Follow us:

DAKWAH POLITIK RASULULLAH

Oleh:Chalil Ridhwan, Lc

Kita sering menggunakan kalimat kembali kepada sunnah Rasulullah. Namun sunnah Rasul yang kita katakan hanya terbatas dalam urusan ubudiyyah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala seperi shalat, zakat, puasa dan haji.

Ketika beliau Shallallahu Alaihi Wasallam wafat bukan disebut lagi dengan sunnah Rasul, melainkan sunnah Khulafa’ur Rasyidun (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Radhiallahu Anhum). Yaitu kondisi mandiri di saat para sahabat tidak menemukan contoh atau dalil dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, kemudian mereka berijtihad untuk menentukan hukum sendiri dengan berpegang pada prinsip-prinsip dasar atau isyarat dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah tersebut.

Hasil ijtihad inilah yang secara mandiri disebut sebagai sunnah khulafa’ur-Rasyidin atau sunnah sahabat, dan cara berijtihad yang mereka jalani itu sah dan dapat ditiru oleh orang-orang setelah mereka di saat tidak menemukan contoh atau dalil dari sunnah Rasulullah. Sepertihalnya dikumpulkannya alquran dalam satu mushaf, shalat tarawih berjama’ah di masjid dengan satu imam, atau dua kali adzan pada shalat Jum’at dan sebagainya.

Terciptanya sunnah (hasil ijtihad) semacam itu ditunjukkan oleh riwayat hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam saat melepas kepergian Mu’adz bin Jabal Radhiallahu Anhu ke Yaman, dimana beliau bertanya,

كَيْفَ تَقْضِي إِذَا عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ قَالَ أَقْضِي بِكِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي وَلَا آلُو فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدْرَهُ وَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ اللَّهِ

‘Bagaimana kamu menetapkan hukum jika ada suatu perkara yang kamu hadapi?’ Mu’adz menjawab, ‘Aku akan menetapkan hukum berdasarkan Kitabullah. Jika tidak ada dalam Kitabullah maka aku akan menetapkan dengan hadits Rasulullah’. Rasulullah bertanya lagi, ‘Bagaimana jika tidak ada dalam Sunnah Rasulullah?’ Mu’adz menjawab, ‘Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan tidak berlebihan’. Setelah itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memukul dadanya dan bersabda, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelaraskan utusan Rasulullah dengannya, sebagaimana yang diridhai oleh Rasulullah’.” (HR. Abu Dawud)

Penyebutan suatu amalan atau ketetapan sebagai suatu sunnah juga ditunjukkan oleh hadits Rasulullah yang berbunyi “Man sanna fil-Islam sunnatan hasanatan…”(siapa yang menetapkan di dalam Islam suatu sunnah/ketetapan/teladan yang baik …), dan penyebutan sunnah ini tidak terbatas hanya pada amalan Rasulullah dan para sahabat beliau saja. Terbukti bahwa hadits tersebut juga menyebut adanya sunnah sayyi’ah (sunnah/ketetapan/perilaku yang buruk) yang tidak mungkin dialamatkan kepada Rasulullah atau para sahabat beliau. Lengkapnya hadits Rasulullah tersebut berbunyi:

مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً  فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ (رواه مسلم)

“Barang siapa yang mensunnahkan (membuat/menetapkan) di dalam Islam suatu sunnah hasanah (ketetapan/kebiasaan baik) maka bagi dia pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelah dia tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun, dan barang siapa yang mensunnahkan (membuat/menetapkan) di dalam Islam suatu sunnah sayyi’ah (ketetapan/kebiasaan buruk) maka atas dia dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelah dia tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim)

Sabda beliau: مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا , yang dimaksud sunnah dalam hadits ini adalah contoh teladan atau perilaku, bukan bermakna sunnah secara terminologi syar’i, sebagaimana dalam sabda beliau,

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ

dan sabdanya,

منْ رَغِبَ عَنْ سُنَتِيْ فَلَيْسَ مِنِّي.

 

Konsekuensi hadits menunjukkan makna ini. Maksudnya, dengan konsekuensi hadits adalah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,

وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَة،

Karena Rasulullah telah mensifati sunnah dalam hadits ini dengan kejelekan, tapi tidak ada sunnah jelek dalam Islam. Maka yang dimaksud sunnah di sini adalah makna bahasa (etimologi) bukan makna istilah.

Kata Sunnah dalam banyak nash ada yang bermakna jalan, contoh teladan atau perilaku, sebagaimana hal itu ada dalam sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,

مَا منْ نَفْسٍ تُقْتَلٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا وَذَلِكَ لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ

“Tidak ada satu jiwa pun terbunuh secara zhalim kecuali anak adam pertama mendapatkan bagian dari darahnya, itu karena ia adalah orang pertama yang mencontohkan pembunuhan”.

Dan juga sabdanya,

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

“Sungguh kalian kelak akan mengekor perilaku orang-orang setelah kalian (yaitu orang musyrik)”

Sehingga sabda beliau مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَة  tidak mungkin kita pahami sebagai amalan baru yang diada-adakan secara langsung, karena sunnah itu, baik atau jeleknya tidak diketahui melainkan dengan syariat. Hal itu karena menilai baik atau buruk merupakan kekhususan syari’at semata, tidak ada celah bagi akal dalam hal ini. Inilah madzhab ahlu sunnah wal jamaah.

Jadi, sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam: مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً   tidak bermakna orang yang mencontohkan dalam agama yaitu dalam hukum dan furu’-nya serta ushul-nya, bukan! Tapi maksudnya adalah orang yang mencontohkan dalam zaman dan naungan Islam yaitu pada zaman dan keberadaannya. Hal itu karena agama datang dan memperingatkan dari kerusakan dan keburukan serta mengajak berbuat kebaikan dan keshalihan, sehingga dalam naungan agama yang lurus menjadi sesuatu perbuatan yang agung. Tidak ada perbedaan antara kejelekan yang baru atau kejelekan yang sudah ada dahulu sebelum islam. (Israq Al Asyari’at Fil Hukmi Ala Taqsimi Al Bid’ah)

Diantara Sunnah Politik Rasulullah Yang Sering Diabaikan

  • Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam Adalah Kepala Negara

Muhammad bin Abdullah Shallallahu Alaihi Wasallam bukan hanya sebagai Rasul dan Nabi tapi beliau juga sebagai kepala Negara. Semua pemikir muslim sepakat bahwa Madinah adalah negara Islam yang pertama, dan apa yang dilakukan Rasulullah setelah hijrah dari Makkah ke Madinah adalah memimpin masyarakat Islam dan memerankan dirinya bukan hanya sebagai Rasul semata tetapi juga sebagai kepala negara Islam Madinah.

Langkah-langkah Rasulullah dalam memimpin masyarakat setelah hijrahnya ke Madinah, juga beberapa kejadian sebelumnya, menegaskan bahwa Rasulullah adalah kepala sebuah masyarakat dalam apa yang disebut sekarang sebagai negara. Beberapa bukti bisa disebut, diantaranya:

  1. Bai’at Aqabah

Pada tahun kesebelas kenabian, enam orang dari suku Khazraj di Yatsrib bertemu dengan Rasulullah di Aqabah, Mina. Mereka datang untuk berhaji. Sebagai hasil perjumpaan itu, mereka semua masuk Islam. Dan mereka berjanji akan mengajak penduduk Yatsrib untuk masuk Islam pula. Pada musim haji berikutnya, dua belas laki-laki penduduk Yatsrib menemui Nabi di tempat yang sama, Aqabah. Mereka, selain masuk Islam, juga mengucapkan janji setia (bai’at) kepada Nabi untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak berdusta, serta tidak mengkhianati Nabi. Inilah Bai’at Aqabah Pertama. Kemudian pada musim haji berikutnya sebanyak tujuh puluh lima penduduk Yathrib yang sudah masuk Islam berkunjung ke Makkah. Nabi menjumpai mereka di Aqabah. Di tempat itu mereka mengucapkan bai’at juga, yang isinya sama dengan bai’at yang pertama, hanya saja pada yang kedua ini ada isyarat jihad. Mereka berjanji akan membela Nabi sebagaimana membela anak istri mereka, bai’at ini dikenal dengan Bai’at Aqabah Kedua.

Kedua bai’at ini merupakan batu pertama bangunan negara Islam. Bai’at tersebut merupakan janji setia beberapa penduduk Yathrib kepada Rasulullah, yang merupakan bukti pengakuan atas Muhammad sebagai pemimpin, bukan hanya sebagai Rasul, sebab pengakuan sebagai Rasulullah tidak melalui bai’at melainkan melalui syahadat. Dengan dua bai’at ini Rasulullah telah memiliki pendukung yang terbukti sangat berperan dalam tegaknya negara Islam yang pertama di Madinah. Atas dasar bai’at ini pula Rasulullah meminta para sahabat untuk hijrah ke Yatsrib, dan beberapa waktu kemudian Rasulullah sendiri ikut Hijrah bergabung dengan mereka.

  1. Piagam Madinah

Umat Islam memulai hidup bernegara setelah Rasulullah hijrah ke Yatsrib, yang kemudian berubah menjadi Madinah. Di Madinah-lah untuk pertama kali lahir satu komunitas Islam yang bebas dan merdeka di bawah pimpinan Nabi Muhammad.

Penduduk Madinah ada tiga golongan. Pertama kaum muslimin yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar, dan ini adalah kelompok mayoritas. Kedua, kaum musyrikin, yaitu orang-orang suku Aus dan Kharaj yang belum masuk Islam, kelompok ini minoritas. Ketiga, kaum Yahudi yang terdiri dari empat kelompok. Satu kelompok tinggal di dalam kota Madinah, yaitu Banu Qainuqa’. Tiga kelompok lainnya tinggal di luar kota Madinah, yaitu Banu Nadhir, Banu Quraizhah, dan Yahudi Khaibar. Jadi Madinah adalah masyarakat majemuk.

Setelah sekitar dua tahun berhijrah, Rasulullah memaklumkan satu piagam yang mengatur hubungan antar komunitas yang ada di Madinah, yang dikenal dengan Piagam (Watsiqah) Madinah. Inilah yang dianggap sebagai konstitusi negara tertulis pertama di dunia. Piagam Madinah ini adalah konstitusi negara yang berasaskan Islam dan disusun sesuai dengan syariat Islam.

  • Terbentuknya Negara Islam Madinah Al Munawwarah

Sayangnya, Madinah di benak kita hanyalah sebuah kota suci dan tujuan wisata syariah. Padahal Yatsrib (Madinah) pada masa Rasulullah hidup adalah sebuah Negara baru dengan sistem pemerintahan Islam.

Kenapa kita menolak bahwa Madinah adalah Negara Madinah dengan Ibukota Madinah?! Sementara kita mengakui Negara Singapura, ibukota Singapura begitu juga dengan Negara Kuwait dan Qatar?! Padahal Negara Madinah dapat dikatakan sebagai Negara dalam pengertian yang sesungguhnya, karena telah memenuhi syarat-syarat pokok pendirian suatu Negara; yaitu wilayah, rakyat, pemerintah dan undang-undang dasar. Sebab, Nabi Muhammad pada tahun Pertama Hijriyah membuat PIAGAM MADINAH dalam rangka pembentukan sebuah Negara. Piagam yang berisi 47 pasal ini memuat peraturan-peraturan dan hubungan antara berbagai komunitas dalam masyarakat Madinah yang majemuk, dimana bergabung di dalamnya 3 kelompok masyarakat, yaitu umat Islam sendiri (baik Muhajirin dan Anshar); orang-orang Yahudi (dari suku Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan Bani Qainuqa’); dan sisanya suku Arab yang masih menyembah berhala.

Di dalam menjalankan roda pemerintahan sebagai kepala negara dalam  arti yang sesungguhnya, Nabi Muhammad dibantu oleh para sahabat dalam melindungi dan mengayomi rakyatnya. Termasuk melakukan berbagai diplomasi politik di luar negeri. Nabi Shallallahu Alaihai Wasallam selaku pemangku kekuasaan senantiasa melindungi rakyatnya, memenuhi kebutuhan mereka dan membawa mereka ke dalam kesejahteraan. Adapun acuan yang diterapkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam perannya sebagai kepala Negara Madinah adalah berdasarkan perjanjian yang ada dalam konteks bai’ah al-‘aqabah, dimana dalam perjanjian tersebut ada hak dan kewajiban secara berimbang antara kedua belah pihak.

Dalam praktiknya, Nabi Muhammad menjalankan pemerintahan yang tidak terpusat di tangan beliau. Untuk mengambil suatu keputusan politik, misalnya, dalam beberapa kasus, Nabi melakukan konsultasi dengan pemuka-pemuka masyarakat. Ada 4 (empat) cara yang ditempuh Nabi dalam mengambil keputusan politik, yaitu:

  • Mengadakan musyawarah dengan sahabat senior. Dalam konteks ini misalnya bagaimana Nabi dengan sahabat senior bermusyawarah mengenai tawanan Perang Badar. Abu Bakar meminta agar tawanan tersebut dibebaskan dengan syarat meminta tebusan dari mereka, sedangkan Umar menyarankan supaya mereka dibunuh saja.
  • Meminta pertimbangan kalangan profesional. Dalam hal ini misalnya, Nabi menerima usulan Salman al-Farisi untuk membuat benteng pertahanan dalam perang Ahzab menghadapi tentara Quraisy dan sekutu-sekutunya dengan menggali parit-parit di sekitar Madinah.
  • Melemparkan masalah-masalah tertentu yang biasanya berdampak luas bagi masyarakat ke dalam forum yang lebih besar. Untuk hal ini dapat dilihat pada musyawarah Nabi dengan sahabat tentang strategi perang dalam rangka menghadapi kaum Quraisy Mekkah di Perang Uhud.
  • Mengambil keputusan sendiri. Ada beberapa masalah politik yang langsung diputuskan Nabi dan mengesampingkan keberatan-keberatan para sahabat, seperti yang terjadi dalam menghadapi delegasi Quraisy ketika ratifikasi Perjanjian Hudaibiyah.

Di bawah naungan wahyu Al Qur’an, beliau menyampaikan ketentuan-ketentuan Allah tersebut kepada masyarakat Madinah. Sehingga tak heran, banyak kebijakan negara yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam menjalankan roda pemerintahan agar tetap stabil, di antaranya:

  1. Menciptakan persatuan dan kesatuan di antara komponen masyarakat negara Madinah.
  2. Untuk mengadili pelanggaran ketertiban umum, Nabi membentuk lembaga hisbah, yang antara lain bertugas mengadakan penertiban terhadap perdagangan agar tidak terjadi kecurangan-kecurangan yang dilakukan pedagang di pasar.
  3. Untuk pemerintahan di daerah, beliau mengangkat beberapa sahabat sebagai gubernur atau hakim.
  4. Mengangkat beberapa orang sahabat sebagai sekretaris negara.
  5. Menjalankan hubungan diplomatik dengan negara-negara luar.
  6. Mengangkat duta-duta ke negara-negara sahabat. Tercatat dalam sejarah bahwa Rasulullah mengutus Amru bin ‘Ash (kepada Raja Oman), Salith bin Amru (kepada raja Yamamah), ‘Ala bin Hadhramy (kepada Raja Bahrain) Syuja’ bin Wahab (kepada Raja di daerah Syam).

Kebijakan-kebijakan yang dilakukan Rasulullah menegaskan kita bahwa beliau telah menjalankan perannya sebagai kepala Negara dengan baik. Semua yang dilakukannya terhadap umat kala itu merupakan tugas-tugas seorang sebagai kepala negara dalam pengertian modern saat ini. Sehingga kita sangat sulit menerima jika ada yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad hanyalah ditugaskan untuk menjalankan misinya sebagai Rasul Allah, penyampai wahyu, bukan pemimpin negara. Dan selain sebagai seorang Rasul dan Negarawan, beliau juga menjadi jenderal dan penakluk yang handal. Semua itu demi Allah, demi misi kebenaran, yang oleh karenanya ia diutus. Dalam hal ini semua, sebenarnya dia adalah orang besar, lambang kesempurnaan insani par excellence dalam arti kata yang sebenarnya.

  • Mendirikan Masjid Sebagai Pusat Pemerintahan Dan Informasi

Kita masih menganggap bahwa Masjid Nabi hanya rumah ibadah padahal masjid Nabi pada waktu itu menjadi pusat kegiatan umat untuk mengurusi kegiatan islam dan kaum muslimin. Ketika itu, selain sebagai tempat ibadah, tarbiyah, masjid juga sebagai tempat Nabi untuk membicarakan hal-hal strategis dan politis terkait dengan hubungan diplomatik antar wilayah (penerimaan delegasi), invansi dan pertahanan, bahkan masjid juga sebagai tempat dimana tawanan-tawanan perang dimukimkan, sehinggga mereka melihat etika kehidupan Nabi dan para sahabat yang kemudian tidak sedikit dari mereka menerima Islam. Masjid juga sebagai tempat mukim orang-orang fakir yang memiliki keinginan keras belajar Islam seperti Ahlus Shuffah, tempat latihan militer dan persiapan tempur, tempat pengadilan dan sengketa, pengobatan para korban perang, dan lain-lain.

Sejumlah hadits yang menyebutkan wajibnya shalat berjamaah lima waktu bagi kaum muslimin menunjukkan fungsi masjid sebagai tempat ibadah mahdhah. Hadits-hadits yang menyebutkan khutbah-khutbah Nabi, nasihat-nasihat di pagi, sore dan malam hari di masjid menunjukkan fungsi masjid sebagai tempat tarbiyah. Hadits-hadits yang menyebutkan tentang musyawarah Nabi ketika hendak berperang di sejumlah peperangan yang Nabi ikuti kebanyakan diadakan di Masjid diikuti oleh para sahabat senior dan sahabat-sahabat lainnya.

Kisah tentang tawanan perang dari Bani Hanifah bernama Tsumamah bin Utsal yang kemudian masuk Islam dalam tiga kali jengukan nabi di Masjid Nabawi. (Al Bukhari Kitab al Maghazy, Bab Wafdi bani Hanîfah). Saad bin Mu’adz dalam perang Khandaq juga terluka akibat serangan panah dari Habban bin Qais bin al Ariqah yang mengakibatkan urat di lengannya putus dan dirawat di Masjid Nabawi. Sementara itu, delegasi-delegasi perundingan damai yang pernah diterima Rasulullah banyak terjadi pada tahun ke 9 Hijryah. Diantaranya utusan dari Tha’if dua tahun sebelum Nabi wafat, utusan Bani Sa’ad dipimpin Dimam bin Tsa’lab yang kemudian masuk Islam, utusan dari Kristen Najran terdiri dari enam orang, utusan dari Bani Thayyi Ady bin Hatim yang kemudian masuk Islam, bebreapa utusan penyair yang datang secara kasar di dalam Masjid Nabawi berasal dari Bani Tamim dan Thaif, dan lain-lain.

Penutup

Diantara pilar kekuatan umat Islam yang telah dibangun oleh Rasulullah adalah tasyri’ atau qanun (hukum dan perundang-undangan) yang bersumber pada syari’at (tuntunan) ilahi dan memutuskan perkara dengannya. Syari’at adalah pedoman hidup yang ditetapkan Allah Ta’ala untuk mengatur kehidupan yang Islam dalam arti yang hakiki sesuai dengan Al Qur’an dan As-Sunnah.

 

Sebuah masyarakat tidak bisa dikatakan sebagai masyarakat Islam kecuali apabila menerapkan syari’at ilahi dan merujuk kepadanya dalam seluruh aspek kehidupannya, baik yang bersifat ibadah (ritual) maupun muamalah (sosial). Sementara hukum dan undang-undang tadi merupakan salah satu kekuasaan utama bagi masyarakat Islam tersebut.

Sebagai kepala Negara, Rasulullah telah memberikan teladan begitu sempurna. Semua aspek telah beliau tegakkan sendi-sendinya, prinsip-prinsipnya, aturan-aturannya, disertai batasan-batasannya. Hidup sebagai pemimpin sederhana, paling bertaqwa, berfikiran jernih, cemerlang dan cerdas, berakhlaq sangat mulia, zuhud, berwibawa, adalah kelebihan yang tak mungkin lagi dijumpai hingga akhir zaman nanti. Beliau adalah satu-satunya prototype yang umat Islam diperintahkan untuk meneladani kepada bentuk seperti itu.

Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved