang condong meyakini bahwa Al Mahdi berasal dari keturunan Hasan.

Sebagaimana dijelaskan dalam Sunan Abu Dawud dari Abu Ishaq disebutkan bahwa ‘Ali memandangi puteranya, Hasan seraya berkata, “Puteraku ini akan menjadi orang besar sebagaimana disebutkan oleh Nabi saw; dan akan keluar dari sumsumnya seorang laki-laki bernama sama dengan nama Nabi kalian; akhlaknya sama dengan akhlak Nabi kalian tetapi tidak dengan perawakannya.” Lantas ia menyebutkan kisah dan berkata, “Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan.”

Lalu kenapa kaum syiah sangat meyakini bahwa Al Mahdi berasal dari keturunan Husain? Karena agama syiah pada hakekatnya adalah agama ras (agama yang terkait darah keturunan). Dan juga dikarenakan Husain bin Ali bin Abi Thalib pernah menikahi putri Persia, dari jalur pernikahan inilah kaum syiah meyakini Imam-imam itu bermunculan. Kaum syiah mempunyai pemahaman bahwa orang itu dikatakan syiah kalau ia berdarah Persia. Jika tidak, ia hanya menjadi syiah KW.

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: الْمَهْدِيْ مِنِّيْ أَجْلَى الْجَبْهَةِ أَقْنَى الأَنْفِ يَمْلأَ الأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا وَ يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِيْنَ

Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Al-Mahdi dari (keturunan)ku. Berdahi lebar dan berhidung mancung. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana telah terpenuhi dengan kezhaliman dan perilaku durjana. Ia akan berkuasa selama tujuh tahun”. (HR. Abu Dawud dan Al Hakim)

Peristiwa Sebelum Datangnya Al Mahdi

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam memprediksi adanya dua fenomena yang menjadi pra-kondisi menjelang diutusnya Al-Mahdi ke tengah ummat. Pertama, gejala sosial berupa perselisihan antar-manusia dan kedua, gejala alam berupa gempa-gempa yang berdatangan silih-berganti.

أُبَشِّرُكُمْ بِالْمَهْدِيِّ يُبْعَثُ فِي أُمَّتِي عَلَى اخْتِلَافٍ مِنْ النَّاسِ، وَزَلَازِلَ فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا

“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Maka ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman”. (HR Ahmad)

Tanda-tanda yang disebutkan dalam hadits di atas hanya merupakan sebagian saja dari seluruh tanda-tanda kecil Kiamat. Bila kita kaitkan dengan realitas kondisi masyarakat dunia dewasa ini, jelas terlihat bahwa seluruh tanda-tanda kecil di atas telah menjadi kenyataan. Dan bila kita buka kitab para ulama mengenai tanda-tanda kecil Kiamat, lalu kita membacanya satu per satu, hampir pasti di dalam hati kita akan berkomentar: ”Waduh, yang ini sudah…. yang ini juga sudah…!”

Bila dunia telah dihiasi dengan dua fenomena nyata, yaitu fenomena sosial berupa perselisihan antar-manusia yang sangat tampak dan fenomena alam yaitu banyaknya gempa, maka itu berarti dekatnya kehadiran Al-Mahdi ke tengah ummat. Sedangkan kedua fenomena tersebut dewasa ini sudah sangat tampak. Perselisihan antar-manusia dewasa ini sudah sangat memprihatinkan. Sesama pendukung ideologi sekuler atau demokrasi berselisih. Sesama anggota organisasi, gerakan, partai Islam berselisih. Demikian pula dengan fenomena gempa. Begitu dahsyat terjadi belakangan ini. Sehingga diberitakan bahwa sepanjang bulan Oktober 2009 lalu, di Indonesia saja telah terjadi sebanyak 54 gempa…!! Bagi Anda yang tertarik akan hal ini silahkan lihat situswww.USGS.com. Situs semacam BMKG milik AS itu melaporkan setiap gempa yang terjadi di berbagai titik di seluruh dunia lengkap dengan info skala richter-nya. Anda akan terkejut mendapati fakta bahwa sekitar lima hingga sepuluh tahun belakangan ini frekuensi gempa meningkat secara signifikan..!!

Maka, saudaraku, perlu kita sadari bahwa dunia benar-benar telah mencapai usia senja. Kemunculan tanda-tanda kecil hampir tuntas seluruhnya, maka itu berarti kita sudah harus bersiap-siaga menyongsong datangnya tanda-tanda besar Kiamat. Dan jangan lupa, sebagian ulama mengatakan bahwa tanda besar pertama, yaitu keluarnya Dajjal, tidak akan terjadi sebelum munculnyatanda penghubungantara tanda-tanda kecil dengan tanda-tanda besar Kiamat. Tanda penghubung itu ialah diutusnya seorang lelaki dari keturunan Nabi Muhammad yang akan memenuhi dunia dengan keadilan dan kejujuran setelah dunia diselimuti dengan kezaliman dan kesewenang-wenangan. Lelaki itulah yang dikenal sebagai Al-Mahdi.

Jadi, dibalik buruknya perselisihan antar-manusia, banyaknya gempa dan meratanya kezaliman di muka bumi, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita agar menanamkan keyakinan bahwa semua fenomena tersebut justeru menandakan sudah dekatnya kedatangan Al-Mahdi.  Itu semua justeru menandakan bahwa sangat boleh jadi saatnya ummat Islam beralih dari babak keempat kepemimpinan para mulkan jabriyyan menuju babak kelima kepemimpinan khalifah Al-Mahdi sudah sangat dekat.

Ringkasan Sejarah Umat Islam

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّا فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

“Masa (1) kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa (2) Kekhalifahan mengikuti Minhaj (metode) Kenabian, selama beberapa masa hingga Allah mengangkatnya, kemudian datang masa (3) Raja-raja yang Menggigit selama beberapa masa, selanjutnya datang masa (4) Raja-raja/para penguasa yang memaksakan kehendak (diktator) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, setelah itu akan terulang kembali (5) Kekhalifahan mengikuti Minhaj (metode) Kenabian. Kemudian Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam terdiam.” (HR. Ahmad – Shahih)

Mukmin tahu dan yakin bahwa masalah kejayaan dan keruntuhan suatu umat merupakan sunnatullah yang telah digariskan Allah Ta’ala. Ada gilirannya kaum kafir berjaya dan akan ada saatnya kaum kafir mengalami keruntuhan. Ada gilirannya kaum beriman merasakan derita kekalahan dan akan tiba saatnya kaum beriman meraih kemuliaan dan kejayaan.

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (QS. Ali Imran: 140)

Maka di dalam hadits di atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam  menegaskan bahwa sesudah babak paling kelam ini umat Islam akan berjaya kembali dengan datangnya babak kelima yaitu tegaknya khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah (kekhalifahan yang mengikuti metode kenabian). Tegaknya kekhalifahan tersebut akan ditandai dengan di-bai’atnya pemimpin kaum beriman yang bergelar Al-Mahdi (laki-laki yang mendapat petunjuk). Al-Mahdi akan di-baiat di depan Ka’bah di Mekkah. Itulah sebagian dari rangkaian peristiwa akhir zaman yang sudah di-nubuwwah-kan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berita gembira untuk orang beriman. Untuk lebih lengkapnya silahkan merujuk kepada berbagai tulisan dan penjelasan tentang ini.

Peristiwa Yang Menyertai Bersamaan Dengan Tampilnya Al Mahdi

 

Kedatangan Al Mahdi ditandai dengan munculnya tiga peristiwa yaitu (a) wafatnya seorang pemimpin sehingga menimbulkan kekacauan berkepanjangn setelah wafatnya pemimpin itu (b) terjadinya pembaiatan paksa seorang lelaki di depan Ka’bah dan (c) dibenamkannya ke dalam bumi suatu pasukan yang berangkat dari arah utara untuk menangkap Al-Mahdi dan orang-orang yang berbai’at dengannya itu (d) kemudian Allah Ta’ala memperbaiki Al Mahdi dalam satu malam (yakni memberinya taubat, taufik, memberinya pemahaman serta bimbingan padahal sebelumnya tidak seperti itu).

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه: الْمَهْدِيْ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ يُصْلِحُهُ اللهُ فِيْ لَيْلَةٍ

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Al-Mahdi adalah dari keturunan kami, ahli bait, Allah memperbaikinya (memberi taufik dan hidayah) dalam sehari”. (HR. Ibnu Majah dan Abu Dawud)

Pembaiatan Al-Mahdi akan berlangsung di depan Ka’bah. Pembai’atannya terjadi ketika matinya seorang khalifah atau seorang pemimpin. Gelombang pertama yang membai’atnya terdiri dari sejumlah orang yang mirip dengan jumlah pasukan perang Badar yaitu sekitar 313 orang saja. Pembai’atannya dilakukan dengan paksaan karena Al-Mahdi sendiri sebenarnya menolak untuk dibai’at. Sesudah itu akan ada seorang penguasa zalim dari Syam mengutus pasukan untuk memerangi Al-Mahdi dan orang-orang yang berbai’at kepadanya. Tetapi taqdir Allah mendahului mereka, pasukan tersebut dibenamkan Allah ke dalam bumi di sebuah padang pasir terbuka antara Madinah dan Mekkah.  Begitu kabar pembenaman pasukan itu tersiar ke seluruh dunia, maka berdatanganlah gelombang kedua kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia untuk membai’at Al-Mahdi di depan Ka’bah. Dan secara khusus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan di antara mereka ialah orang-orang terbaik dari Syam dan Iraq.

يَكُونُ اخْتِلَافٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيُخْرِجُونَهُ وَهُوَ كَارِهٌ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ فَيُخْسَفُ بِهِمْ بِالْبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ فَإِذَا رَأَى النَّاسُ ذَلِكَ أَتَاهُ أَبْدَالُ الشَّامِ وَعَصَائِبُ أَهْلِ الْعِرَاقِ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ ثُمَّ يَنْشَأُ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ أَخْوَالُهُ كَلْبٌ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِمْ بَعْثًا فَيَظْهَرُونَ عَلَيْهِمْ وَذَلِكَ بَعْثُ كَلْبٍ وَالْخَيْبَةُ لِمَنْ لَمْ يَشْهَدْ غَنِيمَةَ كَلْبٍ فَيَقْسِمُ الْمَالَ وَيَعْمَلُ فِي النَّاسِ بِسُنَّةِ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُلْقِي الْإِسْلَامُ بِجِرَانِهِ فِي الْأَرْضِ فَيَلْبَثُ سَبْعَ سِنِينَ ثُمَّ يُتَوَفَّى وَيُصَلِّي عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Akan terjadi perselisihan saat matinya khalifah, lalu seorang laki-laki (Al-Mahdi) akan keluar dari Madinah pergi menuju Makkah. Lantas beberapa orang dari penduduk Makkah mendatanginya. Mereka memaksanya keluar (dari dalam rumah) meskipun ia tidak menginginkannya. Orang-orang itu kemudian membaiatnya pada suatu tempat antara Rukun (Hajar Aswad) dan Maqam (Ibrahim). Lalu dikirimlah sepasukan dari penduduk Syam untuk memeranginya, tetapi pasukan itu justru ditenggelamkan (Allah) di Al-Baida, tempat antara Makkah dan Madinah. Maka ketika manusia melihat hal itu, maka orang-orang shalih dari Syam dan orang-orang terbaik dari penduduk Irak membaiatnya antara rukun dan Maqam.. Lalu tampillah seorang laki-laki dari bangsa Quraisy, paman-pamannya dari suku Kalb. Ia lalu mengirimkan pasukan untuk memerangi mereka (orang-orang yang berbaiat kepada Al-Mahdi) namun (Al-Mahdi dan pasukannya) dapat mengalahkan  mereka. Alangkah ruginya orang yang tidak ikut serta dalam pembagian ghanimah perang suku Kalb. Ia (Al-Mahdi) lalu membagi ghanimah, dan ber’amal di tengah manusia dengan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan Islam ke seluruh penduduk bumi. Ia berkuasa selama tujuh tahun, kemudian wafat dan kaum muslimin menyolatkannya.” (HR. Abu Dawud – Sanadnya Hasan)

Kenapa Al Mahdi Harus Dibai’at Secara Paksa?

  1. Karena Al Mahdi adalah sosok lelaki yang tidak punya ambisi kepemimpinan. Dan memang inilah salah satu ciri dan karakter orang-orang bertakwa.
  2. Karena Al Mahdi tidak mengetahui bahwa dirinya adalah Al Mahdi. Demikianlah cara Allah menyelamatkan hamba-Nya yang akan menjadi pemimpin di akhir zaman.

Ketika Al-Mahdi telah dibai’at oleh gelombang kedua, maka Al-Mahdi segera memiliki pasukan bersenjata yang selanjutnya mengalahkan suatu pasukan yang dipimpin seorang Quraisy. Pemimpin Quraisy itu didukung oleh paman-pamannya dari suku Kalb yang kaya. Sesudah itu Al-Mahdi akan membebaskan negeri demi negeri.

Al-Mahdi akan mengibarkan panji-panji Al-Jihad Fi Sabilillah untuk memerdekakan negeri-negeri yang selama ini dikuasai oleh para Mulkan Jabriyyan (Para penguasa yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya). Al-Mahdi akan mengawali suatu proyek besar membebaskan dunia dari penghambaan manusia kepada sesama manusia untuk hanya menghamba kepada Allah semata, Rabb dan Raja tunggal langit dan bumi. Al-Mahdi akan memastikan bahwa dunia diisi dengan sistem dan peradaban yang mencerminkan kalimah thoyyibah لا إله إلا الله محمد رسول الله dari ujung dunia paling timur hingga ujung paling barat. Al-Mahdi akan memimpin umat Islam di akhir zaman untuk berpindah dari babak keempat kepemimpinan Mulkan Jabriyyan kepada babak kelima Khilafah ‘ala Minhaj An-Nubuwwah. Al-Mahdi dengan izin Allah akan mengisi bumi dengan keadilan sesudah bumi dipenuhi dengan kezaliman.

فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا

“Maka Al-Mahdi akan memenuhi bumi secara merata dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi secara merata dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman”. (HR. Ahmad – para perawinya tsiqat)

Marilah kita siapkan diri-diri dan keluarga-keluarga kita menyongsong kehadiran Al-Mahdi. Pengertiannya adalah mari kita bersiap untuk segera mematuhi perintah Rasulullah dalam kaitan dengan kehadirannya.

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Al-Mahdi), maka berbai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah  Khalifatullah Al-Mahdi”. (HR Abu Dawud)

Oleh karenanya pada masa sekarang inilah kita wajib mengumpulkan sebanyak mungkin ilmu dan pegetahuan mengenai ciri-ciri tampilnya Al-Mahdi sesuai arahan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Jangan lupa, musuh-musuh Islam juga mempelajari hadits-hadits terkait akhir zaman, termasuk soal figur Al-Mahdi. Maka sangat mungkin bahwa mereka telah menyiapkan Al-Mahdi palsu versi mereka untuk menyesatkan kaum muslimin.

Saudaraku, berdasarkan hadits di atas, kita umat Islam diperintahkan untuk bersegera bergabung ke dalam barisan Al-Mahdi ketika ia telah hadir. Lalu ungkapan “walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju” mengisyaratkan bahwa hal itu tidak bakal mudah dilaksanakan. Boleh jadi ketika hari itu tiba media-media kuffar menjuluki pemimpin ummat tersebut sebagai the world’s number one terrorist….! Akankah kita turut mencapnya sebagai teroris, padahal Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menyuruh kita bergabung bersamanya? Atau kita akan tetap mematuhi arahan Rasulullah untuk ber-bai’at dengannya, walaupun dunia menuduhnya sebagai teroris?

Empat Peperangan Besar

Ketika Imam Mahdi sudah dibai’at maka dia akan memimpin pasukan Islam dalam empat perang besar yang tidak lama waktunya. Pertama, perang melawan penguasa semenanjung Arab (Arab Saudi, Yaman, Oman, Uni Emirat, Abu Dhabi, Qatar, Kuwait). Kedua, perang melawan penguasa zhalim Persia (Iran, Irak, Syria, sebagian Turki dan Lebanon). Ketiga, perang melawan Rum atau Eropa. Dan terakhir perang melawan Dajjal dan 70 ribu tentara Yahudi. Semuanya dimenangkan pasukan Islam dengan gemilang.

تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ،  ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ فَيَفْتَحُهُ اللَّهُ

“Kalian akan perangi jazirah Arab sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian (kalian perangi) Persia sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Ruum sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Dajjal sehingga Allah menangkan kalian atasnya.” (HR. Muslim)

Perang pasukan Islam melawan pasukan Romawi disebut sebagai Al-Malhamah (perang besar). Sebab di dalam perang itu pihak Romawi mengerahkan pasukan dalam jumlah yang sangat besar mendekati satu juta personil..!

فَيَجْتَمِعُونَ للمَلْحَمَةِ فَيَأْتُونَكُمْ تَحْتَ ثمانين غاية تحت كل غاية اثنا عشر ألفاً

Maka mereka (Ruum) mengkonsolidasi diri untuk Al-Malhamah (perang besar) sehingga mereka mendatangi kalian dengan delapanpuluh bendera di bawah setiap bendera duabelas ribu personil.” (HR Abu Dawud – Shahih)

Sesudah Al-Malhamah (perang besar) melawan Romawi kemudian pasukan Islam akan membebaskan Konstantinopel atau Istanbul di Turki. Dan sesudah itulah pasukan Islam akan berkonsolidasi dan berhadapan untuk berperang melawan Ad-Dajjal beserta pasukannya di Syam.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَخُرُوجُ الْمَلْحَمَةِ فَتْحُ قُسْطَنْطِينِيَّةَ وَفَتْحُ قُسْطَنْطِينِيَّةَ خُرُوجُ الدَّجَّال

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kemunculan Al-Malhamah (perang besar) adalah penaklukkan Kostantinopel, penaklukkan Kostantinopel adalah keluarnya Ad-Dajjal.” (HR Ahmad – Shahih)

Pasukan Islam berhasil menaklukkan Konstantinopel. Ketika mereka sedang mengumpulkan ghanimah (harta rampasan perang), tiba-tiba terdengar kabar bahwa Ad-Dajjal telah keluar. Maka pasukan Islam segera mengkonsolidasi diri dan kembali ke Syam, negeri asal mereka sekaligus benteng pertahanan terbaik ummat Islam di akhir zaman.

هَلْ سَمِعْتُمْ بِمَدِينَةٍ جَانِبٌ مِنْهَا فِي الْبَرِّ وَجَانِبٌ مِنْهَا فِي الْبَحْرِ؟ قَالُوا نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ ” لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَغْزُوَهَا سَبْعُونَ أَلْفًا مِنْ بني إِسحاق فَإِذا جاؤوها نَزَلُوا فَلَمْ يُقَاتِلُوا بِسِلَاحٍ وَلَمْ يَرْمُوا بِسَهْمٍ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ فَيَسْقُطُ أحدُ جانبيها. – قالَ ثورُ بنُ يزِيد الرَّاوِي لَا أَعْلَمُهُ إِلَّا قَالَ -: ” الَّذِي فِي الْبَحْر يَقُولُونَ الثَّانِيَةَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ فَيَسْقُطُ جَانِبُهَا الْآخَرُ ثُمَّ يَقُولُونَ الثَّالِثَةَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ فَيُفَرَّجُ لَهُم فيدخلونها فيغنمون فَبينا هُمْ يَقْتَسِمُونَ الْمَغَانِمَ إِذْ جَاءَهُمُ الصَّرِيخُ فَقَالَ إِنَّ الدَّجَّالَ قَدْ خَرَجَ فَيَتْرُكُونَ كُلَّ شَيْءٍ ويرجعون ”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pernahkah kalian mendengar sebuah kota yang pada satu sisinya terdapat daratan dan pada sisi yang lain terdapat lautan?” Para sahabat menjawab: Ya, wahai Rasulullah. Beliau melanjutkan: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kota itu diperangi oleh tujuh puluh ribu orang dari keturunan bani Ishaq. Jika mereka telah mendatanginya, mereka turun ke medan perang akan tetapi mereka tidak memerangi dengan menggunakan senjata pedang ataupun panah. Mereka hanya mengucap; ‘LAA ILAAHA ILLALLAAH WALLAAHU AKBAR, ‘ lalu salah satu sisinyapun dapat ditaklukkan -Tsaur berkata: Yang aku tahu beliau hanya menyebut: Yang terdapat di lautan- kemudian untuk yang kedua kalinya mereka mengucapkan: ‘LAA ILAAHA ILLALLAAH WALLAAHU AKBAR, ‘ lalu satu sisi yang lainnya pun ditaklukkan, kemudian untuk yang ketiga kalinya mereka mengucapkan: ‘LAA ILAAHA ILLALLAAH WALLAAHU AKBAR, ‘ lalu dibukakanlah benteng pertahanan mereka sehingga mereka dapat memasukinya dan mengambil harta rampasannya. Dan ketika mereka sedang membagi-bagikan harta rampasan, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan: Sesungguhnya Ad-Dajjal telah keluar. Merekapun meninggalkan segala sesuatu yang ada dan kembali (ke negeri mereka).” (HR Muslim – Shahih)

Namun kabar bahwa Ad-Dajjal telah keluar -bahkan telah menguasai keluarga-keluarga mujahidin- yang didengar pasukan Islam sewaktu mereka masih di Konstantinopel tersebut ternyata merupakan sebuah hoax (kabar bohong). Ad-Dajjal baru keluar sesudah pasukan Islam tiba kembali di Syam.

فَيَفْتَتِحُونَ قُسْطَنْطِينِيَّةَ فَبَيْنَمَا هُمْ يَقْتَسِمُونَ الْغَنَائِمَ قَدْ عَلَّقُوا سُيُوفَهُمْ بِالزَّيْتُونِ إِذْ صَاحَ فِيهِمْ الشَّيْطَانُ إِنَّ الْمَسِيحَ قَدْ خَلَفَكُمْ فِي أَهْلِيكُمْ فَيَخْرُجُونَ وَذَلِكَ بَاطِلٌ فَإِذَا جَاءُوا الشَّأْمَ خَرَجَ

“… Lalu selanjutnya mereka menaklukkan Konstantinopel. Dan ketika mereka sedang membagi-bagi harta rampasan perang dan tengah menggantungkan pedang-pedang mereka pada pohon zaitun, tiba-tiba syetan meneriaki mereka ‘Sesungguhnya Al Masih (Ad-Dajjal) telah menguasai  keluarga kalian,” merekapun berhamburan keluar, dan ternyata itu hanyalah kebohongan belaka. Ketika mereka mendatangi Syam, barulah (Ad-Dajjal) muncul.” (HR Muslim –Shahih)

Berarti kita dapat menyimpulkan bahwa di antara indikasi keluarnya Ad-Dajjal ialah sesudah berakhirnya Al-Malhamah (perang besar) antara pasukan Islam pimpinan Al-Mahdi melawan pasukan Romawi. Lalu dilanjutkan dengan pembebasan kota Konstantinopel di Turki.

Dan hal ini menegaskan bahwa Ad-Dajjal tidak keluar sebelum tampilnya pemimpin kaum beriman di akhir zaman yaitu Al-Mahdi. Bahkan Ad-Dajjal tidak keluar sebelum Al-Mahdi berhasil mengkonsolidasi dan memobilisasi kaum muslimin yang menjadi pasukannya untuk memenangkan berbagai peperangan. Perang penaklukan jazirah Arab, kemudian Persia dan terakhir  Romawi.

Ketika Imam Mahdi sedang berkonsolidasi di Damaskus (Suriah), waktu shalat Shubuh tiba. Iqamat dikumandangkan, lalu Imam Mahdi hendak maju menjadi imam. Muncul tanda besar kedua akan terjadinya hari kiamat, yaitu Isa ‘Alaihissalam turun di Menara Putih, masjid sebelah timur Damaskus.

“Auf bin Malik al-Asyja’iy berkata: Aku menemui Nabi saw lalu aku ucapkan salam. Nabi saw:Auf ? Aku: Ya, benar. Nabi saw: Masuklah. Aku: Semua atau aku sendiri? Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berkata: Masuklah semua. Kemudian Rasulullah bersabda: Wahai Auf, hitung ada enam tanda Kiamat. Pertama, kematianku. Aku: Kalimat Nabi saw ini membuatku menangis sehingga Nabi membujukku untuk diam. Aku lalu menghitung: satu. Nabi melanjutkan: Penaklukan Baitul Maqdis. Aku: Dua. Nabi melanjutkan: Kematian yang akan merenggut umatku dengan cepat seperti wabah kematian kambing. Aku: Tiga. Nabi melanjutkan: Konflik dahsyat yang menimpa umatku. Aku: Empat. Nabi melanjutkan: Harta membumbung tinggi nilainya hingga seseorang diberi 100 dinar masih belum puas. Aku: Lima. Nabi melanjutkan: Terjadi gencatan senjata antara kalian dengan Bani Ashfar (bangsa pirang), lalu mereka mendukung kalian dengan 80 tujuan. Aku: Apa maksud tujuan? Nabi saw: Maksudnya panji. Pada tiap panji terdisi dari 12.000 prajurit. Benteng umat Islam saat itu di wilayah yang disebut Ghouthoh, daerah sekitar kota Damaskus.” (HR. Imam Ahmad)

Catatan: Daerah bernama Ghauthah masih ada hingga kini, tak berubah namanya, dan letaknya memang dekat Damaskus.

Imam Mahdi memohon agar Isa yang menjadi imam shalat. Namun Isa Alaihissalam menolak, “Demi Allah, inilah kelebihan ummat Muhammad, sebagian engkau menjadi pemimpin sebagian umat lainnya. Engkau pemimpin umat ini, Imam Mahdi, Engkau yang memimpin shalat. Aku menjadi ma’mum”.

Sesudah shalat, mereka bertolak menuju hari bertemunya dua pasukan. Yaitu pasukan kaum Muslimin yang dipimpin Imam Mahdi dan Nabi Isa Alaihissalam, melawan pasukan Yahudi yang dipimpin Dajjal. Perang ini akan berlangsung di dekat Masjidil Aqsha atau Baitul Maqdis, di sekitar bukit Armagido, dan sebab itu peperangan akhir zaman tersebut juga akrab disebut sebagai Perang Armageddon.

Catatan hitam sejarah kejahatan dan pengrusakan kaum Yahudi menyebabkan mereka pantas menjadi pihak yang paling menanti dan menyambut kedatangan Dajjal. Sehingga wajarlah bilamana Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam menginformasikan kepada kita bahwa pada saat kemunculan Dajjal untuk menebar puncak fitnah dan kekacauan di muka bumi, maka kumpulan manusia yang bakal menjadi pendukung utamanya ialah bangsa Yahudi. Bahkan mereka akan menjadi prajurit-prajurit utama pasukan Dajjal.

“Dajjal akan keluar dari kampung Yahudiyyah kota Ashbahan bersama 70.000 orang yahudi yang mengenakan topi.” (Ahmad 26/412)

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Tidak akan terjadi Hari Kiamat sehingga kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi sampai Yahudi berlindung di balik batu & pohon lalu batu atau pohon berbicara “Hai Muslim, hai hamba Allah, ini Yahudi di belakangku, kemari, bunuhlah dia,” kecuali ghorqod sebab ia sungguh termasuk pohon orang Yahudi.” (Muslim 4/140)

Dajjal akhirnya akan tewas ditusuk tombak oleh Nabi Isa Alaihissalam di pintu Lod, salah satu gerbang Baitul Maqdis. Nabi Isa Alaihissalam lalu mengangkat tinggi-tinggi tombak itu, agar orang-orang yang selama ini percaya pada Dajjal dan menganggapnya sebagai Tuhan, menyadari kesalahannya. Kekhalifahan Islam pun berdiri untuk terakhir kalinya. Kemakmuran akan terjadi di mana-mana. Pada masa itu tetap ada orang kafir, sampai pada masa tertentu Allah Subhanahu Wa Ta’ala mendatangkan tanda akhir zaman, yaitu hembusan angin sepoi-sepoi dari arah Yaman (selatan).

Hal ini terjadi setelah wafatnya Isa Alaihissalam. Semua orang Islam, walau yang hanya punya keimanan sebiji dzarrah, akan menghirup udara itu dan meninggal dengan penuh damai. Itulah akhir dari umur umat Islam.

Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved