Follow us:

Mengikuti Kesabaran Nabi Yusuf

Salah satu manusia yang terpilih oleh Allah Ta’ala sebagai pribadi yang sabar adalah Nabi Yusuf. Kesabarannya diabadikan di Al-Quran surah Yusuf.

Kehidupan Nabi Yusuf tidak lepas dari cobaan. Selesai satu, datang lagi cobaan yang lain. Ada yang sama kadarnya, malahan ada yang lebih berat.

Awalnya, para saudara Nabi Yusuf iri atas kasih sayang bapaknya pada Yusuf. Akhirnya, dengan tipu daya, Yusuf berhasil mereka singkirkan. Kemudian datang cobaan yang berat, yaitu istri Al-Aziz, penguasa Mesir. Setelah menyusul lagi cobaan penjara tanpa sebab yang jelas atau sah.

Cobaan susah telah berlalu, akhirnya datang cobaan kesenangan dan kemewahan. Nabi Yusuf merupakan seorang menteri yang bertanggung jawab pada pertanian, perekonomian, dan persediaan pangan seluruh negeri.

Jika dilihat dari sudut pandang kekinian, posisi tersebut dianggap sebagai kementerian yang “basah”. Anggapan ini sama sekali tidak berlaku dan tidak menggoyahkan keteguhan iman Nabi Yusuf.

Lengkap sudah cobaan yang dijalaninya, meskipun demikian tidak juga melemahkan atau mengguncang kesabarannya yang tetap tegak.

Ada dua ayat yang menggambarkan kondisinya. 

Pertama, Allah Ta’ala tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik, termasuk bersikap sabar.

Kedua, ayat ini merupakan kunci keberhasilan meskipun Nabi Yusuf menghadapi berbagai rintangan. Firman pertama pada surah Yusuf ayat 56, “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri ini (Mesir); untuk tinggal di mana saja yang dia kehendaki. Kami melimpahkan rahmat kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”

Berhubungan dengan ayat ini, Imam Syafi’i pernah ditanya, “Manakah yang lebih utama bagi seorang mukmin; diberi cobaan (kesusahan) atau diberi posisi?”

Ia menjawab, “Tidaklah pemberian posisi itu kecuali setelah mengalami cobaan berat. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menguji atau memberi cobaan berat kepada Yusuf sebelum memberikan posisi kepadanya.”

Adapun firman selanjutnya dalam surah Yusuf ayat 90, “Mereka berkata, ‘Apakah engkau benar-benar Yusuf?’ Dia (Yusuf) menjawab, ‘Aku Yusuf dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik’.”

Ada kunci keberhasilan yang membuat Nabi Yusuf mendapatkan kedudukan yang tinggi dan mulia, yaitu takwa dan sabar. Takwa mempunyai makna semua kebaikan dan sabar yang bermakna segenap kebajikan.

Jika keduanya terhimpun dalam pribadi seseorang, maka dia termasuk orang-orang yang berbuat baik dan Allah Ta’ala tidak menyia-nyiakan pahala mereka. Itu ada pada diri Nabi Yusuf.

Cobaan yang paling berat ketika sesuatu itu bisa dilakukan. Hal ini dialami Nabi Yusuf saat menduduki pos kementerian yang saat itu memungkinkan untuk hidup bermewahan. Namun yang paling berat saat cobaan ajakan berzina oleh istri al-Aziz, mengapa?

Pertama, usia muda dan jejaka, sehingga dorongan yang sangat kuat untuk melakukannya. 

Kedua, wanita yang menggoda berparas cantik dan berkedudukan (istri al-Aziz) adalah tuannya yang mengajak.

Ketiga, Nabi Yusuf sebagai budak. Kebebasan seorang budak sangat berbeda dengan orang yang merdeka. 

Keempat, sebagai orang asing di suatu negeri rasa malunya lebih rendah dibandingkan berada di lingkungan keluarga maupun teman-temannya.

Kelima, wanita cantik ini memberi pilihan, mengikuti nafsunya atau akan dipenjarakan.
Kesabaran dalam menghadapi cobaan zina ini jauh lebih berat saat dia disingkirkan saudara-saudaranya.

Saat itu, dia tidak mempunyai pilihan atau ikhtiar kecuali harus bersabar dan menghadapinya. Sedangkan kesabaran dalam menolak nafsu wanita tersebut adalah kesabaran yang bersifat ikhtiar dan hal ini didukung oleh kondisi di atas.

Bagaimana sikap Nabi Yusuf dalam ancaman tersebut? Pilihannya jika mengalahkan keteguhannya dan berzina, dia menjadi orang yang fasik (cobaan agama). Sedangkan cobaan dunianya adalah masuk penjara sehingga menjadi orang hina.

Nabi Yusuf memilih dipenjara, mengorbankan dunianya demi agama, mengorbankan kebebasannya demi menyelamatkan akidah, seraya berucap, “Rabbi, penjara itu lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang bodoh.” (QS Yusuf [12]: 33 ).

Ini keteguhan dan kesabaran seseorang hamba Allah tentu bisa kita jadikan acuan. Semoga Allah Ta’ala meneguhkan kesabaran para pemimpin negeri Islam secara umum dan negeri ini secara khusus layaknya Nabi Yusuf. (UYR/Republika)

Share This:
Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved