Puasa Ramadhan Memanusiakan Manusia
Puasa Ramadhan, jelas sebuah desain amat serius yang Allah peruntukan bagi kita umat Islam sebagai hamba-Nya. Begitu besarnya manfaat puasa pada bulan agung ini, sampai- sampai agama menempatkan puasa Ramadhan sebagai salah satu rukun Islam.
Bahkan, kelengkapan seorang Muslim ditentukan pula oleh kelengkapannya dalam mengadopsi kelima rukun Islam dimaksud. Bila lepas, apalagi sengaja mengabaikan satu di antara kelima rukun itu, amat mungkin berkurang kelengkapannya sebagai seorang Muslim.
Begitulah hidup. Ia akan tetap bermakna dalam posisi kita sebagai hamba yang bersaksi dan meyakini akan af’al dan asma’ Allah, sepanjang kita memegangnya secara teguh. Soal apakah ia mengalami shifting karena berbagai pergeseran tantangan hidup, itu sebuah risiko.
Hal yang paling penting adalah bahwa kita menyadari itu sebuah kesalahan agar kita segera kembali ke jalan yang benar. Jalan yang telah digariskan oleh Allah untuk segenap anak manusia. Dalam konteks ini, puasa Ramadhan adalah skenario yang didesain agar kita memiliki ruang dan waktu untuk “bernegosiasi”. Menegosiasikan berbagai kemungkinan yang dipersiapkan Allah agar kita dapat memperbarui “persaksian” kepada-Nya.
Terlebih dalam sebelas bulan sebelum Ramadhan, kita telah kehilangan kemanusiaan kita sehingga untuk itu dibutuhkan ruang dan waktu “khusus” agar kita mampu memulangkan aspek kemanusiaan kita. Memang, semua ruang dan waktu bisa kita jadikan kesempatan untuk kembali kepada Allah.
Manusia sejati adalah yang memaklumi fungsi penciptaannya serta menyadari akan tanggung jawabnya sebagai hamba sekaligus khalifah Allah di atas bumi. Manusia diciptakan untuk mengabdi, menghamba, serta beribadah hanya kepada Allah.
Untuk itu, seluruh perjalanan dalam hidupnya harus berujung di muara Allah. Seluruh tarikan napasnya adalah ibadah, seluruh langkah kakinya adalah ibadah, seluruh pikirannya dicurahkan untuk ibadah, dan seluruh degup jantungnya adalah medium untuk ibadah. Tentu saja, ibadah dalam maknanya yang luas.
Ibadah dalam artian mahdah sebagaimana dituntunkan oleh agama dan ibadah maknawiyah yang bersumber dari nurani. Namun, manusia sebagai makhluk ibadah jangan pernah melupakan misi penciptaannya sebagai khalifah.
Mereka, setelah tawaran ini tak sanggup dipikul langit, bumi dan gunung, yang diamanati Allah untuk mengelola hidup agar kehidupan di bumi jauh dari aksi tumpah darah sebagaimana dikhawatirkan para malaikat pada awal-awal rencana Allah menciptakan manusia.
Manusia harus mengelola kehidupan dunia agar dapat menanam kebaikan demi kehidupan setelah kehidupan di atas bumi. Inilah Ramadhan yang sifatnya khusus. Di bulan lain, amal fardhu diganjar sesuai derajatnya dan amal sunah juga dibalas sesuai kadar kualitasnya. Akan tetapi, Ramadhan menyediakan kelipatannya. Amalan fardhu pada Ramadhan “diongkosi” Allah dengan ragam kelipatan dan sebuah amal sunah dibalas dengan pahala amalan fardhu.
Ramadhan adalah momentum bagi manusia mengembalikan aspek kemanusiaannya karena sekian bulan lamanya telah menjauh atau sengaja menjauh dari fitrah. Fitrah inilah landasan awal Allah menciptakan manusia. Fitrah ini pulalah yang ingin dicapai melalui puasa pada bulan Ramadhan. Manusia akan kehilangan visi dan misi kemanusiaannya kalau ia kehilangan fitrah.
Lantas, di manakah kampung halaman segenap anak manusia? Tak lain adalah Tuhan itu sendiri. “Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita akan kembali.”
Di bulan Ramadhan, kita tengah bersiap untuk pulang kampung. Karena lama tidak bertemu, hampir dipastikan kita memendam rasa rindu yang tiada terkira. Kita bertekad dalam pertemuan nanti dengan sanak saudara, keluarga, serta tetangga, ingin datang dengan wajah yang disaput rasa bahagia. Terlebih, kita juga membayangkan wajah-wajah mereka yang penuh kebahagiaan.
Karena itu, selama satu bulan penuh, kita tengah berjuang mengumpulkan hadiah-hadiah istimewa untuk dipersembahkan kepada “orang-orang kampung kita”.
Kalau kita mudik secara berkala setiap Ramadhan, kita juga ingin agar hadiah dan persembahan itu mengalami perbaikan dan peningkatan kualitas. Ibadah kita selama Ramadhan adalah bekal untuk sampai ke kampung halaman alias Tuhan.
Satu yang pasti, kita harus memiliki keyakinan akan janji-Nya, Wa rahmati wasi’at kulla syai. “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” Karena itu, kalau kita datang dengan penuh dosa dan berlumur kesalahan, ini-lah kesempatan memper sembah kan pertobatan yang paling tulus.
Di akhir Ramadhan, kita berharap Allah menyematkan derajat la’allakum tattaquun (agar kalian bertakwa) di dada kita. Sebab, hanya dengan derajat itu, kita bisa memilih kunci untuk membuka gerbang surga. Dengan label itulah, kita akan dapat fasilitas untuk menjadi anggota warga negeri akhirat. Wallahu a’lam.
Tulisan ini disadur dari Harian Republika edisi 31 Juni 2012. KH. Hasyim Muzadi (1943-2017) adalah ketua umum PBNU periode 2000-2010. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments