Follow us:

AMPUNAN ALLAH LEBIH LUAS

Oleh:Ustadz Elvi Syam, Lc

Pengampunan terhadap dosa merupakan target setiap muslim dan merupakan sesuatu yang selalu diharapkan oleh setiap mukmin. Karena ketika dosa seorang hamba diampuni oleh Rabb-Nya, maka itu merupakan kebahagiaan baginya di dunia dan di akhirat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (Ali Imran: 133)

“Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar”. (Ghafir/ Al Mu’min: 9)

Maka setiap muslim hendaklah selalu berusaha untuk mewujudkan pengampunan ini untuk dirinya, yang ia dapatkan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal itu tidaklah bisa ia gapai kecuali dengan melakukan sebab-sebab yang telah Allah Ta’ala jadikan sebagai sebab pengampunan dosa. Allah Ta’ala telah menjadikannya sebagai sebab dimaafkannya segala kesalahan dan aib kita. Diantara sebab-sebab pintu-pintu pengampunan tersebut adalah:

  • Taubat

Taubat adalah kembalinya seorang hamba kepada Allah, berinabah kepada-Nya dari melakukan satu dosa yang dilakukan atau meninggalkan sesuatu yang wajib. Taubat memiliki tiga syarat. Pertama, Menyesali apa yang telah dilakukan. Kedua, Memutuskan hubungan dari dosa yang telah dilakukan. Ketiga, bertekad untuk tidak mengulangi kembali.

Ketiga syarat di atas, semuanya jika berhubungan dengan hak Allah. Sedangkan apabila berhubungan dengan hak anak Adam maka ditambah syarat ke empat yaitu mengembalikan hak mereka jika berupa benda atau minta penghalalan dari mereka jika berupa kehormatan ataupun meminta kelapangan hatinya agar mau memaafkan.

Ada ulama’ yang mengatakan bahwa taubat itu dengan 3 anggota badan, yaitu bertaubat dengan lidah, hati dan bertaubat dengan anggota tubuh lainnya. Bertaubat dengan lidah adalah dengan memperbanyak istighfar, taubat dengan hati yaitu dengan menyesali apa yang telah terjadi dan bertekad untuk tidak mengulangi kembali di waktu yang akan datang. Sementara bertaubat dengan anggota tubuh adalah dengan memutuskan hubungan dari dosa yang dilakukan atau berhenti melakukan dosa tersebut.

Taubat merupakan amal yang paling afdhal (mulia) bagi seseorang untuk bisa mendekatkan diri kepada Rabb-Nya. Dan Rasulullah telah memberikan penjelasan kedudukan ibadah taubat di sisi Allah Ta’ala. Bahwa Allah sangat mencintai seorang hamba yang bertaubat. Sebagaimana sabda beliau Shallallahu Alaihi Wasallam,

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ الْمُؤْمِنِ مِنْ رَجُلٍ فِي أَرْضٍ دَوِيَّةٍ مَهْلَكَةٍ ، مَعَهُ رَاحِلَتُهُ عَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ ، فَنَامَ فَاسْتَيْقَظَ وَقَدْ ذَهَبَتْ ، فَقَامَ يَطْلُبُهَا حَتَّى أَدْرَكَهُ الْعَطَشُ ، ثُمَّ قَالَ : أَرْجِعُ إِلَى مَكَانِي الَّذِي كُنْتُ فِيهِ حَتَّى أَمُوتَ ، قَالَ : فَوَضَعَ رَأْسَهُ عَلَى سَاعِدِهِ حَتَّى يَمُوَتَ ، فَاسْتَيْقَظَ وَعِنْدَهُ رَاحِلَتُهُ عَلَيْهَا زَادُهُ وَطَعَامُهُ وَشَرَابُهُ ، فَاللَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ هَذَا بِرَاحِلَتِهِ ” ، رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh Allah akan lebih senang menerima taubat hamba-Nya yang beriman daripada seseorang yang berada di tanah tandus yang berbahaya bersama hewan tunggangan yang membawa bekal makanan dan minumannya. Lalu dia tidur kemudian ketika bangun didapati hewan tunggangannya tersebut telah menghilang. Dia pun segera mencarinya sampai merasa dahaga kemudian dia berkata dalam hatinya: “Sebaiknya saya kembali ke tempat semula dan tidur di sana sampai saya mati. Lalu dia tidur dengan menyandarkan kepalanya di atas lengan sampai mati.” Tetapi ketika ia terbangun didapatinya hewan tunggangannya telah berada di sisinya bersama bekal makanan dan minuman. Maka Allah lebih senang dengan taubat seorang hamba mukmin, daripada orang seperti ini yang menemukan kembali hewan tunggangan dan bekalnya”. (Shahih Muslim)

Dalam riwayat lain, ketika ia mendapati hewan tunggangannya berada di depannya ia berucap,

للهم أنت عبدي وأنا ربك أخطأ من شدة الفرح

“Ya Allah Engkau hambaku, dan Aku Tuhanmu.” (Terlanjur / keliru lidahnya kerana sangat gembira.)”

**Seharusnya dia berkata, “Ya Allah Engkau Tuhanku dan Aku hambaMu.” Tetapi tersasul lidahnya karena saking gembiranya sebagaimana di atas itu.

Maka Allah lebih gembira menerima taubat seorang hambaNya melebihi kegembiraan orang yang menemukan kembali harapannya itu.

Allah Ta’ala pun telah memerintahkan kita untuk bertaubat. Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ (محمد: 19)

“Maka Ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal”. (Muhammad: 19)

Ayat di atas ditegaskan kembali dalam surah An Nur ayat 31,

“…..dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.

Maka, taubat adalah kunci kebahagiaan di dunia dan akherat.

Rasulullah yang sudah pasti diampuni dosanya dan dijamin masuk surga pun, beliau tetap memperbanyak istighfar dan taubat  kepada Allah Ta’ala 70 hingga 100 kali dalam sehari.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: وَاللَّهِ إِنِّي لأَسْتَغْفِرُاللَّه وَأَ تُوْبُ إِلَيْهِ فِي الْيوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu berkata, saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya setiap hari lebih dari tujuh puluh kali. (HR. Al Bukhari).

Dan sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam yang lain,

وَعَنِ الأَغَرِّ بْنِ يَسَارِ الْمُزَنِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ فَإِنِّي أَتُوْبُ فِي اليَوْمِ مِأَتَ مَرَّةٍ

Dari al-Aghar bin Yasar al-Muzani Radhiallahu Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Wahai manusia bertaubatlah kamu kepada Allah dan mintalah ampunan kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari seratus kali. (HR. Muslim)

Allah telah mensyariatkan kepada hamba-Nya untuk beristighfar setelah melakukan amal shalih agar istighfar tersebut menambal hal-hal yang kurang dalam pelaksanaan amal shalih tersebut. Seperti beristighfar setelah menunaikan ibadah haji dan shalat. Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al Baqarah: 199)

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

Dari Tsaubân Radhiyallahu anhu dia berkata: “Jika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai melaksanakan shalat, beliau Shallallahu Alaihi Wasallam beristighfâr (meminta ampunan) 3 kali dan memanjatkan doa :

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Ya Allâh, Engkau adalah Dzat yang memberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan, Maha Besar Engkau wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan”.

Walid berkata, “Aku bertanya kepada al-Auzâ’i, ‘Bagaimana (cara) beristighfâr (meminta ampunan)?’, Dia menjawab: ‘Engkau mengucapkan : أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ”

[HR. Muslim, no. 591; Abu Dâwud, no. 1513; Nasâ’i, no. 1337; Ibnu Mâjah, no. 928; Tirmidzi, no. 300]

Inilah yang dituntunkan oleh Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yaitu beristighfâr setelah selesai shalat.

Namun kita lihat sebagian kaum Muslimin di zaman ini, begitu selesai menunaikan shalat, mereka langsung mengajak berjabat tangan orang-orang di sebelah kanan dan kirinya, tentu ini menyelisihi sunah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ini.

Sementara sebagian lainnya, begitu selesai salam dari shalat, langsung melakukan sujud syukur, tentu ini juga menyilisihi sunah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ini.

Sangat banyak manfaat dari istighfar diantaranya akan melapangkan rizki, menurunkan hujan serta bisa mendatangkan untuk memperoleh keturunan.

Allah berfirman tentang perkataan Nabi Nuuh ‘alaihis salam kepada kaumnya:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

“Aku (Nuuh) berkata kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. (Nuuh: 10-12)

Demikian juga perkataan Nabi Huud ‘alaihissalam kepada kaumnya:

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

“Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”. (Huud: 52)

  • Mewujudkan Tauhid Dan Menjauhkan Diri dari Syirik

Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Al An’am: 82)

Tauhid merupakan dasar dan modal utama agama ini. Tauhid adalah syarat pertama diterimanya seluruh pengorbanan dan ketaatan. Dan juga tauhid merupakan faktor terbesar penyebab ampunan. Barangsiapa tidak mempunyai tauhid, ia tidak mendapatkan ampunan. Barangsiapa membawa tauhid, sungguh ia membawa aspek terbesar penyebab ampunan.

Tauhid ini tidak akan terwujud kecuali dengan mengikhlaskan amal hanya karena Allah dan memfilter diri dari noda-noda syirik, bid’ah dan maksiat. Maka dengan demikian, kita baru bisa memaksimalkan ketauhidan kepada Allah Ta’ala. Menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah Ia tetapkan untuk diri-Nya, menjalankan rukun islam dan iman, melaksanakan sunnah-sunnah nabi-Nya.

Serta meninggalkan hal-hal yang berlawanan dengan tauhid khususnya syirik besar. Sebab ia mengikis habis pondasi tauhid. Dan juga menjauhi syirik-syirik kecil serta dosa-dosa besar, sebab semuanya akan menghilangkan kesempurnaan tauhid. Maka, kita harus mewujudkan tauhid ini dengan baik. Karena syirik adalah penyebab paling besar terhalangnya seorang hamba mendapatkan pengampunan dari Allah Ta’ala.

وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

…..”seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang Telah mereka kerjakan”. (Al An’am: 88)

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (الزمر: 65)

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (Az Zumar: 65)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar”. (An Nisaa’: 48)

Diantara manfaat tauhid adalah menghapus dosa-dosa. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,

عنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” [HR. at-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits ini hasan shahih].

Barangsiapa datang dengan bertauhid dan membawa kesalahan-kesalahan seberat bumi, ia ditemui Allâh dengan ampunan seberat bumi pula, namun ini sesuai dengan kehendak Allâh Azza wa Jalla . Jika Dia berkehendak, Dia mengampuninya. Jika Dia berkehendak, Dia menyiksanya karena dosa-dosanya, namun dia tidak kekal di neraka dan akhirnya akan dimasukkan surga. Jika tauhid seorang hamba dan keikhlasan kepada Allâh sempurna, syarat-syaratnya ditunaikan dengan hati, lisan dan anggota tubuhnya, atau dengan hati dan lisannya ketika hendak meninggal dunia, maka itu semua menyebabkan dirinya mendapatkan ampunan dari dosa-dosa silamnya dan menghalanginya masuk neraka.

Jadi, barangsiapa mengisi hatinya dengan tauhid, maka semua yang bertentangan dengannya akan tersingkir. Ketika itulah, seluruh dosa dan kesalahan-kesalahannya akan sirna meski sebanyak buih di laut. Kesalahan-kesalahan itu bisa saja berubah menjadi kebaikan. Karena tauhid adalah penghancur terbesar dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan. Jika salah satu biji sawi tauhid diletakkan di atas gunung dosa atau kesalahan, pastilah tauhid mengubah dosa dan kesalahan tersebut menjadi kebaikan. Inilah diantara keutamaan tauhid.

  • Beramal Shalih

Baik amal yang bernilai wajib, ataupun bernilai sunnah. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلآئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُواْ الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ (النحل: 32)

“(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (An Nahl: 32)

عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْوَضُوءِ ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلاَثًا ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ غَسَلَ كُلَّ رِجْلٍ ثَلاَثًا ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا وَقَالَ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Humran –bekas budaknya Utsman bin Affan- beliau pernah melihat Utsman meminta air untuk wudhu, lalu beliau (Utsman) menuangkan air ke kedua telapak tangannya dari wadah tersebut maka dibasuhlah (dicuci) sebanyak tiga kali, beliau lantas mencelupkan tangan kanannya ke dalam air tersebut kemudian berkumur-kumur, istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) dan istinsyar (mengeluarkannya). Kemudian beliau membasuh wajahnya sebanyak tiga kali, kemudian membasuh tangannya sampai sikunya sebanyak tiga kali, kemudian mengusap kepalanya, kemudian membasuh (mencuci) setiap kakinya sebanyak tiga kali. Kemudian beliau berkata: “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu seperti wudhuku ini dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ‘Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian shalat dua rakaat tidak berkata-kata di jiwanya (khusyu’), maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.  (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Menjauhkan Diri dari Hal-Hal Yang Buruk dan Dosa

إِن تَجْتَنِبُواْ كَبَآئِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُم مُّدْخَلاً كَرِيماً (النساء: 31)

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)”. (An Nisa’: 31)

Ayat di atas adalah janji Allah terhadap para hamba-Nya jika mereka menjauhi dosa-dosa besar bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam syurga dimana tidak ada mata yang pernah melihat, terlintas dalam hati dan terdengar oleh telinga manusia.

Termasuk menjauhi dosa besar adalah melaksanakan amalan-amalan wajib. Berarti, jika seorang tidak melaksanakan amalan wajib, ia akan terhukum melakukan dosa besar.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Di antara shalat yang lima waktu, di antara Jumat yang satu dan Jumat lainnya, di antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

Allah menjadikan shalat tersebut sebagai penghapus dosa-dosa yang terjadi diantara waktu-waktunya. Dari Subuh ke Zhuhur, dari Zhuhur ke Ashar, dari Ashar ke Maghrib, dari Maghrib ke Isya, dan dari Isya ke Subuh. Begitu seterusnya, di setiap waktu dan di setiap zaman. Dan bahwa sabda Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam: “Selama dosa2 besar dijauhi..” dan yang semakna dengan ini, maksudnya adalah membatasi bahwa dosa-dosa yang terhapus oleh shalat lima waktu itu hanyalah dosa-dosa kecil saja, dan tidak termasuk dosa-dosa besar.

  • Berbuat Baik Kepada Makhluk Dan Menahan Diri dari Menyakiti Mereka

 “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[1032]”. (An Nuur: 22)

[1032]  ayat Ini berhubungan dengan sumpah abu bakar Radhiallahu Anhu bahwa dia tidak akan memberi apa-apa kepada kerabatnya ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri ‘Aisyah. Maka turunlah ayat Ini melarang beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh mema’afkan dan berlapang dada terhadap mereka sesudah mendapat hukuman atas perbuatan mereka itu.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ

“Tatkala seseorang sedang menyusuri sebuah jalan dalam keadaan haus yang sangat amat, maka iapun mendapati sebuah sumur. Iapun turun ke dalam sumur tersebut lalu minum, lalu keluar dari sumur tersebut. Tiba-tiba ia melihat seekor anjing sedang menjilat-jilat tanah karena kehausan.

فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِى كَانَ بَلَغَ مِنِّى. فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ حَتَّى رَقِىَ فَسَقَى الْكَلْبَ

Maka iapun berkata: Anjing yang sangat kehuasan sebagaimana haus yang aku rasakan. Maka iapun turun ke dalam sumur lalu mengisi sepatunya dengan air kemudian ia memegang sepatu dengan mulutnya hingga akhirnya ia memanjat dinding sumur lalu iapun memberi minum anjing tersebut.

فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ

Maka Allahpun membalas jasanya dan mengampuni dosa-dosanya”. (HR. Muslim)

Dalam lafazh yang lain

فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَأَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ

“Maka Allahpun membalas jasanya lalu memasukannya ke dalam surga”. (HR. Al-Bukhari)

عَنْ حُذَيْفَةَ – رضى الله عنه – قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « مَاتَ رَجُلٌ ، فَقِيلَ لَهُ قَالَ كُنْتُ أُبَايِعُ النَّاسَ ، فَأَتَجَوَّزُ عَنِ الْمُوسِرِ ، وَأُخَفِّفُ عَنِ الْمُعْسِرِ ، فَغُفِرَ لَهُ » .

Dari Hudzaifah Radhiyallahu Anhu berkata: “Aku telah mendengar Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Seseorang meninggal”, lalu ia ditanya, lalu ia menjawab: “Aku adalah seorang menjual barang kepada orang-orang, aku memudahkan untuk seorang yang kaya dan aku ringankan untuk seorang yang kesukaran”, akhirnya diampuni dosanya”. (HR. Muslim)

  • Bersabar Terhadap Musibah Dan Cobaan yang Menimpa

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُواْ مِن بَعْدِ مَا فُتِنُواْ ثُمَّ جَاهَدُواْ وَصَبَرُواْ إِنَّ رَبَّكَ مِن بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan Sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; Sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (An Nahl: 110)

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَا مِنْ مُصِيْبَةٍ تُصِيْبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا

“Tidaklah suatu musibah menimpa seorang MUSLIM kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya.” (HR. Al-Bukhariy dan Muslim dari ‘A`isyah)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ يَنْزِلُ بِالْمُؤْمِنِ وَ الْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّي يَلْقَي الله وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيْئَةٍ

“Bencana akan senantiasa menimpa kepada orang mukmin laki-laki dan perempuan, anaknya dan hartanya sampai nanti ketika bertemu dengan Allah tidak ada sama sekali kesalahannya”. (HR. Turmudzi dan di Shahihkan Syaikh Al-Bany dalam kitab ” Silsilah Shahihah)

Jika kita melihat hadits-hadits yang keutamaan yang didapatkan ketika musibah, maka semua keutamaan ini disandarkan pada MUKMIN/MUSLIM. Menandakan hanyalah MUSLIM/MUKMIN lah yang mendapatkan keutamaan dari musibah yang ia hadapi. Mengapa? karena ketika mukmin/muslim mendapatkan musibah, mereka BERSABAR. Dengan kesabaran inilah, mereka mendapatkan kebaikan dari musibah tersebut.

  • Berdoa Kepada Allah Ta‘ala Agar Mengampuni Dosa-Dosa Kita

Berdo’a disertai harapan, karena do’a diperintahkan dan dijanjikan untuk dikabulkan. Namun do’a akan dikabulkan jika syarat-syaratnya terpenuhi dan tidak ada penghalang-penghalangnya. Terkadang pengabulan do’a tertunda karena tidak sebagian syaratnya tidak ada atau ada penghalangnya. Diantara syarat terkabulnya do’a ialah kehadiran hati dan mengharap kepada Allâh Azza wa Jalla agar dikabulkan.

Dan diantara faktor terpenting terampunkannya dosa ialah tidak mengharapkan pengampunan kepada selain Allâh Azza wa Jalla jika ia mengerjakan dosa. Karena ia tahu yang bisa mengampuninya dan menyiksanya dengan sebab dosa hanyalah Allâh Azza wa Jalla.

Allah Ta’ala berfirman,

“Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, Maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang Telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain[259]. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, Pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (Ali Imran: 193-195)

[259] maksudnya sebagaimana laki-laki berasal dari laki-laki dan perempuan, Maka demikian pula halnya perempuan berasal dari laki-laki dan perempuan. Kedua-duanya sama-sama manusia, tak ada kelebihan yang satu dari yang lain tentang penilaian iman dan amalnya.

Diriwayatkan dari Abu Bakar al-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Ajarkan aku satu doa yang aku baca dalam shalatku. Beliau bersabda, “Ucapkanlah (wahai Abu Bakar):

اللَّهُمَّ إنِّي ظَلَمْت نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا ، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلَّا أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِك وَارْحَمْنِي ، إنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Ya Allah, Sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak. Tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan rahmati aku. Sesungguhnya Engkau Dzat Maha pengampun lagi Penyayang.” (Muttafaq ‘Alaih)

Kapan Membacanya?

Imam Shan’ani berkata: “Hadits ini adalah dalil disyariatkannya doa di dalam shalat secara umum tanpa ditentukan tempatnya. Dan di antara tempatnya adalah sesudah tasyahud, shalawat atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan Isti’adzah (berlindung dari empat perkara). Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Lalu hendaknya ia memilih doa yang dikehendakinya.”

Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan hadits di atas sesudah hadits yang berisi perlindungan dari empat perkara.

Oleh itu, seorang hamba diwajibkan untuk memperbanyak doa minta ampunan kepada Allah Ta’ala dari segala dosa dan maksiat, apalagi pada waktu-waktu dikabulkannya doa. Diantaranya waktu antara adzan dan iqamah, penghujung waktu hari Jum’at, sepertiga malam terkahir, ketika musafir, ketika hujan turun dan sebagainya.

Mari kita senantiasa berusaha untuk menggapai pintu-pintu ampunan ini dengan mewujudkan hal-hal yang telah disebutkan di atas. Aaamiin.  Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved