Follow us:

Setiap Kita Adalah Pemimpin

 

الحمد لله الذى هدانا إلى صراط مستقيم، دينا قيما ملة إبراهيم حنيفا، بعث به إلينا ولد آدم محمد بن عبد الله. صلوات الله وسلامه عليه ففتح به أعينا عميا وأذانا صما وقلوبا غلفا. أخرج الناس به من الظلمات إلى النور، من ظلمات الجهل والشرك إلى نور العلم والتوحيد.

أشهد أن لا إله الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله . اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد،

فيا عباد الله، أوصيكم وإياي بتقوى الله فقد فاز المتقون. فقد قال الله تعالى فى القرأن الكريم:  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (آل عمران :102)

Islam mengajarkan kepada kita bahwa setiap orang mempunyai kedudukan leadership dan bertanggung jawab kepada orang-orang yang dipimpinnya. Dalam sebuah hadits disebutkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ فِي مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ قَالَ فَسَمِعْتُ هَؤُلَاءِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَحْسِبُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالرَّجُلُ فِي مَالِ أَبِيهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Dari Abdullah bin Umar Radhiallahu Anhum, bahwasanya ia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Setiap dari kalian adalah pemimpin yang akan di mintai pertanggung jawabannya atas kepemimpinannya, maka seorang imam adalah pemimpin bagi masyarakatnya dan akan di mintai pertanggung jawabanya tentang kepimpinannya, seorang suami adalah pemimpin bagi keluarga dan ia bertanggung jawab terhadap keluarganya, seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan ia bertanggung jawab terhadap mereka, seorang pembantu adalah pemimpin bagi harta tuannya dan ia bertanggung jawab terhadapnya”. Ibnu Umar berkata: aku mendengar itu semua dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dan akupun mengira bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda: “Dan setiap anak adalah pemimpin bagi harta ayahnya dan ia bertanggung jawab terhadapnya,  maka kalian adalah pemimpin dan tiap kalian mempunyai tanggung jawab terhadap yang di pimpinnya”. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan lainnya)

Hadits ini sangat populer dan boleh jadi sudah banyak dari kita yang menghafalnya, hadits diatas mengingatkan kepada kita semua — dengan apapun profesi kita saat ini– bahwa Allah akan memintakan pertanggungjawaban dari semua amanah yang telah Dia embankan kepada hambaNya. Tidak ada yang dibiarkan olehNya kecuali setiap kita  akan ‘diberondong’ dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan saat itu tak ada satu makhlukpun yang bisa untuk berdusta.

Hadits di atas menjelaskan tentang kedudukan setiap orang menjadi pemimpin, sejak dari pemimin keliber besar sampai kepada format kecil, dari presiden hingga ketua RT. Dijelaskan lebih jauh bahwa kedudukan dan sifat kepemimpinan tidak dapat dipisahkan dari jiwa dan semangat responsibility, sesuai dan setaraf dengan kedudukan masing-masing. Mari kita uraikan macam-macam kepemimpinan di atas berdasarkan dengan sistematika hadits satu demi satu.

Kedudukan Kepala Negara Atau Pemuka Umat

Fungsi kepemimpinan ini bersumber kepada kepercayaan. Jabatan atau fungsi ini tidak bisa diduduki menurut kemauan dan kehendak setiap orang. Tidak bisa diorbitkan, tidak bisa dinaikkan seperti menaikkan layang-layang, tapi harus mengalami proses penilaian pemilihan. Sebahagian besar tergantung terhadap watak, kepribadian dan kemampuan orang yang bersangkutan sendiri, selain daripada itu adalah yang mengangkat, memilih dan yang mempunyai pendukung dan pembelanya. Kalaupun ada yang menduduki fungsi ini tanpa melalui proses yang wajar, maka posisinya laksana bangunan di atas lumpur yang mudah roboh dan mudah jatuh. Seorang kepala Negara adalah seorang yang berhasil bertahta dalam hati rakyat. Rakyat mencintainya karena ia selalu menunjukkan sesuai kata dengan perbuatannya. Turut bersama rakyat dicelah-celah gelombang suka dan duka kehidupan.

Oleh karena itu seorang pemimpin haruslah mempunyai sifat Shiddiq (jujur), Amanah (bertanggungjawab) sampai batas yang ditentukan, Fathanah (cerdas), Tabligh (menyampaikan) dakwah kepada masyarakat.

Salah satu contoh kehidupan kepala Negara yaitu Khalifah Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu sebagai berikut,

Kerika malam semakin pekat, kota Madinah mulai hening dari hingar-bingar manusia. Sebagaimana biasanya, Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu keluar berteman sepi. Bukan untuk mencari pencitraan diri. Bukan untuk mengais-ngais sensasi. Melainkan karena tanggung jawab dalam mengemban amanah ummat. Ia harus keluar untuk melihat kondisi rakyatnya. Mungkin saja, ada inspirasi yang bisa ia jadikan bahan untuk mengevaluasi kebijakan dan kepemimpinannya.

Saat melewati sebuah kemah, terdengar suara rintihan wanita. Umar Radhiallahu Anhu berjalan mendekat. Seorang lelaki sedang duduk di samping tenda. Setelah ditanya, lelaki itu mengaku berasal dari kampung, sedang istrinya di dalam tenda sedang berjuang menahan sakit, karena hendak melahirkan. Di situ, tidak ada manusia lain kecuali lelaki badui, istrinya dan Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu.

Tanpa berpanjang kalam, Umar Radhiallahu Anhu segera beranjak pergi, pulang menemui istrinya. “Maukah kamu pahala besar yang sudah Allah giring kepadamu?” kata Umar Radhiallahu Anhu kepada istrinya Ummu Kultsum Radhiallahu Anha.

“Apa itu?” tanya istrinya.

“Ada seorang wanita asing hendak melahirkan. Dan di sana tidak ada seorangpun yang membantu.” jelas lelaki yang pertama kali digelari Amirul Mukminin itu.

“Ya, aku mau,” jawab Ummu Kultsum Radhiallahu Anha mantap. Mereka berdua pun beranjak pergi, menuju sebuah perkemahan badui, sambil membawa makanan.

Sampai di tempat, Ummu Kultsum Radhiallahu Anha segera masuk tenda, menemui wanita badui yang hendak melahirkan. Sedang Umar Radhiallahu Anhu mengumpulkan kayu bakar dan memasak makanan. Tak ia pedulikan asap-asap yang menyelinap di sela-sela jenggotnya.

Lelaki badui itu hanya diam menatap Umar Radhiallahu Anhu dengan sorotan mata penuh heran. Seolah-olah Allah telah mengirimkan kepadanya seorang penolong malam itu. Dan ketika istrinya telah melahirkan, Ummu Kultsum Radhiallahu Anha berteriak memanggil Umar Radhiallahu Anhu, “Wahai Amirul Mukminin, kabarkanlah kepada temanmu itu bahwa anaknya laki-laki.”

Lelaki itu tersentak kaget. Ternyata orang yang ada di depannya adalah Amirul Mukminin, seorang lelaki alumni “Madrasah Nabawiyah” yang namanya menggemparkan dunia. Umar segera menenangkan lelaki badui. Lalu memberikan makanan kepada Ummu Kultsum Radhiallahu Anhaagar menyuapi wanita badui tersebut.

Kemudian Umar Radhiallahu Anhu mengambil makanan lagi dan diberikan kepada lelaki badui. “Makanlah, karena kamu sudah menahan kantuk semalaman.”

Begitulah Umar Radhiallahu Anhu melewati malam-malamnya. Mata selalu terjaga, demi kemakmuran rakyatnya. Sehingga banyak sekali kebijakan-kebijakan pemerintahannya yang kemudian diubah, setelah mendapat inspirasi dari perjalanan malamnya. Mulai dari perubahan masa pengiriman pasukan perang, yang awalnya tanpa ada batas waktu dan berubah menjadi empat bulan. Kemudian pemberian santunan negara, yang awalnya hanya untuk bayi yang telah selesai masa penyusuan, lalu diganti menjadi diberikan kepada setiap bayi yang lahir. Dan masih banyak lagi.

Hal semisal itu hanya akan dilakukan oleh seorang pemimpin yang memahami makna dan hakekat kepemimpinan yang sesungguhnya. Bahwa memimpin itu adalah melayani. Memimpin itu adalah memberi. Memimpin itu adalah mencintai. Memimpin itu adalah berempati. Memimpin itu adalah mengayomi. Memimpin itu adalah melindungi. Memimpin itu adalah menyayangi. Dan memimpin itu adalah memberikan keteladanan yang baik kepada pengikutnya. Dan selama hal ini tidak dimengerti dengan benar oleh para pemimpin lalu tidak diaplikasikan, maka selamanya kepemimpinan itu tidak jauh beda dengan perbudakan. Yang terjadi adalah eksploitasi-eksploitasi di atas pilar kezhaliman. Seperti tuan dan pesuruh. Seperti majikan dan pembantu. Karena tidak ada jembatan cinta yang menyatukan mereka.

Suami Sebagai Pemimpin Keluarga

Seorang suami menjadi pemimpin di lingkungan keluarga terutama terhadap anak dan istrinya. Fungsi kepemimpinan suami dilukiskan di dalam Alquran dalam surah An Nisa’ ayat 34

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ ….(النساء: 34)

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”. (An Nisaa’: 34)

Menurut ayat ini seorang suami memimpin istrinya dalam arti kata yang luas. Bukan saja menyangkut soal nafkah, tempat kediaman dan kepentingan lahiriyah lainnya. Tetapi juga terkait dengan masalah kemantapan rohaniah, diantaranya dengan mempergaulinya dengan cara yang ma’ruf, membimbingnya  akan hukum-hukum islam serta pengetahuan pokok lainnya seperti berlaku adil.

Selain itu, seorang suami bertanggungjawab terhadap anaknya. Bukan saja mengenai kehidupannya, tetapi yang terpenting adalah tentang pendidikan anaknya. Sebab shalih dan thalihnya anak sebagian besar bergantung kepada ayahnya. Setiap anak tak ubahnya laksana besi yang dibakar, siap ditempa menjadi suatu alat menurut yang dikehendaki pembentuknya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ

Seorang bayi tak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yg akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi”. (HR. Muslim)

Allah Ta’ala juga telah mengingatkan di dalam alquran,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (التحريم: 6)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At Tahrim: 6)

Suami yang berhasil memimpin keluarganya, dikategorikan oleh Rasulullah dengan sebaik-baik manusia.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى. رواه الترمذى

Dari ‘Aisyah Radhiallahu Anha berkata: “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berasabda: “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Ash Shahihah)

Islam telah mengatur hak-hak dan tugas suami istri sesuai dengan keadaan, kondisi jasmaniah, pembawaan, tabiat dan watak masing-masing. Pada umumnya laki-laki mempunyai badan yang lebih kuat,  sigap, dinamis, berani, banyak inisiatif, keras kemauan, tidak mudah gugup, cemas dan lain-lain. Pembawaan demikian menyebabkan kaum lelaki mempunyai daya tahan dalam menghadapi dan mengatasi pukulan gelombang hidup, berjuang mencari nafkah dan bergulat dengan kerasnya kehidupan. Terlebih suami memiliki ruang gerak yang lebih luas dan langkah bebas.

Istri Sebagai Pemimpin

Para istri pada umumnya mempunyai kondisi jasmani yang lemah. Tetapi lebih tenang, perasa, hati-hati, penyabar dan lainnya jika dibandingkan dengan kaum lelaki. Pembawaan dan tabiat demikian menyebabkan kaum wanita lebih mempunyai bakat dalam pekerjaan mengasuh dan memelihara penuh cinta, kasing sayang dan sebagainya. Pekerjaan memelihara rumah tangga, mengasuh anak membutuhkan ketelitian, ketenangan, kesabaran dan lebih sesuai dikerjakan oleh kaum wanita.

Selain itu, perlu ditegaskan walaupun pada umumnya para perempuan diserahi urusan memelihara rumah tangga dan mengasuh anak-anak, akan tetapi tidak berarti bahwa bidang lainnya tertutup bagi mereka. Sebagai manusia pribadi dan anggota masyarakat, kaum wanita mempunyai hak dan tugas di luar rumah tangga, mereka boleh pergi shalat di dalam masjid, berhak mencampuri soal sosial dan kemasyarakatan. Bahkan saat tertentu misalnya dalam peperangan, mereka mempunyai tugas khusus yang sesuai dengan kemampuan dan kodrat mereka.

Dalam kepemimpinan rumah tangga, kaum wanita mempunyai kewajiban untuk memelihara kesejahteraan, ketenangan, kedamaian di dalam rumah, baik dalam hubungan suami istri, anak-anak, karib kerabat, tetangga dan sebagainya.

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin merumuskan kewajiban kepemimpinan seorang istri dalam rumah tangga diantaranya adalah berlaku sederhana, jangan besar pasak daripada tiang, memelihara hubungan harmonis antar kedua keluarga, mendidik anak, memegang rahasia suami dan rahasia rumah tangga.

Islam menutup lubuang yang dapat menimbulkan fitnah, sehingga seorang istri tidak diperkenankan menerima tamu sendirian di dalam rumahnya, jika tidak disertai mahramnya. Bahkan jika istri hedak bepergian keluar, haruslah dengan persetujuan sang suami.

Pelayan Atau Pembantu Selaku Pemimpin

Seorang pembantu bagaimanapun rendah pekerjaannya, mempunyai kedudukan sebagai pemimpin tertama dalam memelihara dan menjaga harta benda majikannya yang diamanahkan kepadanya.

Abdullah bin Dinar meriwayatkan bahwa suatu hari dia berjalan bersama Amirul Mukminin Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu dari Madinah menuju Makkah. Di tengah perjalanan beliau bertemu dengan anak gembala. Lalu timbul dalam hati Khalifah Umar untuk menguji sejauh mana kejujuran dan keamanahan si anak gembala itu.

Maka, terjadilah dialog berikut ini. ”Wahai anak gembala, juallah kepadaku seekor anak kambing dari ternakmu itu!” ujar Amirul Mukminin. ”Aku hanya seorang budak,” jawab si gembala. Umar bin Khattab berkata lagi, Umar bin Khatab membujuk: “Kambing itu amat banyak. Apakah majikanmu tahu jumlahnya? Apakah dia suka memeriksa dan menghitungnya?” Dijawab oleh anak tersebut dengan mantab: “Tidak, majikanku tidak tahu berapa ekor jumlah kambingnya. Dia tidak tahu berapa kambing yang mati dan berapa yang lahir. Dia tidak pernah memeriksa dan menghitungnya.” Umar bin Khatab terus mencoba membujuk: “Kalau begitu hilang satu ekor kambing, majikanmu tidak akan tahu. Atau Katakan saja nanti pada tuanmu, anak kambing itu dimakan serigala. Ini uangnya, terimalah! Ambil saja buat kamu untuk membeli baju atau roti.” Anak gembala tetap tidak terbujuk dan mengabaikan uang yang disodorkan oleh Umar”.

Anak gembala tersebut diam sejenak, ditatapnya wajah Amirul Mukminin, lalu keluar dari bibirnya perkataan yang menggetarkan hati Khalifah Umar, ”Jika Tuan menyuruh saya berbohong, lalu di mana Allah? Bukankah Allah Maha Melihat? Apakah Tuan tidak yakin bahwa Allah pasti mengetahui siapa yang berdusta?”

Umar bin Khattab adalah seorang khalifah, seorang pemimpin. Dia adalah seorang pemimpin umat yang sangat berwibawa lagi ditakuti, dan tak pernah gentar menghadapi musuh. Akan tetapi, menghadapi anak gembala itu beliau gemetar, rasa takut menjalari seluruh tubuhnya, persendian-persendian tulangnya terasa lemah, kemudian beliau menangis. Menangis mendengar kalimat tauhid itu, yang mengingatkan pada keagungan Allah, dan tanggung jawabnya di hadapan-Nya kelak.

Lalu dibawanya anak gembala yang berstatus budak itu kepada tuannya, kemudian ditebusnya, dan beliau berkata, ”Dengan kalimat tersebut “Fa ainallah?” (dimana Allah) telah kumerdekakan kamu dari perbudakan itu dan dengan kalimat itu pula insya Allah kamu akan merdeka di akhirat kelak.” Peristiwa di atas jelas merupakan cermin jiwa yang ihsan, terpuji, serta gambaran iman yang melahirkan sifat jujur dan amanah meskipun dari seorang gembala.

Anak Selaku Pemimpin

Seorang anak berhadapan dengan harta benda orang tuanya haruslah bertindak sebagai pemimpin yang bertanggungjawab. Ia harus memelihara harta milik orang tuanya, ia tidak boleh berperilaku seperti peribahasa “pagar makan tanaman”. Jangan semena-mena karena merasa bahwa harta yang digunakan adalah milik orangtuanya lantas ia hambur-hamburkan tanpa pertanggungjawaban.

Intisari yang harus dijaga dari setiap pemimpin adalah jiwa dan semangat bertanggungjawab. Semoga setiap kita menjadi pemimpin yang baik. Dan semoga bangsa Indonesia memiliki pemimpin-pemimpin yang shalih, cinta kepada islam dan membela dan berpihak kepada umat islam, sehingga memperhatikan urusan islam dan kaum muslimin. Dan Allah Ta’ala mencurahkan keberkahan-Nya terhadap bangsa ini. Aaamiin..

بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Oleh:Drs. Qomaruddin, MA.

(HUD/DARUSSALAM.ID)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved