Follow us:

Air Mata Rindu Nurhayati dari Masjid Quba untuk Keluarga di Indonesia

Di perjalanan Madinah-Makkah, kami berziarah ke Masjid Quba Madinah. Kami berniat menunaikan shalat jamak taqdim Zuhur dan ashar di masjid yang bernuansa putih menawan ini. Usai shalat, ada penjaga Masjid, seorang wanita berperawakan gemuk dan bercadar. Dia tiba-tiba menyapa kami. “Indonesia?” tanya dia, Rabu (18 Juni 2025).

Kami bertiga dari tim Media Center Haji (MCH) PPIH Arab Saudi menjawab “Ya.”

“Masya Allah Indonesia. Saya juga dari Indonesia,” sapanya gembira menemukan saudara setanah air.

Kami lantas terlibat obrolan yang penuh haru. Namanya Nurhayati, usia 55 tahun. Nurhayati adalah TKI di Arab Saudi yang berasal dari Banten. Ia sudah mengabdi di Masjid yang pertama kali didirikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di kota Madinah ini sejak enam tahun silam.

Awalnya, Nurhayati ingin mencari nafkah pasca meninggalnya suami untuk keberlangsungan hidup anak-anaknya. Kemudian ia ditawari bekerja di Arab Saudi. “Suami saya sudah meninggal. Saya punya anak 3. Setelah sempat menganggur beberapa tahun, saya akhirnya mengambil pekerjaan di Arab Saudi melalui syarikah,” kata Nurhayati.

Mulanya ia bekerja di Masjid Bir Ali. Tempat yang menjadi salah satu miqat ihram para jamaah haji maupun umrah dari Indonesia yang terletak sekitar 11 km dari Kota Madinah.

Setelah 9 tahun bekerja di Masjid Bir Ali, Nurhayati pindah ke Masjid Quba. Dan kini sudah memasuki tahun ke-6 ia menjalani aktivitasnya sehari-hari bersama rekan-rekannya. Ada yang dari Indonesia ataupun negara lain seperti Bangladesh.

Setiap kali berjumpa dengan orang Indonesia yang dengan beribadah di Masjid Quba, ia selalu menyapa. Ia mengaku senang bisa bertemu dengan jamaah Indonesia, karena serasa berjumpa dengan saudara sekampung halaman.

“Saya senang sekali kalau bertemu dengan orang Indonesia. Saya selalu merasa berada di tanah air sendiri,” katanya.

Tak jarang, ia selalu menantikan kehadiran orang Indonesia di Masjid Quba ini. “Masjid selalu ramai dengan orang Indonesia,” katanya.

Ia juga menceritakan pertemuannya dengan Ibu Iriana Jokowi. “Saat Ini Iriana Jokowi berziarah dan shalat di sini, Kemudian menyapa kami. Saya sangat senang,” ungkapnya.

Saya lantas tak tahan meneteskan air mata. Terlihat betapa rindunya ia akan tanah air serta 15 tahun berada di negeri orang. “Anak-anak saya di Indonesia. Yang satu ada Jawa, yang lainnya di Banten,” ungkap Nurhayati.

Ia hanya bisa pulang ke Indonesia setiap 2 tahun sekali, sama dengan para TKI lainnya. “Teman-teman saya sudah sukses sudah pulang ke tanah air, saya yang belum,” kata Nurhayati. Walaupun memakai cadar, tapi tetap terlihat sorot matanya yang berkaca-kaca, seolah ia ingin pulang juga ke tanah air.

“Tapi Allah sudah mentakdirkan yang terbaik untuk hamba-Nya. Mungkin takdir saya masih di sini,” sambungnya.

Ia merasa senang pula, karena di tanah haram, Arab Saudi begitu memuliakan jamaah Indonesia. ” Di sini Masya Allah, jamaah Indonesia sangat dimulaikan. Pemerintah Arab Saudi begitu perhatian kepada orang Indonesia,” katanya.

“Kalau tidak ada jamaah Indonesia, maka Syaikh Imam masjid ini selalu bertanya di mana orang Indonesia,” katanya haru.

Ia lantas berkirim salam kepada keluarganya di Indonesia melalui kami. Kebetulan salah satu rekan MCH, Putri Nurul Ilmi dari Metro TV dan Reni Kompas sempat mewawancarai Nurhayati untuk menyampaikan pesan kepada keluarganya di tanah air.

“Kangen banget sama keluarga sama akan anak-anak. Titip salam untuk mereka, semoga menjadi anak-anak yang shaleh, berbakti dan sukses dunia akhirat,” pesan Nurhayati.

Tibalah kami saatnya berpamitan kepada Nurhayati, karena kami harus melanjutkan perjalanan ke Makkah. Dengan air mata haru, kami berpelukan. Seolah masih ingin bersama. “Mbak-mbak semoga sukses berkarir ya. Jangan lupa ke sini lagi ya, kalau berziarah di tanah haram,” ajak Nurhayati.

“Ibu juga semoga sehat-sehat ibu. Selalu diberikan kesabaran,” kata kami.

Kami pun harus berpisah, meninggalkan kesan yang mendalam walaupun pertemuan hanya sebentar. Kisah Nurhayati memberikan pelajaran akan perjuangan seorang ibu untuk meneguhkan hati meninggalkan tanah air demi menafkahi keluarganya. Kendati harus menyimpan rindu mendalam, namun tanggung jawab untuk melayani tamu Allah menjadi kebanggaan tersendiri baginya. Apalagi di masjid Quba yang penuh berkah.

Masjid Quba sendiri adalah satu satu destinasi favorit ziarah jamaah haji Indonesia ketika haji ataupun umrah. Satu kali shalat di masjid ini, pahalanya sama dengan satu kali umrah. (UYR/Kemenag)

Share This:
Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved