Follow us:

Penulis Muslim yang Terinspirasi Al-Quran Memenangkan Nobel 2021

Darussalam.id – Abdulrazak Gurnah, seorang penulis Muslim yang karyanya terinspirasi dari al-Qur’antelah memenangkan penghargaan Nobel 2021 dalam bidang Sastra.

Penulis berwarga negara Tanzania yang tinggal di Inggris itu di anugerahi penghargaan untuk “terobosan tanpa kompromi dan penuh kasih dari efek kolonialisme dan nasib pengungsi di jurang antara budaya dan benua”.

Pria berusia 73 tahun itu mengatakan dia “merasa terhormat menerima penghargaan ini dan bergabung dengan para penulis pendahulu dalam daftar Nobel. Ini luar biasa dan saya sangat bangga.”

Gurnah, yang besar di Zanzibar namun mengungsi ke Inggris pada 1960, sudah menerbitkan sepuluh novel dan banyak cerita pendek.

Dia mulai menulis saat usianya 21 tahun. Surat-surat dalam al-Quran menjadi sumber awal inspirasinya, selain puisi Arab dan Persian. Tradisi berbahasa Inggris, dari Shakespeare hingga V. S. Naipaul, juga termasuk.

“Saya senang mengetahui (penerima) Penghargaan Nobel untuk Kesusastraan yang baru adalah seorang Muslim yang terinspirasi al-Quran,” tulis penulis Tharik Hussain di Twitter.

“Banyak dari novelnya memiliki penggambaran al-Quran, seperti Paradise – terpilih untuk Booker Prize pada 1994 – di mana kisah tokoh utama dalam cerita itu adalah kisah Nabi Yusuf di dalam al-Quran,” tambah Hussain.

Abdulrazak Gurnah adalah penulis kulit hitam Afrika pertama dalam 35 tahun yang memenangkan penghargaan bergengsi itu. Selain itu ia juga penulis kulit hitam pertama yang menang sejak Toni Morrison pada 1993.

Anders Olsson, ketua komite Nobel, mengatakan: “Dedikasi Gurnah pada kebenaran dan keengganannya pada penyederhanaan sangat mencolok. Ini dapat membuatnya suram dan tanpa kompromi, pada saat yang sama ia mengikuti nasib individu dengan belas kasih yang besar dan komitmen yang teguh.

“Novel-novelnya meloncat dari deskripsi stereotip dan membuka pandangan kita terhadap Afrika Timur yang beragam secara budaya yang tidak dikenal banyak orang di bagian lain dunia. Di alam sastra Gurnah, semuanya berubah – ingatan, nama, identitas.

Bekas Editor Gurnah, Alexandra Pringle, di Bloomsbury mengatakan dia “sangat senang” untuknya.

“Selama bertahun-tahun dia telah menceritakan kisah-kisah indah dan kuat tentang angin politik, perdagangan, penjajahan, cinta, dan perang yang melanda orang-orang di seluruh benua.

“Saya telah menerbitkan novel-novelnya sejak hari-hari awal saya di Bloomsbury dan setelah dua puluh tahun menjaga keyakinan, ini adalah salah satu hari paling bahagia dalam hidup saya”.(HUD/Hidayatullah.com)

Share This:

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved