Follow us:

Spirit Syaban: Menyiram Hati di Tengah Ujian Alam dan Darurat Pendidikan

Spirit Sya’ban mengajarkan satu hal mendasar: kesuksesan sejati tidak lahir dari loncatan instan, melainkan dari proses perawatan yang sabar dan berkelanjutan. Kitab Ta’limul Muta’allim memberi peta jalan bahwa pribadi sukses bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial. Pada edisi ke-19 ini, refleksi tersebut menemukan konteks yang lebih luas dan lebih mendesak.

Kita menyongsong Ramadan bukan dalam ruang hampa, melainkan di tengah ujian alam dan darurat pendidikan terutama di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang nyata di hadapan mata. Dari Sumatera hingga Jawa Barat, bencana alam silih berganti. Pada saat yang sama, dunia pendidikan menghadapi luka sunyi yang kerap tak terdengar.

Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama salaf mewariskan analogi yang amat membumi dan dekat dengan kehidupan agraris masyarakat Sunda dan Priangan: Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadan bulan memanen. Ungkapan ini bukan sekadar peribahasa, melainkan peta pendidikan jiwa. Iman dan amal tidak tumbuh secara instan. Ia memerlukan proses, waktu, dan kesabaran seperti benih yang tak mungkin berbuah tanpa dirawat secara tekun.

Seorang kiai sepuh Madrasah Qudsiyyah, KH Asnawi, menjelaskan bahwa Sya’ban disebut sebagai bulannya Nabi Muhammad SAW. Rasulullah memperbanyak puasa sunnah pada bulan ini, bahkan tidak ada bulan selain Ramadan yang beliau perbanyak puasanya seperti Sya’ban. KH Asnawi memaknai, orang yang menyiram akan lebih bersemangat daripada yang menanam, dan orang yang memanen akan lebih bersemangat daripada yang menyiram. Sebaliknya, tidak mungkin seseorang memanen tanpa menanam. Pesan ini sederhana, tetapi tajam: tidak ada keberkahan yang lahir dari proses yang dilompati.

Spirit “menyiram” ini menjadi sangat relevan ketika kita hidup di tengah krisis. Bencana alam yang menimpa sebagian wilayah Jawa Barat mengajarkan bahwa manusia rapuh dan kehidupan bisa berubah dalam sekejap. Pada saat yang sama, darurat pendidikan yang tercermin dari anak-anak putus sekolah karena biaya—menunjukkan bahwa ada ladang masa depan yang dibiarkan kering. Di sinilah Sya’ban hadir sebagai undangan untuk merawat, bukan menghakimi; menyiram, bukan menyalahkan.

Refleksi ini sejalan dengan peringatan tajam Imam Suprayogo, yang menyebut bahwa “pendidikan kita sedang sakit di bagian hati.” Menurutnya, berbagai instrumen teknis evaluasi, asesmen, dan tes psikologi sering kali hanya memotret gejala. Padahal yang dibutuhkan adalah penyembuhan dari dalam, melalui pendekatan yang ia sebut sebagai Psikologi Langit: pendekatan pendidikan yang menautkan kebijakan, proses belajar, dan pelayanan publik dengan kesadaran ketuhanan, empati, dan keikhlasan. Dalam konteks darurat pendidikan, kritik ini terasa sangat relevan. Banyak kebijakan hadir di atas kertas, tetapi kering dari sentuhan batin.

Ulama besar Makkah, Muhammad bin Alawi Al-Maliki, dalam kitab Ma Dza fi Sya’ban menjelaskan bahwa salah satu amalan utama bulan Sya’ban adalah istighfar, terutama pada malam Nisfu Sya’ban. Istighfar bukan sekadar ritual lisan, tetapi terapi batin. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa membiasakan istighfar, Allah akan menjadikan jalan keluar dari setiap kesempitan dan memberi rezeki dari arah yang tak disangka-sangka” (HR. Abu Dawud). Pesan ini terasa kontekstual, baik bagi korban bencana maupun bagi keluarga yang terjepit beban pendidikan.

Selain istighfar, Rasulullah SAW mencontohkan puasa sunnah Sya’ban. Sayyidah Aisyah meriwayatkan bahwa beliau tidak pernah melihat Rasulullah memperbanyak puasa sunnah dalam satu bulan sebagaimana di bulan Sya’ban (HR. Bukhari dan Muslim). Ketika ditanya tentang keutamaan puasa Sya’ban, Rasul menjelaskan bahwa bulan ini sering dilalaikan, padahal di dalamnya amal manusia diangkat. Beliau ingin amalnya diangkat dalam keadaan terbaik pesan tentang kualitas, bukan kuantitas.

Dimensi lain dari Sya’ban adalah kesadaran akan kematian dan kedekatan kepada Allah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada bulan ini Allah menetapkan ajal hamba-Nya. Kesadaran ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk melunakkan hati. Di tengah dunia yang serba cepat dan kompetitif, Sya’ban mengajarkan jeda: mengingat bahwa hidup bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang kesiapan bertemu dengan Sang Pemberi Hidup.

Jika hari ini kita masih merasa berat untuk berubah, mungkin karena benih belum ditanam. Dan jika Ramadan terasa hambar, bisa jadi karena tanahnya dibiarkan kering sejak awal. Maka sebelum Ramadan datang, Sya’ban mengajak kita menyiram: dengan istighfar, puasa sunnah, shalawat, sedekah dan kepedulian sosial. Sedikit demi sedikit, namun istiqamah.

Pada akhirnya, Spirit Sya’ban di tengah ujian alam dan darurat pendidikan adalah ajakan lembut untuk menyembuhkan pendidikan dari hulunya: hati manusia. Panen terbaik bukanlah banyaknya amal, tetapi hati yang benar-benar hidup, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Dari hati yang hidup lahir empati. Dari empati tumbuh kebijakan yang adil. Dan dari sanalah kesiapan menyongsong Ramadan menjadi utuh lahir dan batin. Wallahu A’lam.

Penulis: A. Rusdiana (Guru besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung). (UYR/Kemenag)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved