Hati yang Gelisah Selalu Mencari Rumah
Ada masa ketika tubuh tampak baik-baik saja, tetapi hati terasa lelah. Pekerjaan berjalan, keluarga berkumpul, rezeki masih mengalir, bahkan senyum masih menghiasi wajah.
Namun, ketika malam tiba dan keramaian perlahan menghilang, ada ruang sunyi dalam diri yang sulit dijelaskan. Rupanya, ketenangan tidak selalu lahir dari keadaan yang nyaman. Ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar hilangnya masalah. Alquran mengajarkan bahwa ketenteraman sejati bukan pertama-tama ditemukan pada perubahan keadaan, melainkan pada arah hati.
أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
Alā biżikrillāhi taṭma’innul-qulūb.
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28)
Ayat ini dipahami sebagai bagian dari rangkaian penjelasan Allah tentang sifat orang-orang yang beriman. Ayat sebelumnya menyebutkan bahwa Allah memberi petunjuk kepada orang yang kembali kepada-Nya, sedangkan ayat ini menjelaskan salah satu ciri utama mereka, yakni hati yang memperoleh ketenteraman melalui zikir kepada Allah. Dengan demikian, konteksnya bersifat umum dan menjadi prinsip yang berlaku bagi setiap mukmin, bukan berkaitan dengan satu peristiwa tertentu.
Kabar dari Allah
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan kabar dari Allah tentang keadaan hati orang-orang beriman. Ketika mereka mengingat Allah, hati mereka menjadi tenang, damai, dan mantap. Sebaliknya, hati yang jauh dari Allah akan terus berada dalam kegelisahan meskipun dikelilingi berbagai kenikmatan dunia.
Menurut Ibnu Katsir, zikir dalam ayat ini mencakup makna yang luas. Ia bukan sekadar ucapan tasbih, tahmid, atau tahlil yang dilafalkan oleh lisan. Zikir juga berarti menghadirkan Allah dalam kesadaran, mengingat janji dan ancaman-Nya, membaca Alquran, melaksanakan ibadah, serta memperkuat keyakinan kepada-Nya. Ketika seorang mukmin mengingat Rabb-nya, keyakinannya bertambah, rasa takutnya kepada Allah menjadi seimbang dengan harapannya kepada rahmat-Nya, sehingga lahirlah ketenteraman batin.
Ibnu Katsir mengaitkan makna ayat ini dengan firman Allah dalam Surah Al-Anfal ayat 2:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka.”
Getaran hati karena mengingat Allah bukanlah pertanda kelemahan, melainkan tanda hidupnya iman. Dari getaran itulah lahir ketenangan, sebab seorang mukmin sadar bahwa seluruh urusan berada dalam genggaman Allah Yang Mahabijaksana.
Dalam beberapa hadis sahih juga dijelaskan keutamaan majelis zikir. Di antaranya riwayat dalam Shahih Muslim yang menerangkan bahwa suatu kaum yang berkumpul untuk berzikir kepada Allah akan dinaungi para malaikat, diliputi rahmat, diturunkan ketenangan (as-sakinah), dan Allah menyebut mereka di hadapan para malaikat yang berada di sisi-Nya. Hadis ini memperlihatkan bahwa ketenteraman hati bukan sekadar pengalaman psikologis, melainkan karunia yang Allah limpahkan kepada hamba-hamba-Nya.
Ayat ini juga memberikan pelajaran penting bahwa ketenangan adalah buah dari hubungan yang benar dengan Allah. Banyak orang mengejar ketenangan melalui harta, jabatan, popularitas, atau pengakuan manusia. Semua itu mungkin menghadirkan rasa senang untuk sementara, tetapi tidak selalu melahirkan ketenteraman. Al-Qur’an justru menunjukkan sumber yang paling mendasar: zikir kepada Allah.
Hati manusia ibarat sebuah kompas. Apa pun arah angin yang bertiup, jarumnya akan terus mencari utara. Jika kompas itu rusak, ia kehilangan arah meskipun berada di jalan yang benar. Begitu pula hati manusia. Ia diciptakan untuk selalu mengarah kepada Allah. Ketika terlalu lama berpaling kepada dunia, ia mulai kehilangan orientasi. Zikir bukan sekadar mengulang lafaz, tetapi mengembalikan jarum hati agar kembali menunjuk kepada Sang Pencipta.
Hati juga seperti tanah yang lama tidak tersentuh hujan. Dari kejauhan, permukaannya tampak utuh, tetapi di dalamnya telah retak-retak karena kekeringan. Setetes hujan tidak langsung mengubah seluruh permukaannya, tetapi perlahan meresap dan menghidupkan kembali tanah yang nyaris mati. Demikian pula zikir. Ia mungkin tidak langsung menghapus seluruh beban hidup, tetapi sedikit demi sedikit melembutkan hati yang lama kering oleh kesibukan, kekhawatiran, dan kegelisahan.
Barangkali selama ini kita lebih sering meminta kepada Allah agar masalah-masalah hidup segera diangkat. Padahal, Al-Qur’an terlebih dahulu mengajarkan agar hati kita kembali dekat kepada-Nya. Sebab, ketika hati telah tenteram bersama Allah, ujian yang sama tidak lagi terasa dengan cara yang sama.
Mungkin bukan dunia yang harus berubah lebih dahulu. Mungkin hati kitalah yang perlu lebih sering pulang kepada Allah.
Karena ternyata, ketenangan bukanlah tempat yang kita temukan di luar diri. Ketenangan adalah anugerah yang Allah tumbuhkan di dalam hati yang senantiasa mengingat-Nya. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments