Kisah Pengabdian Penyuluh Agama di Tengah Banjir Aceh Tamiang
Hujan yang turun tanpa henti sejak 25 November 2025 mengubah hari-hari tenang di Aceh Tamiang menjadi situasi darurat. Banjir bandang melanda sejumlah wilayah, merendam permukiman warga, memutus akses jalan, dan memaksa ribuan orang bertahan dalam keterbatasan. Di tengah kondisi itu, Syifa Urrahmi, Penyuluh Agama Islam Ahli Pertama di KUA Kecamatan Tenggulun, menjalani hari-hari pengabdian yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Air tiba-tiba merangsek masuk ke Desa Simpang Kiri, tempat Syifa tinggal sebagai perantau. Dalam hitungan jam, ketinggian air meningkat drastis. Bersama warga sekitar, ia menyelamatkan barang-barang seadanya ke lantai dua rumah kos. Ruang sempit itu kemudian berubah menjadi tempat pengungsian darurat.
“Kami naik sambil membawa apa yang bisa dibawa. Tidak ada waktu lagi,” tutur Syifa saat berbincang dengan Kemenag, di Aceh Tamiang, Jumat (12 Desember 2025).
“Begitu sampai di lantai dua, saya langsung sadar kami mungkin akan terjebak lama di sini,” sambungnya mengenang hari itu.
Ruangan pengungsian tersebut dihuni 18 orang, terdiri dari balita, bayi, hingga lansia yang tengah sakit. Persediaan sangat terbatas—hanya satu kompor gas, beberapa liter air bersih dan makanan seadanya. Malam pertama mereka lalui dalam kecemasan, menunggu air surut sambil saling menguatkan.
Dalam situasi serba terbatas itu, Syifa berusaha menjalankan perannya sebagai penyuluh agama. Ia menenangkan warga, menguatkan dengan doa dan menghadirkan keteduhan di tengah kepanikan. “Di kondisi seperti ini, warga tidak hanya butuh bantuan fisik, tapi juga ketenangan. Saya berusaha hadir sebisa saya,” ujarnya.
Harapan air segera surut pupus ketika pagi datang. Ketinggian banjir justru semakin bertambah hingga mencapai atap rumah warga. Tinggal beberapa anak tangga sebelum air memasuki ruang pengungsian. Listrik padam, jaringan komunikasi terputus dan akses menuju jalan nasional lumpuh akibat banjir dan longsor.
Pada hari ketiga, Syifa sempat naik ke atap rumah untuk melihat kondisi sekitar. Air masih setinggi atap. Di titik itu, ia benar-benar pasrah.
Mereka terisolasi sepenuhnya. “Yang paling berat bagi saya adalah tidak bisa memberi kabar kepada keluarga. Saya membayangkan ibu saya pasti sangat panik,” tuturnya lirih.
Kondisi fisik Syifa pun mulai melemah. Tiga hari berada di ruang pengap bersama banyak orang membuatnya jatuh sakit. Demam tinggi menyerangnya selama dua hari. Meski demikian, ia tetap berusaha membantu warga lain—mendampingi lansia yang sakit, menenangkan anak-anak dan menguatkan para ibu.
“Saat itu saya berpikir, kalau saya menyerah, siapa lagi yang bisa membantu? Saya adalah ASN, penyuluh agama. Setidaknya saya harus tetap terlihat kuat di depan warga,” katanya.
Hari demi hari berlalu dengan sangat lambat. Harapan mulai muncul pada hari ketujuh, ketika beberapa kendaraan mulai bisa melintas. Hingga akhirnya, pada 4 Desember 2025, abangnya datang menjemput, menembus jalan rusak yang dipenuhi lumpur.
“Begitu melihat abang saya, saya langsung menangis. Rasanya seperti baru bangun dari mimpi buruk,” ungkap Syifa.
Namun perjalanan keluar dari Aceh Tamiang kembali menguji batinnya. Sepanjang jalan, ia melihat rumah-rumah hancur, kendaraan tersangkut lumpur dan warga mengungsi di tepi jalan. “Di banyak titik, Aceh terlihat seperti baru dilanda tsunami kecil. Saya benar-benar sedih melihatnya,” ucapnya.
Kini, Syifa menjalani hari-harinya dengan tekad yang jauh lebih kuat. Bagi perempuan berusia 24 tahun itu, banjir bukan sekadar bencana, melainkan pengingat akan makna pengabdian ASN yang sesungguhnya—hadir bersama masyarakat, bahkan ketika dirinya sendiri menjadi korban.
“Allah memberi ujian bukan untuk melemahkan, tetapi untuk menguatkan,” katanya. Ia berharap masyarakat Aceh yang terdampak banjir diberi kekuatan dan kemudahan dalam proses pemulihan, serta terus mendapatkan dukungan dari semua pihak. (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments