Follow us:

Misteri Halilintar dan Gemuruh di Baliknya, Kisah Sang Pengingkar Tersambar Petir dalam Alquran

Petir, guntur, dan halilintar merupakan tanda-tanda kekuasaan dan keagungan Allah. Dia menimpakan halilintar kepada siapa yang Dia kehendaki dan menjauhkannya dari siapa yang Dia kehendaki.

Kilatan cahaya petir-Nya hampir saja menghilangkan penglihatan. Semua itu terjadi berdasarkan pengaturan dan kekuasaan Allah SWT. Allah berfirman:

هُوَ ٱلَّذِى يُرِيكُمُ ٱلْبَرْقَ خَوْفًۭا وَطَمَعًۭا وَيُنشِئُ ٱلسَّحَابَ ٱلثِّقَالَ ١٢ وَيُسَبِّحُ ٱلرَّعْدُ بِحَمْدِهِۦ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِۦ وَيُرْسِلُ ٱلصَّوَٰعِقَ فَيُصِيبُ بِهَا مَن يَشَآءُ وَهُمْ يُجَـٰدِلُونَ فِى ٱللَّهِ وَهُوَ شَدِيدُ ٱلْمِحَالِ ١٣

Dialah yang memperlihatkan kilat kepadamu yang menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia menjadikan awan mendung. Dan guruh bertasbih memuji-Nya, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, sementara mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia Mahakeras siksaan-Nya. (QS ar-Ra’d: 12–13).

Imam at-Thabari, dalam kitab tafsirnya menjelaskan terjadi perbedaan pendapat mengenai siapa yang menjadi sebab turunnya ayat ini.

Sebagian ulama berpendapat bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan seorang kafir yang menyebut dan menggambarkan Allah Ta’ala dengan sesuatu yang tidak semestinya. Kemudian Allah mengirimkan halilintar kepadanya hingga membinasakannya.

حدثنا الحسن بن محمد قال: حدثنا عفان قال: حدثنا أبان بن يزيد قال: حدثنا أبو عمران الجوني, عن عبد الرحمن بن صُحار العبدي: أنه بلغه أن نبي الله صلى الله عليه وسلم بعث إلى جَبَّار يدعوه, فقال: ” أرأيتم ربكم, أذهبٌ هو أم فضةٌ هو أم لؤلؤٌ هو؟” قال: فبينما هو يجادلهم, إذ بعث الله سحابة فرعدت, فأرسل الله عليه صاعقة فذهبت بقِحْف رأسه فأنـزل الله هذه الآية

Al-Hasan bin Muhammad meriwayatkan kepada kami, ia berkata, ‘Affan meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Aban bin Yazid meriwayatkan kepada kami, ia berkata, Abu Imran al-Jawni meriwayatkan kepada kami, dari Abdurrahman bin Shuhar al-Abdi, bahwa telah sampai kepadanya sebuah riwayat:

Rasulullah SAW pernah mengutus utusan kepada seorang yang sombong dan berkuasa untuk mengajaknya kepada Allah. Orang itu berkata, “Bagaimana menurut kalian tentang Tuhan kalian? Apakah Dia berupa emas, perak, atau mutiara?”

Ketika orang tersebut sedang berdebat dengan mereka, Allah mengirimkan awan. Awan itu kemudian bergemuruh, lalu Allah mengirimkan halilintar kepadanya.

Halilintar itu menghantam dan membawa pergi bagian atas kepalanya hingga ia tewas, maka Allah menurunkan ayat QS Ar-Ra’d: 12.

Sementara itu, ulama lainnya berpendapat bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan seorang laki-laki dari kalangan orang-orang kafir yang mengingkari Alquran dan mendustakan Nabi SAW.

حدثنا بشر بن معاذ قال: حدثنا يزيد قال: حدثنا سعيد, عن قتادة قال: ذكر لنا أن رجلا أنكر القرآن وكذّب النبيَّ صلى الله عليه وسلم, فأرسل الله عليه صاعقة فأهلكته, فأنـزل الله عز وجل فيه: (وهم يجادلون في الله وهو شديد المحال)

Bisyr bin Mu’adz meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Yazid meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Sa’id meriwayatkan kepada kami, dari Qatadah, ia berkata, “Telah disampaikan kepada kami bahwa ada seorang laki-laki yang mengingkari Alquran dan mendustakan Nabi SAW

Kemudian Allah mengirimkan halilintar kepadanya hingga membinasakannya. Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat tentang dirinya: ‘Sementara mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia Mahakeras siksa-Nya.’”

Pendapat ketiga berkaitan dengan Arbad bin Rabi’ah. Ulama lainnya berpendapat bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Arbad bin Rabi’ah, saudara laki-laki Labid bin Rabi’ah. Arbad bersama Amir bin ath-Thufail pernah berencana membunuh Rasulullah SAW.

حدثنا القاسم قال، حدثنا الحسين قال، حدثني حجاج, عن ابن جريج قال: نـزلت يعني قوله: (ويرسل الصواعق فيصيب بها من يشاء) في أربد أخي لبيد بن ربيعة, لأنه قدم أربدُ وعامرُ بن الطفيل بن مالك بن جعفر على النبي صلى الله عليه وسلم, فقال عامر: يا محمد أأسلم وأكون الخليفة من بعدك؟ قال: لا! قال: فأكون على أهل الوَبَر وأنتَ على أهل المدَرِ؟

قال: لا! قال: فما ذاك؟ قال: ” أعطيك أعنة الخيل تقاتل عليها, فإنك رجل فارس. قال: أوليست أعِنّة الخيل بيدي؟ أما والله لأملأنها عليك خيلا ورجالا من بني عامر ! قال لأربد: إمّا أن تكفينيه وأضربه بالسيف, وإما أن أكفيكه وتضربه بالسيف.

قال أربد: اكفنيه وأضربه. فقال ابن الطفيل: يا محمد إن لي إليك حاجة. قال: ادْنُ! فلم يزل يدنو ويقول النبي صلى الله عليه وسلم: ” ادن ” حتى وضع يديه على ركبتيه وحَنَى عليه, واستلّ أربد السيف, فاستلَّ منه قليلا فلما رأى النبي صلى الله عليه وسلم بَريقه تعوّذ بآية كان يتعوّذ بها, فيبِسَت يدُ أربد على السيف, فبعث الله عليه صاعقة فأحرقته, فذلك قول أخيه:

أَخْشَــى عَـلَى أَرْبَـدَ الحُـتُوف وَلا

أَرْهَــبُ نَــوْءَ السِّــمَاك وَالأسَـدِ

فَجَّــعنِي الْـبَرْقُ والصّـوَاعِقُ بـال

فَــارِس يَــوْمَ الكَرِيهَــةِ النَّجُــدِ

Al-Qasim meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Al-Husain meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Hajjaj meriwayatkan kepadaku, dari Ibnu Juraij, ia berkata, “Ayat “Dan Dia mengirimkan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki” turun berkenaan dengan Arbad, saudara Labid bin Rabi’ah.”

Arbad dan Amir bin ath-Thufail bin Malik bin Ja’far datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Amir bberkat, “Wahai Muhammad, bagaimana jika aku masuk Islam, lalu aku menjadi khalifah setelahmu?”

Nabi menjawab, “Tidak.” Ia berkata, “Kalau begitu, biarkan aku memimpin orang-orang yang tinggal di padang pasir, sementara engkau memimpin penduduk kota?”

Beliau menjawab, “Tidak.” Ia berkata, “Lalu apa yang akan engkau berikan kepadaku?”

Beliau menjawab, “Aku akan memberikan kepadamu kendali pasukan berkuda untuk engkau pimpin dalam peperangan, karena engkau adalah seorang penunggang kuda yang tangguh.”

Amir berkata, “Bukankah kendali pasukan berkuda itu memang sudah berada di tanganku? Demi Allah, aku akan memenuhi wilayahmu dengan pasukan berkuda dan pasukan dari Bani Amir!”

Kemudian Amir berkata kepada Arbad, “Engkau yang mengurusnya, dan aku akan menebasnya dengan pedang. Atau aku yang mengurusnya, sementara engkau yang menebasnya dengan pedang.”

Arbad menjawab, “Biarkan aku yang mengurusnya, dan engkau yang menebasnya.”

Kemudian Ibnu ath-Thufail berkata, “Wahai Muhammad, aku mempunyai suatu keperluan kepadamu.”

Nabi SAW, “Mendekatlah.”

Ia terus mendekat sambil Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berulang kali berkata, “Mendekatlah.” Hingga akhirnya ia meletakkan kedua tangannya di atas lutut Nabi dan membungkuk ke arah beliau.

Pada saat itu, Arbad menghunus pedangnya dan menariknya sedikit dari sarungnya. Ketika Nabi SAW melihat kilatan pedang tersebut, beliau berlindung kepada Allah dengan sebuah ayat yang biasa beliau gunakan untuk memohon perlindungan.

Seketika tangan Arbad menjadi kaku di atas pedang tersebut. Kemudian Allah mengirimkan halilintar kepadanya hingga membakarnya.

Karena peristiwa itulah saudaranya, Labid bin Rabi’ah, mengucapkan syair:

“Aku mengkhawatirkan kematian yang menimpa Arbad,

namun aku tidak gentar menghadapi terbitnya bintang as-Simak dan al-Asad.

Petir dan halilintar telah membuatku berduka,

atas seorang penunggang kuda tangguh pada hari pertempuran.”

Firman Allah, “padahal Dia Mahakeras siksa-Nya” (QS ar-Ra’d: 13), maksudnya adalah kekuatan. Tidak ada tempat untuk melarikan diri darinya apabila Allah telah menghendaki, menetapkan, dan memutuskan.

Tidak ada batu, rumah, ataupun gua yang dapat menghalanginya apabila Allah telah menetapkan dan menghendakinya. Halilintar dapat menyambar dan mengenai siapa pun, tanpa ada tempat yang dikecualikan. Allah Ta’ala berfirman:

أَوْ كَصَيِّبٍۢ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فِيهِ ظُلُمَـٰتٌۭ وَرَعْدٌۭ وَبَرْقٌۭ يَجْعَلُونَ أَصَـٰبِعَهُمْ فِىٓ ءَاذَانِهِم مِّنَ ٱلصَّوَٰعِقِ حَذَرَ ٱلْمَوْتِ ۚ وَٱللَّهُ مُحِيطٌۢ بِٱلْكَـٰفِرِينَ ١٩

Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir.” (QS al-Baqarah: 19).

Kata ash-shawā‘iq (halilintar) merupakan bentuk jamak dari shā‘iqah, yang menurut Ibnu Jarir berarti segala sesuatu yang sangat dahsyat.

Sesuatu itu dapat dilihat oleh orang yang menyaksikannya atau menimpanya, hingga karena kedahsyatan dan besarnya perkara tersebut, seseorang dapat mengalami kebinasaan, kerusakan, bahkan kehilangan akal.

Halilintar dikirimkan Allah SWT, dan dengannya Dia menimpa siapa yang Dia kehendaki. Halilintar bahkan dapat menyambar seseorang ketika ia sedang berada di tempat tidurnya bersama istrinya; laki-laki itu meninggal, sementara istrinya selamat.

Atau halilintar menyambar seekor kambing yang sedang ditarik oleh pemiliknya, sementara pemiliknya selamat. Sebab, Allah Ta’ala-lah yang mengirimkannya dan menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki.

Persoalan ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara acak. Sebaliknya, segala sesuatu di sisi Allah Ta’ala telah ditetapkan dengan kadar dan ukuran tertentu. Halilintar ini, sebagaimana dikatakan para ulama, memiliki kekuatan yang luar biasa.

Bahkan, seandainya seluruh generator listrik di dunia dikumpulkan dan bekerja dengan kekuatan paling besar yang dapat dihasilkan, kekuatannya tidak akan menyamai energi yang dibawa oleh halilintar.

Kita akan menyebutkan beberapa keterangan yang ditunjukkan oleh hadis-hadis sahih mengenai petir. Disebutkan bahwa petir merupakan nyala api yang digunakan untuk menggiring awan.

Hal itu juga disebutkan oleh Imam al-Qahthani dalam bait-bait syairnya. Disebutkan pula bahwa ada malaikat yang diberi tugas mengatur hujan:

“Guntur adalah suara Malik, dan itu adalah namanya,

yang menggiring awan seperti penggiring rombongan unta.

Petir adalah nyala api yang dengannya ia menggiringnya,

seperti penggembala unta menghalau unta dengan tongkat.”

Dalam Musnad Ahmad dan Sunan At-Tirmidzi, dari Ibnu Abbas disebutkan:

أقبلت يهودُ إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فقالوا: يا أبا القاسم، أخبرنا عن الرعد، ما هو؟ قال: مَلَكٌ من الملائكة موكَّل بالسحاب، معه مخاريق من نار، يسوق بها السحاب حيث شاء الله، فقالوا: فما هذا الصوت الذي نسمع؟ قال: زجرُه بالسحاب إذا زَجَرَه، حتى ينتهي إلى حيث أُمِر، قالوا: صدقت…)).

“Orang-orang Yahudi datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka berkata, ‘Wahai Abu al-Qasim, beritahukan kepada kami tentang guruh. Apakah guruh itu?’ Beliau menjawab, ‘Ia adalah salah satu malaikat yang ditugaskan mengurus awan.

Ia membawa cambuk-cambuk dari api yang digunakannya untuk menggiring awan ke mana pun Allah kehendaki.’ Mereka bertanya, ‘Lalu suara apa yang kami dengar ini?’ Beliau menjawab, ‘Itulah bentakannya kepada awan ketika ia menggiringnya, hingga awan tersebut sampai ke tempat yang diperintahkan kepadanya.’ Mereka berkata, ‘Engkau benar…”

Ibnu Abdil Barr berkata dalam al-Istidzkar, “Mayoritas ulama berpendapat bahwa guruh adalah malaikat yang menggiring awan. Dan boleh jadi penggiringannya terhadap awan itu berupa tasbih, berdasarkan firman Allah Ta’ala: ‘Dan guruh bertasbih memuji-Nya’ (QS ar-Ra’d: 13).”

Terdapat pula hadis-hadis lain yang sahih dan hasan yang menjelaskan apa yang biasa diucapkan Nabi SAW ketika terjadi fenomena-fenomena alam tersebut.

Doa-doa itu menunjukkan kesempurnaan pengenalan kepada Allah, bahwa Dialah yang menimbulkan fenomena-fenomena tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa semua itu merupakan tanda penyucian Allah dari segala kekurangan, pengagungan terhadap-Nya, dan pujian kepada-Nya.

Imam Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan ulama lainnya meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, “Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mendengar suara guruh dan halilintar, beliau berdoa:

اللهم لا تقتلنا بغضبك، ولا تُهلكنا بعذابك، وعافِنا قبل ذلك

‘Ya Allah, janganlah Engkau membunuh kami dengan kemurkaan-Mu, janganlah Engkau membinasakan kami dengan azab-Mu, dan berilah kami keselamatan sebelum itu terjadi.’”

Sebab, kemungkinan manusia dibinasakan atau diazab melalui tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta tersebut merupakan sesuatu yang dekat dan mungkin terjadi.

Abu Dawud meriwayatkan dalam al-Marasil, dari Abdullah bin Abi Ja’far, bahwa sekelompok orang pernah mendengar suara guruh lalu mereka mengucapkan takbir. Rasulullah SAW kemudian bersabda:

إذا سمعتم الرعد فسبِّحوا، ولا تُكبِّروا

“Apabila kalian mendengar suara guruh, maka bertasbihlah dan jangan bertakbir.”

Hal itu karena mengucapkan tasbih lebih sesuai dengan adab dan gaya bahasa Al-Qur’an dalam firman Allah Ta’ala: “Dan guruh bertasbih memuji-Nya.” (QS ar-Ra’d: 13).

Selain itu, tasbih lebih tepat untuk menunjukkan penyucian Allah dari segala kekurangan dan sekutu daripada sekadar menunjukkan pengagungan kepada-Nya. (UYR/Republika)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved